Search blog.co.uk

  • Allah Melengkapi Orang yang Ia Pilih dan Utus

    Yeremia 1:1-8
    1:1. Inilah perkataan-perkataan Yeremia bin Hilkia, dari keturunan imam yang ada di Anatot di tanah Benyamin. 1:2 Dalam zaman Yosia bin Amon, raja Yehuda, dalam tahun yang ketiga belas dari pemerintahannya datanglah firman TUHAN kepada Yeremia. 1:3 Firman itu datang juga dalam zaman Yoyakim bin Yosia, raja Yehuda, sampai akhir tahun yang kesebelas zaman Zedekia bin Yosia, raja Yehuda, hingga penduduk Yerusalem diangkut ke dalam pembuangan dalam bulan yang kelima.
    1:4. Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya:
    1:5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." 1:6 Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda." 1:7 Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. 1:8 Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."

    Kisah panggilan Yeremia sebagai nabi merupakan sesuatu yang sangat menarik. Pertama karena Yeremia dipersiapkan jauh sebelum ia lahir. Tuhan berkata dalam ayat 5 bahwa sebelum ia ada dalam rahim ibunya Tuhan telah mengenal Yeremia. Tuhan yang membentuknya, dan sebelum ia dilahirkan Tuhan telah menguduskannya dan menetapkannya menjadi nabi bangsa-bangsa.

    Betapa indahnya kejadian Yeremia. Ia dikenal sebelum ada dalam rahim ibunya. Ia telah ditetapkan menjadi nabi bahkan sebelum ia lahir.

    Mungkin kita bertanya-tanya apakah kasus ini hanya terjadi pada Yeremia saja?

    Tidak! Kejadian seperti ini bukan hanya terjadi pada Yeremia. Daud mengatakan dalam Mazmur 139:13dan 16 sbb: Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

    Yohanes Pembaptis juga telah ditetapkan sebagai nabi sebelum ia ada dalam kandungan ibunya. Malaikat Tuhan datang dan menyampaikan hal tersebut kepada ayahnya Zacharia. Bahkan Yohanes yang masih ada dalam rahim ibunya mengetahui kehadiran Maria sebagai Ibu Yesus. Dalam Injil Lukas 1:41 dikatakan: Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus,

    Ayat-ayat yang dikutip tersebut mau menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan adalah pengarang atau perancang yang menulis kehidupan manusia. Kalau Tuhan merancangkan kehidupan kita, maka kehidupan kita bukanlah sekedar milik kita sendiri untuk digunakan sekehendak kita, tetapi kita adalah milik Tuhan yang menciptakan kita jauh sebelum kita ada di Bumi ini.

    Kehidupan setiap manusia seperti yang terjadi dengan Yeremia, Daud atau Yohanes Pembaptis, ada dalam rencana Tuhan. Tuhan merencanakan kehidupan setiap orang dengan bakat dan talentanya masing-masing. Tiap orang tidak ada yang sama, semuanya direncanakan secara cermat oleh Tuhan sebagai Pencipta kita. Tuhan mengatakan kepada Yeremia bahwa sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, aku telah mengenalmu. Tuhan mengenal rancanganNya mengenai kehadiran kita dan peranan kita dalam kehidupan di dunia ini.

    Daud juga mengakui hal ini dengan mengatakan bahwa Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.

    Dengan mengatakan Tuhan menenun dia dalam kandungan ibunya, Daud mau mengatakan bahwa kejadiannya bukan suatu kebetulan, tetapi direncanakan dengan baik dan cermat oleh Sang Penciptanya, sama seperti seorang penenun merencanakan motif-motif apa yang akan ditenunnya; sama seperti seorang pemahat merancangkan karya seninya. Tuhan menentukan dalam diri kita motif, bakat atau talenta yang dibutuhkan untuk suatu tujuan, suatu panggilan hidup yang Ia taruh bagi tujuan hidup kita sebagai manusia di dunia ini

    Dalam ayat 16 Daud mengatakan mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

    Sebelum hari-hari itu terjadi, sebelum kita lahir sudah tertulis dalam buku Tuhan apa yang akan terjadi. Tuhan merencanakan dan menulis semua rencana itu dalam buku catatanNya, apa yang Ia inginkan dalam hidup kita.
    Dalam kasus Yeremia, Tuhan telah menetapkannya menjadi nabi bagi bangsa-bangsa sebelum Yeremia lahir. Segala hal, kemampuan yang diperlukan oleh Yeremia sebagai seorang nabi telah dipersiapkan di dalam dirinya.

    Pertanyaannya adalah ketika Tuhan telah mempersiapkan diri kita sebelum kita lahir untuk suatu tujuan yang Ia inginkan bagi kita, mengapa kita sering justru menghindar dari panggilan kita tersebut. Mengapa kita berusaha dengan berbagai cara menghindari panggilan hidup kita

    Dalam kasus Yeremia, ia menghindari dengan berbagai alasan antara lain dengan mengatakan : “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda”

    Kita selalu berusaha menonjolkan kelemahan kita di hadapan Allah untuk menghindari tugas panggilan kita. Yeremia memberikan alasan ia tak pandai bicara dan masih terlalu muda.

    Kita melihat kasus yang sama terjadi pada Yesaya ketika datang panggilan untuk diutus sebagai nabi. Yesaya berkata dalam Yesaya 6:5 Jangan aku Tuhan, karena aku seorang yang najis bibirnya.

    Hal yang sama terjadi dengan Gideon dalam Hakim-Hakim 6:14-15 Lalu berpalinglah TUHAN kepadanya dan berfirman: "Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!" Tetapi jawabnya kepada-Nya: "Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku."

    Gideon menghindari panggilan dengan alasan ia berasal dari suku yang paling kecil di Israel dan ia yang paling muda. Alasan Gideon sama dengan Yeremia, merasa terlalu muda.

    Hal yang sama terjadi dengan Musa yang kita kenal begitu hebat, tetapi pada awal panggilan Tuhan itu datang apa yang dikatakan Musa kepada Tuhan. Musa katakan dalam Keluaran 3:11. "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?"

    Sebagai manusia kita selalu melihat kepada kelemahan kita, ketidakberdayaan kita menghadapi tugas panggilan kita. Tetapi Tuhan tidak melihat kepada kelemahan kita, ia tidak melihat kepada keberadaan fisik kita, tetapi Ia melihat kepada kesediaan kita, Tuhan mengetahui situasi kita karena Ia yang merancang hidup kita dan Ia sendiri yang memperlengkapi kita dengan hal yang kita perlukan untuk tugas panggilan kita.

    Tuhan Yesus tidak memilih murid-murid dari antara orang-orang yang paling hebat, dan paling terpelajar. Tuhan Yesus justru memilih orang-orang sederhana sebagai muridnya dan yang diutusnya. Mereka adalah para nelayan yang diabaikan, yang terpinggirkan. Ia memilih mereka dan melengkapi mereka dengan RohNya yang Kudus sehingga mereka siap menyampaikan apa yang difirmankanNya.

    Hal yang sama terjadi juga dengan Yeremia. Tuhan berkata dalam ayat 7 dan 8: kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. 1:8 Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."

    Tuhan katakan jangan takut. Pertama karena engkau menyampaikan sesuatu yang bukan dari dalam dirimu sendiri, bukan perkataan dirimu, tetapi apa yang engkau sampaikan adalah pesan yang Tuhan taruh dalam bibirmu. Kedua, jangan takut, karena Aku, Tuhan, menyertai engkau dan akan melepaskanmu.

    Tuhan tidak mengirimkan atau mengutus kita tanpa perlengkapan yang memadai. Tuhan mempersiapkan utusanNya dengan peralatan yang lebih dari yang dia butuhkan untuk tugas tersebut. Bahkan tangan kuasaNya menyertai setiap orang yang diutusNya. Seperti dikatakan oleh Paulus dalam Ibrani 13:5b-6: Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"

    Dalam Roma 8:3b 1 Paulus menekankan sekali lagi: Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?

    Apa arti renungan ini bagi kita orang percaya saat ini?

    Sebagai orang yang kristen, orang yang telah mengaku percaya kepada Yesus, kita telah menerima panggilan untuk menjadi muridNya dan menerima panggilan pengutusan agung yang disampaikan oleh Yesus sebelum Ia naik ke surga, yang Ia sampaikan kepada murid-muridNya dalam Matius 28:19-20: Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

    Setiap orang kristen memiliki panggilan untuk menjadi imam dari Yesus Kristus. Kita adalah imam-imam dengan Yesus sebagai Imam Agung kita. Kita terpanggil untuk memberitakan kabar sukacita, kabar baik, yaitu kabar pengampunan dosa yang telah terjadi melalui Yesus Kristus. Petrus menyatakan hal ini dalam 1 Petrus 2:9-10 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan

    Sebagai orang kristen kita memiliki tanggung jawab untuk tidak menyimpan kabar sukacita yang telah kita dengar dan percaya hanya untuk diri kita sendiri, tetapi memiliki kewajiban untuk meneruskan hal tersebut bagi orang lain. Kewajiban untuk meneruskan kabar sukacita ini adalah amanat agung kita yang diberikan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Kita tidak perlu kuatir atau merasa tak berarti, karena Tuhan akan memperlengkapi kita dengan semua hal yang kita butuhkan. Ia mengaruniakan RohNya untuk menolong kita menyampaikan firmanNya. Ia juga akan menyertai dan menjaga kita. Amin.

  • Dengan Roh Kristus kita lakukan yang baik dan kalahkan yang jahat

    Bacaan: Roma 7:21-25

    7:21 Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. 7:22 Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, 7:23 tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. 7:24 Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? 7:25 Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (7-26) Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.

    Rasul Paulus menggambarkan Hukum Taurat Tuhan sebagai kudus, benar dan baik. Hanya mereka yang hidup menurut hukum yang dibenarkan. Iman bukan sekedar percaya tetapi melakukan perintah-perintah Tuhan yang adalah hukum itu sendiri.

    Dalam ayat 22, Paulus menyatakan hukum Allah sebagai sesuatu yang sangat disukai oleh batinnya. Sikap positif Rasul Paulus terhadap Hukum Tuhan sama seperti Daud dalam Mazmur 119: 97-112 saya mengutip beberapa dari ayat-ayat itu: 119:97. Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. 119:98. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. 119:99 Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan. 119:105. Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. 119:111. Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku. 119:112 Telah kucondongkan hatiku untuk melakukan ketetapan-ketetapan-Mu, untuk selama-lamanya, sampai saat terakhir.

    Orang kristen menolak ide yang mengatakan bahwa melalui iman kita tidak lagi membutuhkan Hukum Taurat. Itu sama sekali tidak benar karena justru melalui iman kepada Allah, kita makin tunduk dibawah hukum Taurat, yaitu kita makin mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita manusia. Dalam Roma 3:31 Paulus mengatakan: “Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya.”

    Hukum Tuhan itu adalah perintah, dan perintah Tuhan itu menyelamatkan dan bukan memberi hukuman atau menindas. Seperti dikatakan Daud, Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku (Mazmur 119:105).

    Sikap positif dan menyukai Hukum Allah itu menunjukkan sikap yang benar dan menyenangkan hati Allah. Karena Tuhan memberikan Hukum Taurat dengan tujuan utama untuk mengajarkan cara hidup yang benar. Hukum Allah sebagai sumber hikmat dan pengetahuan, perintah-perintahNya agar kita hidup dalam kebenaran. Hukum Allah memiliki peranan sebagai mendidik dan bukan untuk menindas.

    Sama seperti Daud, Salomo mengatakan dalam Amzal 1:7: Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

    Takut akan Tuhan dan menjalankan perintahNya perlu dilihat sebagai sesuatu yang menyenangkan karena mengikuti perintah Tuhan memberikan hikmat, sukacita dan kedamaian.

    Fungsi hukum yang kedua adalah sebagai pembenaran. Bagaimana orang bisa tahu dia benar atau salah, bagaimana dia tahu dia diampuni dari kesalahannya kalau tidak ada hukum yang menunjukkannya.

    Tidak ada seorangpun yang dapat merubah hukum Allah. Karena Allah itu setia terhadap apa yang dikatakanNya dan Ia suci sehingga tak dapat berdampingan dengan dosa. Allah tidak pernah berubah, sehingga ketika Adam dan hawa jatuh kedalam dosa karena melawan perintah Tuhan, maka tak ada satu cara yang dapat melawan perintah itu selain kematian manusia. Karena dosa berarti mati. Tak ada cara lain!

    Namun syukur kepada Allah, meskipun sebagai manusia kita masih berada dibawah ancaman kematian karena dosa, tetapi kita juga berada dibawah anugerah Allah yang membebaskan kita dari hukuman kematian itu. Allah tidak menghapus atau merubah hukumNya untuk membenarkan kita, tetapi Allah sendiri yang menanggung atau membayar hukuman kita sehingga kita terlepas dari hukuman itu. Disinilah terlihat konsistensi, kesetiaan dan kesucian Allah terhadap hukumNya sendiri, tetapi sekaligus menunjukkan
    keagungan dan kebesaran kasihNya kepada kita manusia. Begitu kasih sayangnya Allah kepada kita sehingga Ia bersedia membayar harga tebusan kita yang berat berupa satu kematian. Demi untuk membenarkan kita, demi untuk menyucikan kita, Allah rela menyerahkan milik satu-satuNya, yaitu AnakNya Yesus Kristus, untuk mati sebagai ganti kematian kita.

    Pertanyaannya adalah kalau kita sudah ditebus dari dosa, sudah dibenarkan, mengapa Paulus mengatakan bahwa ia masih bergulat dengan dosa yang ada di dalam dirinya?

    Dalam ayat 21 Paulus mengatakan bahwa jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku? Mengapa dia mengatakan dalam ayat 23-24: 23 tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. 24 Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?

    Kita mengetahui kebaikan, tetapi kita tidak melakukannya. Kita mengetahui apa yang salah dan kita berjuang melawan hal tersebut, tetapi kita kemudian melakukan kesalahan yang sama tersebut. Kita berjanji kepada Tuhan untuk bertobat, dan tak akan mengulang kesalahan kita, namun kita terperosok kembali untuk melakukan kesalahan tersebut? Apa yang Paulus maksudkan dengan dosa yang ada di dalam dirinya?

    Pernyataan Paulus itu menggambarkan ketidakmampuan dirinya sebagai manusia biasa seperti kita. Sebagai manusia biasa, meskipun telah ditebus, kita masih memiliki sifat kedagingan. Paulus menjelaskan hal ini dalam Roma 7:14-15 sbb: 7:14. Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. 7:15 Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.

    Ayat 15 menunjukkan kepada kita betapa dosa yang bercokol dalam kedagingan membuat bukan apa yang kita kehendaki yang kita perbuat, tetapi justru apa yang kita benci, hal-hal yang berdosa, yang kita lakukan.

    Sebagai daging, manusia terikat pada kedagingannya. Tak ada sesuatu yang baik dari kedagingannya, seperti tertulis dalam ayat 18-19: Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. 7:19 Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.

    Apa yang mau dijelaskan Paulus kepada kita adalah bahwa dirinya sebagai manusia sama sekali tak berharga dihadapan Allah, karena tak ada yang baik yang dapat dibanggakan dihadapan Tuhan. Tak ada sesuatu di dalam kita yang mendatangkan keselamatan bagi kita di hadapan Allah.

    Saat ia menulis surat Roma ini Rasul Paulus telah bertobat selama 20 tahun, ia dianggap telah mantap dalam iman, namun ia masih saja berjuang dengan dosa kedagingan yang bercokol dalam dirinya.

    Paulus mengaku bahwa seberapa kuat ia berusaha, ia tak dapat melepaskan diri dari kekuatan dosa yang ada di dalam kedagingan dirinya. Penjelasan Paulus ini sama dengan yang tertulis dalam Yesaya 64:6. Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.

    Dalam ayat 21 Paulus menggambarkan kejahatan sebagai sudah ada padanya, sudah melekat padanya. Kemanapun ia pergi, kejahatan itu selalu menempel padanya, ada di dalam dirinya.

    Jadi persoalan bukan sekedar dosa atau kejahatan yang berasal dari luar diri kita, tetapi yang paling sulit adalah dosa yang ada dan bercokol dalam diri kita. Ini adalah perjuangan yang tidak ada seorangpun dapat melihatnya. Kejahatan itu bercokol atau berdiam dalam hati dan pikiran kita. Ia mempengaruhi sikap, pemikiran dan motivasi kita. Kita bisa saja pergi ke gereja setiap hari minggu dan kelihatan baik, tetapi dibalik senyuman kita tersimpan suatu pergumulan, mungkin rasa sakit hati, kekecewaan, kekalahan, kemenangan, pengecut, keberanian, semuanya bercampur menjadi satu.

    Dalam kartun komik Pogo yang dikarang oleh Walt Kelly, sang pahlawan kembali dan berkata, “kami sudah berjumpa dengan musuh, dan dia adalah kami sendiri.”

    Pertempuran dengan dosa dan kejahatan adalah suatu pertempuran kepada siapa kita memilih untuk berpihak. Keduanya ada di dalam diri kita, tinggal kita memilih kemana kita berpihak.

    Pertarungan kita sama seperti pertarungan dua ekor anjing seorang nelayan Eskimo yang datang ke kota setiap Sabtu sore membawa dua ekor anjing, hitam dan putih. Dia telah mengajarkan mereka berkelahi berdasarkan perintahnya. Setiap Sabtu sore orang berkumpul di taman kota dan menyaksikan perkelahian kedua ekor anjing tersebut dan bertaruh uang dengan petani tersebut. Kadang anjing hitam yang menang, minggu berikutnya anjing putih yang menang, namun sang nelayan yang selalu menang taruhan. Teman nelayan itu bertanya kepadanya, bagaimana ia dapat melakukan hal tersebut? Nelayan ini menjawab, semuanya tergantung kepada anjing mana yang saya beri makan dan mana yang tidak. Bila aku memberi makan yang putih, maka yang putih yang akan menang karena ia kuat, dan yang hitam akan kalah karena ia lemah.

    Ada dua kekuatan yang saling bertempur dalam diri kita yang telah bertobat. Kekuatan yang dominan tergantung kepada siapa kita berpihak.

    Kehidupan kristiani kita adalah suatu pertarungan dua kekuatan yang bergumul dalam diri kita. Namun kita bersyukur, karena Tuhan tidak membiarkan kita bergantung kepada kekuatan kita, Bagi orang percaya, Yesus telah memberikan penolong yaitu Roh Kudus yang akan selalu menolong kita untuk bergantung kepadaNya dan menuruti perintahNya.

    Martin Luther, pemimpin reformasi kristen, menemukan dirinya diserang oleh Setan. Si jahat membuka segulungan kertas berisi daftar dosa-dosa Luther, dan menunjukan semua itu kepadanya. Ketika sampai pada akhir gulungan, Luther bertanya, “Apakah sudah semuanya?” Belum jawab si jahat dan mulai membuka gulungan kedua dan ketiga sampai selesai. “Kau melupakan sesuatu,” Luther berteriak dengan penuh kemenangan, “ tuliskan dalam setiap gulungan itu, “Darah Yesus Kristus, Anak Allah, telah menyucikan semua dosa-dosa saya”.

    Setan selalu menggunakan dosa-dosa kita untuk membuktikan bahwa tak ada harapan bagi kita. Karena kedagingan kita selalu membuat kita terikat pada dosa. Tetapi kita bersyukur kepada Allah, karena melalui Yesus Kristus, semua dosa-dosa kita telah diampuni. Dia yang memberikan kita Roh Kudus, penolong yang membantu kita untuk hidup dalam kemenangan. Dalam kedagingan, kita masih melayani dosa, namun dalam roh kita melayani Tuhan. Karena Allah itu adalah Roh. Siapa ada dalam Yesus, ia ada dalam roh. Yohanes 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."

    Roh Kudus akan memimpin kita memahami Firman Allah sebagai sesuatu yang menyenangkan dan menyegarkan jiwa bila kita merenungkan dan melakukannya. Karena perintah Allah itu membuat kita lebih bijaksana. Firman Tuhan itu sebagai pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita. Membuat kita lebih berakal budi dan membawa damai dan sukacita dalam hati kita. Amin

  • Tetap setia dalam segala hal

    Lukas 16:10 "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.

    Mazmur 18:25-28: Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit. Karena Engkaulah yang menyelamatkan bangsa yang tertindas, tetapi orang yang memandang dengan congkak Kaurendahkan. Karena Engkaulah yang membuat pelitaku bercahaya; TUHAN, Allahku, menyinari kegelapanku.

    Tetap setia merupakan tuntutan dan kewajiban setiap orang. Tetap setia berarti setia memegang janji, setia terhadap apa yang dikatakan, dan setia dalam tangung jawab dan peri laku yang baik. Meskipun tuntutan ini berat tetapi harus dilakukan, meskipun sudah menjadi sifat dasar manusia untuk selalu ingin bebas, memiliki kebebasan menentukan pilihan, kebebasan yang sering justru menjurus kepada ketidaksetiaan.

    Adam dan Hawa diciptakan untuk memiliki hubungan yang akrab dengan Allah. Dalam hubungan yang seperti ini mereka hidup dalam suasana yang damai, penuh kebahagiaan dan berkecukupan. Semua begitu indah, sampai suatu saat mereka tergoda untuk keluar dari kesetiaan mereka kepada Allah. Mereka tergoda untuk tidak setia terhadap janji dan larangan Allah, dan ingin memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang disediakan bagi mereka. Akibatnya mereka terjerumus dalam ketidaksetiaan, dalam kebohongan dan saling melempar tanggung jawab.

    Ketika Tuhan datang mencari mereka sesudah terjatuh dalam ketidaksetiaan, mereka bersembunyi, dan ketika Tuhan menemukan mereka dan bertanya mengapa mereka bersembunyi, mereka malu atas situasi mereka yang telanjang. Ketika Tuhan bertanya mengapa mereka makan buah larangan itu, mereka saling menuduh dan melempar tanggung jawab.

    Itulah kebiasaan manusia, sulit untuk setia, sulit untuk mengaku ketidaksetiaannya dan menerima tanggung jawab.

    Dalam Injil Lukas 16:1-8, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan sebagai contoh lain ketidaksetiaan seorang manajer kepada tuannya yang mempercayakan bisnis kepadanya. Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.

    Ya, seringkali untuk menutupi ketidaksetiaan kita kepada orang lain, kepada Tuhan, kepada isteri, kepada orang tua, kita berbohong. Dari satu kebohongan kita teruskan dengan kebohongan berikutnya, sampai suatu saat kita hidup penuh dengan kebohongan-kebohongan.

    Dalam Mazmur 18:25-28, Daud yang adalah seorang raja besar mengungkapkan pengakuannya akan pentingnya kesetiaan kepada Tuhan yang akan berdampak pada berkat-berkat Tuhan dalam kehidupannya.

    Menurut Daud, terhadap orang yang setia Tuhan akan berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Tuhan juga akan berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Tuhan berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Tuhan akan berlaku belat-belit.

    Tuhan menyelamatkan bangsa yang tertindas, tetapi orang yang memandang dengan congkak direndahkanNya.

    Daud memuliakan Tuhan, karena Dialah yang membuat pelitanya (hidupnya) bercahaya, Tuhan menyinari hidupnya dengan penuh kesuksesan dan menolongnya dari musuh-musuhnya.

    Kesetiaan adalah kunci suatu persahabatan, suatu hubungan yang harmonis. Ketika salah satu pihak menjadi tidak setia, maka tidak ada alasan untuk meminta pihak lain tetap setia. Begitu juga dengan Tuhan, ketika kita tidak setia kepadaNya, maka tak ada alasan, tak ada tanggung jawab Tuhan untuk menolong kita. Tanpa kesetiaan, kita tidak terhitung dalam kasih dan anugerah Tuhan.

    Tuhan Yesus, melalui perumpamaan bendahara yang tak jujur ini, meminta kita untuk selalu menjaga kesetiaan kita, baik dalam hal-hal yang kecil maupun besar. Ketika kita setia, maka Tuhan akan tetap setia melindungi kita, tetap setia menolong kita dan tetap setia mencurahkan berkatnya dalam kehidupan kita. Tuhan menolong anda.

  • Hidup dalam damai sejahtera dengan Allah

    Roma: 5:1-5
    5:1. Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. 5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. 5:3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5:5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

    Hidup memang sering berat dan sulit, dapat membuat orang menderita. Robert Schuller mengatakan: “masa sulit tak pernah berakhir, namun orang-orang yang kuat mampu bertahan (tough times never last, but tough people do).

    Orang-orang yang kuat tidak identik dengan fisikal, tidak identik dengan postur, tidak juga identik dengan uang yang banyak atau kekuasaan yang besar. Orang yang kuat, yang mampu bertahan dalam setiap kesulitan, tidak ada hubungan dengan semua itu. Karena kekuatan manusiawi kita sering tak dapat memberikan jaminan untuk selalu mampu bertahan menghadapi semua pencobaan dan pergumulan hidup kita. Banyak kejadian dimana justru orang-orang besar, yang memiliki kekayaan yang besar, atau pernah memiliki kekuasaan besar justru melakukan bunuh diri. Sebagai contoh, mantan presiden Korea Selatan, Roh Moo-Hyun, yang tengah dililit kasus korupsi, mengakhiri hidupnya dengan melompat dari tebing di belakang rumahnya. Krisis finansial telah membuat milyuner Jerman, Adolf Merckle, orang terkaya ke 94 di dunia versi Majalah Forbes, memilih bunuh diri setelah kerajaan bisnisnya runtuh diterpa badai krisis. Dalam Alkitab, Samson, yang memiliki kekuatan fisik yang besar, justru terjatuh dalam godaan dan menjadi budak Delilah.

    Sumber kemampuan untuk tetap tegar menghadapi segala tantangan kehidupan, pencobaan dan pergumulan hidup hanya dapat berasal dari Tuhan, yaitu hidup dalam iman kepada Tuhan, hidup dalam damai sejahtera dengan Allah.

    Dalam bacaan di atas dikatakan bahwa melalui iman kepada Yesus, kita memperoleh jalan masuk kepada kasih karunia Allah. Kita malah dapat bermegah juga dalam kesengsaraan kita. Di dalam kasih karunia ini kita mampu berdiri dan bermegah dalam pengharapan dan menerima kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah yang mengangkat kita tinggi-tinggi di hadapan lawan-lawan kita. Bahkan dalam Mazmur 23, Daud bersaksi mengenai Tuhan sebagai Gembala yang menuntun kita di jalan-jalan yang penuh mara bahaya. Ia menuntun kita pada air yang tenang, Ia menyegarkan jiwa kita. Ia bahkan menyiapkan hidangan di depan musuh-musuh kita.

    Itulah hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. Allah menuntun kita. Allah memberikan kekuatan kepada kita, memberikan harapan di tengah ketiadaan harapan. Allah memberikan damai di tengah tekanan gelombang pencobaan yang bertubi-tubi.

    Kalau hidup anda saat ini sedang berada dalam tekanan gelombang kehidupan yang berat. Ingatlah akan kasih Allah yang begitu besar dalam Yesus Kristus. Ingatlah akan salib itu, disitulah tergambarkan kasih dan pengorbanan Allah yang begitu besar kepada kita semua. Allah mengasihi kita. Apapun kesulitan kita, Allah mengasihi kita. Kasih Allah itu tak berubah, tak berkesudahan. Kasih itu tetap.

    Apapun kesulitan kita, sepanjang Allah tetap mengasihi kita, maka tak akan ada kesulitan yang dapat menghancurkan kita, tak ada pencobaan yang dapat mematahkan dan menjatuhkan kita. Percayalah kepadaNya dan serahkan semua beban kita kepadaNya dan terimalah damai sejahtera dari padaNya. Yesus telah mengalahkan dunia ini. Dia berkata kasihKu cukup bagimu, cukup untuk mengatasi kesulitanmu hari ini. Amin.

    HIDUPMU BERHARGA

    HIDUPMU BERHARGA BAGI ALLAH
    TIADA YANG TAK BERKENAN DI HADAPAN-NYA
    DIA CIPTAKAN KAU S'TURUT GAMBAR-NYA
    SUNGGUH BERHARGA HIDUP-MU BAGI DIA

    DIA BERIKAN KASIH-NYA PADA KITA
    DIA T'LAH RELAKAN SEGALA-GALANYA
    DIA DISALIB 'TUK TEBUS DOSA KITA
    KAR'NA HIDUPMU SANGATLAH BERHARGA

    REFF:
    BULUH YANG TERKULAI TAKKAN DIPATAHKAN-NYA
    DIA 'KAN JADIKAN INDAH SUNGGUH LEBIH BERHARGA
    SUMBU YANG T'LAH PUDAR TAKKAN DIPADAMKAN-NYA
    DIA 'KAN JADIKAN TERANG UNTUK KEMULIAAN-NYA

  • Bersyukur Selalu Kepada Tuhan

    Mazmur 86:12-13:

    Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya; sebab kasih setia-Mu besar atas aku, dan Engkau telah melepaskan nyawaku dari dunia orang mati yang paling bawah.

    Menurut pendeta Jesse Duplantis, gunakan pengalaman kemenangan masa lalu kita bersama Tuhan untuk menghadapi pertempuran kita hari ini dan masa depan.

    Merayakan kemenangan masa lalu karena pimpinan Tuhan merupakan sikap ucapan syukur kita kepada Tuhan atas apa yang Tuhan telah buat dalam hidup kita. Jangan pernah melupakan perbuatan-perbuatan Tuhan kepada kita, jangan mengambil pujian bagi diri sendiri yang seharusnya ditujukan untuk Tuhan, jangan meninggikan, atau membanggakan diri sendiri atas hal-hal yang dibuat Tuhan, sehingga Tuhan tidak dimuliakan dalam kehidupan kita.

    Daud adalah orang yang penuh ucapan syukur kepada Tuhan. Ia tahu menempatkan dirinya dengan benar dihadapan Tuhan dan orang lain. Ia tidak mengambil pujian bagi dirinya ketika ia merayakan kemenangan-kemenangannya. Ia memberikan pujian itu hanya bagi Tuhan. Ketika ia mengalahkan Goliat, Daud tidak menganggap keberhasilan itu karena kehebatan dirinya, tetapi itu adalah perbuatan Tuhan, Tuhan yang berperang bagi dia, dan bukan dia yang berperang bagi Tuhan.

    Daud begitu menghormati Tuhan sehingga ia takut menaruh tangannya pada orang yang telah diurapi Tuhan. Ketika Tuhan menyerahkan Saul, musuh yang mengejarnya siang dan malam, dalam genggamannya, Daud menolak membunuh Saul. Apapun kesalahan Saul, Daud merasa ia tidak berhak untuk menghukumnya.

    Sikap Daud yang selalu menempatkan Tuhan dalam setiap hal dalam hidupnya membuat ia selalu dikasihi dan diberkati Tuhan, bahkan ketika ia jatuh dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba, istri Uria.

    Daud hanya manusia biasa, tidak setiap kali ia mampu mempertahankan sikap benar dihadapan Tuhan. Namun ia memiliki sikap hidup yang penuh ucapan syukur kepada Tuhan, sehingga apapun kelemahan ida, apapun kesalahan dia, Tuhan bersedia mengampuninya.

    Kita bisa membaca pengakuan Daud sesudah jatuh dalam dosa pada Mazmur 51 dan bagaimana Tuhan bersedia mengampuni Daud dalam 2 Samuel 12:13: Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.

    Dalam kejatuhan sekalipun, Daud masih mempertahankan sikap bersyukur kepada Tuhan. Ia mengingat-ingat perbuatan Tuhan yang besar dalam pengalaman hidupnya. Daud mengakui bahwa semua yang dicapainya adalah karena pemberian Tuhan semata-mata.

    Apa yang kita pelajari dari pengalaman hidup Daud?

    Pertama, hidup kita ada dalam tangan Tuhan. Sebagai orang percaya, Tuhan adalah pusat dari kehidupan kita. Tuhan adalah pusat dari ucapan syukur kita.Hidup kita adalah hidup yang bersandar kepada Tuhan dan memuliakan Tuhan. Hidup kita adalah hidup yang selalu bersyukur atas semua perbuatan-perbuatan Tuhan dalam hidup kita.

    Kedua, untuk selalu dapat bersyukur kita harus memohon, mengundang Tuhan menjadi bagian dari hidup kita, mengundang Tuhan memimpin pergumulan hidup kita. Daud bersaksi bahwa pertarungan dengan Goliat bukan pertarungan dia pribadi dengan Goliat, tetapi pertarungan Tuhan melawan Goliat bersama dengan semua dewa-dewa Goliat.

    Ketiga, ketika kita mencapai kemenangan, jangan merampok kemuliaan Tuhan. Jangan sekali-kali merampok pujian-pujian yang seharusnya ditujukan kepada Tuhan bagi diri kita sendiri. Kalau Tuhan yang membuat kita menang, membuat kita berhasil, maka sudah semestinya kita memberikan pujian itu bagi Tuhan, dan kita mundur ke belakang agar Tuhan yang dimuliakan.

    Keempat, ketika kita mencapai kemenangan dan keberhasilan, jadikan kejadian itu sebagai monumen, tugu peringatan bagi kita, tonggak iman untuk menunjang pertempuran di masa depan. Membangun tonggak-tonggak iman merupakan bagian dari membangun dan memperkokoh iman kita untuk menghadapi pertempuran iman yang lebih besar di masa depan. Iman kita bukanlah iman yang mandeg, bukan iman yang berhenti, tetapi iman yang berkembang, iman yang bertumbuh dari waktu ke waktu. Umat Israel selalu membangun tugu-tugu peringatan perjumpaan mereka dengan Tuhan agar mereka selalu teringat akan campur tangan Tuhan dalam hidup mereka. Kitapun harus selalu membangun tonggak-tonggak, tugu-tugu peringatan untuk mengingat-ingat campur tangan Tuhan dalam pergumulan hidup kita.

    Tonggak-tonggak, tugu peringatan bukan hanya penting bagi kita, tetapi juga bagi anak-anak kita, bagi keturunan-keturunan kita untuk melihat dan meniru teladan kita dan mau menyandarkan hidup mereka kepada Tuhan. Tuhan menolong anda.

  • Kasih Yang Sempurna

    Dalam Kitab Hosea pasal 1 diceritakan bahwa Tuhan menyuruh Hosea untuk menikahi seorang perempuan bernama Gomer, yang sehari-hari berprofesi sebagai WTS. Hosea menikahi perempuan itu dan ia melahirkan bagi Hosea 3 orang anak, 2 anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Anak pertama laki-laki dinamai Yizreel, berdasarkan nama tempat pembunuhan politik di kerajaan Israel 10 suku oleh Yehu( 2 Raja 9). Anak yang kedua seorang anak perempuan dinamai Lo-Ruhama yang artinya, “tidak cinta”, dan anak ketiga seorang anak laki-laki dinamai Lo-Ami, yang artinya “bukan milikku”, karena Hosea tidak tahu apakah dia adalah ayah dari anak itu.

    Cara Hosea menamai anak-anaknya menunjukkan betapa Gomer seorang perempuan yang tak bisa dipercaya meskipun ia telah menjadi isteri Hosea, isteri seorang nabi besar di Israel, seorang nabi yang sangat disegani oleh seluruh Israel termasuk para raja dan menteri. Meskipun telah menjadi isteri, Gomer tetap melakukan perselingkuhan. Gomer bahkan merindukan kembali kepada profesinya yang lama, kembali kepada pelukan para lelaki hidung belang. Bukan para lelaki itu yang mengejar Gomer, tetapi sebaliknya, ia sendiri yang mengejar para lelaki hidung belang tersebut (Hosea pasal 2). Puncaknya ketika ia lari meninggal rumah, suami dan anak-anaknya dan akhirnya terjebak hutang dan dijadikan budak pemuasan kebutuhan seksual.

    Namun Hosea tetap mencintai isterinya, meskipun perilaku isterinya itu sudah sangat keterlaluan. Hosea datang membeli kembali Gomer dari tangan mucikarinya. Ia membeli kembali isterinya dengan harga yang sangat mahal, meskipun di mata orang lain isterinya sudah tidak memiliki nilai apa-apa. Hosea membeli dia sebesar lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai. (Hosea 3:2)

    Memang kasih itu mengatasi segala-galanya, tak memandang kepada keburukan, atau kejelekan seseorang, tetapi kepada kebaikannya, bahkan meskipun tak ada kebaikan sama sekali, kasih itu menututpi semua kejelekan itu. Tuhan berkata dalam Yesaya 1:18: Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.

    Kasih itu bersedia mengampuni, meskipun perbuatan-perbuatan seseorang kepada kita sudah mencapai suatu tingkat yang tidak layak untuk diampuni. Paulus melukiskan kasih itu dalam I Korintus 13:4-7 sbb: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. “

    Itulah bahasa kasih, bahasa cinta yang diungkapkan oleh Allah, betapa Ia sangat mengasihi kita. Ia bersedia menghapus semua pelanggaran kita, mengampuni kita dan menerima kita kembali sebagai anak-anakNya. Kasih Allah itu sempurna, tak berkesudahan, tak terbatas, dan tetap setia, meskipun kita tidak setia. Allah bahkan bersedia berkorban bagi kita melalui AnakNya Yesus, agar dosa-dosa kita disucikan dan kita dibenarkan dalam Dia. Amin.

    BAPA YANG KEKAL
    Julita Manik

    KASIH YANG SEMPURNA TELAH
    KU T'RIMA DARI-MU
    BUKAN KAR'NA KEBAIKANKU
    HANYA OLEH KASIH KARUNIA-MU
    KAU PULIHKAN AKU, LAYAKKANKU
    'TUK DAPAT MEMANGGIL-MU, BAPA
    REFF:
    KAU B'RI YANG KUPINTA
    SAAT KUMENCARI, KUMENDAPATKAN
    KUKETUK PINTU-MU DAN KAU BUKAKAN
    S'BAB KAU BAPAKU, BAPA YANG KEKAL
    TAK KAN KAU BIARKAN
    AKU MELANGKAH HANYA SENDIRIAN
    KAU SELALU ADA BAGIKU
    S'BAB KAU BAPAKU, BAPA YANG KEKAL

  • Rencana Tuhan Bagi Hidup Kita

    Mazmur 16:11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

    Pernakah anda bertanya apa yang dipikirkan Tuhan ketika Ia merancang kehadiran anda di dunia ini. Di dalam Yermia 1:5 Tuhan berkata kepada Yermia: "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."

    Kehadiran setiap orang anak manusia di dunia ini dirancang oleh Tuhan untuk maksud tertentu. Tuhan memiliki rencana ketika Ia merancang keberadaan kita di atas dunia ini. Rencana itu sudah tentu hanya Tuhan sendiri yang tahu. Seperti dikatakan dalam Yermia 29:11: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. “

    Namun Tuhan sering memberitahukan rencanaNya itu kepada orang yang dikasihiNya. Tuhan memberitahukan rencana akan datang kepada Yusuf dalam mimpi bahwa suatu ketika ia akan menjadi seorang pemimpin bahkan saudara-saudara dan orangtuanya akan datang menyembah dia.

    Tuhan mengungkapkan rencanaNya kepada Abraham bahwa anak cucunya akan menjadi suatu bangsa yang besar seperti pasir yang tak terhitung banyaknya atau seperti banyaknya bintang di langit.

    Tuhan memberitahukan apa yang akan terjadi kepada nabi-nabi atau rasul-rasul mengenai apa yang akan terjadi kemudian pada akhir zaman.

    Bahkan Tuhan memberitahukan rencanaNya kepada raja Nebukadneser dalam mimpi bahwa ia adalah raja yang terbesar dalam sejarah manusia dilambangkan oleh kepala patung dari emas. Raja-raja sesudah itu tidak akan sekuat dan sebesar dia. Raja Nebukadneser bahkan diberitahukan berkali-kali apa yang akan terjadi kepadaNya bahwa ia akan direndahkan sama seperti binatang makan rumput dan minum air embun di padang sampai ia mengakui Tuhan yang mahakuasa.

    Di dalam setiap rencana Tuhan selalu ada peranan yang dimainkan oleh kita. Ketika Tuhan memberitahukan rencanaNya, Tuhan memberitahukan kita apa yang akan menjadi peranan kita dalam rencana itu.

    Dalam Mazmur 16:11 di atas, Daud memberikan kesaksian bagaimana Tuhan mengungkapkan rencana bagi kehidupannya. Dari pengalaman Daud kita tahu bahwa Tuhan menyuruh Samuel datang mengurapi Daud menjadi raja bangsa Israel saat ia masih berumur belasan tahun, padahal saat itu Saul masih menjadi raja di Israel.

    Rencana Tuhan itu tidak secara otomatis terjadi kepada kita. Sering waktu sampai rencana Tuhan itu terwujud sangat panjang. Yusuf harus menunggu bertahun-tahun, melewati perjalanan penuh kepahitan, sebelum kemudian ia menjadi wakil raja. Bangsa Israel harus berputar-putar selama 40 tahun di padang gurun sebelum mereka diijinkan masuk tanah perjanjian. Daud tidak otomatis langsung menjadi raja, tetapi ia harus menunggu hampir 30 tahun kemudian baru ia menjadi raja. Selama waktu itu Daud harus berlari kesana kemari menyembunyikan dirinya dari Saul yang hendak membunuhnya.

    Apa yang kita pelajari dari semua hal di atas adalah bahwa ada rencana Tuhan bagi hidup kita. Rencana itu Tuhan buat jauh sebelum kita dilahirkan. Rencana Tuhan itu adalah tujuan hidup, tujuan keberadaan kita. Namun apakah rencana atau tujuan itu akan berjalan sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan masih tergantung pada diri kita sendiri. Tuhan memberikan kebebasan kepada kita bahwa selama kita berada di dalam Dia, maka rencanaNya dalam diri kita itu akan terwujud, yaitu rencana damai sejahterah.

    Adam dan Hawa diciptakan untuk rencana Tuhan bagi suatu kehidupan yang menyenangkan dalam Taman Eden, namun mereka kemudian tergoda dan terbuang dari Taman Eden. Bangsa Israel direncanakan akan masuk ke tanah perjanjian, tetapi kemudian banyak yang memberontak dan mati dalam perjalanan kesana.

    Meskipun Tuhan merencanakan hidup kita, namun Tuhan tidak memaksakan rencana itu terjadi pada kita. Tuhan menaruh tujuan itu, dan kemudian ia mendidik kita selama perjalanan mencapai tujuan itu. Karena tujuan bukan segala-galanya dalam rencana Tuhan. Hal yang paling utama dalam rencana Tuhan itu adalah proses hubungan kita dengan Tuhan selama melakukan perjalanan ke tujuan yang Tuhan tetapkan bagi kita.

    Tujuan hanyalah hasil dari proses hubungan kita dengan Tuhan. Karena itu membina hubungan erat, atau akrab dengan Tuhan jauh lebih penting dari menuntut terwujudnya janji Tuhan itu. Karena janji itu tidak akan terwujud sebelum hubungan akrab kita dengan Tuhan terjadi. Makin cepat kita melakukannya, makin segera janji itu terwujud. Tuhan memberkati anda.

  • Merancang Perjalanan Hidup Kita

    Mazmur 32:8: Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.

    Sebagai orang yang tidak mengenal jalan di kota Bandung, saya dan beberapa teman pernah tersesat saat mencari jalan keluar kearah Jakarta. Jalan di kota ini hampir semuanya bersifat satu arah dan kadang macet. Sesudah lama berputar-putar dan bingung, kami menelpon seorang teman untuk meminta petunjuk bagaimana kami bisa mencapai jalan ke Jakarta yang benar.

    Begitu juga dengan kehidupan kita, mencari jalan menuju masa depan di tengah berbagai ”jalan”, alternatif, saran, anjuran, godaan dunia saat ini, maka tanpa panduan yang benar dari seorang ahli, kita akan tersesat.

    Mencoba merancang kehidupan kita, masa depan kita, tanpa memohon Tuhan membimbing kita, sama saja dengan meminta nasihat pada orang yang tak mengerti apa-apa untuk menuntun kita.

    Tuhanlah yang mengatur masa depan kita. Tuhanlah yang merancang kehidupan manusia. Jadi ketika kita memohon Tuhan merancang hidup kita, Ia akan menunjukkan kepada kita jalan mana yang harus kita tempuh menuju kebahagiaan masa depan kita.

    Tanpa Tuhan yang memimpin kita, hidup kita akan tersesat. Mazmur 85:8 berkata: Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan?

  • Memahami Penjara Kita

    Menurut Wikipedia versi bahasa Indonesia penjara adalah tempat di mana orang-orang dikurung dan dibatasi berbagai macam kebebasan. Kamus Merriam-Webster menambah arti lain penjara sebagai suatu situasi atau keadaan terkurung (a state of confinement or captivity).

    Memang penjara bersifat membatasi ruang lingkup seseorang, membatasi hak-hak seseorang, membatasi pergaulannya dan kebebasannya yang normal. Dipenjara berarti berada dalam kurungan, anda tidak memiliki kebebasan untuk melakukan sesuatu, ruang gerak anda dibatasi.

    Dalam Alkitab kita dapat membaca banyak cerita mengenai para hamba Tuhan yang dipenjara. Yusuf dipenjara, ia dirantai baik kaki maupun lehernya dengan besi. Yohanes Pembaptis, Petrus, dan Paulus adalah contoh lain mereka yang dipenjara.

    Ketika Petrus dipenjara ia bukan hanya dibelenggu dengan rantai besi, tetapi rantai itu diikat kepada tangan dua orang tentara Herodes yang ikut tidur dengannya. Selain itu, di pintu bagian luar masih ada sejumlah prajurit yang menjaga penjara tersebut. Petrus dipenjarakan dan akan dihukum mati keesokan harinya.

    Ketika Paulus di penjara, kedua kakinya dipasung, dan sejumlah tentara Romawi berjaga-jaga di depan pintu penjara.

    Bagi orang percaya bukan penjara yang menjadi pokok masalah tetapi memahami bagaimana sikap kita ketika terpenjara jauh lebih penting, dari pada memahami situasi penjara.

    Paulus dipenjara tetapi ia bernyanyi memuji Tuhan. Apa yang terjadi sesudah itu adalah gempa bumi yang hebat dan semua belenggu besi terlepas, pintu-pintu penjara terbuka lebar, dan membuat ketakutan perwira penjaga penjara. Tapi Paulus menenangkannya sehingga ia pada akhirnya menerima Yesus sebagai Juruselamatnya.

    Petrus dipenjarakan tetapi sikapnya benar dihadapan Tuhan sehingga Tuhan menyuruh malaikatnya membuka semua pintu penjara dan membebaskannya.

    Daniel dilemparkan dalam penjara yang dipenuhi banyak singa, namun singa-singa itu tak dapat berbuat apa-apa baginya, dan ia bahkan dilepaskan keesokan harinya.

    Zadrach, Mesach, dan Abednego dilemparkan kedalam penjara dapur api yang dipanaskan tujuh kali, namun Tuhan melepaskan mereka, bahkan raja Nebukadneser akhirnya mengakui Allah mereka sebagai Allah yang benar dan berkuasa.

    Yusuf dipenjara tetapi ia bahkan dipercaya oleh kepala penjara. Ia kemudian berkenalan dengan juru roti dan minum raja yang kemudian menyampaikan kepada raja kemampuan Yusuf menerjemahkan mimpi. Ia kemudian menjadi wakil raja.

    Sikap kita ketika terpenjarakan mengubah arah perjalanan hidup kita. Sikap seseorang membuat perbedaan siapa kita dibandingkan dengan orang lain. Ketika kita memiliki sikap yang benar dihadapan Tuhan, maka penjara sekalipun tak dapat merintangi kuasa dan kasih Tuhan kepada kita. Penjara boleh memenjarakan kita, tetapi penjara tak dapat membatasi Tuhan. Tuhan dapat menjangkau kita dimanapun kita berada. Tak ada suatu hal yang dapat merintangi kuasa Allah kepada kita, ketika kita bersama dengan Dia.

    Dalam hidup kita manusia, penjara tidak selamanya berupa penjara fisik, terkurung dalam sel penjara karena alasan tertentu, tetapi juga bisa berarti terperangkap dalam situasi ketidakberdayaan, situasi dimana meskipun fisik bisa bebas bergerak tetapi kondisi hidup kita terperangkap dalam situasi yang itu-itu saja, tak ada kemajuan, tak ada peningkatan, tak ada harapan akan masa depan yang lebih baik. Itu adalah penjara kehidupan, ketika kita kehilangan masa depan, kehilangan harapan akan sesuatu yang lebih baik itu adalah “penjara hidup kita”. Situasi membuat kita terpenjara secara sosial, ekonomi, pendidikan, dan keamanan.

    Penjara-penjara dalam arti seperti yang disebutkan terakhir memiliki dampak yang sering jauh lebih buruk dari sekedar penjara di balik jeruji besi. Karena penjara sosial, ekonomi, pendidikan dan keamanan menimbulkan rasa frustasi, rasa apatis, dan kehilangan gairah hidup. Tak ada impian akan masa depan.

    Ketika hidup anda terkurung pada rutinitas, berputar-putar pada hal-hal yang itu-itu saja, anda sudah terpenjara. Karena hidup sebagai manusia adalah suatu perjalanan ke depan, suatu pertualangan, suatu eksplorasi hal-hal yang baru. Ketika hidup kita terperangkap dalam situasi yang monoton, maka sebagai manusia sebenarnya kita telah kehilangan hakekat hidup kita, atau jati diri kita sebagai manusia, apalagi jati diri sebagai orang beriman.

    Ketika iman kita hanya suam-suam kuku, tidak panas, tidak juga dingin, tidak bertumbuh menjadi iman yang dewasa, maka kita sebenarnya sedang menuju kepada “penjara kita sendiri”.

    Bangsa Israel terperangkap dalam “penjara perbudakan” selama sekian ratus tahun sebelum Tuhan datang membebaskan mereka. Hidup mereka dari hari kehari hanyalah bekerja paksa.

    Ketika Israel memberontak kepada Tuhan, Allah membiarkan mereka terpenjara dengan berputar-putar di padang gurun selama 40 tahun, sampai satu generasi bangsa itu mati, sebelum Allah menuntun kembali mereka masuk kedalam tanah perjanjian.

    Memahami penjara dimana kita terperangkap di dalamnya sangat penting. Namun yang lebih penting dari itu adalah memiliki sikap yang benar kepada Tuhan saat kita “terperangkap dalam penjara kita”

    Ketika kita menaruh sikap benar kepada Allah, maka kasih setiaNya akan menjangkau kita, akan merangkul kita, sehingga apapun situasi “penjara kita”, tidak akan mampu membuat kita frustasi atau kehilangan harapan. Dalam tangan Tuhan hidup kita akan dipakaiNya menjadi alat bagi kemuliaan namaNya, bahkan meskipun kita masih ada dalam “penjara kita”. Amin.

  • Pilihan Ada Di Tangan Anda: Siapa yang Anda Pilih?

    Bacaan Yoshua 24:14-31

    Sepanjang hidup setiap orang dia harus memilih jalan mana yang akan dia tempuh, alternatif mana yang akan dia ambil, dan saran mana yang akan diikuti. Pilihan merupakan kebebasan yang dimiliki oleh manusia. Tuhan memberikan kepada kita kebebasan untuk memilih dan membuat keputusan. Tuhan tidak pernah memaksa kita membuat pilihan yang sesuai dengan kehendakNya, kita sendiri yang harus menentukan pilihan kita.

    Pilihan memiliki konsekuensi. Karena setiap pilihan menuju kepada hasil yang berbeda-beda pula. Sejak k ita lahir sampai kita dewasa, kita diajari untuk membuat pilihan, membuat keputusan. Pendidikan entah dirumah atau di sekolah berupaya mendidik kita agar memiliki pertimbangan dan membuat keputusan yang benar. Namun tetap saja, kita sendiri yang harus memilih dan kita sendiri yang akan merasakan dampak hasilnya.

    Bacaan kita menyajikan cerita mengenai suatu pilihan hidup. Pilihan hidup merupakan kunci, merupakan inti dari berbagai pilihan atau keputusan berikutnya yang akan kita lakukan seterusnya. Pilihan pertama ini merupakan gerbang bagi pilihan-pilihan lanjutan dalam hidup kita karena pilihan ini menentukan kemana arah kita.

    Pilihan yang dimaksud adalah pilihan mengenai apakah kita akan taat kepada Tuhan atau taat kepada kemauan kita sendiri, kepada idola-idola kita sendiri, atau mengikuti arus pikiran banyak orang, mengikuti pendapat umum dan menyangkal Tuhan.

    Cerita dalam bacaan itu bermula ketika Yoshua, yang menggantikan Musa memimpin bangsa Israel, telah tua, ia sudah berumur sekitar 110 tahun, dan bangsa Israel telah menikmati kehidupan di tanah Kanaan, tanah perjanjian yang dijanjikan Tuhan kepada nenek moyang mereka yaitu Abraham.

    Yoshua merasa bahwa kehidupan yang serba enak dan hidupnya yang tidak lama lagi, maka ia bermaksud mengingatkan kembali komitmen bangsa ini kepada Allah yang telah memimpin mereka, Allah yang telah menepati janjiNya kepada mereka. Yoshua ingin bangsa ini, sesudah ia meninggal, masih tetap hidup dalam ketaatan kepada Tuhan.

    Yoshua memulai percakapannya dengan para tua-tua Israel dengan mengingatkan mereka bagaimana Allah memulai karyaNya dengan memilih Abraham, nenek moyang mereka. Abraham dan ayahnya Nahor, sebenarnya tidak beribadah kepada Allah, tetapi kepada dewa-dewa lain. Allah memanggil Abraham keluar dari kaum keluarganya dan berjanji untuk membuat keturunan Abraham menjadi suatu bangsa yang besar dan akan memberikan kepada mereka suatu tanah yang penuh dengan air susu dan madu, tanah perjanjian. Allah memperlihatkan kepada Abraham tanah itu.

    Sesudah itu Yoshua mengingatkan mereka bagaiaman Allah menganugerahkan Ishak kepada Abraham, dan Ishak memiliki Esau dan Yakub. Yakub memiliki anak-anak yang kemudian pergi ke Mesir dan memiliki keturunan yang sangat banyak. Tetapi kehidupan selanjutnya di Mesir membuat bangsa Israel kemudian diperbudak oleh bangsa Mesir dan mereka berteriak meminta tolong kepada Tuhan. Tuhan mengirimkan Musa dan Harun untuk menuntun mereka keluar dari Mesir. Dalam perjalanan di padang gurun itu diceritakan kembali oleh Yoshua bagaimana tangan Tuhan yang kuat tetap menuntun mereka sehingga tak ada satu musuhpun dapat mengalahkan mereka, bahkan Tuhan menurunkan roti dan daging dari langit, serta air dari batu cadas. Pada akhirnya mereka sampai ke tanah perjanjian, tanah yang penuh dengan air susu dan madu, tanah yang subur, semuanya bukan karena kemampuan mereka, tetapi karena Tuhan memberikannya kepada mereka.

    Dalam ayat 14 Yoshua mengingatkan mereka untuk tetap taat kepada Tuhan. Tetap tunduk dan mengormati Tuhan, agar berkat-berkat seperti yang saat ini mereka rasakan dan miliki dapat terus terjadi dalam hidup mereka. Yoshua meminta mereka untuk takut akan TUHAN dan beribadah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Tidak boleh ada allah lain, tetapi hanya beribadah kepada TUHAN.

    Dalam ayat 15, Yoshua meminta mereka untuk memilih, apakah mereka akan tetap beribadah kepada TUHAN atau kepada dewa-dewa nenek moyang mereka. Yoshua sendiri mengatakan bahwa apapun pilihan mereka, ia sendiri akan tetap memilih beribadah kepada TUHAN!

    Perkataan Yoshua ini merupakan suatu ketegasan pilihan. Apapun pilihanmu, tetapi aku akan tetap beribadah kepada Tuhan.

    Yoshua menentukan pilihannya berdasarkan bukti-bukti nyata perbuatan Tuhan di masa lalu, dan sampai dengan saat ini. Yoshua menghayati bahwa bukti-bukti itu sudah jauh mencukupi untuk tetap memilih beribadah kepada Tuhan. Yoshua yakin bahwa kalau Tuhan mampu berbuat hal-hal dasyat, mujisat-mujisat, di masa lalu sampai dengan saat ini, maka Tuhan yang sama akan tetap mampu melakukannya di masa depan, asalkan kita selalu hidup dalam kesetiaan dihadapan hadiratNya.

    Menurut Yoshua, Tuhan tak pernah gagal menolong mereka. Tuhan tak pernah membiarkan mereka terlantar. Ia adalah Tuhan yang mendengar tangisan mereka, bahkan meskipun mereka kadang tak setia kepadaNya. Tetapi ketika mereka berbalik dan memohon pertolonganNya, Tuhan tetap setia kepada mereka. Tuhan seperti itu yang menurut Yoshua adalah Tuhan yang patut disembah. Kita menilai Tuhan karena perbuatan-perbuatan ajaib dan besar yang telah dilakukanNya dalam hidup kita.

    Kita beribadah kepada Tuhan bukan karena kita takut akan kuasaNya yang besar, tetapi karena kasih sayangNya yang tak berkesudahan. Kasih setia Tuhan yang begitu besar dan agung kepada kita, meskipun kita sering tersandung dalam dosa dan jatuh, tetapi Tuhan tetap setia dan dengan kasih sayang mengulurkan tanganNya menolong kita, dan mengatur kembali hidup kita.

    Yoshua mengajarkan kepada kita bahwa dalam menentukan pilihan mengenai kepada siapa kita beribadah, tidak ada kata demokrasi, tidak ada rasa kuatir menjadi minoritas, kuatir ditinggalkan oleh kelompok yg lebih besar. Semuanya adalah keputusan individu dan bukan keputusan orang lain. Yoshua mengatakan bahwa bahkan meskipun kalian semua menolak untuk beribadah kepada Tuhan yang telah berbuat baik kepada kamu, namun aku akan terus beribadah kepada Tuhan, aku beserta seluruh keluargaku.

    Itulah pilihan yang harus dibuat oleh setiap orang sepanjang hidupnya. Terus beribadah kepada Tuhan, meskipun ada banyak tawaran, ada banyak iming-iming seperti kekuasaan, kekayaan atau bahkan hukuman mati.

    Zadrach, Mesach dan Abednego menghadapi pilihan itu apakah tetap menyembah Allah atau menyembah patung Nebukadneser. Mereka harus menentukan pilihan mereka dibawah ancaman hukuman mati dilemparkan kedalam dapur api yang menyala-nyala. Syukur mereka memilih yang benar, tetap beribadah kepada Allah dan diselamatkan.

    Mempertahankan iman percaya ditengah situasi seperti itu memang dibutuhkan keyakinan yang kuat dan teguh. Namun bila kita pernah merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita, pernah merasakan perbuatan-perbuatan besar Tuhan dalam hidup kita, mujisat-mujisat Tuhan, kita memiliki pengalaman batin bersama Tuhan yang memberikan kita keyakinan yang kuat dan teguh. Pengalaman akrab bersama Tuhan memberikan pegangan bahwa Tuhan itu ada dan tetap ada. Ia itu tidak berubah dulu, saat ini dan selamannya. Ia tetap setia dan akan selalu setia pada janjiNya kepada kita yaitu akan menyertai kita dalam situasi apapun yang kita hadapi.

    Apakah situasi hidup anda saat ini mengharuskan anda membuat pilihan, apakah terus beribadah kepada Tuhan, apakah terus setia kepada Tuhan atau menyangkal Tuhan?

    Kalau itu yang sedang anda hadapi, saya mengajak anda untuk memilih Tuhan. Jangan meninggalkan iman anda hanya karena tawaran kebahagiaan sesaat yang pada akhirnya akan membuat anda kecewa. Bahkan kalaupun anda terlanjur telah membuat keputusan yang salah, saya mengajak anda kembali kepada Tuhan dan memohon pengampunan. Tuhan tetap mencintai anda dan bersedia menerima anda kembali. Amin.

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.