Search blog.co.uk

  • Mengambil Satu Langkah Iman

    Bacaan: Hakim-Hakim: 6:25-32

    Gideon didatangi seorang malaikat Tuhan. Tuhan meminta Gideon untuk maju memimpin bangsa Israel mengalahkan tentara bangsa Midian dan Amalek, jumlahnya bagaikan pasir di tepi pantai. Namun sebelum Gideon melakukan hal tersebut masih ada satu hambatan yang merintangi Tuhan untuk membantu bangsa Israel, yaitu patung dan mezbah penyembahan berhala, Baal, milik orangtua Gideon yang ada di halaman rumah mereka.

    Tuhan tidak mau membantu kalau dalam rumah tangga, keluarga kita, masih ada penyembahan berhala. Patung berhala Baal sangat tidak disukai oleh Tuhan. Dalam salah satu hukum Torat disebutkan bahwa jangan ada padamu ilah-ilah lain di hadapanKu.

    Tuhan tidak menyukai ada ilah-ilah lain di hadapan hadiratNya. Bila kita menginginkan Tuhan intervensi membantu menyelesaikan persoalan yang kita hadapi, maka pertama-tama adalah membuang semua ketergantungan kita pada hal-hal lain kecuali kepada Tuhan saja.

    Kepada Gideon Tuhan meminta dia mengambil dua ekor lembu jantan milik ayahnya, satu akan dipakai untuk persembahan dan satu lembu jantan yang lain dipakai untuk meruntuhkan mesbah penyembahan kepada Baal milik ayahnya dan orang Israel, serta menebang tiang berhala dari kayu di samping mesbah.

    Sesudah meruntuhkan mezbah dan tiang berhala, Gideon harus mendirikan mezbah bagi Tuhan dan mempersembahkan korban menggunakan lembu jantan yang kedua serta menggunakan kayu tiang berhala yang ditebang itu.

    Perintah Tuhan ini bukan suatu perintah yang mudah, karena Gideon harus berhadapan dengan ayahnya serta orang Israel. Namun meskipun sangat takut, Gideon mengajak 10 orang temannya dan melakukan perintah Tuhan itu pada malam hari ketika semua orang telah tidur.

    Ketika orang-orang kota itu bangun pagi-pagi, tampaklah telah dirobohkan mezbah Baal itu, telah ditebang tiang berhala yang di dekatnya dan telah dikorbankan lembu jantan yang kedua di atas mezbah yang didirikan itu.

    Orang Israel menjadi sangat marah dan mereka mencari tahu siapa yang telah berbuat hal tersebut. Mereka mengetahui bahwa Gideon yang telah melakukannya. Mereka datang menghadap ayah Gideon agar ia menyerahkan anaknya agar dihukum mati. berkatalah orang-orang kota itu kepada Yoas, ayah Gideon: "Bawalah anakmu itu ke luar; dia harus mati, karena ia telah merobohkan mezbah Baal dan karena ia telah menebang tiang berhala yang di dekatnya."

    Apa yang terjadi, apakah Gideon diserahkan oleh ayahnya?

    Justru disinilah mujizat itu terjadi. Ketika kita berani mengambil satu langkah iman kearah penyerahan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan, maka Tuhan campur tangan dan mengubah jalan hidup kita. Gideon tidak diserahkan oleh ayahnya untuk dibunuh meskipun ia telah melecehkan dewa yang disembah oleh ayahnya dan orang Israel.

    Yoas berdiri di depan orang-orang Israel yang menuntut agar Gideon dihukum mati dan berkata: "Kamu mau berjuang membela Baal? Atau kamu mau menolong dia? Siapa yang berjuang membela Baal akan dihukum mati sebelum pagi. Jika Baal itu allah, biarlah ia berjuang membela dirinya sendiri, setelah mezbahnya dirobohkan orang."
    Perbuatan Gideon menghancurkan patung Baal telah membawa pertobatan dalam keluarga Gideon. Yoas, ayah Gideon bertobat dan berbalik menyembah Tuhan.

    Di dalam setiap masalah hidup kita selalu ada jalan yang dirancangkan Tuhan untuk selain membantu menyelesaikan masalah-masalah yang kita hadapi, juga meluruskan hidup kita, keluarga kita, atau orang-orang di sekitar kita. Hanya dibutuhkan satu langkah iman pertama dari kita untuk mengikuti perintah Tuhan, bahkan meskipun langkah iman kita itu dilakukan dengan perasaan penuh ketakutan, tetapi Tuhan mengubah langkah itu menjadi langkah yang besar yang berdampak pada banyak orang. Ketika kita membuat satu langkah kecil kepadaNya, Tuhan mengubah itu menjadi satu langkah besar bagi semua orang.

  • Memiliki Pemilik

    Ada seekor anak kucing kecil, kurus dan terlantar di pinggir jalan. Semua orang yang lewat tak ada yang memperhatikannya.

    Ketika saya memperhatikan kucing kecil, kotor dan kurus tersebut, saya teringat pada anak kucing kecil peliharaanku yang dibawa oleh anakku untuk dipelihara. Kucing peliharaanku sebenarnya sama saja dengan kucing yang kulihat tersebut sebelum ia di”adopsi” oleh anakku, perbedaannya adalah ia sekarang memiliki tuan yang memperhatikan dan memeliharanya Kucing kotor ini memiliki nasib berbeda karena perbedaan antara ada yang memiliki dan ada yang tidak.

    Ketika saya memikirkan perbedaan kedua kucing tersebut, si kucing kotor di depanku dan, si kucing kecil di rumahku, timbul dalam pikiranku betapa beruntungnya kucing yang diadopsi anakku itu.

    Begitu juga dengan kita orang percaya. Betapa beruntungnya kita memiliki Bapa di surga yang bersedia mengadopsi kita menjadi milikNya. Ia memberkati kita, dan menyayangi kita sedemikian rupa sehingga hidup kita terpelihara. Apa jadinya hidup kita bila berada di luar sana tanpa ada yang memiliki kita, tanpa proteksi dari Tuhan sebagai pemilik kita, kita mungkin memiliki nasib seperti si kucing kotor di depanku.

    Menyadari hal itu kita perlu bersyukur atas semua kesempatan, berkat, dan kesehatan yang boleh kita nikmati tanpa kita sadar akan hal itu. Kita seringkali jarang bersyukur atas apa yang kita terima dalam hidup kita karena kita tak pernah merasakan bagaimana hidup di luar sana tanpa perlindungan atau proteksi dari Tuhan.

  • “Tembok Berlin” Kita

    Chris Gueffroy yang berusia 20 tahun, merasa terkungkung di Republik Demokrasi Jerman Timur, DDR. Dan ketika terancam wajib militer, ia dan seorang temannya memutuskan untuk menyeberangi tembok.

    Tanggal 5 Februari 1989, mereka berdua, ia dan temannya, mencoba lari ke barat dengan menyeberangi tembok, namun Chris tewas ditembak tentara Jerman Timur yang menjaga tembok tersebut, sedangkan temannya luka parah dan dipenjarakan. Chris merupakan korban jiwa terakhir tembok Berlin yang diruntuhkan bulan November, tahun itu juga.

    Tembok Berlin merupakan simbol pemisah atau rintangan dalam kebebasan, kemajuan, atau kreatifitas kita. Setiap orang memiliki “tembok” serupa dalam kehidupan pribadi masing-masing. Ada yang berani memanjat, atau yang berusaha meruntuhkannya, dan ada bahkan yang hanya diam tanpa melakukan apa-apa karena takut.

    Dalam cerita perjalanan orang Israel dari Mesir ke Kanaan, Tanah Perjanjian, ada banyak sekali “tembok-tembok” serupa yang harus mereka lewati dan atasi. “Tembok” pertama mereka adalah menyeberangi laut merah, melawan para raja-raja yang tempatnya mereka lewati, menyeberang sungai Yordan, dan pada akhirnya meruntuhkan tembok kota Yericho.

    Dalam Yoshua 6:20 dikatakan: “Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu. “

    Pernahkan anda dalam suatu waktu tertentu harus menghadapi “tembok’ dalam hidup anda? Terobosan macam apa yang anda pilih untuk mengatasi “tembok” hidup anda? Kalau cara yang anda pilih sama seperti Chris dan temannya memanjat Tembok Berlin, maka hanya berakhir pada kematian. Tepai kalau anda memilih cara seperti yang dipakai oleh orang Israel ketika mereka berhadapan dengan “tembok” mereka, maka hanya ada kemenangan di pihak anda.

    Apa rahasia bangsa Israel dalam mengatasi “tembok” mereka?

    Seringkali kita berusaha mengatasi masalah kita hanya mengandalkan perjuangan kita sendiri, kekuatan diri kita sendiri. Padahal kemampuan kita sering tak sesuai dengan tingginya “tembok” yang harus kita atasi. Kita berusaha menggunakan kemampuan kita, tanpa tahu bahwa kita berhadapan dengan kekuatan di luar kita yang jauh melampaui kemampuan kita sendiri, sehingga pertarungan kita menjadi tak sebanding dan kita terpukul kalah.

    Solusi terhadap masalah kita sebenarnya bukan pada fisik kita. Seringkali solusi utama terhadap semua masalah yang kita hadapi bukan terletak pada solusi fisik kita, upaya jasmani kita, bukan terletak pada kemampuan fisik seperti uang, tenaga, bantuan teman, atau organisasi, tetapi tergantung pada hubungan kita dengan Tuhan yang memiliki solusi tersebut. Kita seringkali lupa, bahwa Tuhan yang mengontrol segala sesuatu, sehingga setiap kejadian, setiap masalah tak mungkin terjadi tanpa lepas dari tangan Tuhan. Masalah fisikal kita sering terpecahkan melalui solusi rohani kita dan bukan melalui kemampuan lahiriah kita semata-mata.

    Dalam meruntuhkan tembok kota Yericho, tak ada solusi fisikal dari bangsa Israel. Mereka menggunakan solusi rohani yaitu bersandar pada pimpinan Tuhan. Tuhan menyuruh mereka hanya berjalan berputar kota Yericho selama 6 hari tanpa bersuara. Tetapi pada hari ketujuh mereka harus mengelilingi kota itu tujuh kali dan para imam meniup sangkakala. Jika pada akhir perjalanan itu terdengar bunyi sangkakala tanduk domba yang panjang bunyinya, maka seluruh bangsa harus bersorak dengan sorak yang nyaring.

    Solusi rohani sering kedengarannya tak masuk akal dan mungkin menjadi bahan ejekan bagi orang lain. Kita bisa membayangkan orang Israel hanya berputar-putar bagaikan orang dungu mengelilingi tembok kota dengan berdiam diri. Bayangkan mereka pasti diperhatikan oleh para tentara di atas tembok kota tersebut. Mungkin pada hari pertama ketika bangsa Israel bergerak, para tentara kota Yericho siap siaga karena mengira orang Israel akan menyerang mereka, namun ketika mereka melihat bahwa orang Israel hanya berjalan berputar tembok kota mereka menjadi lega dan santai. Dalam pikiran mereka tembok kota terlalu tinggi sehingga mereka tak memiliki kemampuan.

    Hari kedua ketika orang Israel bergerak dan mengelilingi tembok kota lagi, mungkin mulai menjadi bahan tontonan dan tertawaan para tentara dan penduduk kota. Apalagi itu terjadi juga pada hari ketiga, keempat sampai keenam. Bayangkan, ejekan yang diterima oleh orang Israel dari para penduduk dan tentara kota Yericho. Mereka pasti mengira orang Israel telah menjadi gila karena frustasi.

    Cara-cara Tuhan bekerja sering menjadi bahan tertawaan, ejekan, atau cemohon banyak orang karena tak masuk akal. Ketika Nuh membuat bahtera yang sangat besar dan jauh dari laut atau bibir sungai, ia dan keluarganya menjadi bahan ejekan dan tertawaan semua orang. Namun siapakah yang akan menjadi bahan tertawaan terakhir?

    Hal itu terjadi dengan penduduk kota Yericho, ketika orang Israel memulai kegiatan berjalan mereka pada hari ketujuh, penduduk kota Yericho pasti mulai naik ke atas tembok dan mengejek orang Israel seperti hari-hari sebelumnya. Namun, hari ini mereka melihat perbedaan, karena orang Israel berjalan lebih lama, tujuh kali memutar tembok kota sambil meniup terompet. Wah, wah, kegilaan apa lagi yang dilakukan orang Israel hari ini. Itulah yang mungkin ada dalam pikiran penduduk Yericho. Namun apa yang terjadi pada akhir perjalanan hari itu jauh berbeda dari hari sebelumnya yang tidak diketahui oleh mereka, itulah hari kehancuran mereka, akhir nasib mereka.

    Ketika para iman meniup sangkakala tanduk domba yang panjang bunyinya, maka orang Israel bersorak serentak, dan Tuhan meruntuhkan tembok-tembok kota tersebut.

    Adakah hal yang tak mungkin Tuhan lakukan. Haruskah Tuhan menggunakan cara-cara yang sama seperti yang dipikirkan oleh manusia?

    Tuhan dapat menggunakan cara-cara apa saja yang mungkin dianggap bodoh oleh akal sehat manusia.

    Mulailah sesuatu bersama Tuhan. Mulailah perjalanan anda dalam mengatasi “tembok” perintang hidup anda bersama Tuhan. Bersandarlah kepada Tuhan dan nantikanlah bagaimana Dia mengatasi persoalan hidup anda. Tuhan memberkati anda.

  • Jangan Pilih Kasih

    Bacaan: 1 Korintus 4:6-13

    Bacaan kita pada pagi hari ini mengajarkan kepada kita tentang kebanggaan dalam kehidupan rohani kita.
    Banyak perpecahan dalam jemaat terjadi karena sikap dan kebanggan diri kita.

    Ada kecenderungan dalam jemaat untuk mengidolakan seseorang , atau pelayanannya sebagai yang lebih baik, lebih spiritual, atau lebih rohani dari pada yang dilakukan oleh orang lain. Sikap seperti ini sering menimbulkan perpecahan dalam tubuh gereja.

    Dalam bacaan ini, jemaat di Korintus memiliki kebanggaan bahwa mereka adalah warga negara yang terhormat dengan status dan pengaruh dalam masyarakat, sementara Paulus dianggap sebagai orang yang tak berharga, terbuang dan tertuduh yang akan dihukum mati. Sebagian jemaat di Korintus berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang bijaksana, berkuasa, dan dihormati, dan Paulus hanya seorang bodoh, lemah dan tak terhormat. Mereka mempermalukan Paulus dan menolak citra Paulus dalam jemaat mereka. Seperti terjadi dalam ayat 11-13 Paulus melukiskan dirinya sebagai lapar, telanjang, dihina, difitnah dan terbuang karena jemaat Korintus berupaya menghindari keterikatan dengan dirinya.

    Dalam ayat 8 dan 10, citra yang dilukiskan oleh Paulus tentang jemaat di Korintus sebagai rasa bangga terhadap diri sendiri, karena mereka hidup dalam kelimpahan yang jauh berbeda dari kehidupan para rasul yang hina, hidup yang menderita karena Injil Yesus.

    Dalam ayat 6: kita diberi gambaran bagaimana situasi jemaat Korinstus. Loyalitas mereka terpecah ke berbagai rasul, ada yang ke Paulus, ada yang ke Apollos dan ke rasul yang lain.

    Dalam bacaan ini Paulus mengalamatkan nasehatnya terutama kepada mereka para pengikut Apollos yang bersifat mempermalukan Paulus. Paulus mengambil contoh dirinya dan Apollos sebagai ilustrasi saja bahwa hal seperti ini dapat juga terjadi pada kelompok pengikut para rasul atau pelayan jemaat yang lain.

    Perkataan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain. Dengan perkataan lain: ikuti petunjuk yang terdapat dalam Alkitab saja, sehingga terhindar dari sikap mengidolakan, mengistemewakan pelayanan seseorang dari pada orang lain.

    Dengan kata lain jadilah pengikut firman Tuhan dari pada pengikut kata-kata manusia dan interpretasi. Firman Tuhan harus menempati posisi / otoritas tertinggi, dari pada perkataan atau interpretasi manusia. Menurut Paulus, apa yang dikatakan manusia dapat saja salah dan menimbulkan perpecahan dalam jemaat.

    Dalam ayat 7 Paulus menantang mereka yang menentang pelayanannya. Kebanggan jemaat terhadap Apollos, menunjukkan kelemahan atau ketidakmampuan mereka untuk berterima kasih dan mengucap syukur. Mereka tak memiliki pemahaman akan bagaimana Tuhan bekerja dalam jemaat. Karena dosa kejatuhan, kita sering menjadi arogan, sombong dan meninggikan diri kita. Bukannya merendahkan diri dan bersyukur kepada Tuhan melalui kehadiran pelayanan hamba-hambaNya yang dipilih untuk menasehatkan kita, kita justru berpaling hanya pada mereka yang menyenangkan hati kita saja, pelayanan yang hanya mendukung gaya hidup atau citra hidup kita yang penuh glamour, penuh kesenangan dan kehormatan, dan menolak pelayanan yang tidak kita sukai.

    Perlu kita tahu Paulus adalah pendiri jemaat di Korintus dan Appollos adalah penerusnya. Memakai istilah Paulus: Paulus yang menanam, Apollos yang menyiram, tetapi Tuhan yang memberi pertumbuhan. Dua-duanya hanya pelayan tetapi sumber kehidupan dan pertumbuahan jemaat sebenarnya ada pada Tuhan. Hanya Tuhan yang patut dimuliakan.

    Perhatikan pertanyaan pertama dalam ayat 7: Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Ya apa yang membuat kamu merasa dirimu penting, sehingga dapat menilai pelayanan pelayan-pelayan Tuhan? Siapakah kamu, sehingga berani menilai pelayanan dari para hamba Tuhan?

    Pertanyaan kedua: Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Pertanyaan ini menunjukkan tak ada rasa syukur di kalangan jemaat Korintus. Kata-kata Paulus bukan akibat karena merasa teraniaya dan melontarkan pembelaannya, tetapi kata-katanya itu merupakan inspirasi dari Tuhan. Perkataan itu berasal dari perkataan Tuhan kepada Ayub dalam Ayub 38:2-4 (terjemahan sehari-hari): 38:2 "Siapa engkau, sehingga berani meragukan hikmat-Ku dengan kata-katamu yang bodoh dan kosong itu? 38:3 Sekarang, hadapilah Aku sebagai laki-laki, dan jawablah pertanyaan-pertanyaan ini. 38:4. Sudah adakah engkau ketika bumi Kujadikan? Jika memang luas pengetahuanmu, beritahukan!

    Tuhan menunjukkan kenyataan bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah pemberian dari kemurahanNya. Tak ada yang sepatutnya menjadi milik kita yang datang karena kemampuan kita. Jika kita memahami kebenaran akan kemurahan Tuhan ini dengan sungguh-sungguh, maka kita akan hidup dengan sikap yang sepenuhnya bersyukur kepada Tuhan dan kepada orang lain. Tuhan menggunakan orang-orang di sekitar kita untuk melayani kehidupan kita. Tetapi ketika kita seperti jemaat di Korintus, merasa lebih baik, lebih bijaksana, terhormat atau lebih tinggi dari orang lain di sekitar kita, maka kita menaruh posisi kita sebagai hakim bagi orang lain. Kalau kita menghakimi orang lain, kita tidak memahami kemurahan Tuhan dengan baik dan tak ada kerendahan hati seperti yang ditunjukkan oleh Yesus dalam hidup kita.

    Pertanyaan ketiga dalam ayat 7, “Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya? Dengan perkataan lain, kalau kamu menerima kemurahan Allah, mengapa kamu bersikap atau bertingkah seolah-olah itu karena kamu berharga, dan sudah sepantasnya menerima semua yang kamu miliki?
    Seseorang yang pernah mengalami kemurahan hati Tuhan, karena dibebaskan dari suatu masalah, akan memiliki kerendahan hati dan rasa syukur tak terhingga. Tetapi ketika hidup kita hanya dipenuhi oleh kedagingan kita, oleh kesombongan, atau keangkuhan kita, maka hanya ada kebanggan diri dan penghakiman pada orang lain.

    Kemurahan Tuhan merendahkan sikap kita untuk melihat orang lain seperti Tuhan melihat mereka dengan penuh rasa iba dan kasih sayang kepada mereka. Yesus ketika disalib berdoa kepada BapaNya, “Ya Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Yesus tidak menghakimi mereka , tetapi Ia meminta Bapanya mengampuni dan menggerakkan hati mereka untuk bertobat. Hasilnya adalah salah seorang penjahat di samping Yesus bertobat, dan beberapa perwira Romawi mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah.

    Ayat 8: “Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja.. ..” Penggunaan kata “kamu telah...” secara berulang-ulang mau menunjukkan bahwa mereka telah diberkati dengan kelimpahan dalam hidup mereka di bumi ini, padahal sebagian orang lain harus menunggu hingga sampai tiba di surga baru dapat merasakan hal seperti itu.

    Jemaat Korintus hanya minoritas, namun mereka mendapatkan keistemewaan untuk menikmati hidup dalam kemakmuran sedangkan orang lain hidup dalam kemiskinan.

    Namun bagi Paulus, persoalannya bukan karena kekayaan dan kemakmuran yang mereka nikmati, tetapi pada sikap hidup mereka yang yang dipenuhi dengan kesombongan dan keangkuhan terhadap berkat dan kemurahan Tuhan yang telah mereka terima.

    Jemaat Korintus memiliki keyakinan bahwa mereka adalah anak raja dan hidup sebagai anak-anak kerajaan Allah di bumi ini. Hal ini terlihat dari perkataan Paulus dalam ayat 8: ” Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu.”

    Padahal hidup dan memerintah seperti yang dimaksud oleh Yesus bagi orang percaya baru akan terjadi sesudah Ia datang kedua kali dimana semua orang percaya akan memerintah bersama dengan Dia. Jadi perkataan Paulus ini suatu sindiran bagi jemaat di Korintus yang memiliki keyakinan spiritual yang salah.

    Paulus menyatakan betapa baik kalau keyakinan mereka benar sehingga para rasul pun dapat ikut memerintah bersama mereka. Namun keyakinan mereka itu salah dan bukan merupakan bagian dari cara hidup para rasul. Sebagai orang kristen kita diminta untuk hidup yang menyangkal diri kita, hidup yang bukan untuk diri sendiri, tetapi hidup untuk kemuliaan nama Yesus.

    Ayat 9: Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia.

    Perkataan Paulus ini mengacu kepada para tawanan perang tentara Romawi yang digiring menjadi tontonan orang banyak, dihina dan bahkan dilemparkan ke dalam arena dalam pertarungan brutal manusia - binatang. Orang kristen sering di kejar, di penjara dan dihukum mati.

    Paulus tidak sedang menangisi dirinya sendiri karena kesulitan hidup dan kehinaan yang diterimanya, tetapi ia sedang merasa prihatin dengan kondisi jemaat Korintus. Paulus mengenal dan menyadari lingkungan di mana Tuhan menempatkan dirinya dan ia prihatin dengan sikap jemaat Korintus yang tidak mau mengikuti cara hidupnya.

    Ayat 10: “Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina. “
    Memang pemberitaan tentang salib menjadi kebodohan bagi mereka yang binasa, tetapi bagi mereka yang diselamatkan itu adalah hikmat dan kekuatan Allah (1 Kor :23-24).

    Jemaat di Korintus sepertinya sedang mengejar hal-hal kebinasaan dari pada hal-hal keselamatan. Mereka lenih suka mengejar hikmat duniawi yaitu ingin menjadi terhormat, berkuasa, atau berpengaruh. Hikmat duniawi bertentangan dengan Hikmat Allah seperti tertulis dalam 1 Kor 3:19: ...” hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: "Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya."

    Ayat 11-13 Paulus memberikan daftar situasi yang dialami yang para rasul dalam pemberitaan Injil yang sangat jauh berbeda dengan kondisi hidup jemaat Korintus.

    Kita sering seperti jemaat di Korintus menggantungkan diri pada kesuksesan, kekuasaan dan pengaruh. Ketika semua sumber tempat kita bergantung diambil, maka kita baru mau bergantung sepenuhnya padaTuhan.

    Dalam 2 Kor 12:9-10: Tuhan berkata kepada Paulus: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 12:10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.

    Kuasa Kristus merupakan satu-satunya sumber pertolongan Paulus dalam hidupnya. Penderitaannya mendorong dia hanya bergantung sepenuhnya pada Yesus. Penderitaan memang merupakan keinginan Tuhan agar kita bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dari pada kemampuan kita sendiri.

    Pesan Paulus dalam bacaan ini adalah bahwa tak ada masalah dengan kekayaan dan kehormatan, tetapi sikap kita terhadap kekayaan, kekuasan serta kehormatan itu yang sangat berbahaya. Gehazi, pelayan Eliza, memburu kekayaan sehingga penyakit lepra dari Naaman berbalik menjadi penyakitnya sendiri. Ananias dan Sapira menerima kematian karena keinginan akan uang.

    Tuhan melihat hati kita, adakah hati yang tahu mengucap syukur kepadaNya dan tidak menghakimi orang lain karena apa yang kita miliki. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

  • Mengucap Terima Kasih Kepada Tuhan

    Seberapa sering kita mengucap terima kasih kepada Tuhan akan apa yang Tuhan telah perbuat dalam hidup kita?

    Kita sering terlalu sibuk menerima berkat-berkat Tuhan sehingga lupa mengucapkan terima kasih atas apa yang kita telah terima dari padaNya. Ketika kita berada dalam kesulitan dan kesusahan kita datang kepada Tuhan dan berdoa memohon kelepasan dari semua beban yang menindih kita. Namun apakah kita pernah mengucap terima kasih sesudah kita terlepas dari semua beban berat tersebut?

    Dalam kehidupan kita yang serba padat dan terburu-buru setiap hari, kita sering jarang memiliki waktu yang cukup untuk Tuhan atau bahkan mengucap syukur kepadaNya. Kadang doa-doa kita begitu terburu-buru, hambar dan tak ada rasa cinta kepada Tuhan. Doa-doa kita sering hanya merupakan suatu kebiasaan dari pada suatu pemujaan dan sembahan bagi Tuhan.

    Waktu bersama Tuhan merupakan kesempatan istemewa bagi kita. Bayangkan anda mendapatkan kesempatan istimewa untuk bertemu dengan seorang Pemimpin yang sangat agung dan berkuasa. Ia mau meluangkan waktu untuk menerima anda dan mendengarkan curahan hati anda. Adakah pemimpin seperti itu di dunia ini? Tak ada yang seperti itu. Namun Tuhan menyediakan waktu bagi kita untuk datang kepadaNya dan menerima curahan hati kita. Ia bahkan akan memberkati kita dengan segala kelimpahan yang kita perlukan untuk hidup ini.

    Dalam Kejadian 35:3, Yakub berkata kepada seisi rumahnya: “Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh."

    Yakub mengambil waktu khusus dari semua kesibukan rutinnya dan membuat mezbah bagi Allah bukan untuk memohon sesuatu dari padaNya, tetapi ia ingin mengucap syukur kepada Tuhan yang telah menjawab permohonan doanya ketika ia berada dalam kesesakannya. Yakub berhenti dari kesibukannya, dan mengambil waktu khusus untuk mengucap syukur, berterima kasih, dan menyembah Tuhan atas segala kebaikan Tuhan kepadanya.

    Ketika kita tahu berterima kasih atas kebaikan Tuhan di masa lalu, maka hal tersebut akan menguatkan iman kita untuk menghadapi masa depan. Ada Tuhan di masa lalu kita, dan akan terus ada Tuhan di masa depan kita. Tuhan tidak berubah di waktu lalu, saat ini dan akan datang. Ketika kita membuat mezbah penyembahan bagi Tuhan atas kebaikanNya di masa lalu, kita membuat tugu-tugu peringatan yang akan mengingatkan kita maupun anak-anak serta saudara-saudara kita akan kasih dan penyertaan Tuhan pada kita dan bahwa Tuhan akan selalu menyertai kita apapun yang akan kita hadapi di masa depan. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Itulah arti penyembahan kita. Tugu peringatan akan kasih dan penyertaan Tuhan kepada kita.

    Sangat penting mengambil waktu khusus bagi Tuhan dan mendirikan tanda peringatan akan setiap kasih dan penyertaan Tuhan yang telah terjadi dalam hidup kita agar tugu atau tanda peringatan itu memberikan kekuatan iman di masa depan ketika kita harus menghadapi pergumulan hidup yang lebih berat. Tuhan menyertai anda kemanapun anda berjalan. Amin.

    Tetap Cinta Yesus - Herlin Pirena

    Kumau cinta Yesus selamanya,
    Kumau cinta Yesus selamanya
    Meskipun badai silih berganti dalam hidupku,
    Ku tetap cinta Yesus selamanya
    Ref
    Ya Abba, Bapa, Ini aku anakMu
    Layakkanlah seluruh hidupku
    Ya Abba, Bapa, Ini aku anakMu
    Pakailah sesuai dengan rencanaMU

  • Hadiah Ulang Tuhan Dari Tuhan

    Mungkin anda jarang meminta hadiah ulang tahun anda. Mungkin anda berpikir meminta hadiah ulang tahun bagi diri anda sesuatu yang tabu dan hanya dilakukan oleh anak-anak kepada orang tuanya.

    Kebanyakan orang dewasa jadi malu meminta hadiah ulang tahun bagi dirinya sendiri. Ketika kita masih anak-anak kita mungkin sering meminta hadiah ulang tahun dari orangtua kita. Namun seseudah kita dewasa, kita merasa tak ada orang lain yang mau memberikan kado ulang tahun untuk kita.

    Hadiah ulang tahun merupakan suatu tanda sukacita, bahwa ada orang lain mengingat hari kejadian kita, hari kelahiran kita. Kehadiran kita di dunia ini ada nilainya, ada kontribusinya. Jadi ketika orang mengingat hari ulang tahun kita, orang merasa kehadirang kita atau keberadaan kita di dunia ini membawa dampak positif bagi lingkungan dimana kita berada.
    Namun apa yang mau saya ungkapan disini bukan keinginan mendapat hadiah dari sesama kita, tetapi keinginan mendapatkan hadiah ulang tahun dari Tuhan. Itulah yang saya inginkan, jauh hari sebelum tanggal hari ulang tahunku terjadi.

    Saya memohon hadiah istimewa dari Tuhan untuk HUT, hadiah itu adalah puncak dari karier tertinggi di bidang akademik, yaitu Guru Besar. Kalau mengingat kembali peristiwa itu, permohonan saya ini seperti sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Usulan untuk pengangkatan GB itu begitu sulit, mengalami hambatan dan biasanya membutuhkan waktu yang sangat lama. Sedangkan permohonanku itu saya naikkan kepada Tuhan kurang dari empat bulan sebelum HUT. Permohonanku itu saya tuliskan dalam sehelai kertas dan saya taruhkan dalam Alkitab saya.

    Adakah hal yang tak mungkin yang tak dapat Tuhan lakukan?

    Tak ada sesuatu yang terlalu sulit bagi Tuhan. Tak ada hal yang sangat mustahil untuk Tuhan lakukan. Tak ada yang terlalu besar bagi Tuhan yang mau ia berikan kepada kita. Semuanya mampu dilakukan Tuhan, dan Tuhan sangat senang memberikan kepada siapa saja bila ia mau datang dan memohon kepadaNya.

    Tuhan Yesus pernah berkata:”mintalah, maka semuanya akan diberikan kepadamu. Ketoklah pintu, maka pintu akan dibukakan kepadamu.” “Mintalah sesuatu kepada Bapa di surga dalam nama Yesus.”

    Doa kita memiliki kekuatan yang membuka pintu-pintu berkat Allah. Doa memiliki kuasa yang menghapus hal-hal yang mustahil.

    Saya telah meminta hadiah ulang tahun dari Tuhan, dan Ia memberikan sama seperti yang saya minta. Kado ulang tahun itu, berupa SK GB, turun seminggu sebelum hari ulang tahunku. Adakah sesuatu yang tak tak bisa Tuhan lakukan?

    Kalau anda belum pernah menerima sesuatu dari Tuhan, saya menyarankan anda meminta hal tersebut dari Tuhan. Tuliskan permintaan anda itu dan simpan, tunggu sampai permintaan anda itu terwujud. Anda akan merasa takjub dengan bagaimana Tuhan menjawab permintaan doa anda. Amin.

  • Doa Seorang Raja yang Jahat

    Bacaan: 2 Raja-Raja 13:1-5

    Yoahas seorang raja Israel yang jahat di mata Tuhan karena ia tidak bersandar kepada Tuhan dan membawa orang Israel menyembah Tuhan, tetapi menyembah kepada patung-patung berhala. Hal ini membuat Tuhan murka kepada bangsa Israel dan diserahkannya mereka kepada tangan Hazael, raja Aram, dan ke tangan Benhadad, anak Hazael. Penindasan yang dilakukan oleh bangsa Aram kepada bangsa Israel begitu berat dan hebat sehingga hampir memunahkan bangsa tersebut.

    Dalam situasi seperti itu raja Yoahas melakukan sesuatu yang tak terduga, dia berdoa kepada Tuhan. Seorang raja Israel yang jahat, yang selalu menyembah patung dewa-dewa, tiba-tiba datang berdoa kepada Tuhan dengan setulus hati. Seorang jahat di tengah krisis dan keputusasaan berseru kepada Tuhan dalam doa.

    Mungkin anda berpikir tidak pantas orang seperti itu datang kepada Tuhan setelah apa yang selama ini dilakukannya menghujat nama Tuhan.

    Namun apa yang terjadi adalah sebaliknya. Tuhan melihat betapa beratnya bangsa Israel ditindas sehingga timbul belas kasihanNya dan Ia mengabulkan doa Yoahas. Allah menjawab doa seorang yang sebenarnya tidak pantas untuk didengar dan ditolong.

    Mengapa?

    Tuhan tidak sama dengan manusia. Kasih Allah melampaui akal manusia, melampaui tingginya langit dari bumi. Ketika seorang berdoa dalam kesesakannya, Allah melihat ketulusan hatinya. Ada ketulusan hati dalam permintaan doa Yoahas yang menggerakkan hati Allah untuk menolong. Selain itu karena permohonan doa Yoahas tidak disampaikan semata-mata untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi untuk kepentingan bangsanya. Hal ini mengingatkan Tuhan akan janjinya kepada Salomo bahwa walaupun bangsa ini sudah berbuat jahat kepada Tuhan, tetapi bila mereka mau datang berseru kepada Tuhan, maka Ia akan menolong mereka.

    Doa dan keprihatinan Yoahas sebagai seorang raja kepada nasib bangsanya yang sangat menderita menjadi petisi kepada Allah, suatu teriakan putus asa yang naik ke hadirat Allah yang mahakuasa, dan Ia mendengar dan mengabulkannya. Allah memberikan mereka seorang penolong.

    Apa yang kita pelajari dari cerita Yoahas ini? Allah memperhatikan doa orang yang dengan tulus mau datang memohon kepadaNya bahkan doa dari seorang yang sebenarnya tidak pantas untuk didengar oleh Tuhan karena selalu menghujat Dia.

    Kasih Allah sangat besar. Ketika kita mau berbalik kepadaNya dan mengaku semua dosa-dosa kita, maka Ia akan mengampuni kita bahkan melupakan dosa-dosa kita sebelumnya. Ia melupakan dosa-dosa kita bagaikan kabut yang diterbangkan angin sehingga tak terlihat bekasnya sama sekali. Begitu besarnya kasih Allah kepada kita sehingga Ia rela menebus dosa-dosa kita dan membebankannya pada AnakNya Yesus Kristus melalui kematianNya. Di dalam Yesus semua dosa-dosa kita itu diampuni.

    Tidak ada seorangpun yang tidak pantas untuk Tuhan. Siapapun anda, apapun dosa yang pernah anda lakukan di masa lalu, bila anda bersedia datang kepada Tuhan dan mengaku dengan tulus kepadaNya, maka anda akan diampuniNya. Anda akan menerima hidup baru dalam Kristus. Jangan segan-segan datang kepada Tuhan dan membawa permohonan doa anda kepadaNya, karena ia memperhatikan doa setiap orang. Amin

  • Lubang Kosong Dalam Hati

    Robert F Kennedy, Jr. pernah berkata bahwa semua orang pada dasarnya memiliki lubang kosong di dalam diri mereka yang berusaha mereka isi dengan uang, obat terlarang, alkohol, kekuasaan – dan tidak satu pun dari benda material itu berhasil.

    Lubang kosong dalam diri seseorang bisa berupa suatu kerinduan akan suatu tempat perhentian yang dapat menampung keresahan dalam diri kita, rasa dahaga dalam batin akan sesuatu yang kita sendiri tak mampu mengungkapkan apa yang sebenarnya kita inginkan, atau suatu pencarian dan petualangan dalam hidup yang tak pernah berhenti dan terpuaskan sampai jiwa meninggalkan badan.

    Sir Edmund Percival Hillary adalah seorang pendaki gunung terkenal,karena ia yang pertama kali menaklukkan Puncak Everest , puncak tertinggi Pegunungan Himalaya. Ia mencapai puncak yang tingginya 8.850 meter pada tanggal 29 Mei 1953.

    Sebagai orang terkenal Sir Edmund pernah bertemu dan bercakap dengan Menlu Israel, Abba Eban. Eban bertanya kepada Sir Edmund apa sebenarnya yang ia rasakan ketika ia tiba di puncak. Sir Edmund menjawab bahwa perasaan pertamanya adalah kegembiraan luar biasa atas prestasinya, tetapi kemudian datang perasaan hampa, apa lagi yang tersisa untuk dilakukannya?

    Manusia selalu memiliki kekosongan dalam dirinya. Apapun yang kita lakukan dan prestasi apapun yang kita capai dalam hidup kita, pada akhirnya hanya menimbulkan rasa ketidakpuasan dan kehampaan dalam diri kita yang tidak bisa diisi hanya dengan prestasi atau benda-benda material belaka. Blaise Pascal, seorang filosof terkenal , menulis, “Ada kehampaan berbentuk Tuhan dalam hati setiap manusia yang tidak bisa diisi oleh benda ciptaan apapun, melainkan hanya oleh Tuhan, Sang Pencipta, yang dikenal melalui Yesus Kristus.”

    Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat menawarkan rasa dahaga dalam diri manusia. Tak sesuatupun di dunia ini yang dapat mengisi kekosongan dalam batin manusia. Sekencang apapun kita berlari, sekeras apapun kita berusaha membebaskan perasaan kekosongan tersebut, mencoba mengisinya dengan prestasi, kekayaan,atau kekuasaan, kita tak akan mampu menghilangkannya dari dalam diri kita, bahkan usaha dan perjuangan kita itu semakin membuat kekosongan dan kehampaan itu menjadi makin besar. Hanya Tuhan satu-satunya yang dapat memberikan kedamaian dalam batin kita, memuaskan rasa dahaga kita, memberikan tempat perhentian bagi jiwa yang merana. Yesus berkata, “ Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28).

    Yesus berkata, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." (Yohanes 4:13-14).

    Hanya Yesus yang dapat mengisi kekosongan dalam hati kita. Hanya Dia yang dapat memuaskan dahaga dalam batin kita. Hanya Dia yang dapat menyegarkan jiwa kita yang letih lesu.

    Bila beban hidup anda terasa berat, jangan putus asa, datanglah kepada Yesus dan terimalah Dia sebagai Juruselamat anda. Dia akan memberikan damai sejahtera bagi hidup anda dan memakai hidup anda sebagai hidup yang penuh ucapan syukur kepadaNya.

    Betapa Hatiku - Nikita

    betapa hatiku, berterima kasih Tuhan
    Kau mengasihiku, Kau memilikiku

    hanya ini Tuhan persembahanku
    segenap hidupku, jiwa dan ragaku
    sebab tak kumiliki harta kekayaan
    yang cukup berarti, 'ntuk kupersembahkan
    hanya ini Tuhan permohonanku
    terimalah Tuhan persembahanku
    pakailah hidupku sebagai alatMu, seumur hidupku

  • Bila Doa Tak Dikabulkan

    Ketika istri seorang teman sakit keras, ia meminta kami semua untuk mendoakan istrinnya. Kami berdoa secara pribadi kepada Tuhan agar Tuhan dapat mengijinkan istri teman ini dapat sembuh, namun dua hari kemudian istri teman kami meninggal.

    Ketika doa kita tidak dikabulkan oleh Tuhan ada perasaan pedih karena apa yang kita harapkan tidak kita dapatkan. Apalagi bila kita telah berupaya berdoa dengan sungguh-sungguh tetapi hasilnya berlawanan dengan yang kita harapkan.

    Mungkin ada sebagian orang akan menyalahkan kita dengan menganggap doa kita kurang sungguh-sungguh, atau iman kita kurang besar. Hal ini berdasarkan perkataan Tuhan Yesus bahwa kalau iman kita sebesar biji sesawi kita dapat berkata kepada gunung untuk pindah ke laut dan itu akan terjadi.

    Memang ada benarnya doa kita tidak dijawab karena kita kurang sungguhsungguh berdoa kepada Tuhan. Tapi yang mau saya sampaikan dalam kesempatan ini adalah apakah sikap kita ketika doa kita tak dikabulkan oleh Tuhan?

    Dalam Alkitab kita mengenal Daud yang sangat dikasihi oleh Tuhan. Daud memiliki hubungan yang sangat erat dengan Tuhan. Meskipun ia kadang juga jatuh dalam dosa, namun ia mendapatkan pengampunan dari Tuhan dan sangat dikasihi oleh Tuhan.

    Daud berdoa kepada Tuhan agar ia diijinkan membangun Bait Allah bagi Tuhan. Apa yang salah dengan permohonan ini? Membangun Bait Allah adalah suatu keinginan luhur yang keluar dari dalam lubuk hati Daud sebagai ucapan syukur kepada Tuhan karena Tuhan telah memberkati dia dari seorang yang tiada apa-apa menjadi seorang raja yang besar. Menurut jalan pikiran manusia yang paling logis sekalipun permintaan seperti ini pasti akan dikabulkan Tuhan, bahkan ada yang mengatakan seharusnya tak perlu memohon ijin kepada Tuhan.

    Namun apa yang terjadi ketika Daud berdoa meminta ijin dari Tuhan, Tuhan menyuruh nabi Nathan berkata tidak. Bukan Daud yang akan membangun Bait Allah, tetapi nanti sesudah ia mati, anaknya yang akan membangun Rumah Tuhan.

    Daud pasti sangat kecewa mendengar keputusan Tuhan melalui nabi Nathan. Ia sangat menginginkan melakukan sesuatu yang baik bagi Tuhan sebagai tanda ucapan syukur, namun Tuhan tidak menerima niatnya itu.
    Pelajaran apa yang dapat kita petik dari hal ini ketika Tuhan berkata tidak pada doa-doa kita?

    Tuhan itu baik, bahkan meskipun Ia berkata tidak pada permohonan doa kita. Tuhan mengetahui apa yang terbaik bagi kita lebih dari pada apa yang kita ketahui. Tuhan memiliki rencana bagi kita, dan rencana Tuhan itu adalah rencana damai sejahtera untuk masa depan yang baik bagi kita yang selalu bersandar kepadaNya.

    Oleh karena itu, kalau Tuhan mengatakan tidak pada permohonan doa kita, maka kita harus tetap percaya kepadaNya dan mengikuti rencana Tuhan bagi hidup kita. Tuhan memiliki alasan tersendiri yang tidak kita ketahui. Kalalu kita mau percaya kepadaNya, maka pada akhirnya kita akan memahami mengapa Tuhan memutuskan demikian bagi kita dan menyadari bahwa itu adalah keputusan yang terbaik bagi kita. Kita akan bersyukur kepadaNya dan memuliakan Dia.

    Dari penolakan Tuhan atas permintaan doa kita, kita belajar untuk percaya, belajar untuk rendah hati dan belajar untuk menghargai, menghormati dan mengasihi Tuhan atas keputusan-keputusanNya bagi hidup kita. Ketika kita tetap bertahan dan bahkan mengasihi Tuhan di saat-saat yang paling gelap dalam hidup kita, maka Tuhan akan memberkati kita dengan berbagai kelimpahan.

    Kita dapat belajar dari cerita Ayub bagaimana tetap bertahan dalam situasi tergelap dalam hidup kita. Ayub tetap bertahan, ia tetap menghormati Tuhan ketika semua yang ia miliki hilang satu persatu dan ia jatuh pada titik yang paling gelap. Istrinya sempat menganjurkan agar Ayub menghujat Tuhan dan lalu mati, namun Ayub tetap percaya kepada Tuhan. Ayub mendapatkan kembali hidupnya dan diberkati Tuhan jauh lebih baik dari kehidupannya semula.

  • Menerima Benih Dari Tuhan

    2 Korintus 9:10-11 “ Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. “

    Suatu benih adalah suatu bibit kehidupan. Benih belum menjadi kehidupan dan akan tinggal menjadi benih kalau kita tidak menanamnya dalam tanah.

    Benih memiliki jenis yang bermacam-macam, ada yang besar tetapi ada yang sangat kecil sekali bentuknya.

    Namun hasil dari suatu benih tidak diukur dari besar benih tersebut. Seringkali benih yang kecil justru memberikan bentuk kehidupan yang besar. Benih pohon besar sering berupa suatu bijian yang kecil.

    Kualitas benih sangat mempengaruhi kualitas panen yang akan dihasilkan. Benih yang baik akan menghasilkan hasil yang panen yang baik pula. Namun benih yang jelek akan mengasilkan panen yang jelek pula.

    Para petani memiliki banyak alternatif benih untuk di tanam dalam sawah atau kebun mereka. Mereka dapat memilih benih jagung, padi, jeruk, dsb. Mereka juga dapat memilih benih yang murah atau benih berkualitas baik. Namun benih hanyalah bibit, ia akan tinggal menjadi benih kalau petani tidak menanamnya dalam lahan mereka.

    Begitu juga kita manusia, kita semua memiliki kebebasan memilih benih untuk ditanam dalam kehidupan kita hari ini. Ada banyak alternatif benih yang dapat kita pilih salah satunya untuk kita tanam dalam hidup kita. Tanpa memilih benih dan menanamnya, maka tak ada panen bagi kita. Setiap orang menerima dari benih yang ditanamnya. Tanpa benih tak ada kehidupan. Benih adalah apa yang anda tanam, atau investasikan dalam kehidupan anda hari ini atau sebelumnya yang akan memberikan anda hasil di kemudian hari.

    Sama seperti petani memilih benih, maka kita juga harus menentukan benih yang baik bagi kehidupan kita. Benih bisa berasal dari orangtua, diri kita sendiri, atau orang lain. Namun benih paling baik adalah benih yang berasal dari Tuhan.

    Pernakah anda meminta “benih” dari Tuhan untuk anda taburkan dalam hidup anda?
    Abraham menerima “benih” dari Tuhan berupa suatu janji bahwa keturunannya akan menjadi suatu bangsa yang besar dan mewarisi tanah perjanjian yang berlimpah air susu dan madu. Benih itu ditabur oleh Abraham dalam kehidupannya ketika ia memulai perjalanan panjang keluar dari kampung halamannya. Benih itu dipupuk setiap hari melalui hubunganya dengan Tuhan yang terus memberikan kekuatan dan berkat dalam kehidupannya sehingga benih yang awalnya hanya berupa suatu janji berbuah menjadi kenyataan.

    Yusuf menerima benih dari Tuhan ketika ia masih seorang remaja belasan tahun berupa suatu mimpi bahwa suatu hari kelak ia akan menjadi seorang pemimpin, bahkan orangtua dan saudaranya akan datang menyembah dia. Mimpi itu mulai ia taburkan ketika ia menceritakannya kepada saudara-saudaranya maupun orangtuanya. Benih itu mulai “ditanam dalam tanah” kehidupannya ketika ia ditangkap saudara-saudaranya, dimasukkan dalam sumur dan dijual ke ke Mesir. Yusuf memulai perjalanan panjang pertumbuhan benih kehidupannya sebelum benih yang ia tanam itu memberikan buah kepadanya yaitu menjadi Wakil Raja.

    Daud menerima benih dari Tuhan saat ia masih remaja ketika Samuel datang mengurapi kepalanya menjadi raja. Benih itu mulai ditanam saat ia diminta bapaknya pergi membawa makanan kepada saudara-saudaranya di medan perang. Daud menjumpai saudara-saudaranya hampir mirip dengan Yusuf menjumpai saudara-saudaranya. Mereka tidak menyukai orang yang menerima benih dari Tuhan.

    Tuhan bersedia menyediakan benih bagi kehidupan kita. Tuhan menyediakan benih terbaik untuk kita tabur dalam kehidupan kita asal kita bersedia meminta kepada Tuhan dan menanam benih tersebut.

    Ketika Tuhan memberikan kita benih untuk ditanam dalam hidup kita, Ia juga menyediakan kebutuhan kita selama waktu menunggu hasil tanaman kita. Tuhan memberkati Abraham selama perjalanannya sehingga makin bertambah kaya. Yusuf diberkati selama perjalanannya bahkan meskipun ia berada di penjara. Daud selalu diperlihara dan dilindungi Tuhan selalu waktu pelariannya ketika harus di kejar-kejar oleh Raja Saul.
    Tuhan sanggup melimpahkan segala kasih karuniaNya kepada kita sehingga menjadi berkecukupan bahkan berkelebihan, bila kita mau menerima benih dari Tuhan dan menanamnya dalam hidup kita. Karena itu mari dan datanglah meminta benih kehidupan kita dari Tuhan yang sanggup memberikan benih terbaik dan memelihara kita selama masa pertumbuhan benih hidup kita. Tuhan menolong kita.

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.