Bacaan: 1 Korintus 4:6-13
Bacaan kita pada pagi hari ini mengajarkan kepada kita tentang kebanggaan dalam kehidupan rohani kita.
Banyak perpecahan dalam jemaat terjadi karena sikap dan kebanggan diri kita.
Ada kecenderungan dalam jemaat untuk mengidolakan seseorang , atau pelayanannya sebagai yang lebih baik, lebih spiritual, atau lebih rohani dari pada yang dilakukan oleh orang lain. Sikap seperti ini sering menimbulkan perpecahan dalam tubuh gereja.
Dalam bacaan ini, jemaat di Korintus memiliki kebanggaan bahwa mereka adalah warga negara yang terhormat dengan status dan pengaruh dalam masyarakat, sementara Paulus dianggap sebagai orang yang tak berharga, terbuang dan tertuduh yang akan dihukum mati. Sebagian jemaat di Korintus berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang bijaksana, berkuasa, dan dihormati, dan Paulus hanya seorang bodoh, lemah dan tak terhormat. Mereka mempermalukan Paulus dan menolak citra Paulus dalam jemaat mereka. Seperti terjadi dalam ayat 11-13 Paulus melukiskan dirinya sebagai lapar, telanjang, dihina, difitnah dan terbuang karena jemaat Korintus berupaya menghindari keterikatan dengan dirinya.
Dalam ayat 8 dan 10, citra yang dilukiskan oleh Paulus tentang jemaat di Korintus sebagai rasa bangga terhadap diri sendiri, karena mereka hidup dalam kelimpahan yang jauh berbeda dari kehidupan para rasul yang hina, hidup yang menderita karena Injil Yesus.
Dalam ayat 6: kita diberi gambaran bagaimana situasi jemaat Korinstus. Loyalitas mereka terpecah ke berbagai rasul, ada yang ke Paulus, ada yang ke Apollos dan ke rasul yang lain.
Dalam bacaan ini Paulus mengalamatkan nasehatnya terutama kepada mereka para pengikut Apollos yang bersifat mempermalukan Paulus. Paulus mengambil contoh dirinya dan Apollos sebagai ilustrasi saja bahwa hal seperti ini dapat juga terjadi pada kelompok pengikut para rasul atau pelayan jemaat yang lain.
Perkataan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain. Dengan perkataan lain: ikuti petunjuk yang terdapat dalam Alkitab saja, sehingga terhindar dari sikap mengidolakan, mengistemewakan pelayanan seseorang dari pada orang lain.
Dengan kata lain jadilah pengikut firman Tuhan dari pada pengikut kata-kata manusia dan interpretasi. Firman Tuhan harus menempati posisi / otoritas tertinggi, dari pada perkataan atau interpretasi manusia. Menurut Paulus, apa yang dikatakan manusia dapat saja salah dan menimbulkan perpecahan dalam jemaat.
Dalam ayat 7 Paulus menantang mereka yang menentang pelayanannya. Kebanggan jemaat terhadap Apollos, menunjukkan kelemahan atau ketidakmampuan mereka untuk berterima kasih dan mengucap syukur. Mereka tak memiliki pemahaman akan bagaimana Tuhan bekerja dalam jemaat. Karena dosa kejatuhan, kita sering menjadi arogan, sombong dan meninggikan diri kita. Bukannya merendahkan diri dan bersyukur kepada Tuhan melalui kehadiran pelayanan hamba-hambaNya yang dipilih untuk menasehatkan kita, kita justru berpaling hanya pada mereka yang menyenangkan hati kita saja, pelayanan yang hanya mendukung gaya hidup atau citra hidup kita yang penuh glamour, penuh kesenangan dan kehormatan, dan menolak pelayanan yang tidak kita sukai.
Perlu kita tahu Paulus adalah pendiri jemaat di Korintus dan Appollos adalah penerusnya. Memakai istilah Paulus: Paulus yang menanam, Apollos yang menyiram, tetapi Tuhan yang memberi pertumbuhan. Dua-duanya hanya pelayan tetapi sumber kehidupan dan pertumbuahan jemaat sebenarnya ada pada Tuhan. Hanya Tuhan yang patut dimuliakan.
Perhatikan pertanyaan pertama dalam ayat 7: Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Ya apa yang membuat kamu merasa dirimu penting, sehingga dapat menilai pelayanan pelayan-pelayan Tuhan? Siapakah kamu, sehingga berani menilai pelayanan dari para hamba Tuhan?
Pertanyaan kedua: Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Pertanyaan ini menunjukkan tak ada rasa syukur di kalangan jemaat Korintus. Kata-kata Paulus bukan akibat karena merasa teraniaya dan melontarkan pembelaannya, tetapi kata-katanya itu merupakan inspirasi dari Tuhan. Perkataan itu berasal dari perkataan Tuhan kepada Ayub dalam Ayub 38:2-4 (terjemahan sehari-hari): 38:2 "Siapa engkau, sehingga berani meragukan hikmat-Ku dengan kata-katamu yang bodoh dan kosong itu? 38:3 Sekarang, hadapilah Aku sebagai laki-laki, dan jawablah pertanyaan-pertanyaan ini. 38:4. Sudah adakah engkau ketika bumi Kujadikan? Jika memang luas pengetahuanmu, beritahukan!
Tuhan menunjukkan kenyataan bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah pemberian dari kemurahanNya. Tak ada yang sepatutnya menjadi milik kita yang datang karena kemampuan kita. Jika kita memahami kebenaran akan kemurahan Tuhan ini dengan sungguh-sungguh, maka kita akan hidup dengan sikap yang sepenuhnya bersyukur kepada Tuhan dan kepada orang lain. Tuhan menggunakan orang-orang di sekitar kita untuk melayani kehidupan kita. Tetapi ketika kita seperti jemaat di Korintus, merasa lebih baik, lebih bijaksana, terhormat atau lebih tinggi dari orang lain di sekitar kita, maka kita menaruh posisi kita sebagai hakim bagi orang lain. Kalau kita menghakimi orang lain, kita tidak memahami kemurahan Tuhan dengan baik dan tak ada kerendahan hati seperti yang ditunjukkan oleh Yesus dalam hidup kita.
Pertanyaan ketiga dalam ayat 7, “Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya? Dengan perkataan lain, kalau kamu menerima kemurahan Allah, mengapa kamu bersikap atau bertingkah seolah-olah itu karena kamu berharga, dan sudah sepantasnya menerima semua yang kamu miliki?
Seseorang yang pernah mengalami kemurahan hati Tuhan, karena dibebaskan dari suatu masalah, akan memiliki kerendahan hati dan rasa syukur tak terhingga. Tetapi ketika hidup kita hanya dipenuhi oleh kedagingan kita, oleh kesombongan, atau keangkuhan kita, maka hanya ada kebanggan diri dan penghakiman pada orang lain.
Kemurahan Tuhan merendahkan sikap kita untuk melihat orang lain seperti Tuhan melihat mereka dengan penuh rasa iba dan kasih sayang kepada mereka. Yesus ketika disalib berdoa kepada BapaNya, “Ya Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Yesus tidak menghakimi mereka , tetapi Ia meminta Bapanya mengampuni dan menggerakkan hati mereka untuk bertobat. Hasilnya adalah salah seorang penjahat di samping Yesus bertobat, dan beberapa perwira Romawi mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah.
Ayat 8: “Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja.. ..” Penggunaan kata “kamu telah...” secara berulang-ulang mau menunjukkan bahwa mereka telah diberkati dengan kelimpahan dalam hidup mereka di bumi ini, padahal sebagian orang lain harus menunggu hingga sampai tiba di surga baru dapat merasakan hal seperti itu.
Jemaat Korintus hanya minoritas, namun mereka mendapatkan keistemewaan untuk menikmati hidup dalam kemakmuran sedangkan orang lain hidup dalam kemiskinan.
Namun bagi Paulus, persoalannya bukan karena kekayaan dan kemakmuran yang mereka nikmati, tetapi pada sikap hidup mereka yang yang dipenuhi dengan kesombongan dan keangkuhan terhadap berkat dan kemurahan Tuhan yang telah mereka terima.
Jemaat Korintus memiliki keyakinan bahwa mereka adalah anak raja dan hidup sebagai anak-anak kerajaan Allah di bumi ini. Hal ini terlihat dari perkataan Paulus dalam ayat 8: ” Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu.”
Padahal hidup dan memerintah seperti yang dimaksud oleh Yesus bagi orang percaya baru akan terjadi sesudah Ia datang kedua kali dimana semua orang percaya akan memerintah bersama dengan Dia. Jadi perkataan Paulus ini suatu sindiran bagi jemaat di Korintus yang memiliki keyakinan spiritual yang salah.
Paulus menyatakan betapa baik kalau keyakinan mereka benar sehingga para rasul pun dapat ikut memerintah bersama mereka. Namun keyakinan mereka itu salah dan bukan merupakan bagian dari cara hidup para rasul. Sebagai orang kristen kita diminta untuk hidup yang menyangkal diri kita, hidup yang bukan untuk diri sendiri, tetapi hidup untuk kemuliaan nama Yesus.
Ayat 9: Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia.
Perkataan Paulus ini mengacu kepada para tawanan perang tentara Romawi yang digiring menjadi tontonan orang banyak, dihina dan bahkan dilemparkan ke dalam arena dalam pertarungan brutal manusia - binatang. Orang kristen sering di kejar, di penjara dan dihukum mati.
Paulus tidak sedang menangisi dirinya sendiri karena kesulitan hidup dan kehinaan yang diterimanya, tetapi ia sedang merasa prihatin dengan kondisi jemaat Korintus. Paulus mengenal dan menyadari lingkungan di mana Tuhan menempatkan dirinya dan ia prihatin dengan sikap jemaat Korintus yang tidak mau mengikuti cara hidupnya.
Ayat 10: “Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina. “
Memang pemberitaan tentang salib menjadi kebodohan bagi mereka yang binasa, tetapi bagi mereka yang diselamatkan itu adalah hikmat dan kekuatan Allah (1 Kor :23-24).
Jemaat di Korintus sepertinya sedang mengejar hal-hal kebinasaan dari pada hal-hal keselamatan. Mereka lenih suka mengejar hikmat duniawi yaitu ingin menjadi terhormat, berkuasa, atau berpengaruh. Hikmat duniawi bertentangan dengan Hikmat Allah seperti tertulis dalam 1 Kor 3:19: ...” hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: "Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya."
Ayat 11-13 Paulus memberikan daftar situasi yang dialami yang para rasul dalam pemberitaan Injil yang sangat jauh berbeda dengan kondisi hidup jemaat Korintus.
Kita sering seperti jemaat di Korintus menggantungkan diri pada kesuksesan, kekuasaan dan pengaruh. Ketika semua sumber tempat kita bergantung diambil, maka kita baru mau bergantung sepenuhnya padaTuhan.
Dalam 2 Kor 12:9-10: Tuhan berkata kepada Paulus: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 12:10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
Kuasa Kristus merupakan satu-satunya sumber pertolongan Paulus dalam hidupnya. Penderitaannya mendorong dia hanya bergantung sepenuhnya pada Yesus. Penderitaan memang merupakan keinginan Tuhan agar kita bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dari pada kemampuan kita sendiri.
Pesan Paulus dalam bacaan ini adalah bahwa tak ada masalah dengan kekayaan dan kehormatan, tetapi sikap kita terhadap kekayaan, kekuasan serta kehormatan itu yang sangat berbahaya. Gehazi, pelayan Eliza, memburu kekayaan sehingga penyakit lepra dari Naaman berbalik menjadi penyakitnya sendiri. Ananias dan Sapira menerima kematian karena keinginan akan uang.
Tuhan melihat hati kita, adakah hati yang tahu mengucap syukur kepadaNya dan tidak menghakimi orang lain karena apa yang kita miliki. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.