Dahulu kala ada seorang pemimpin negara. Dia adalah adalah pemimpin negara pertama dari negaranya. Dia memiliki wajah yang sangat ganteng, dengan tinggi di atas tinggi kebanyakan kaumnya. Dulunya raja ini adalah seorang yang taat akan Tuhan, namun saat ini karena kelakuannya yang suka mengikuti kemauannya sendiri, ia telah ditolak oleh Tuhan. Nama raja itu adalah Saul.

Saat ini terjadi peperangan antara negara yang dipimpinnya dengan negara tetangganya, Filistin. Nabi Samuel yang biasa dijadikan tempat bertanya oleh orang Israel telah meninggal.

Saul mengumpulkan seluruh orang Israel untuk maju berperang. Ketika Saul melihat jumlah tentara Filistin, maka takutlah dia dan hatinya sangat gemetar. Saul mencoba bertanya kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak menjawab dia, baik dengan mimpi, maupun dengan perantaraan para nabi.

Diperhadapkan dengan situasi seperti ini, Saul menyuruh salah seorang pegawainya untuk mencari “orang pintar”. Pada waktu itu orang pintar yang dapat memanggil arwah biasanya perempuan. Jadi Saul menyuruh mencari perempuan seperti itu.
1 Samuel 28:7 "Carilah bagiku seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah; maka aku hendak pergi kepadanya dan meminta petunjuk kepadanya." Para pegawainya menjawab dia: "Di En-Dor ada seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah."

Saul kemudian pergi dengan menyamar. Ia tidak ingin dikenal sebagai raja karena sebelumnya ia telah menyuruh membunuh semua pemanggil arwah. Mereka sampai pada waktu malam, maka berkatalah Saul "Cobalah engkau menenung bagiku dengan perantaraan arwah, dan panggillah supaya muncul kepadaku orang yang akan kusebut kepadamu." Tetapi perempuan itu menjawabnya: "Tentu engkau mengetahui apa yang diperbuat Saul, bahwa ia telah melenyapkan dari dalam negeri para pemanggil arwah dan roh peramal. Mengapa engkau memasang jerat terhadap nyawaku untuk membunuh aku?" Mendengar perkataan perempuan ini Saul bersumpah demi TUHAN, katanya: "Demi TUHAN yang hidup, tidak akan ada kesalahan tertimpa kepadamu karena perkara ini."

Kemudian Perempuan itu bertanya "Siapakah yang harus kupanggil supaya muncul kepadamu?" Jawabnya: "Panggillah Samuel supaya muncul kepadaku." Namun ketika perempuan itu melihat munculnya Samuel, ia berteriak dengan suara nyaring, "Mengapa engkau menipu aku? Engkau sendirilah Saul!" Maka Saul menyuruhnya jangan takut dan bertanya apa yang terlihat olehnya. Perempuan itu menjawab, "Aku melihat sesuatu yang ilahi muncul dari dalam bumi." Saul bertanya lagi: "Bagaimana rupanya?" Jawabnya perempuan itu : "Ada seorang tua muncul, berselubungkan jubah." Saul mengetahui bahwa itu adalah Samuel, lalu berlututlah ia dengan mukanya sampai ke tanah dan sujud menyembah.

Dalam cerita ini kita melihat bagaimana kejatuhan Saul begitu dalam. Ia telah ditinggal oleh Tuhan. Kekuasaan sering membuat manusia jatuh ke dalam dosa. Dulu Saul adalah seorang yang taat akan Tuhan. Ia kemudian dipilih untuk memimpin bangsanya sebagai raja Israel yang pertama. Namun ia menjadi mabuk kekuasaan, ia bertindak mengikuti kemauan dirinya tanpa mengikuti perintah Tuhan melalui Samuel. Ia kemudian terbuang dari hadapan Tuhan, mahkota kerajaannya telah diambil darinya dan diserahkan kepada Daud.

Meskipun Saul masih tetap menjadi raja tetapi tanpa Tuhan ia tidak memiliki kekuatan apa-apa. Nasib suatu bangsa sering ditentukan oleh pemimpinnya. Ketika pemimpin suatu bangsa takut akan Tuhan, maka jayalah bangsa tersebut. Pemimpin memberi contoh. Pemimpin mengarahkan nasib bangsa melalui putusan-putusan mereka.

Saul berupaya dengan segala cara untuk mendapatkan kemenangan. Namun cara-cara yang dipakainya adalah cara-cara yang sangat dibenci oleh Tuhan. Ia bertanya kepada tukang tenung untuk memanggil arwah orang mati. Ini adalah cara-cara setan. Bahkan yang dipanggil adalah arwah seorang nabi Tuhan. Sungguh suatu perbuatan yang tak terpuji. Seharusnya Saul bertobat kepada Tuhan, merendahkan diri dihadapan Tuhan. Memohon pengampunan dari Tuhan terlebih dahulu akan semua perbuatan-perbuatannya. Namun ia lebih memilih ”memanggil”. Gaya ”memanggil” menunjukkan gaya kekuasaan seorang pemimpin yang sombong yang memanggil bawahannya.

Ia menyamar datang kepada perempuan tukang tenung menunjukkan seorang yang tak berani menghadapi kenyataan. Seorang pemimpin yang suka menipu, pemimpin yang bermuka dua. Di depan mengatakan ini namun di belakang mengatakan bukan. Begitulah gaya para pemimpin hanya berpikir untuk dirinya sendiri. Hal yang terpenting bagi mereka adalah keselamatan diri mereka, kelanggengan kekuasaan mereka. Mereka tak pernah peduli dengan perbuatan mereka selama itu mendatangkan kebaikan bagi mereka sendiri. Tujuan menghalalkan segala cara.

Namun di atas segala kekuasaan masih ada Tuhan yang menentukan jalannya sejarah. Bukan manusia yang menentukan sejarah, tetapi Tuhan. Seluruh keluarga Saul mati terbunuh dalam peperangan esok harinya. Ketika hidup kita tidak lagi bersandar kepada Tuhan, maka tak ada lagi ”orang bijaksana” tempat kita meminta nasehat. Kita mungkin bertanya kepada para dukun, tukang tenung, namun mereka hanya bisa sebagai tempat bertanya. Mereka bukan penentu sejarah. Hanya Tuhan yang memiliki nasehat dan kekuasaan untuk mengubah sejarah. Datanglah kepadaNya dan bersandarlah kepadaNya.