Dalam Amsal 1:7 Solomo menulis bahwa Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. Mengapa Salomo menulis seperti ini?
Salomo adalah seorang raja yang sangat besar di Israel. Ia adalah raja yang dikenal bukan saja karena kekayaan dan kebesarannya tetapi karena memiliki hikmat dan pengetahuan yang tak dapat disamai oleh siapapun pada saat itu atau mungkin sampai saat ini. Hikmat Salomo itu didapat bukan karena upayanya sendiri tetapi karena Tuhan memberikan hal itu kepadanya.
Hal yang sama terjadi juga dengan Daniel, Sadrach, Mesach dan Abednego. Mereka adalah para pemuda yang dibawa sebagai tahanan oleh Raja Nebukadneser dari Yehuda ke Babel. Mereka memang dididik oleh pengajar Babel, namun hikmat mereka yang melampaui segala orang pintar di Babel bukan datang karena kemampuan mereka tetapi berasal dari Tuhan.
Yusuf juga adalah seorang pemuda remaja. Pada usia sekitar 17-18 tahun ia dijual sebagai budak oleh saudara-saudara kepada para pedagang Ismael yang kemudian menjualnya kepada Potifar kepala pengawal raja Mesir. Dalam Kejadian 39 kita dapat membaca bagaimana Tuhan menyertai Yusuf sehingga ia menjadi orang yang selalu berhasil dalam pekerjaan yang dikerjakannya. Dimanapun Yusuf berada Tuhan memberkati tempat itu baik ketika ia masih bersama dengan Potifar, ketika ia dipenjara, bahkan ketika ia diangkat menjadi perdana menteri.
Hikmat Yusuf bukan karena pengetahuannya yang luas. Ia hanya seorang remaja ketika dijual. Ia mungkin tidak sempat mengenyam pendidikan sama seperti Sadrach, Mesach dan Abednego. Namun sama seperti Salomo, Daniel, dan lain-lainnya, semua hikmatnya berasal dari Tuhan.
Takut akan Tuhan adalah permulaan segala hikmat. Karena berhikmat tidak sama dengan berpengetahuan. Banyak orang mengira bahwa kalau ia memiliki banyak pengetahuan, maka ia otomatis akan berhikmat.Ini adalah asumsi yang salah. Orang boleh memiliki banyak pengetahuan, memiliki banyak gelar akademik yang hebat-hebat, namun belum tentu ia memiliki hikmat. Pendidikan kita saat ini sering tidak membawa kita kepada berhikmat, hanya sekedar memberikan kita berpengetahuan. Karena pendidikan kita hanya menyentuh pada otak (pengetahuan), dan tangan (skill) saja, tetapi tidak menyentuh kepada hati nurani.
Memang ada hikmat yang lain yang berasal dari dunia ini. Namun hikmat dunia ini hanya membawa kepada kehancuran dan kebinasaan. Hikmat dunia penuh dengan eksploitasi seorang kepada yang lain. Hanya hikmat dari Tuhan yang mendatangkan kesejahteraan dan kedamaian bagi manusia.
Ketika kita takut akan Tuhan kita mulai mengenal awal dari hikmat. Takut akan Tuhan baru berupa awal atau kesadaran akan hikmat. Kita belum mencapai hikmat itu sendiri. Namun ketika kita bersandar kepada Tuhan dan menyerahkan diri kita untuk dipimpin oleh Roh Tuhan, maka hikmat Tuhan akan berada dalam diri kita dan membuat kita menjadi berhikmat. Ketika hal itu terjadi maka berkat Tuhan dicurahkan kepada kita dimanapun kita berada entah dalam istana raja, ataupun dalam penjara sekalipun.
Di dalam Mazmur 105:21-22 dikatakan bahwa Yusuf dijadikan perdana menteri atas kerajaan Mesir untuk memberikan petunjuk kepada para pembesarnya sehendak hatinya, dan mengajarkan hikmat kepada para tua-tuanya (para ahlinya, orang-orang pandainya). Yusuf mememiliki hikmat sedemikian rupa sehingga mampu mengajarkannya kepada para ahli dan orang-orang pandai di kerajaan Mesir yang hebat tersebut. Bayangkan anda tiba-tiba dicurahkan hikmat oleh Tuhan untuk mengajarkan kepada para ahli atau para penasehat presiden Amerika Serikat saat ini! Itulah Tuhan, tak ada yang mustahil bagiNya.
