Bacaan Mazmur 105:12-22
Mazmur 105 adalah Mazmur sejarah yang disusun sebagai refleksi dari raja Daud agar orang Israel belajar dari pengalaman masa lalu, bagaimana Tuhan memilih mereka dan memimpin mereka ketika mereka masih hanya segelintir orang dan hidup menumpang sebagai orang asing di tengah-tengah bangsa-bangsa lain sampai mereka diberkati dengan keturunan yang besar sehingga menjadi suatu bangsa dan dibawa masuk ke tanah perjanjian yaitu Kanaan.
Dalam bacaan kita terdapat dua cerita yang berbeda. Cerita pertama mengenai penyertaan Allah saat-saat awal Abraham, Ishak dan Yakub ketika mereka hanya masih segelintir orang. Mereka baru merupakan satu keluarga kecil dan hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu bangsa ke bangsa lain. Cerita kedua mengenai Yusuf dan karya penyelamatan Tuhan atas kehidupan Yusuf sampai ia menjadi pemimpin nomor dua di Mesir, sehingga mampu menolong saudara-saudaranya dari bahaya kelaparan, serta bagaimana keluarga kecil Israel ini pindah ke Mesir dan berkembang menjadi suatu bangsa yang besar dan ditakuti oleh orang Mesir.
Kita mulai dari ayat 12, sang pemazmur mengingatkan bangsa Israel saat mereka belum menjadi suatu bangsa. Jumlah mereka masih sangat kecil karena saat itu hanya ada Abraham dan isterinya, Ishak dan Ribka serta kedua anaknya, dan kemudian Yakub dan anak-anaknya. Mereka mengembara dari satu tempat ke tempat lain menunggu saat janji Tuhan menempatkan mereka ke tanah yang dijanjikan Tuhan bagi keturunannya. Namun meskipun jumlah mereka yang kecil dan tak seberapa serta mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya di daerah yang asing bagi mereka, tangan Tuhan menyertai dan melindungi mereka (ayat 13 -14). Tuhan tidak membiarkan siapapun menyakiti mereka atau berbuat jahat pada mereka.
Sudah tentu ada banyak orang yang ingin berbuat jahat kepada orang-orang pilihan Tuhan bila ada kesempatan, tetapi Tuhan tidak saja mampu menghentikan tangan yang akan bertindak jahat pada mereka tetapi juga mampu menahan hati atau keinginan untuk bertindak jahat pada mereka. Ketika Abraham dan isterinya Sarah tiba di Mesir, Firaun melihat Sarah, isteri Abraham yang cantik, dan ia sangat tertarik padanya (Ke 12:10-20) Tetapi Tuhan mendatangkan bencana yang hebat kepada Firaun dengan seisi istananya sehingga ia mengembalikan Sarah kepada Abraham. Hal yang sama terjadi ketika Abraham bertemu dengan Abimelekh, raja Gerar yang juga tertarik pada Sarah (Kej 20). Tetapi sekali lagi tangan Tuhan menyertai mereka dan menegurnya. Di mata Tuhan, orang-orang pilihannya, orang-orang yang diurapinya jauh lebih tinggi kedudukannya dari pada para raja-raja itu. Mereka tak memiliki nilai dibandingkan dengan orang-orang pilihan Tuhan. Hal yang sama terjadi dengan Ishak di negeri orang Filistin (Kej 26) dan Yakub (kej 35:5) ketika berada di Betel.
Tuhan tidak membiarkan seorangpun memeras atau berbuat jahat kepada orang-orang yang dipilihnya, meskipun jumlah mereka tak seberapa dan berada dalam daerah yang asing bagi mereka (ayat 14 -15). Abraham dan keturunannya memang ada dalam dunia, namun mereka bukan dari dunia ini. Mereka adalah orang-orang yang dipilih dan diberkati untuk menjadi nabi-nabi di tengah dunia bagi Tuhan. Mereka adalah cikal bakal bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, umat kepunyaan Allah. Oleh karena itu tangan Tuhan menyertai mereka dan tak boleh seorangpun dapat berbuat jahat kepada mereka.
Ayat 16, Ketika Ia mendatangkan kelaparan ke atas negeri itu, dan menghancurkan seluruh persediaan makanan. Tuhan mendatangkan kelaparan hanya dengan memerintah, bagaikan ia memerintah para pembantunya. Segala sesuatu terjadi karena Tuhan memerintah atau berkenan itu terjadi. Bila Tuhan berkenan atas kemakmuran, maka kemakmuran itu terjadi. Bila Ia berkenan atas kelaparan, maka itu terjadi. Ia dapat berkenan atas penangkapan atau atas pembebasan, dan semua itu terjadi.
Ayat 16b Tuhan menghancurkan persediaan makanan mereka. Kehidupan manusia sangat tergantung pada sumber makanan. Ketika sumber makanannya hancur, maka manusia tak mampu meneruskan kehidupannya lagi. Bagi Tuhan sangat mudah menciptakan kelaparan maupun menghancurkan persediaan makanan manusia. Tuhan dapat melakukan hal itu secara menyeluruh bagi semua bangsa dan negara seperti yang terjadi pada bangsa Mesir dan bangsa-bangsa di sekitarnya termasuk di mana Yakub dan anak-anaknya tinggal.
Namun ada hal yang baik yaitu bahwa Tuhan memiliki rencana melalui kelaparan itu. Tuhan tidak sekedar mendatangkan kelaparan hanya untuk menyengsarakan manusia, tetapi Ia memiliki rencana dengan hal tersebut. Ia merencanakan orang-orang pilihannya (Yakub dan anak-anaknya) pergi ke Mesir dan tinggal disana agar keturunan mereka berkembang menjadi besar sampai waktu pelaksanaan janji Tuhan tiba dan memanggil mereka keluar dari sana. Jadi kelaparan adalah bagian dari rencana Tuhan untuk menciptakan bangsa Israel dari hanya 12 anak Yakub menjadi jutaan orang di Mesir. Di Mesir-lah orang Israel berkembang menjadi suatu bangsa yang besar.
Namun untuk mempersiapkan kedatangan Yakub dan anak-anaknya, Tuhan mengirim seseorang terlebih dahulu. Orang itu adalah Yusuf (ayat 17). Yusuf diutus mendahului mereka, tetapi cara Tuhan mengutus hambanya agak lain, Ia dikirim bukan sebagai duta besar tetapi sebagai budak yang dijual oleh saudara-saudaranya sendiri. Yusuf diutus sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk kelak akan menjadi pelindung seluruh keluarganya. Di mata manusia Yusuf memang dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya, tetapi dalam kerangka rencana Tuhan Yusuf dikirim oleh Tuhan ke sana. Dimana tangan manusia terlihat sebagai kejahatan, tangan Tuhan bekerja tersembunyi dengan diam-diam tak terlihat untuk mengatasi kejahatan tersebut. Tak ada orang yang cocok untuk memimpin keseluruhan rencana penyelamatan dan pengembangan bangsa ini kecuali Yusuf yang menjadi penerjemah mimpi. Yusuf dikenal sebagai tukang mimpi oleh saudara-saudaranya. Ketika mereka melihat Yusuf datang mereka berkata, ”Lihat sang pemimpi datang.”
Perjalanan Yusuf adalah perjalanan penyelamatan. Perjalanan Yusuf mirip dengan perjalanan Yunus ke Tarsis. Namun perbedaan perjalanan Yusuf ke Mesir dengan perjalanan Yunus ke Tarsis adalah bahwa Yunus membayar sendiri biaya perjalanannya, tetapi perjalanan Yusuf ke Mesir gratis karena biaya perjalanannya ditanggung oleh orang para pedagang Ismael. Para pedagang Ismael ini juga justru menjadi perantara bagi Yusuf untuk berkenalan dengan Potifar, kepala pasukan pengawal raja yang memiliki kedudukan sangat tinggi. Tanpa peranan para pedagang ini, tidak akan mudah bagi Yusuf untuk memasuki lingkaran dalam Potifar.
Yusuf memulai karier di Mesir sebagai budak yang mungkin menimba air, menarik karavan, di pasar atau di penjara. Yusuf menapaki panggilan hidup yang sudah dipersiapkan Tuhan baginya. Perjalanan hidup Yusuf meskipun sebagai budak tetapi ini bisa dikatakan cara tercepat mencapai tujuan Tuhan. Meskipun dalam pandangan manusia kelihatannya tidak begitu baik karena manusia biasanya ingin segala sesuai berjalan enak dan menyenangkan. Namun Tuhan memilih cara berbeda. Bayangkan kalau kita mengirimkan orang untuk mencapai posisi seperti Yusuf kelak, kita mungkin harus membekali dia dengan banyak uang, tetapi Yusuf pergi sebagai budak. Kalau menggunakan cara kita manusia mungkin harus membekali Yusuf dengan kekuasaan dan kehormatan agar diterima dalam lingkungan elit Mesir, namun Tuhan mengirimkan Yusuf sebagai budak. Kalau kita manusia mungkin mengirimkan Yusuf dengan penuh kebebasan, namun Tuhan mengirimkan Yusuf hanya sebagai budak yang terikat atau terbelenggu. Tambahan pula uang kita menjadi tidak berguna ketika makanan menjadi sangat langka. Kekuasaan dan kehornatan mungkin akan melukai hati dan menimbulkan kemarahan Firaun dan para pejabatnya dari pada menarik simpatinya. Kebebasan yang kita berikan kepada Yusuf mungkin hanya akan membawa Yusuf kedalam sekedar hubungan dengan kepala keamanan dan para pembantu Firaun tetapi belum tentu dengan Firaun sendiri. Selain itu kemampuan interpretasi mimpi Yusuf belum tentu akan terdengar ke telinga Firaun.
Cara Tuhan berbeda dengan cara manusia dan meskipun dianggap tidak enak pada awalnya tetapi adalah cara yang langsung dan paling baik. Tuhan kita Yesus Kristus juga memiliki cara tersendiri dan sederhana untuk mencapai tahtanya di surga yaitu melalui kelahiran di dalam palungan yang sederhana dan kotor, kemudian melalui kehidupan yang sederhana, sampai pada penyaliban di Kalvari
Ayat 18 Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi, Dari ayat ini kita belajar banyak tentang penderitaan Yusuf yang tidak kita temukan dalam kitab Kejadian. Daud sang penulis Mazmur ini dengan pimpinan Roh Tuhan menulis dengan cermat penderitaan Yusuf di dalam penjara.
Yusuf selama dalam penjara kakinya dijepit dengan belenggu besi dan lehernya masuk ke dalam besi. Melalui tuduhan yang berat sebagai orang yang tak tahu berterima kasih kepada majikannya yang telah berbuat baik kepadanya, tuduhan yang tak dapat dibantah oleh Yusuf, Yusuf dimasukkan dan disiksa dalam penjara dengan rantai yang mengikat kaki dan lehernya. Hari-hari yang dingin dan gelap, sendirian memandang rantai-rantai besi yang menjepit kuat kaki dan lehernya mungkin membuat ia terkenang akan ayahnya, adiknya, saudara-saudaranya. Kesakitan badan Yusuf tidak terlalu nyeri dibandingkan dengan kesakitan pikiran dan jiwanya yang tertekan, terbuang dari keluarga, dicemoh banyak orang dengan berbagai tuduhan berat.
Bila tanpa Tuhan beserta dengannya, Yusuf mungkin telah menyerah kepada nasibnya. Yusuf mungkin telah hancur dimakan waktu dan kondisi. Tetapi Tuhan adalah sumber kekuatan Yusuf dalam cobaan hidupnya. Yusuf mengingat akan janji Tuhan saat-saat ia bermimpi bahwa Tuhan akan mengaruniakan mahkota kepadanya. Ia bertahan menunggu waktu janji Tuhan digenapi.
Ayat 19 sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya. Tuhan memiliki rencana dan rencana Tuhan terjadi pada waktunya. Tiada seorangpun dapat memaksa Tuhan untuk mempercepat waktu penggenapan rencananNya. Oleh karena itu anak-anak Tuhan harus menunggu sampai waktu pemenuhan janji Tuhan. Yusuf telah mengalami ujian penderitaan sampai Tuhan mengatakan waktunya sudah tiba untuk janjinya dipenuhi. Bukan kata-kata dari kepala pembuat roti yang menyelamatkan tetapi Tuhan.Yusuf tidak berharap kepada penyelamatan kepala juru roti, tetapi ia berharap kepada Tuhannya. Sambil menanti kata-kata Tuhan itu, Yusuf harus mengalami ujian/cobaan. Meskipun Yusuf percaya janji Tuhan padanya, namun imannya harus diuji dalam cobaan. Berkat yang tertunda merupakan ujian bagi manusia, untuk memurnikan iman mereka. Iman sering diuji bagaikan emas diuji dengan api. Yusuf diuji sama seperti Zadrach, Mesach dan Abednego dipanggang dalam api yang telah dipanaskan 7 kali. Akan lebih baik kalau kitapun dapat lulus ujian sama seperti Yusuf dan keluar dari tanur api yang menyala-nyala dengan iman yang telah dimurnikan untuk menerima kehormatan dan kekuasaan.
Ayat 20 dan 21 Raja menyuruh melepaskannya, penguasa bangsa-bangsa membebaskannya. Dijadikannya dia tuan atas istananya, dan kuasa atas segala harta kepunyaannya,.
Ketika waktu Tuhan telah genap untuk menepati janjinya, maka Yusuf dilepaskan bukan karena waktu hukumannya sudah habis tetapi dilepaskan sendiri oleh perintah raja, penguasa bangsa-bangsa. Bahkan Potifar yang menjebloskan Yusuf itulah diperintahkan untuk melepaskan dia.
Yusuf bukan hanya dibebaskan tetapi bahkan dijadikan penguasa segala kerajaan Mesir yang begitu luas dan besar. Bayangkan seorang asing, bukan bangsa Mesir, bahkan seorang bekas budak yang dipenjarakan, dibebaskan dan kemudian diangkat menjadi wakil raja. Bayangkan anda seorang budak dan tawanan di Inggris, dan tiba-tiba anda dibebaskan oleh Ratu Inggris kemudian dijadikan Perdana Menteri untuk memerintah Inggris.
Ayat 22 untuk memberikan petunjuk kepada para pembesarnya sekehendak hatinya dan mengajarkan hikmat kepada para tua-tuanya.
Hikmat Tuhan yang ada dalam Yusuf begitu tinggi dan tak dapat disamai oleh seorangpun di Mesir. Mesir adalah suatu negara dengan daerah pemerintahan hampir seluruh dunia pada waktu itu sudah tentu memiliki banyak orang pintar dan hebat-hebat sehingga ia bisa begitu kuat dan besar. Namun Tuhan menjadikan Yusuf jauh lebih besar dan lebih berkhikmat dari semua orang pandai di Mesir sehingga ia dapat mengajarkan kepada mereka hikmat. Kebesaran Yusuf terlihat bukan saja dari kekuasaannya yang begitu besar tetapi juga dari budi pekertinya yang luhur, dan hikmat kebijaksanaan yang dimilikinya.
Dalam minggu advent kedua ini, kita sedang bersiap-siap menyambut natal. Natal merupakan bagian dari ucapan syukur atas kelahiran Yesus Kristus. Kelahiran Yesus merupakan bukti nyata penyertaan Allah dalam hidup kita. Sama seperti Allah tidak membiarkan rantai-rantai besi terus merantai kaki dan leher Yusuf, Allah juga tidak membiarkan dosa terus merantai dan membelenggu kehidupan manusia. Allah datang sendiri untuk membiarkan dirinya dirantai menggantikan kita sehingga melalui itu kita diselamatkan bersama dengan kebangkitannya. Oleh karena itu kita yang telah bertobat dan mengaku percaya wajib mensyukuri perbuatan-perbuatan Allah yang begitu besar dalam hidup kita dan menceritakan dan mengajarkan itu turun temurun kepada anak-anak cucu kita. Tuhan memberkati kita sekalian.
