Search blog.co.uk

Posts archive for: December, 2007
  • Bersyukur Atas Perbuatan Allah Kepada Kita

    Bacaan Mazmur 105:12-22

    Mazmur 105 adalah Mazmur sejarah yang disusun sebagai refleksi dari raja Daud agar orang Israel belajar dari pengalaman masa lalu, bagaimana Tuhan memilih mereka dan memimpin mereka ketika mereka masih hanya segelintir orang dan hidup menumpang sebagai orang asing di tengah-tengah bangsa-bangsa lain sampai mereka diberkati dengan keturunan yang besar sehingga menjadi suatu bangsa dan dibawa masuk ke tanah perjanjian yaitu Kanaan.

    Dalam bacaan kita terdapat dua cerita yang berbeda. Cerita pertama mengenai penyertaan Allah saat-saat awal Abraham, Ishak dan Yakub ketika mereka hanya masih segelintir orang. Mereka baru merupakan satu keluarga kecil dan hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu bangsa ke bangsa lain. Cerita kedua mengenai Yusuf dan karya penyelamatan Tuhan atas kehidupan Yusuf sampai ia menjadi pemimpin nomor dua di Mesir, sehingga mampu menolong saudara-saudaranya dari bahaya kelaparan, serta bagaimana keluarga kecil Israel ini pindah ke Mesir dan berkembang menjadi suatu bangsa yang besar dan ditakuti oleh orang Mesir.

    Kita mulai dari ayat 12, sang pemazmur mengingatkan bangsa Israel saat mereka belum menjadi suatu bangsa. Jumlah mereka masih sangat kecil karena saat itu hanya ada Abraham dan isterinya, Ishak dan Ribka serta kedua anaknya, dan kemudian Yakub dan anak-anaknya. Mereka mengembara dari satu tempat ke tempat lain menunggu saat janji Tuhan menempatkan mereka ke tanah yang dijanjikan Tuhan bagi keturunannya. Namun meskipun jumlah mereka yang kecil dan tak seberapa serta mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya di daerah yang asing bagi mereka, tangan Tuhan menyertai dan melindungi mereka (ayat 13 -14). Tuhan tidak membiarkan siapapun menyakiti mereka atau berbuat jahat pada mereka.

    Sudah tentu ada banyak orang yang ingin berbuat jahat kepada orang-orang pilihan Tuhan bila ada kesempatan, tetapi Tuhan tidak saja mampu menghentikan tangan yang akan bertindak jahat pada mereka tetapi juga mampu menahan hati atau keinginan untuk bertindak jahat pada mereka. Ketika Abraham dan isterinya Sarah tiba di Mesir, Firaun melihat Sarah, isteri Abraham yang cantik, dan ia sangat tertarik padanya (Ke 12:10-20) Tetapi Tuhan mendatangkan bencana yang hebat kepada Firaun dengan seisi istananya sehingga ia mengembalikan Sarah kepada Abraham. Hal yang sama terjadi ketika Abraham bertemu dengan Abimelekh, raja Gerar yang juga tertarik pada Sarah (Kej 20). Tetapi sekali lagi tangan Tuhan menyertai mereka dan menegurnya. Di mata Tuhan, orang-orang pilihannya, orang-orang yang diurapinya jauh lebih tinggi kedudukannya dari pada para raja-raja itu. Mereka tak memiliki nilai dibandingkan dengan orang-orang pilihan Tuhan. Hal yang sama terjadi dengan Ishak di negeri orang Filistin (Kej 26) dan Yakub (kej 35:5) ketika berada di Betel.

    Tuhan tidak membiarkan seorangpun memeras atau berbuat jahat kepada orang-orang yang dipilihnya, meskipun jumlah mereka tak seberapa dan berada dalam daerah yang asing bagi mereka (ayat 14 -15). Abraham dan keturunannya memang ada dalam dunia, namun mereka bukan dari dunia ini. Mereka adalah orang-orang yang dipilih dan diberkati untuk menjadi nabi-nabi di tengah dunia bagi Tuhan. Mereka adalah cikal bakal bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, umat kepunyaan Allah. Oleh karena itu tangan Tuhan menyertai mereka dan tak boleh seorangpun dapat berbuat jahat kepada mereka.

    Ayat 16, Ketika Ia mendatangkan kelaparan ke atas negeri itu, dan menghancurkan seluruh persediaan makanan. Tuhan mendatangkan kelaparan hanya dengan memerintah, bagaikan ia memerintah para pembantunya. Segala sesuatu terjadi karena Tuhan memerintah atau berkenan itu terjadi. Bila Tuhan berkenan atas kemakmuran, maka kemakmuran itu terjadi. Bila Ia berkenan atas kelaparan, maka itu terjadi. Ia dapat berkenan atas penangkapan atau atas pembebasan, dan semua itu terjadi.

    Ayat 16b Tuhan menghancurkan persediaan makanan mereka. Kehidupan manusia sangat tergantung pada sumber makanan. Ketika sumber makanannya hancur, maka manusia tak mampu meneruskan kehidupannya lagi. Bagi Tuhan sangat mudah menciptakan kelaparan maupun menghancurkan persediaan makanan manusia. Tuhan dapat melakukan hal itu secara menyeluruh bagi semua bangsa dan negara seperti yang terjadi pada bangsa Mesir dan bangsa-bangsa di sekitarnya termasuk di mana Yakub dan anak-anaknya tinggal.

    Namun ada hal yang baik yaitu bahwa Tuhan memiliki rencana melalui kelaparan itu. Tuhan tidak sekedar mendatangkan kelaparan hanya untuk menyengsarakan manusia, tetapi Ia memiliki rencana dengan hal tersebut. Ia merencanakan orang-orang pilihannya (Yakub dan anak-anaknya) pergi ke Mesir dan tinggal disana agar keturunan mereka berkembang menjadi besar sampai waktu pelaksanaan janji Tuhan tiba dan memanggil mereka keluar dari sana. Jadi kelaparan adalah bagian dari rencana Tuhan untuk menciptakan bangsa Israel dari hanya 12 anak Yakub menjadi jutaan orang di Mesir. Di Mesir-lah orang Israel berkembang menjadi suatu bangsa yang besar.

    Namun untuk mempersiapkan kedatangan Yakub dan anak-anaknya, Tuhan mengirim seseorang terlebih dahulu. Orang itu adalah Yusuf (ayat 17). Yusuf diutus mendahului mereka, tetapi cara Tuhan mengutus hambanya agak lain, Ia dikirim bukan sebagai duta besar tetapi sebagai budak yang dijual oleh saudara-saudaranya sendiri. Yusuf diutus sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk kelak akan menjadi pelindung seluruh keluarganya. Di mata manusia Yusuf memang dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya, tetapi dalam kerangka rencana Tuhan Yusuf dikirim oleh Tuhan ke sana. Dimana tangan manusia terlihat sebagai kejahatan, tangan Tuhan bekerja tersembunyi dengan diam-diam tak terlihat untuk mengatasi kejahatan tersebut. Tak ada orang yang cocok untuk memimpin keseluruhan rencana penyelamatan dan pengembangan bangsa ini kecuali Yusuf yang menjadi penerjemah mimpi. Yusuf dikenal sebagai tukang mimpi oleh saudara-saudaranya. Ketika mereka melihat Yusuf datang mereka berkata, ”Lihat sang pemimpi datang.”

    Perjalanan Yusuf adalah perjalanan penyelamatan. Perjalanan Yusuf mirip dengan perjalanan Yunus ke Tarsis. Namun perbedaan perjalanan Yusuf ke Mesir dengan perjalanan Yunus ke Tarsis adalah bahwa Yunus membayar sendiri biaya perjalanannya, tetapi perjalanan Yusuf ke Mesir gratis karena biaya perjalanannya ditanggung oleh orang para pedagang Ismael. Para pedagang Ismael ini juga justru menjadi perantara bagi Yusuf untuk berkenalan dengan Potifar, kepala pasukan pengawal raja yang memiliki kedudukan sangat tinggi. Tanpa peranan para pedagang ini, tidak akan mudah bagi Yusuf untuk memasuki lingkaran dalam Potifar.

    Yusuf memulai karier di Mesir sebagai budak yang mungkin menimba air, menarik karavan, di pasar atau di penjara. Yusuf menapaki panggilan hidup yang sudah dipersiapkan Tuhan baginya. Perjalanan hidup Yusuf meskipun sebagai budak tetapi ini bisa dikatakan cara tercepat mencapai tujuan Tuhan. Meskipun dalam pandangan manusia kelihatannya tidak begitu baik karena manusia biasanya ingin segala sesuai berjalan enak dan menyenangkan. Namun Tuhan memilih cara berbeda. Bayangkan kalau kita mengirimkan orang untuk mencapai posisi seperti Yusuf kelak, kita mungkin harus membekali dia dengan banyak uang, tetapi Yusuf pergi sebagai budak. Kalau menggunakan cara kita manusia mungkin harus membekali Yusuf dengan kekuasaan dan kehormatan agar diterima dalam lingkungan elit Mesir, namun Tuhan mengirimkan Yusuf sebagai budak. Kalau kita manusia mungkin mengirimkan Yusuf dengan penuh kebebasan, namun Tuhan mengirimkan Yusuf hanya sebagai budak yang terikat atau terbelenggu. Tambahan pula uang kita menjadi tidak berguna ketika makanan menjadi sangat langka. Kekuasaan dan kehornatan mungkin akan melukai hati dan menimbulkan kemarahan Firaun dan para pejabatnya dari pada menarik simpatinya. Kebebasan yang kita berikan kepada Yusuf mungkin hanya akan membawa Yusuf kedalam sekedar hubungan dengan kepala keamanan dan para pembantu Firaun tetapi belum tentu dengan Firaun sendiri. Selain itu kemampuan interpretasi mimpi Yusuf belum tentu akan terdengar ke telinga Firaun.

    Cara Tuhan berbeda dengan cara manusia dan meskipun dianggap tidak enak pada awalnya tetapi adalah cara yang langsung dan paling baik. Tuhan kita Yesus Kristus juga memiliki cara tersendiri dan sederhana untuk mencapai tahtanya di surga yaitu melalui kelahiran di dalam palungan yang sederhana dan kotor, kemudian melalui kehidupan yang sederhana, sampai pada penyaliban di Kalvari

    Ayat 18 Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi, Dari ayat ini kita belajar banyak tentang penderitaan Yusuf yang tidak kita temukan dalam kitab Kejadian. Daud sang penulis Mazmur ini dengan pimpinan Roh Tuhan menulis dengan cermat penderitaan Yusuf di dalam penjara.

    Yusuf selama dalam penjara kakinya dijepit dengan belenggu besi dan lehernya masuk ke dalam besi. Melalui tuduhan yang berat sebagai orang yang tak tahu berterima kasih kepada majikannya yang telah berbuat baik kepadanya, tuduhan yang tak dapat dibantah oleh Yusuf, Yusuf dimasukkan dan disiksa dalam penjara dengan rantai yang mengikat kaki dan lehernya. Hari-hari yang dingin dan gelap, sendirian memandang rantai-rantai besi yang menjepit kuat kaki dan lehernya mungkin membuat ia terkenang akan ayahnya, adiknya, saudara-saudaranya. Kesakitan badan Yusuf tidak terlalu nyeri dibandingkan dengan kesakitan pikiran dan jiwanya yang tertekan, terbuang dari keluarga, dicemoh banyak orang dengan berbagai tuduhan berat.

    Bila tanpa Tuhan beserta dengannya, Yusuf mungkin telah menyerah kepada nasibnya. Yusuf mungkin telah hancur dimakan waktu dan kondisi. Tetapi Tuhan adalah sumber kekuatan Yusuf dalam cobaan hidupnya. Yusuf mengingat akan janji Tuhan saat-saat ia bermimpi bahwa Tuhan akan mengaruniakan mahkota kepadanya. Ia bertahan menunggu waktu janji Tuhan digenapi.

    Ayat 19 sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya. Tuhan memiliki rencana dan rencana Tuhan terjadi pada waktunya. Tiada seorangpun dapat memaksa Tuhan untuk mempercepat waktu penggenapan rencananNya. Oleh karena itu anak-anak Tuhan harus menunggu sampai waktu pemenuhan janji Tuhan. Yusuf telah mengalami ujian penderitaan sampai Tuhan mengatakan waktunya sudah tiba untuk janjinya dipenuhi. Bukan kata-kata dari kepala pembuat roti yang menyelamatkan tetapi Tuhan.Yusuf tidak berharap kepada penyelamatan kepala juru roti, tetapi ia berharap kepada Tuhannya. Sambil menanti kata-kata Tuhan itu, Yusuf harus mengalami ujian/cobaan. Meskipun Yusuf percaya janji Tuhan padanya, namun imannya harus diuji dalam cobaan. Berkat yang tertunda merupakan ujian bagi manusia, untuk memurnikan iman mereka. Iman sering diuji bagaikan emas diuji dengan api. Yusuf diuji sama seperti Zadrach, Mesach dan Abednego dipanggang dalam api yang telah dipanaskan 7 kali. Akan lebih baik kalau kitapun dapat lulus ujian sama seperti Yusuf dan keluar dari tanur api yang menyala-nyala dengan iman yang telah dimurnikan untuk menerima kehormatan dan kekuasaan.

    Ayat 20 dan 21 Raja menyuruh melepaskannya, penguasa bangsa-bangsa membebaskannya. Dijadikannya dia tuan atas istananya, dan kuasa atas segala harta kepunyaannya,.

    Ketika waktu Tuhan telah genap untuk menepati janjinya, maka Yusuf dilepaskan bukan karena waktu hukumannya sudah habis tetapi dilepaskan sendiri oleh perintah raja, penguasa bangsa-bangsa. Bahkan Potifar yang menjebloskan Yusuf itulah diperintahkan untuk melepaskan dia.

    Yusuf bukan hanya dibebaskan tetapi bahkan dijadikan penguasa segala kerajaan Mesir yang begitu luas dan besar. Bayangkan seorang asing, bukan bangsa Mesir, bahkan seorang bekas budak yang dipenjarakan, dibebaskan dan kemudian diangkat menjadi wakil raja. Bayangkan anda seorang budak dan tawanan di Inggris, dan tiba-tiba anda dibebaskan oleh Ratu Inggris kemudian dijadikan Perdana Menteri untuk memerintah Inggris.

    Ayat 22 untuk memberikan petunjuk kepada para pembesarnya sekehendak hatinya dan mengajarkan hikmat kepada para tua-tuanya.

    Hikmat Tuhan yang ada dalam Yusuf begitu tinggi dan tak dapat disamai oleh seorangpun di Mesir. Mesir adalah suatu negara dengan daerah pemerintahan hampir seluruh dunia pada waktu itu sudah tentu memiliki banyak orang pintar dan hebat-hebat sehingga ia bisa begitu kuat dan besar. Namun Tuhan menjadikan Yusuf jauh lebih besar dan lebih berkhikmat dari semua orang pandai di Mesir sehingga ia dapat mengajarkan kepada mereka hikmat. Kebesaran Yusuf terlihat bukan saja dari kekuasaannya yang begitu besar tetapi juga dari budi pekertinya yang luhur, dan hikmat kebijaksanaan yang dimilikinya.

    Dalam minggu advent kedua ini, kita sedang bersiap-siap menyambut natal. Natal merupakan bagian dari ucapan syukur atas kelahiran Yesus Kristus. Kelahiran Yesus merupakan bukti nyata penyertaan Allah dalam hidup kita. Sama seperti Allah tidak membiarkan rantai-rantai besi terus merantai kaki dan leher Yusuf, Allah juga tidak membiarkan dosa terus merantai dan membelenggu kehidupan manusia. Allah datang sendiri untuk membiarkan dirinya dirantai menggantikan kita sehingga melalui itu kita diselamatkan bersama dengan kebangkitannya. Oleh karena itu kita yang telah bertobat dan mengaku percaya wajib mensyukuri perbuatan-perbuatan Allah yang begitu besar dalam hidup kita dan menceritakan dan mengajarkan itu turun temurun kepada anak-anak cucu kita. Tuhan memberkati kita sekalian.

  • Belajar Dari Zacheus

    Di dalam Lukas 19:1-10 diceritakan tentang perjalanan Yesus memasuki kota Yericho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di kota itu ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang seperti apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, dan karena badannya pendek. Maka Ia berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Namun semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa." Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

    Cerita tentang Zacheus ini memiliki pesan tersendiri. Membayangkan seorang pemungut cukai, kepala kantor pajak, yang kaya raya, berbadan gendut dan pendek mau berupaya mencari tahu dengan penuh antusias orang seperti apakah Yesus itu benar-benar suatu kejadian yang langkah. Di dalam Alkitab banyak diceritakan orang kaya yang segan datang kepada Yesus. Ada juga yang datang kepada Yesus tetapi kemudian memilih mundur karena merasa terlalu berat karena harus mengorbankan sebagian dari kekayaannya.

    Namun Zacheus memiliki cerita yang berbeda. Kekayaan dan hambatan fisiknya yang pendek tidak menyurutkan langkahnya untuk mengenal siapakah Yesus itu. Ia seorang kepala pemungut cukai, seorang terpandang dari segi kedudukan dan kekayaan, mau berupaya untuk mengenal Yesus. Karena badannya pendek ia mengerahkan segenap upaya, akal dan tenaga, untuk bisa mencapai Yesus. Ia berpikir bagaimana ia dapat sekedar melihat Yesus, itu sudah cukup baginya. Ia melihat sebatang pohon ara dimana Yesus akan melintasi di bawahnya. Segera otaknya bekerja untuk berlari mendahului orang banyak. Ia mengerahkan segenap tenaganya untuk memanjat pohon itu. Perutnya yang gendut, badannya yang pendek mungkin menyulitkannya memanjat pohon itu, namun semua itu tidak menghalangi niatnya untuk sekedar melihat Yesus.

    Niat, semangat dan kerja keras yang begitu tulus mendapatkan jawaban dari Yesus. Zacheus pasti sangat terkejut ketika Yesus mendongak kepalanya keatas, memandang kepadanya, dan menyapa namanya. Yesus mengenal namanya! Dan Yesus menyapanya dihadapan orang banyak. Zacheus yang sangat dibenci orang Yahudi karena menjadi kepala pemungut cukai, dikenal namanya oleh Yesus dan disapa sebagai sahabat dihadapan banyak orang. Dalam hati Zacheus mungkin hanya berharap cukup sekedar melihat Yesus, tak ada keinginan untuk lebih dari pada itu. Namun ketika Yesus mendongak kepalanya, memandang kepadanya, menyapa namanya serta mengatakan ingin menumpang di rumahnya, Zacheus bagaikan mendapatkan berkat yang tak ternilai harganya. Semua bebannya selama ini, semua predikat yang ditempelkan kepada dirinya, semua cemohan padanya, seakan-akan terlepas, dan ia merasa menjadi manusia baru.

    Zacheus menjadi manusia baru. Kita melihat semua itu dari kesaksian Zacheus: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."

    Itulah perubahan seorang anak manusia ketika hatinya diurapi oleh Roh Tuhan, ia menjadi manusia baru, manusia yang mau berbagi, mau berkorban, mau melepaskan miliknya untuk menerima kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Zacheus melepaskan setengah dari kekayaannya untuk orang-orang yang berkekurangan. Ketika hati kita terbuka untuk Tuhan, maka kita akan melihat tanggung jawab kita untuk membagi kepada mereka yang berkekurangan. Karena Tuhan itu kasih, ia menginginkan mereka yang berada di dalam Dia juga memiliki kasih kepada orang lain.

    Zacheus bukan saja memberikan setengah dari miliknya, tetapi ia juga mau menebus segala kesalahan masalah lalunya. Mereka yang pernah diperasnya akan dikembalikan empat kali lipat. Zacheus berani mengakui kesalahannya di depan Yesus. Ia juga berani memikul tanggung jawab untuk mengembalikan dan memohon maaf kepada orang-orang yang pernah disakitinya, yang pernah diperasnya. Inilah contoh seorang yang diperbaharui dalam Kristus.

    Kita dapat belajar banyak dari Zacheus, niatnya, upayanya untuk mendekat dan memandang kepada Yesus dan pengakuan, penyesalannya dan keinginan untuk berubah untuk menerima dan menyambut Yesus dalam hidupnya.

    Kita saat ini sedang mempersiapakn diri kita untuk menyambut natal. Sang bayi itu datang dalam kesederhanaan untuk menunjukkan kepada kita bahwa melalui kesederhanaan kedatangannya Ia dapat menjangkau kita yang lemah, yang terbuang, yang telah dianggap hilang, yang papa dan miskin, agar harkat dan martabat kita dapat dikembalikan dan dikaruniakan hak untuk menjadi anak-anak Allah.

  • Menawarkan Apa Yang Anda Punya

    Bulan Desember ini kita bersiap-siap untuk menyambut Natal. Natal adalah suatu peristiwa yang besar dalam hidup orang percaya karena Allah bersedia menyerahkan Anaknya untuk turun ke bumi ini, lahir dalam rupa manusia, menderita karena dosa-dosa manusia dan mati untuk menebus manusia.

    Yesus merupakan Anak Domba Allah yang diserahkan untuk disembelih akibat dosa-dosa kita.Yesus menandai kesedian Allah menyerahkan milikNya yang paling berharga untuk manusia.

    Dalam kehidupan kita manusia, pernahkan kita memiliki kesadaran yang sama untuk menawarkan kepada sesama kita yang berkekurangan sebagian dari keberadaan kita? Ada banyak hal yang bisa kita tawarkan kepada sesama kita, bukan sekedar uang.

    Kita sering mengasosiakan bantuan kepada orang lain dengan uang. Itu tidak selalu begitu. Tidak semua orang membutuhkan uang. Ada banyak orang yang membutuhkan hal-hal lain dari kita. Kita dapat menyediakan sebagian waktu kita untuk menghibur mereka yang dalam kesedihan. Kehadiran kita di tengah-tengah mereka mungkin akan dapat mengurangi kesedihan mereka. Mungkin ada orang yang membutuhkan senyuman kita, pegawai di kantor kita, teman-teman kita sangat mendambakan sentuhan kegembiraan dari kita untuk membuat suasana persahabatan yang baik. Mungkin ada orang yang membutuhkan pelukan anda, ciuman kasih sayang anda. Anak-anak, isteri atau orangtua kita mungkin sangat mendambakan uluran tangan anda, pelukan anda atau ciuman anda yang jarang anda berikan kepada mereka. Anda mungkin memiliki suara yang bagus untuk dibagikan kepada orang lain. Nyanyian anda mungkin dapat dipakai oleh Tuhan untuk menyembuhkan mereka yang sakit, atau menguatkan mereka yang berada dalam kesedihan.

    Pada tanggal 17 Oktober 1995 lahir dua anak kembar perempuan bernama Kyrie dan Brielle di rumah sakit Central Massachusetts, Worcester. Kedua anak ini lahir 12 minggu sebelum waktunya dan sudah merupakan aturan rumah sakit untuk menempatkan mereka pada inkubator terpisah untuk menghindari infeksi.

    Kyrie sang kakak yang memiliki berat 1,5 Kg dengan cepat bertambah berat dan tidur dengan nyenyak. Tetapi Brielle yang hanya memiliki berat 1 Kg pada saat lahir tidak seperti kakaknya, ia mengalami kesulitan detak jantung. Level oksigen dalam darahnya rendah, dan pertambahan beratnya rendah

    Tiba-tiba pada tanggal 12 Nopember, Brielle mengalami kondisi kritis. Dia mulai sulit bernafas, dan muka, tangan serta kakinya berubah abu-kebiru-biruan. Detak jantungnya meningkat, dan menunjukkan tanda-tanda tubuhnya mengalami stres. Orangtuanya mengawasi dengan perasaan takut dan mengira dia mungkin akan meninggal.

    Perawat berusaha untuk menstabilkan kondisi Brielle, namun semua usahanya sia-sia dan keadaannya makin bertambah buruk. Perawat jaga bernama Gayle Kasparian kemudian teringat bahwa teman-temannya pernah bercerita bahwa sudah menjadi kebiasaan umum di Eropa, namun tak pernah diikuti di AS, bahwa bayi kembar prematur memiliki tempat tidur dobel.

    Suster kepala saat itu sedang mengikuti konferensi, sehingga Gayle mengambil resiko untuk memindahkan Brielle ke tempat tidur kakaknya Kyrie. Hal ini disetujui oleh kedua orangtua anak-anak ini dan mereka mengawasi dengan penuh perhatian.

    Belum lama sesudah pintu inkubator ditutup, Kyrie mengulur tangannya memeluk adiknya dan dalam waktu beberapa menit Brielle menjadi tenang dan level oksigen dalam darahnya menjadi sangat baik sekali.

    Seringkali tanpa kita sadari Tuhan menggunakan apa yang kita miliki untuk mendatangkan mujisat di tengah-tengah kita. Hanya dibutuhkan kesediaan kita untuk menawarkan apa yang kita miliki. Memberikan apa yang kita miliki tidak selalu harus dengan materi. Kita memiliki banyak hal yang dapat kita bagikan untuk orang lain. Ketika kita mulai menyediakan hati kita untuk membagi kepada orang lain, maka akan terbuka banyak hal yang dapat dibagikan, dan itu tidak selalu berupa materi.

    Ada sesuatu yang baik dalam membagi adalah bahwa ketika kita membagi apa yang kita miliki, kita akan menerima itu kembali dengan berlimpah-limpah. Ketika kita membagi kebahagian kita dengan orang lain, kita menerima kembali kebahagian kita dengan berlimpah-limpah. Ketika kita bersedia membagi kehormatan kita dengan orang lain dengan bersedia menghormati mereka, kita menerima penghormatan yang jauh lebih besar lagi. Ketika kita bersedia membagi kekayaan kita dengan orang lain, kita akan menerima kekayaan yang jauh lebih besar lagi.

    Kita memanen apa yang kita tabur. Ketika kita menabur hanya sedikit, maka hanya sedikit pula yang kita terima kembali. Orang yang menabur banyak, ia akan menerima kembali berlimpah-limpah. Namun siapa yang menabur kejahatan ia akan menuai kematian.

    Dalam Alkitab kita banyak belajar dari orang-orang yang bersedia membagi apa yang mereka miliki dengan orang lain. Seorang anak kecil bersedia memberikan roti dan ikan kepada Yesus sehingga banyak orang kelaparan bisa dikenyangkan. Seorang janda miskin bersedia memberikan makan kepada Elia dari apa yang hanya tersedia untuk dia dan anaknya sekali makan, dan ia menerima kembali berlimpah-limpah sepanjang tahun-tahun kelaparan.

    Tuhan memiliki cara tersendiri untuk menilai manusia. Di atas semua itu Tuhan menilai hati manusia, hati yang tahu menghormati Dia dan menghargai manusia lainnya. Ketika kita beriman kepadaNya dengan mempraktekkan hukum-hukum kasihNya, maka berkat akan dicurahkan dengan berlimpah kedalam hidup kita.

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.