Kita baru saja memasuki tahun 2008 meninggalkan tahun 2007 yang penuh dengan berbagai masalah, bencana alam, tanah longsor, banjir, kesulitan ekonomi, kelangkaan minyak tanah, kenaikan harga dan hirup pikuk perayaan natal dan tahun baru. Sebagian dari masalah-msalah itu masih berlangsung ketika kita memasuki thn 2008.

Banyak orang merasa pesimis dan tak memiliki harapan dalam 2008 ini. Hal ini masih ditambah dengan berbagai ramalan tentang prospek tahun 2008 yang tidak mengembirakan. Para paranomral meramalkan bahwa tahun ini adalah tahun tikus sehingga masih akan terjadi berbagai bencana yang lebih hebat lagi.

Semua ramalan dan perkiraan itu tidak membawa kita kemana-mana tetapi hanya menimbulkan kecemasan dan kekuatiran kita dalam memasuki 2008 ini.

Di tengah-tengah situasi seperti saya ingin mengajak anda untuk membaca pengalaman panggilan hidup Abram, seorang percaya yang sangat dikasihi Allah, dalam Kejadian 12:1-9. Melalui bacaan dan perenungan ini kita dapat belajar sesuatu yang meneguhkan iman kita dan memberikan harapan ditengah ketidakpastian masa depan kita saat ini.

Kejadian 12:1-9:
12:1. Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; 12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." 12:4. Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. 12:5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ. 12:6. Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu. 12:7 Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. 12:8 Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. 12:9 Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.

Perjumpaan Abram dengan Allah membawa perubahan besar dalam hidupnya yang sudah mapan. Memang kehidupan yang sudah mapan, sudah stabil, sudah aman sering membuat orang tak mau lagi melakukan apa-apa, tak mau mengambil resiko apa-apa, tak mau lagi berusaha. Dalam pekerjaan, orang sering takut pada perubahan karena perubahan sering membawa ketidakpastian. Banyak PNS sangat kuatir bila ada pergantian pejabat karena pergantian pejabat membawa perubahan dan sering tak disukai. Apalagi bila perubahan itu terjadi ketika kita berada pada usia yang sudah mapan sehingga sudah kehilangan motivasi untuk berusaha dan memulai sesuatu yang baru.

Sama juga dengan Abram, perjumpaan Abram dengan Allah membawa perubahan besar di usianya yang sudah senja, perubahan yang tak pasti dalam hidupnya yang sudah mapan dan enak.

Abram adalah anak Terah. Terah adalah keturunan Sem yang menetap di tanha Ur-Kasdim sesudah peristiwa kekacauan bahasa dalam pembangunan menara Babel. Terah memperanakan Abram, Nahor dan Haran. Haran saudara Abram memperanakan Lot, namun kemudian ia meninggal di Ur-Kasdim.

Sesudah kematian Haran, Terah membawa kedua anaknya, Abram dan Nahor, dengan menantu dan cucu-cucunya ke tanah Kanaan. Tidak dijelaskan keinginan Terah ke tanah Kanaan apakah karena perintah Tuhan atau tidak, namun di tengah perjalanannya ke Kanaan Terah berubah pikiran dan berhenti serta menetap di Haran sampai ia meninggal.

Abram tinggal di Haran dan masih dalam daerah Ur-Kasdim ketika ia berjumpa dengan Tuhan pada umur 75 tahun. Allah memanggil Abram untuk keluar dari rumah bapaknya, meninggalkan semua sanak-saudaranya. Allah meminta Abram meninggalkan kehidupannya yang sudah mapan, sudah stabil, meninggalkan segala sesuatu yang memberinya rasa aman, untuk pergi ke suatu negeri yang akan ditunjukkan kemudian.

Allah berjanji kepada Abram bahwa ia akan membuat keturunan Abram menjadi suatu bangsa yang besar, memberkati dia, membuat namanya menjadi sangat mashur dan terkenal. Siapapun yang memberkati Abram akan diberkati dan siapa yang mengutuknya akan dikutuk oleh Tuhan.

Sebagai manusia panggilan seperti ini mungkin sangat tidak rasional. Mengapa tidak? Pertama pada usia 75 tahun orang umumnya sudah tidak lagi ingin mengambil resiko atau memiliki motivasi untuk berjuang atau berpetualang. Orang pada umur seperti itu sering hanya ingin menikmati hari tua dengan tenang, menjaga cucu, dari pada memulai suatu kehidupan baru dengan situasi yang baru yang tak pasti dan penuh bahaya.

Kedua, Abram dijanjikan akan memiliki keturunan yang besar, padahal usianya sudah 75 tahun dan ia belum memiliki anak. Isterinya telah divonis mandul. Ia hanya memiliki Lot yang merupakan keponakannya, anak dari saudaranya Haran yang telah meninggal.

Ketiga, tujuan perjalanan tak jelas, Tuhan tidak memberitahukan Abram kemana ia harus pergi. Tuhan hanya mengatakan akan ditunjukkan kemudian. Janji Tuhan hanya berupa garis-garis besar tetapi tanpa rinciannya. Sebagai orangtua yang sudah berumur 75 tahun dan harus pergi suatu negeri yang tak jelas dengan membawa-bawa isteri dan keponakan memang suatu pergumulan besar. Dibutuhkan kesiapan mental, pengorbanan besar, dan kepercayaan besar pada Allah yang berjanji padanya.

Namun Abram menerima panggilan Tuhan tanpa pertimbangan untung rugi. Perjumpaannya dengan Allah membawa perubahan besar dalam hidupnya, itu adalah permulaan perjalanan panjang tak kunjung henti bersama Tuhan. Itu adalah permulaan petualangan misterius tak mengenal henti. Hanya untuk suatu janji bahwa di suatu ketika di masa depan Allah akan menjadikan keturunannya suatu bangsa besar yang diberkati dan menjadi berkat bagi seluruh dunia. Janji itu baru terjadi jauh di masa depan ketika Abram sudah meninggal. Inilah sosok Abram. Ia percaya meskipun janji itu baru akan terjadi baratus tahun sesudah ia meninggal. Adakah orang yang mau membuat perjanjian seperti itu dengan orang lain, mengorbankan segala-galanya hanya untuk suatu hasil yang baru akan terjadi atau dinikmati beratus-ratus tahun kemudian oleh keturunannya? Jarang ada orang yang berbuat seperti itu pada masa kini. Kalau ada ia adalah makluk langka.

Panggilan Abram adalah suatu undangan Allah bagi Abram untuk membentuk Firdaus Baru. Firdaus atau Taman Eden yang lama telah hilang akibat kejatuhan manusia dalam dosa. Allah ingin membentuk suatu Firdaus Baru, dengan benih keturunan Abram yang terpilih untuk mendiami Taman Firdaus Allah tersebut. Abram diundang untuk menjadi awal penbentukan umat bagi Allah, Israel umat pilihan Allah.

Kerajaan Allah, atau Taman Eden Baru dimulai melalui inisiatif dari Allah yaitu melalui firman Allah. Melalui firman, Allah mengundang Abram mengambil bagian dalam Taman Eden Baru yang sedang disiapkan Allah. Taman Eden itu adalah suatu tanah yang baru, suatu negeri yang penuh air susu dan madu, dengan bibit-bibit baru, keturunan baru yang akan memberi dampak besar bagi seluruh dunia, dan merubah sejarah umat manusia. Kita tahu bahwa Abram adalah Bapak Orang Percaya.

Panggilan untuk kemuliaan Abram datang dengan pengorbanan besar. Panggilan itu meminta Abram harus meninggalkan seluruh hal yang menjadi daya tarik kehidupannya yang lama, keluarga, handai taulan, kemapanan, kekayaan yang sudah dihimpunnya selama ini, semua hal-hal lama yang membuatnya merasa aman. Semuanya harus ia tinggalkan. Ia harus bergantung mulai dari saat itu hanya kepada Allah satu-satunya saja. Allah ingin memulai sesuatu yang baru dari nol agar tak ada klaim bahwa itu adalah karena usaha Abram, atau karena kekuatan, kekayaan diri Abram. Allah ingin Abram hanya bergantung seluruhnya pada kekuatan dan iman percaya kepada Allah sendiri.
Perjumpaan serta panggilan Allah kepada Abram sama seperti perjumpaan dan panggilan Yesus kepada murid-murid pertamaNya. Ketika Yesus berjumpa dengan mereka Ia memanggil mereka dan mereka langsung meninggalkan semua pekerjaan mereka sebagai nelayan dan sanak saudara mereka dan mengikuti Yesus (Markus 1:19-20).
Hal yang sama terjadi juga dengan Zacheus seorang pemungut cukai ketika ia disapa oleh Yesus. Ia bersedia mengorbankan sebagian besar kekayaannya untuk menolong banyak orang. Kekayaan bukan lagi hal utama dalam kehidupan pribadi Zacheus.
Hal yang sama lagi dengan perumpamaan Tuhan Yesus tentang penemuan harta terpendam. Tuhan Yesus mengatakan bahwa hal kerajaan Allah sama seperti harta terpendam yang ditemukan orang. Ketika si pekerja menemukan harta itu ia bersedia menjual seluruh harta miliknya yang ada padanya dan pergi untuk membeli tanah tempat harta terpendam tersebut berada.

Sebelum seseorang bisa menerima kehidupan yang penuh berkat dari Allah, ia harus bersedia meninggalkan seluruh pengharapannya yang lama, seluruh kehidupannya yang lama dan mengikuti Tuhan, dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan sebagai satu-satunya pemberi berkat. Kalau kita percaya kepada Tuhan tetapi hati dan pikiran kita masih mengandalkan kekuatan kita, kekayaan kita, kehormatan kita, maka kita tidak layak bagi Tuhan. Seperti kata Yesus, ”barangsiapa yang mau mengikut aku tetapi kemudian menengok kebelakang, maka ia tidak layak bagiku.”
Berkat Allah sering sebanding dengan pengorbanan kita. Seberapa jauh kita mau berkorban kapada Tuhan? Ketika kita meninggalkan segala sesuatu yang membuat hati dan pikiran kita terikat atau tergoda, segala kehormatan dan kekayaan yang membuat kita merasa aman dan kemudian hanya bergantung seluruhnya pada Allah, maka kita akan menerima berkat yang melimpah-limpah.

Allah mengundang Abram untuk suatu rencana yang besar, rencana penyelamatan umat manusia, bukan hanya sebatas menciptakan suatu bangsa keturunan Abram yang besar, bukan sekedar untuk memberikan kemashuran bagi Abram, bukan sekedar suatu Taman Eden Baru bagi Israel di Kanaan, tetapi, untuk penyelamatan umat manusia setelah kejatuhan dalam dosa. Dari keturunan Abram akan lahir Kristus yang akan menanggung dosa manusia. Melalui bibit-bibit yang telah dilahirkan kembali dalam Kristus akan lahir Israel yang baru, umat Allah dan Firdaus yang baru di surga.

Kalau kita melihat dalam perspektif ini kita melihat stepping stone, patok-patok, tonggak-tonggak rencana Allah, yang dimulai dari keturunan Abram menjadi suatu bangsa yang besar, bangsa Israel, kemudian perjalanan mereka ke Kanaan tanah perjanjian yang berlimpah air susu dan madu sebagai Firdaus Kedua, sampai pada Yesus yang memulai suatu umat baru yang tidak lagi terbatas pada orang Yahudi, tetapi mewakili semua bangsa di dunia, sampai kepada Firdaus baru di surga setelah kedatangan Kristus kedua kali. Itulah rencana Allah yang dimulai dari suatu undangan kepada Abram.

Allah memiliki rencana bagi masa depan umat manusia. Namun Allah tidak bekerja sendiri, ia mengundang manusia, Allah membutuhkan partisipasi manusia di dalamnya.

Dalam mewujudkan rencana besar Allah banyak orang terpanggil. Yusuf dipanggil untuk menyelamatkan saudara-saudaranya dari bahaya kelaparan dan memberi perlindungan negara bagi perkembangan keturunan 12 anak Yakub menjadi sautu bangsa yang besar, bangsa Israel di Mesir sebelum mereka dipanggil keluar dari sana.
Musa dipanggil untuk memimpin Israel keluar dari Mesir. Zacharias dipilih untuk menjadi anak Yohanes Pembaptis yang mempersiapkan jalan bagi Yesus, serta Maria dan Yusuf yang dipanggil untuk melahirkan dan membesarkan bayi Yesus.

Perjalanan masih panjang menuju Firdaus di surga. Masih banyak orang yang akan dipanggil. Pertanyaannya adalah manusia seperti apa yang diinginkan Allah?

Manusia yang diinginkan Allah adalah manusia yang mau menerima panggilan atau undangan Allah tanpa mempertanyakan panggilan Allah itu sendiri. Manusia yang taat dan percaya sepenuhnya pada janji Allah. Manusia yang bersedia meninggalkan kehidupan lama dimana mereka merasa aman dengan kehidupan mereka.

Belajar dari panggilan Abram kita melihat bahwa Abram dipilih bukan karena ia adalah seorang manusia yang super. Abram memiliki banyak kelemahan, ia sering jatuh dalam kelemahannya sendiri, namun ia selalu tulus di hadapan Allah. Ia selalu taat dan bersandar kepada Allah.

Abram bukan manusia yang selalu tegar dan suci. Tidak ada manusia yang suci dihadapan Allah. Dalam perjalanannya Abram membawa Lot, banyak interpretasi bahwa Lot diajak karena akan dijadikan ahli waris Abram kelak karena Abram tidak memiliki anak. Namun rencana Tuhan tak dapat diubah, di perjalanan Lot terpikat dan memisahkan diri sehingga Abram kehilangan Lot.

Kedua, Abram seorang penakut. Ketika Firaun raja Mesir melihat Sarai yang sangat cantik ia sangat tertarik. Abram takut dibunuh sehingga ia menyangkal Sarai sebagai isterinya. Namun Tuhan mendatangkan bencana bagi Firaun sehingga ia melepaskan Abram dan Sarai.

Ketiga, setelah lama menunggu dan tak memiliki anak, Abram mendengar nasehat isterinya untuk mengambil Hagar sebagai selir sehingga ia memiliki anak yang tak sesuai dengan rencana Tuhan. Namun rencana Tuhan tetap, akibatnya Sarai harus menanggung perbuatannya, ia dipermalukan dan menjadi bulan-bulanan ejekan Hagar.

Itu adalah sedikit contoh dari kelemahan Abram sebagai manusia. Namun dalam kelemahan itu Abram tetap tulus di hadapan Allah. Kelemahan manusia tidak menjadi rintangan bagi Allah untuk tetap mengasihi orang yang dipilihNya. Ketaatan, penghormatan, takut akan Allah, serta ketulusan, keterbukaan dan kesediaan untuk mengakui kelemahan kita ketika kita jatuh merupakan kunci hubungan baik kita dengan Allah.

Kita melihat contoh yang sama terjadi pada Daud. Ia adalah seorang yang diberkati Allah. Dari keturunan Daud lahir Yesus yang menjadi tonggak utama rencana penyelamatan Allah bagi manusia seluruhnya. Namun Daud bukan seorang yang super. Daud bahkan sering jatuh ke dalam dosa. Ia berselingkuh dan lebih jahat lagi untuk menutupi perselingkuhan itu ia mrencanakan pembunuhan terhadap Uria, suami Batsyeba. Namun Tuhan tetap mencintai dan memberkati Daud karena ia tulus mengakui dosa-dosanya.

Apa yang dpaat kita pelajari dari kisah perjumpaan Allah dengan Abram ini? Adakah sesuatu yang memberikan penguatan bagi kita dalam memasuki tahun 2008 ini dengan penuh pengharapan?

Belajar dari perjumpaan Abram dengan Allah dan penerimaan Abram atas panggilan tersebut kita dapat belajar banyak hal.

Pertama, jangan mencintai kemapanan. Kemapanan sering membuat kita tak lagi berani berhadapan dengan situasi baru, perkembangan baru, resiko baru. Kita tak lagi sensitif atau memiliki keberanian mengambil tanggung jawab baru, atau panggilan baru yang diminta oleh Tuhan kepada kita?

Kedua sumber pengharapan orang percaya adalah hanya pada Tuhan. Kemapanan sering membuat kita tak lagi bergantung pada Allah. Kita lebih menggantungkan diri pada kekuatan diri kita sendiri. Kita akan merasa terganggu dengan berbagai perubahan di sekitar kita karena hal itu merongrong kemampuan kita? Alkitab memperingatkan kita akan rasa aman kita yang membuat iman kita hanya suam-suam kuku, tidak panas tetapi tidak juga dingin. Kemapanan sering membuat banyak orang kristen kehilangan esensi iman. Kita tidak lagi merasa bergantung pada Tuhan, atau membutuhkan Tuhan dalam hidup kita, tetapi pada kemampuan diri sendiri, dan lama-kelamaan kita kehilangan jati diri kekristenan kita.

Ketiga, Tuhan menginginkan kita meninggalkan segala sesuatu yang membuat kita merasa aman agar pengharapan kita hanya bersandar kepada Tuhan sendiri. Sebab dalam kelemahan kitalah, kuasa Tuhan menjadi jauh lebih nampak. Mungkin segala bencana, segala kesukaran yang terjadi pada kita akhir-akhir ini dapat dianggap sebagai suatu tanda ajakan dari Tuhan kepada kita agar berbalik dan menyerahkan perlindungan dan pengharapan kita bukan pada kekuatan diri kita, tetapi hanya pada Tuhan sendiri