Cerita mengenai Daud dan Goliat mungkin sudah kita dengar berulang kali sejak kita masih kecil sampai dengan saat ini. Namun setiap kali cerita ini diperdengarkan dan diulang memberikan banyak inspirasi baru kepada kita mengenai betapa besar, dalam dan agung kuasa Tuhan kita. Cerita tentang Daud dan Goliat dapat dibaca dalam 1 Samuel 17:38-49.

Selama 40 hari, Goliat seorang raksasa bangsa Filistin, berjalan hilir mudik di panggung pertempuran menantang orang Israel sambil menghujat nama Tuhan, namun tak ada satupun orang Israel yang berani maju ke depan. Semua orang termasuk raja Saul bersembunyi dalam kemah mereka. Semua itu berjalan begitu lama sampai kemudian ada seorang gembala kecil, muda belia, bernama Daud, mendengar hujatan Goliat tentang Tuhan dan menjadi sangat marah.

Raja Saul awalnya segan mengirimkan anak muda ini, namun karena tidak ada orang lain, ia akhirnya menyetujuinya. Bayangkan seorang raja besar mengizinkan seorang anak mudah belia yang tak punya pengalaman berperang maju ke medan pertempuran berhadapan dengan sang raksasa Goliat dimana tak seorangpun di Israel berani. Secara akal sehat sama seperti mengirimkan anak muda ini ke medan pembantaian.

Untuk maksud pertempuran itu Saul memberikan baju perang kebesaran raja kepada Daud. Namun ternyata baju perang seperti itu tidak cocok karena membuat ia tidak leluasa bergerak. Bayangkan anda maju bertinju menggunakan sepatu atau sarung tinju milik orang lain yang tidak sesuai ukurannya dengan kaki dan tangan anda. Anda akan menjadi bulan-bulan musuh anda.

Baju perang Saul dapat kita identik dengan menggunakan perlengkapan perang Saul. Kalau Saul berperang dengan mengandalkan baju perang dan kemampuannya, maka Daud tidak menggunakan cara-cara Saul, Daud menggunakan cara-cara dirinya sendiri yang selalu mengandalkan Tuhan. Kita dapat membaca sikap Daud dari perkataannya kepada Goliat 1 Samuel 17:45-47 sbb:
17:45 Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. 17:46 Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, 17:47 dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami."

Daud tidak mengandalkan baju perang, ia tidak mengandalkan pedang atau lembing, tetapi ia mengandalkan Tuhan. Karena bukan Daud yang sedang berperang melawan Goliat tetapi Allah semesta alam yang sedang dihadapi oleh Goliat yang telah berani menantang Allah. Daud hanya menjadi alat bagi Allah untuk menunjukkan keperkasaanNya. Bukan Daud yang lagi berperang, tetapi Tuhan sendiri.

Cerita ini mengajarkan kepada kita untuk jangan menggunakan cara orang lain untuk menyelesaikan masalah kita. Kalau kita menggunakan cara-cara orang lain, apalagi orang yang tidak mengandalkan Tuhan, maka kita akan kalah dalam pertempuran.

Hal kedua adalah bahwa bukan kemampuan kita, bukan apa yang kita gunakan dalam menyelesaikan masalah kita, bukan uang atau ilmu kita, kehebatan kita, alat-alat ”perang” kita yang membuat kita menang, tetapi kepada siapa kita mengandalkan diri. Kalau kita mengandalkan diri pada kemampuan kita, kita akan kalah, tetapi kalau kita mengandalkan Tuhan, Tuhan bersama kita, maka kita akan menang.

Ketiga adalah apa motivasi kita dalam mengahdapi pertempuran kita? Apakah tujuan kita untuk mendapatkan pujian, untuk dihormati? Tujuan Daud memasuki pertempuran adalah untuk menghormati Tuhan. Daud tidak mencari keagungan dirinya dengan nekad bertarung dengan Goliat, tetapi ia maju karena merasa Tuhan yang ia sangat hormati, ia sangat muliakan dilecehkan, dihujat dan direndahkan. Daud maju mempertaruhkan nasibnya kepada Tuhan untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk kemegahan dirinya.

Keempat, jangan merampas kemuliaan Tuhan. Jangan melupakan apa yang Tuhan telah lakukan dalam hidup kita seolah-olah semua sukses itu karena usaha dan jerih payah kita. Bila Tuhan yang telah menolong kita, sudah sepantasnya Tuhan yang dimuliakan dalam hal tersebut, dan bukan diri kita. Berikanlah pujian itu kepada Dia dan muliankanlah Tuhan yang menyelamatkan kita. Itu sudah sepantasnya, karena tanpa Tuhan kita tak mungkin memenangkan pertempuran.

Daud telah menunjukkan bahwa selama Tuhan dimuliakan dalam setiap tindakannya maka ia akan menikmati kemenangan. Apapun masalah kita, apapun ”pertempuran” yang kita hadapi dalam hidup kita, selama motivasi kita memasuki pertempuran adalah untuk memuliakan Tuhan, dan kita memberikan pujian dan syukur atas semua perbuatan Tuhan dalam hidup kita, maka kita akan selalu berada dalam perlindungannya. Jika Tuhan di pihak kita, siapakah lawan kita?