Salah satu penyakit yang menggerogoti kehidupan manusia untuk bisa menikmati hidup dengan penuh sukacita, dan damai adalah kekuatiran. Kekuatiran bukan hanya terdapat pada orang-orang kecil, miskin dan berkekurangan tetapi terdapat pada hampir semua golongan manusia, mulai dari yang miskin sampai dengan yang kaya, dari anak kecil sampai dengan orangtua, dan dari rakyat sampai presiden. Banyak sekali orang terjangkit penyakit ini sampai membuat hidup mereka berantakan.
Sayangnya banyak dari kekuatiran yang ada pada kita sering bersumber dari hal-hal yang tidak semestinya kita kuatirkan, atau kekuatiran yang kita ciptakan sendiri.
Begitu hebatnya peranan dan dampak kekuatiran dalam hidup manusia sehingga Tuhan Yesus perlu menasehatkan kita akan hal kekuatiran kita seperti terdapat dalam Lukas 12:22-40 sbb:
2:22. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.
12:23 Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian.
12:24 Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu!
12:25 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya?
12:26 Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain?
12:27 Perhatikanlah bunga bakung, yang tidak memintal dan tidak menenun, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
12:28 Jadi, jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya!
12:29 Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu.
12:30 Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu.
12:31 Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.
12:32 Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.
12:33 Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat.
12:34 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."
12:35 "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.
12:36 Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya.
12:37 Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.
12:38 Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka.
12:39 Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.
12:40 Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan."
Nasehat Tuhan Yesus ini mengajarkan banyak hal kepada kita. Pertama, kalau hidup kita diliputi dengan iri hati dan ketamakan serta kekuatiran yang berlebihan, maka hal-hal seperti itu dapat membuat kita kehilangan arti/makna hidup yang sebenarnya. Mengapa bisa demikian? Seperti dikatakan oleh Tuhan Yesus: kehidupan manusia jauh lebih penting dari kekayaan yang berlimpah-limpah (Lukas 12:15), kehidupan manusia jauh lebih berarti dari sekedar makanan dan pakaian (ayat 23). Carilah dahulu kerajaan Allah, maka semuanya akan ditambahkan kepada kita.(ayat 31).
Manusia hidup memang membutuhkan makanan dan minuman, namun hidup manusia itu sendiri tidak selalu tergantung hanya pada makan dan minuman, pada harta yang berlimpah-limpah (ayat 15). Bukan oleh makanan (roti) saja manusia hidup.
Kehidupan manusia jauh lebih besar dari sekedar makan, pakaian, kekayaan, kehormatan dan kekayaan. Mengapa? Yesus meminta kita memperhatikan dengan cermat dua contoh penting, pertama burung-burung gagak yang tidak menanam, menabur, menuai dan tidak juga mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah, dan yang kedua bunga bakung di padang yang didandani oleh Allah.
Burung gagak adalah burung yang tidak terlalu disukai orang, selain karena warnanya yang hitam, suaranya yang serak, juga ada kepercayaan dibeberapa suku bahwa kehadiran burung ini menandai kematian. Mengapa Yesus mengambil contoh burung seperti ini, burung yang tidak terlalu akrab dengan manusia bahkan dilarang untuk dimakan menurut aturan Musa (Imamat 11:15; Ulangan 14:14)?
Kata menabur, menanam, menuai dan lumbung dapat kita pahami dalam hal cerita Yesus tentang perumpamaan orang kaya yang bodoh yang tanahnya berlimpah-limpah hasilnya (Lukas 12: 61-21). Setiap hari ia kuatir memikirkan apa yang harus ia perbuat karena sudah tidak ada tempat untuk menyimpan hasil panennya. Ia berencana untuk merombak lumbung-lumbungnya dan mendirikan yang lebih besar lagi. Ia berpikir bila itu sudah ia lakukan ia akan berbahagia. Tetap malam itu juga ia mati sehingga seluruh kekuatirannya, seluruh usahanya sia-sia saja karena tak dapat memberikan tambahan sesuatu bagi dirinya bahkan bagi hidupnya.
Orang kaya ini memiliki seluruhnya dibandingkan dengan burung gagak, namun kelebihan orang kaya ini tak dapat disamakan dengan burung gagak karena burung gagak dipelihara oleh Tuhan sedangkan orang kaya itu hanya mengandalkan usahanya sendiri. Meskipun burung gagak tetap harus mendapatkan makanannya dengan mencari, namun satu kelebihannya adalah ia dapat menikmati kehidupannya yang diberikan oleh Tuhan. Ia tidak pernah merasa kuatir dengan apakah besok ia akan mendapatkan makanan atau tidak. Tuhan menciptakan mereka dan menyediakan makanan bagi mereka.
Contoh kedua adalah bunga bakung di padang. Bunga ini adalah bunga yang ada di padang dan bukan ada di halaman manusia yang dipelihara setiap hari. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Salomo dengan segala kemegahannya tak dapat menyamai bunga seperti ini (ayat 27).
Mengapa Salomo yang sudah memiliki segala sesuatu di dunia ini, tapi masih dikatakan tak sebanding dengan bunga bakung di padang?
Analogi bunga bakung dan Salomo memiliki kesamaan dengan orang kaya yang bodoh dan burung gagak. Hidup ini lebih dari semua itu sehingga Salomo dengan segala kebesaran dan kemuliaannya tidak sebanding dengan bunga bakung tersebut. Karena apa yang menjadi fokus dalam hidup kita menentukan arti dan nilai hidup kita. Apa yang kita kejar dalam hidup kita, apakah sekedar masalah makan, pakaian, kekayaan dan kehormatan belaka? Kalau itu yang terjadi maka kita menjalani hidup yang meleset dari tujuan kehidupan kita. Allah menciptakan manusia bukan untuk sekedar hidup untuk hidup itu sendiri. Bukan hidup untuk sekedar hidup, tetapi hidup yang memiliki tujuan. Tujuan hidup kita adalah hidup yang memuliakan Tuhan sebagai Pencipta kita, pemberi kehidupan kita. Semua ciptaan ada sebagai bagian kemuliaan Sang Penciptanya. Sebuah lukisan ada untuk memberikan kehormatan kepada sang pelukisnya. Sebuah karya seni ada untuk memberikan pujian kepada penciptanya. Begitu juga, kita ada dalam rangka memuliakan Allah. Kalau keberadaan kita tak memberikan kehormatan kepada Allah, maka hidup kita tak berguna bagi Allah. Lukisan yang tak memberikan nilai bagi sang pelukisnya akan dibuang.
Salomo mungkin seorang raja besar, seorang yang sangat berkhikmat, namun apakah hidupnya kemudian memuliakan Tuhan? Dengan isteri sebanyak itu, Salomo justru terperosok ke dalam kehidupan yang menjauh dari Allah. Disitulah terletak perbedaan keindahan Salomo dan keindahan bunga bakung. Persoalan bukan terletak pada apa yang kita makan, apa yang kita pakai, tapi kepada siapa kita berharap memberikan itu semua kepada kita. Kepada siapa kita meminta itu semua. Kepada siapa kehidupan kita digunakan untuk kemuliannya.
Yesus meminta kita untuk mendahulukan hal kerajaan surga terlebih dahulu. Yesus meminta kita belajar pada ciptaan Allah yang lain. Binatang dan tumbuh-tumbuhan, kepada burung-burung dan bunga-bunga di padang liar. Mereka yang tidak menanam tetapi mendapat makanan dari apa yang disediakan oleh Allah.
Tuhan sendiri yang menyediakan kebutuhan kita. Betapa indahnya hal ini. Allah memperhatikan kita. Allah mencukupi kita. Hidup yang memuliakan Allah, dan bukan memuliakan kesulitan hidup itu sendiri. Itulah hidup yang berarti, hidup yang memiliki nilai yang lebih tinggi dari sekedar hidup untuk hidup. Hidup yang bukan diperbudak oleh kebutuhan kita.
Kalau kita terlalu kuatir akan apa yang akan kita makan, kita sebenarnya telah menyampingkan Tuhan, kita menggantikan Tuhan dengan kekuatiran kita. Kuatir mengurangi iman kita.
Murid-murid Yesus pernah merasa kuatir diterpa dengan angin dan gelombang di laut sehingga mereka takut, padahal ada Yesus bersama dengan mereka.
Ketika kita kuatir, kita menggantikan Tuhan denganh kekuatiran kita. Ketika kita diperbudak oleh kebutuhan kita, maka kita menggantikan Tuhan dengan usaha kita, dengan kekuatan kita. Tuhan terpinggirkan dan tidak menjadi sandaran kita, kita mencari pegangan hidup kita pada hal-hal yang hanya dapat memberikan kita jaminan semu dan bukan jaminan sesungguhnya dari Tuhan. Yesus berkata, ”serahkan semua kekuatiranmu kepada Tuhan, karena dia yang mengetahui segala sesuatu.” Serahkan, serahkan, serahkan semuanya kepada Tuhan dan hiduplah dengan bebas, dengan gembira, dengan damai sambil memuliakan Tuhan. Itulah tujuan kita diciptakan.
Namun menyerahkan semuanya kepada Tuhan bukan berarti kita tak perlu repot-repot bekerja. Burung-burung tetap harus berjuang untuk mendapatkan makanan mereka setiap hari, tetapi pekerjaan dan kebutuhan mereka bukan menjadi tujuan utama mereka hidup. Pekerjaan mencari makanan tidak memperbudak mereka. Namun keberadaan hidup mereka memberikan kontribusi pada alam ciptaan Tuhan. Mereka memuliakan pencipta mereka. Ada saat dimana burung-burung bernyanyi dengan riang dan gembira. Ada saat dimana bunga-bunga mengeluarkan bunga dan wangi-wangian mereka yang indah dan harum. Semua itu untuk memberikan keindahan pada alam ciptaan Tuhan. Mereka bagian dari keindahan alam ini. Mereka diciptakan untuk memuliakan pencipta mereka. Meskipun hidup mereka terbatas. Meskipun bentuk mereka sering tak sebanding dengan sejenisnya, namun dalam kondisinya, setiap makluk itu memberikan keindahan dalam ciptaan Tuhan. Suara mereka, keharuman mereka, warna mereka, keceriaan mereka semua memberikan kontribusi pada karya ciptaan Allah yang maha agung.
Kekuatiran tidak dapat menambah sesuatu pada diri kita, tidak akan menambah usia kita tetapi sebaliknya dapat membuat usia kita lebih pendek. Kekuatiran tidak dapat menyelesaikan masalah kita, bahkan justru semakin memperumit masalah yang kita hadapi.
Kalau Tuhan mendandani rumput-rumput dan bunga-bunga di padang dengan segala keindahannya, yang kemudian akan layu dan dibuang kedalam api, apalagi kepada manusia yang sangat dikasihinya. Bunga yang hanya hidup sehari dipakaikan dengan segala keindahan, mengapa kita manusia yang sangat dikasihi Allah harus hidup dengan kekuatiran akan segala kebutuhan kita? Mengapa kita harus kuaitr dengan apa yang akan kita makan, apa yang kita pakai? Semua itu hanya dikuatirkan oleh mereka yang tidak mengenal Allah.
Tuhan Yesus menasehatkan kita agar jangan memfokuskan perhatian kita pada kesulitan kita setiap hari. Bukan untuk itu kita hidup. Tuhan tidak menciptakan manusia untuk sekedar melihat kehidupan manusia yang merana dan tanpa tujuan. Tuhan menciptakan manusia untuk kemuliaan diriNya. Apapun kehidupan kita, penderitaan, beban hidup kita bukan menjadi tujuan utama kehidupan kita. Tetapi perjuangan kita dalam setiap kesulitan kita adalah untuk memuliakan Tuhan. Fokuskan diri kita pada Allah, Dia yang memberikan kehidupan itu kepada kita, Dia yang memperkenankan kita hidup, memberikan kita kesehatan dan mencukupi kita sesuai dengan kebutuhan kita.
Jangan sampai beban kehidupan ini membebani perhatian kita melampaui perhatian kita kepada Tuhan. Jangan sampai ketakutan akan apa yang akan kita makan, pakaian dan hal-hal lain dalam kehidupan jasmani kita membuat kita kehilangan fokus pada Tuhan. Dia adalah pemberi semuanya. Dia yang menurunkan berkat itu kepada semua orang. Masakan ia tidak memperhatikan anak-anaknya.
Masalah dalam hidup kita adalah masalah bagaimana kita memilih fokus kehidupan kita. Apakah fokus kehidupan kita pada hal-hal yang bersifat duniawi, badani, materialistis atau kepada hal-hal yang memuliakan Tuhan?
Dalam bacaan ini Yesus memberikan kita nasehat agar jangan memfokuskan kehidupan kita pada kebutuhan kehidupan kita. Tetapi fokuskan hidup kita untuk bagaimana memuliakan Allah dalam setiap hari, setiap pekerjaan, perilaku dan perbuatan-pebuatan kita. Kalau itu yang kita perbuat, Allah adalah Bapa kita yang telah mengetahui kebutuhan kita akan mencukupi kita. Kata mencukupi bukan berarti kekurangan, bukan berarti berlebihan. Semuanya dicukupi sesuai dengan peranan yang dimainkan oleh anak-anak Allah. Bapa mengetahui seluruh kebutuhan kita dan yang terbaik untuk kita. Untuk setiap peranan kita, berkat yang dilimpahkan kepada kita akan sesuai dengan kebutuhan kita.
Dimana ada kekayaan selalu disitu hati kita biasanya tertuju. Dimana ada kehormatan disitu keinginan kita tertuju. Yesus mempertanyakan komitmen kita, prioritas hidup kita. Apa yang menjadi komitmen hidup kita, apa yang jadi prioritas hidup kita, apakah uang, makan, pakaian, kehormatan? Apakah kerajaan surga yang gilang gemilang layak dipertukarkan dengan sekedar makanan dan minuman saat ini, dengan uang dan kehormatan saat ini? Yesus menantang kita untuk memilih, siapakah yang kita pilih dalam hidup kita, apakah Tuhan atau dunia ini. Kalau kita mendahulukan Tuhan dalam semua aktifitas kita, maka semuanya akan ditambahkan dalam hidup kita. Prioritaskan Tuhan terlebih dahulu, maka seluruh hidup kita akan diberkatinya. Tuhan memberkati anda.
When I am down and, oh my soul, so weary;
When troubles come and my heart burdened be;
Then, I am still and wait here in the silence,
Until you come and sit awhile with me.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up... To more than I can be.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up... To more than I can be.
There is no life - no life without its hunger;
Each restless heart beats so imperfectly;
But when you come and I am filled with wonder,
Sometimes, I think I glimpse eternity.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up... To more than I can be.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up... To more than I can be.
You raise me up... To more than I can be.
(Lirik lagu "You Raise Me Up" dari Josh Groban)
