Bacaan : Kisah Rasul-Rasul 23:1-11
Iman percaya kita sering menjadi batu sandungan dalam kehidupan kita. Injil sering membawa kita berhadapan dengan para penguasa dunia yang berusaha dengan segala cara mencoba menekan kita, mencoba membatasi kita, bahkan mencoba mengancam kita.. Pertanyaannya adalah bagaimana sikap kita bila diperhadapkan dengan hal-hal seperti itu. Dapatkah kita mempertahankan sikap yang benar dihadapkan Tuhan?
Tuhan sering menggunakan berbagai kesulitan hidup yang melanda kita untuk menguji sikap kita. Ujian itu sering digunakan untuk rencana Tuhan yang lebih besar. Hal seperti itu yang terjadi dengan Paulus seperti yang kita baca dalam bacaan kita di atas.
Pemberitahuan tentang injil telah membawa Paulus berhadapan dengan para penguasa Romawi dan agama. Dua kekuatan besar dunia, negara (kekuasaan sekuler) dan agama (kekuasaan religius) bersatu untuk menekannya, mencoba membungkamnya.
Ketika Paulus kembali ke Jerusalem dari perjalananan pemberitaan injil, dia bersembahyang di Bait Allah di Jerusalem. Ketika ia sedang bersembahyang, beberapa orang Yahudi dari Asia mengepung dia dan mulai memukulnya. Mereka menuduh bahwa pengajarannya dimana-mana dianggap melawan mereka dan melawan hukum mereka. (Kisah Rasul-Rasul 21:28).
Paulus ditolong oleh kepala pasukan Romawi, Claudius Lysias, yang mengikatnya dengan rantai dan membawanya ke penjara. Paulus tidak disiksa oleh prajurit Romawi karena ia adalah warga negara Romawi.
Penguasa Romawi sebenarnya tidak memiliki alasan mengapa Paulus harus ditahan, tetapi mereka mempunyai kepentingan untuk menahan Paulus demi keamanan dan ketertiban. Karena Paulus warga negara Romawi, maka selama penahanannya ia tidak mendapat siksaan. Untuk mencari tahu alasan mengapa dia harus ditahan mereka memanggil Sanhendrin, Mahkamah Agama Yahudi, bersidang agar mendapatkan kejelasan. Sanhendrin adalah dewan beanggotakan imam-iman senior Yahudi, mereka adalah penguasa agama pada waktu itu.
Dengan penguasa Romawi sebagai pengamat, pengadilan agama dimulai. Paulus memulai pembelaannya dengan menatap tanpa rasa takut para anggota Mahkamah Agama (Kisah Rasul-Rasul 23: 1). Dalam kata pembukanya ia berkata: "Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah."
Namun baru saja Paulus berkata begitu, Imam Besar Ananias menyuruh orang-orang yang berdiri dekat Paulus menampar mulut Paulus. Penamparan dimuka sidang sungguh mengejutkan banyak orang.
Tak jelas sebenarnya apa yang membuat Paulus harus ditampar. Pasti semua orang bertanya-tanya: mengapa dan ada apa. Dalam hal apa perkataan Paulus itu membuat ia harus mendapat tamparan. Namun sudah jelas perkataan Paulus ini sangat menyinggung Ananias Sang Imam Besar kalau tidak tak mungkin ia menyuruh orang menampar. Hal ini tercermin dari perkataan Paulus berikutnya (ayat 3) sbb: "Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih-putih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar hukum Taurat oleh perintahmu untuk menampar aku."
Kata “tembok yang dikapur putih” sudah menunjukkan betapa bobroknya perilaku mereka terutama Imam Besar Ananias. Paulus melukiskan dia seperti tembok kotor yang coba ditutupi dengan kapur putih. Hanya tampilan luarnya yang putih tetapi bagian dalamnya tetap saja kotor. Paulus mencela perilaku munafiknya.
Namun orang-orang yang hadir di situ berkata (ayat 4): "Engkau mengejek Imam Besar Allah?"
Mendengar ini Paulus menjawab (ayat 5): " aku tidak tahu, bahwa ia adalah Imam Besar. Memang ada tertulis: Janganlah engkau berkata jahat tentang seorang pemimpin bangsamu!" Apa yang dikatakan Paulus itu berasal dari (Keluaran 22:28; juga Ibrani 13:17; Roma 13:1, 5; Titus 3:1).
Paulus katakan bahwa ia tidak tahu bahwa ia itu adalah Imam Besar. Ini adalah sesuatu yang tidak mungkin karena Paulus sendiri adalah seorang Yahudi Farisi. Ia pasti mengenal siapa Imam Besar Yahudi pada waktu itu.
Apa yang ingin disampaikan oleh Paulus adalah bahwa meskipun ia menghormati penguasa, namun bukan berarti bahwa si penguasa dapat dengan semena-mena melakukan apa saja pada orang lain. Paulus mencela bukan karena rasa sakit ditampar tetapi ia mengkritik perilaku yang tidak sesuai dengan jabatan sebagai imam.
Sebagai warga gereja kita wajib memberikan masukan kritikan, namun kritikan kita tidak mengurangi penghormatan kita pada jabatan mereka.Dilain pihak, kalau kita sebagai pejabat kita juga wajib bertindak benar sesuai jabatan kita.
Kritikan Paulus tidak dimaksudkan untuk menghina jabatan Imam Besar, tidak untuk menghina otoritas penguasa karena sesudah diingatkan akan otoritas Imam Besar, Paulus tidak lagi meneruskan kritikannya pada Ananias. Paulus menghormati perintah Tuhan seperti dalam Keluaran 22:28: “Janganlah engkau berkata jahat tentang seorang pemimpin bangsamu.”
Sikap Paulus ketika ditampar perlu kita cermati dan ikuti. Paulus tidak mengumbar amarah, ia tidak mencari pembenaran dirinya menggunakan kekuatan dirinya sendiri, tetapi ia mencari sikap Tuhan dalam menghadapi situasinya. Ketika Paulus mengutip ayat-ayat dalam Alkitab, menunjukkan bahwa ia sedang mencari keinginan Tuhan dalam memecahkan situasi yang dihadapinya.
Tuhan meminta agar kita menghormati penguasa dan tidak berkata jahat kepada para pemimpin kita. Itu yang diinginkan Tuhan. Tuhan tidak ingin kita terjebak dalam kejahatan, melawan kejahatan dengan kejahatan. Hal yang sama pernah diperintahkan Yesus kepada Petrus ketika ia menggunakan pedang untuk melawan tentara Romawi ketika di taman Getsemani. Yesus berkata: “Siapa yang bermain dengan pedang akan mati dengan pedang”
Ini mungkin dilema bagi kita orang kristen bila diperhadapan dengan penguasa atau orang yang bertindak jahat kepada kita. Sebagai orang kristen kita dituntut untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan agar kita juga tidak terjerumus kedalam kejahatan. Karena yang menilai kita bukan manusia tetapi Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang suci, Ia menginginkan anak-anaknya menjaga kesucian dihadapanNya, karena Tuhan tidak dapat berkompromi dengan kejahatan.
Paulus tidak terjebak oleh tamparan dimulutnya. Ia tidak mengijinkan amarah menguasai hati dan pikirannya, namun mengarahkan perhatiannya pada pimpinan Tuhan, apa yang harus dilakukannya. Paulus tidak memandang kepada penyerangnya, tetapi ia memandang kepada Tuhan untuk meminta petunjuk.
Apa yang kemudian ia dapatkan dari Tuhan?
Dalam ayat 6-7 Paulus mendapat petunjuk untuk diselamatkan dari para penuduhnya. Pada ayat 6-7 dikatakan: “Dan karena ia tahu, bahwa sebagian dari mereka itu termasuk golongan orang Saduki dan sebagian termasuk golongan orang Farisi, ia berseru dalam Mahkamah Agama itu, katanya: "Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati."
Ketika ia berkata demikian, timbullah perpecahan antara orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki dan terbagi-bagilah orang banyak itu. Akibatnya Paulus tidak jadi diadili oleh Mahkamah Agama ini.
Apakah semua hal ini karena kemampuan Paulus berkata-kata dan melihat peluang bebas? Tidak! Semua itu karena Tuhan memiliki rencana bagi Paulus.
Meskipun Paulus memiliki pemahaman tentang perbedaan orang Farisi dan Saduki tetapi perkataan Paulus tentang kebangkitan orang mati itu bukan sekedar perkataan membela diri. Perkataan Paulus itu adalah bagian dari kesaksian dirinya, bagian dari kesaksian imannya bahwa Yesus telah bangkit, ia telah bertemu dengan Yesus secara pribadi dalam perjalanannya ke Damsyik. Kalau Yesus telah bangkit, maka ada kebangkitan orang mati. Karena kalau Yesus tidak dibangkitkan, sia-sialah iman kita. Kita akan tetap hidup dalam dosa (1 Korintus 15:14, 17, 32).
Kalau kesaksian Paulus itu menimbulkan perpecahan dalam Mahkamah Agama tersebut, maka itu adalah karena campur tangan Tuhan. Tidak mudah untuk membuat berbagai orang pandai itu untuk bertengkar satu sama lain dan membiarkan Paulus lepas dari tangan mereka. Hanya Tuhan yang dapat membuat semuanya itu terjadi.
Tuhan berkenan kepada Paulus dan Ia memiliki rencana tersendiri bagi Paulus. Rencana Tuhan itu tak dapat dihambat oleh manusia.
Tuhan membuka jalan kelepasan kepada Paulus dari tangan para penuduhnya karena Paulus mempertahankan sikap tulus dan benar dihadapan Tuhan. Ia tidak dibelokkan oleh tindakan manusia kepadanya. Paulus diselamatkan karena meskipun ia ditekan dan dihina ia tetap mempertahankan sikap yang tulus dan benar dihadapan Tuhan.
Paulus mempertahankan sikap yang menyenangkan Tuhan bukan menyenangkan manusia. Bila kita mempertahankan sikap benar dan tulus yang menyenangkan dan memuliakan Tuhan dalam segala hal, maka Tuhan akan menyelamatkan kita dari tangan manusia dan menggunakan kita untuk hal-hal yang lebih besar dari rencanaNya.
Sebagai orang percaya kehidupan kita akan selalu mengalami ujian iman. Ujian iman adalah saat dimana iman kita diperhadapkan dengan tantangan dan tekanan agar kita mengingkari iman kita.
Paulus telah diuji dan ia lulus dalam ujian imannya. Pada ayat 11 dikatakan bahwa pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: "Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma."
Ketika kita diberi ujian iman dan kita lulus dengan baik, maka Tuhan memakai kita untuk pekerjaanNya yang lebih besar dan mulia. Paulus lulus ujian dan dipakai untuk memberitakan injil sampai ke Roma, sampai di hadapan Kaisar Romawi.
