Amsal 3:1-6 : 3:1. Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, 3:2 karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu. 3:3 Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, 3:4 maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia. 3:5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. 3:6 Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

Jean François Gravelet-Blondin adalah seorang akrobat di atas tali yang sangat terkenal. Ia dilahirkan pada tanggal 28 February 1824 di St Omer, Perancis. Nama sebenarnya adalah Jean-François Gravelet, tetapi lebih dikenal dengan nama Charles Blondin atau Jean-François Blondin. Ketika ia berumur lima tahun, ia dikirim ke the École de Gymnase di Lyon untuk ditraining selama enam bulan sebagai akrobat.

Blondin sangat terkenal karena aksinya melintasi air terjun Niagara di tali setinggi 50m di atas air dan sepanjang 335 meter. Ini dilakukan pertama kali pada tanggal 30 Juni 1859. Hal yang sama diulangi lagi tetapi ditambah dengan banyak variasi atraksi seperti berjalan dengan mata tertutup, berjalan dalam karung, berjalan sambil mendorong kereta dorong, berjalan pada tali yang miring, berjalan sambil mengendong orang (manajernya sendiri, Harry Colcord) dipunggungnya, duduk di tengah tali sambil memasak dan makan omlet.

Dalam tahun 1860 sekumpulan bangsawan dari Inggris menonton pertunjukkan Blondin menyeberang air terjun itu. Sesudah pertunjukkan itu Blondin mendekati mereka dan bertanya kepada Duke of Newcastle, "apakah anda percaya saya bisa mendorong kereta dorong ini diatas tali tersebut?" Sang bangsawan menjawab “ya sudah pasti.”

Namun ketika Blondin mengatakan, “kalau begitu naiklah keatas kereta ini,” sang bangsawan menolak.

Sang bangsawan dapat saja mempercayai kemampuan Blondin untuk melakukan atraksi tersebut, namun tidak untuk untuk mempercayai keselamatan dirinya pada sang akrobat.

Dapatkah kita memiliki keyakinan seperti sang bangsawan pada Tuhan? Dapatkah kita meyakini kemampuan Tuhan, tetapi tidak berani mempercayakan hidup kita padaNya?

Sudah tentu tidak. Keyakinan parsial seperti yang ditunjukkan oleh sang bangsawan Inggris tidak dapat berlaku untuk Tuhan. Karena Tuhan tidak menginginkan orang yang hanya sekedar yakin akan kemampuan Tuhan tetapi tak mau menyandarkan hidupnya pada kekuasaan Tuhan.

Panggilan kekristenan adalah panggilan untuk menaruh percaya pada Kristus. Kepercayaan yang bukan sekedar percaya saja tetapi menaruh hidup kita pada Kristus meskipun hidup kita berada dalam kesulitan. Menaruh percaya sama dengan menaruh harapan sepenuhnya akan pembebasan, akan pertolongan, dan akan keselamatan kita.

Dalam ayat 5 bacaan di atas dikatakan: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

Sekedar percaya saja tidak cukup. Kita harus memiliki iman yang teguh padaNya dan menaruh keyakinan teguh atas keselamatan hidup kita pada Tuhan.

Memang iman sering adalah konsep yang tak real karena agak sulit untuk mengetahui apakah kita memang memiliki iman tersebut atau tidak (atau kita sedang berbohong kepada diri sendiri). Banyak orang mengatakan bahwa mereka memiliki iman tetapi sebenarnya mereka tak memiliki apa-apa. Mereka hanya menipu diri sendiri. Ketika iman itu dicobai, iman mereka kolaps, cerai berai.

Tuhan tidak menghendaki iman kita yang hanya parsial saja, Tuhan menghendaki iman yang seutuhnya, teguh, seluruhnya, iman dengan penyerahan diri sepenuhnya. Iman yang hanya suam-suam kuku, tidak panas dan tidak juga dingin, tidak disukai Tuhan. Tuhan menghendaki iman yang rela berkorban, rela menyerahkan diri bagi Tuhan.

Iman kepada Tuhan akan selalu mengalami tantangan untuk menguji iman kita dan untuk memurnikan iman kita. Setiap kali kita lulus dalam suatu ujian iman kita naik tingkat untuk mengalami ujian lebih berat. Dalam Alkitab, Tuhan tahu Abraham mengasihi Tuhan sehingga ia rela meninggalkan kampung halaman dan orang-orang yang dikasihinya untuk pergi ke tanah yang dijanjikan Tuhan. Namun itu saja tidak cukup, Abraham harus menunggu sangat lama sebelum ia mendapatkan seorang anak. Itu juga masih belum cukup, Tuhan meminta Abraham untuk mengorbankan anak satu-satunya kepada Tuhan. Dalam setiap ujian itu Abraham lulus.

Percaya kepada Tuhan juga mengandung arti tidak bersandar kepada keyakinan diri kita, tidak bersandar kepada pemahaman atau pengertian kita sendiri, tetapi takutlah akan Tuhan dan mengakui Dia dalam seluruh perilaku hidup kita.

Kita sering terjebak dalam anggapan bahwa kita telah mengenal Allah dengan baik sehingga kita mulai bersandar pada pemahaman diri kita, tentang apa yang diinginkan Tuhan. Kita kemudian mulai membuat asumsi-asumsi atau anggapan seolah-olah Tuhan menginginkan sesuatu seperti ini atau itu. Kita membuat interpretasi sendiri tentang maksud-maksud Tuhan. Kalau itu yang terjadi, maka kita telah jatuh ke dalam dosa. Dosa selalu berusaha memerangkap kita melalui pikiran kita. Kelemahan terbesar manusia adalah pada pikirannya.

Iblis selalu berusaha menyisipkan cobaannya melalui pikiran kita. Kita ingat perkataan ular kepada Hawa di Taman Eden, "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"

Iblis membuat argumentasi seolah-olah perkataan Tuhan tetapi dengan merubah pemahaman kearah yg salah. Jadi kalau kita berpikir seperti Hawa hanya mengandalkan kemampuan dan pemahaman diri kita sendiri, maka sangat mudah kita ditipu oleh Iblis.

Si pengarang Amsal mengingatkan kita untuk takut akan Tuhan dan jangan bersandar kepada pemahaman kita sendiri. Jangan mudah ditipu oleh kemampuan atau pengertian kita, karena justru melalui pikiran kita, melalui kemampuan kita, iblis menipu kita dan menjerumuskan kita kedalam kejatuhan kita.

Salomo menulis kata-kata diatas agar kita belajar dari pengalaman hidupnya dan jangan mengulangi kesalahan yang sama. Salomo memulai pemerintahannya dengan sangat baik karena ia memohon kepada Tuhan untuk mengaruniakannya hikmat kebijaksanaan. Tuhan memberikan kepadanya bukan hanya hikmat kebijaksanaan tetapi juga kelimpahan kekayaan dan kemuliaan tak ternilai. Itulah Tuhan, Ia memberikan lebih dari apa yang kita minta kepadaNya.

Namun waktu berjalan dan Salomo terlena oleh hikmat dirinya, oleh kehormatan dan kemuliaan dirinya. Ia mulai bersandar kepada pengertian dirinya dari pada kepada Tuhan. Ia menggantikan Tuhan dengan pikirannya. Berkat Tuhan kemudian dipakai menggantikan Tuhan sendiri. Ia mengira pikirannya lebih baik dari pada bertanya dan bersandar kepada Tuhan.
Pemeritahannya kemudian mulai mengikat perjanjian dengan raja-raja di sekitarnya, melalui ikatan-ikatan perkawinan. Ia mulai menyandarkan dirinya dengan membangun angkatan perang yang kuat, dan satu hal lagi yang paling disesalkan adalah ia membangun kuil-kuil pemujaan bagi isteri-isterinya yang sangat banyak. Meskipun kerajaannya tetap aman selama hidupnya, tetapi terpecah-pecah sesudah itu.