Search blog.co.uk

Posts archive for: May, 2008
  • Perbedaan Kesembuhan dan Keselamatan

    Bacaan: Lukas: 17:12-19

    Dalam bacaan kita terdapat 10 orang lepra yang datang berteriak-teriak kepada Yesus memohon dapat disembuhkan dari penyakitnya. Mereka berteriak dari jarak jauh karena tidak berani datang kepada Yesus yang diikuti banyak orang. Sudah pasti mereka akan diusir oleh orang banyak yang takut kepada penyakit mereka.

    Yesus kemudian mengatakan kepada mereka: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam."

    Mereka lalu pergi, namun baru saja di tengah perjalanan mereka, mereka telah sembuh.

    Cerita ini memberikan banyak teladan kepada kita. Pertama, ketika kita meminta Tuhan mengasihani penderitaan kita, maka pertolongan itu diberikan kepada kita dengan cuma–cuma, tak ada tuntutan apa-apa dari kita, kita menerimanya dengan gratis, tanpa persyaratan, atau embel-embel. Tuhan itu murah hati, kasihNya berlimpah kepada orang yang berseru memohon pertolongan dari padaNya.

    Kedua, bagaimana sikap kita terhadap kasih Tuhan itu? Apakah kita bersyukur dan memuliakan Tuhan atau kita kemudian pergi begitu saja seakan-akan sudah sewajarnya itu terjadi. Kita meminta, mujizat terjadi, kita kembali ke kehidupan kita yang normal. Perbedaannya hanya pada sebelumnya kita sakit dan sekarang kita sehat.

    Pada kasus 10 orang lepra yang menerima kesembuhan ini, hanya satu orang saja yang setelah menerima kesembuhan ia memuliakan Allah dan kembali kepada Yesus. Ia kembali dan tersungkur di kaki Yesus serta memuliakan Dia. Kemana kesembilan temannya, mengapa mereka tidak datang bersama satu orang tersebut?

    Saya membayangkan saat-saat ketika mereka menjadi sembuh, mereka pasti saling memandang dan memeriksa keadaan satu sama lain. Mereka kemudian berteriak-teriak senang karena telah sembuh dari penyakit yang menjijikkan dan menakutkan banyak orang. Kemudian, mungkin orang satu ini berkata mari kita kembali mengucapkan syukur kepada Allah dan kepada Yesus, namun tak ada respon dari kesembilan temannya. Mereka senang telah sembuh tetapi mereka merasa keberatan untuk kembali lagi mencari Yesus. Mereka mungkin membuat banyak alasan dan tidak mau kembali kepada Yesus. Hanya untuk mengucapkan terima kasih saja mereka keberatan.

    Ketiga, kesepuluh orang itu memang telah disembuhkan dari penyakitnya sesuai dengan permintaan mereka, namun mereka belum diselamatkan. Keselamatan terjadi hanya bila kita datang tersungkur di kaki Yesus dan menerima Dia sebagai Juruselamat kita. Secara fisik Tuhan telah menyembuhkan mereka semua. Namun secara keselamatan, hanya satu dari sepuluh orang itu yang memperolehnya. Disitulah perbedaan antara kesembuhan dan keselamatan. Kesembuhan terjadi pada tubuh jasmani kita, namun keselamatan jiwa terjadi bila ada rasa syukur, ada pengakuan atas dosa-dosa kita dan keinginan untuk menerima Yesus masuk dalam hidup kita dan menyelamatkan jiwa kita.

    Yesus berkata kepada orang yang kembali kepadaNya: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

    Iman kepada Yesus telah menyelamatkan jiwanya. Orang ini tidak hanya menerima kesembuhan jasmani tetapi keselamatan jiwanya juga.

    Ketika kita mensyukuri pengorbanan Yesus bagi dosa-dosa kita, maka kita menerima Dia sebagai Juruselamat jiwa kita. Tubuh kita mungkin disembuhkan, namun kalau kita tidak mengakui dosa-dosa kita dan menerima Yesus sebagai Juruselamat kita, maka dosa kita tetap tinggal di dalam kita dan jiwa kita tak pernah diselamatkan.

    Dunia kedokteran zaman ini mungkin telah dapat menyembuhkan sakit tubuh kita, namun perkembangan dan kemajuan dunia kedokteran tidak dapat memberikan keselamatan kepada jiwa kita. Hanya Yesus yang dapat memberikan keselamatan itu. Karena itu apa artinya kesembuhan tubuh, bila jiwa kita binasa. Lebih baik jiwa yang diselamatkan meskipun tubuh ini menderita. Tuhan bersama anda!

  • Di Depan Mata Yesus

    Bacaan: Yoh 8:1-11

    Barangkali ada sesuatu dalam diri anda yang anda inginkan dapat dihapus dari sejarah hidup anda. Bila anda teringat hal itu, maka hal tersebut mendatangkan rasa bersalah dan kepedihan dalam diri anda. Dengan cara apapun yang anda lakukan untuk menghilangkannya, hal tersebut bukannya makin berkurang malah makin bertambah menjadi mimpi buruk bagi anda.

    Banyak orang pernah mengalami hal seperti. Kejadian masa kecil ketika disiksa, atau diperlakukan tidak senonoh, ketika kita membuat kesalahan atau dosa yang besar yang terus kita sembunyikan dari orang lain, dsb. Dalam situasi seperti itu, kita berharap kalau kita diberi kesempatan kedua, kita ingin menjalani hidup kita secara berbeda, memulai hidup baru.

    Dalam bacaan kita di atas, ada seorang perempuan yang didapati berzinah. Menurut Hukum Torat yang dipegang teguh oleh orang Yahudi saat itu, perempuan itu seharusnya dihukum mati dengan cara dilempari dengan batu. Namun para pemimpin agama pada saat itu sengaja membawa dia kehadapan Yesus untuk mencobai Yesus. Mereka berharap akan mendapati sesuatu kesalahan Yesus yang dapat mempermalukan atau menyalahkannya.

    Para pemimpin agama sering menggunakan kehidupan seseorang untuk kepentingan mereka. Mereka bukannya mendidik masyarakat atau memberikan contoh yang baik, tetapi mereka menggunakan setiap kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dan mengangkat kehormatan mereka sendiri, bahkan meskipun hal itu harus mengorbankan banyak orang kecil.

    Bagi perempuan itu sendiri, digiring sepanjang jalan, dipertontonkan kepada semua orang, merupakan mimpi buruk. Lebih baik kalau mereka langsung melempari dia dengan batu sampai mati, dari pada harus dihina dan dipermalukan sedemikian rupa sebelum akhirnya dihukum.

    Namun harapan para pemimpin agama agar Yesus menghukum perempuan itu tidak terjadi. Yesus hanya membungkuk, dan menulis-nulis dengan jarinya di tanah. Tidak diterangkan apa yang ditulis oleh Yesus saat itu. Mungkin Yesus hanya mencakar-cakar permukaan tanah dengan jarinya.

    Para pemimpin agama makin mendesak agar Yesus segera bertindak pada perempuan itu. Pada akhirnya Yesus berdiri dan berkata, “siapa diantara kamu yang tidak berdosa, biarlah ia yang pertama mengambil batu dan melempari perempuan itu.” Sesudah mengatakan hal tersebut Yesus kembali membungkuk dan mengais-ngais tanah dengan jarinya.

    Banyak dari kita ketika menemukan kesalahan orang lain, sering memaksa untuk menghukum orang itu seakan-akan diri kita adalah orang yang tak pernah berbuat dosa. Kita sering lebih mudah menemukan kesalahan orang lain dari pada menemukan kesalahan diri kita sendiri. Ada pepatah “sebutir pasir di seberang laut terlihat oleh kita, namun balok didepan mata tak terlihat.” Itulah kenyataan yang terdapat dalam diri orang pada umumnya.

    Yesus mengatakan, “siapa yang tidak berdosa, biarlah ia yang pertama mengambil batu dan melempari perempuan itu.” Mungkin kalau perkataan seperti ini tidak datang dari Yesus yang mampu mengetahui latar belakang semua orang, pasti sudah ada orang yang berani tampil dan melempari perempuan itu. Tapi ini adalah Yesus, yang dapat melihat ke dalam latar belakang hidup seseorang, maka tak seorangpun yang berani. Satu per satu pergi meninggalkan perempuan itu.

    Ketika Yesus mengangkat kepalanya, semua telah pergi dan hanya tertinggal perempuan itu. Yesus bertanya kepada perempuan itu, "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

    Yesus tidak menghukum perempuan itu, Ia memberikan kesempatan kedua bagi perempuan itu untuk memperbaruhi hidupnya. Yesus katakan,”Akupun tidak menghukum engkau, tapi jangan berbuat dosa lagi dari sekarang.”

    Bagaikan sesuatu yang besar terangkat dari punggung perempuan, bagaikan sesuatu ikatan yang erat terlepas dari kehidupannya, itu membuat ia begitu nyaman, begitu ringan, begitu sukacita. Mimpi buruk itu seakan-akan terbang menghilang digantikan perasaan nyaman dan penuh rasa syukur. Ia telah mendapat pengampunan, Ia telah diberi kesempatan kedua untuk memulai hidupnya yang baru. Jiwanya yang yang haus dan dahaga sekarang mendapat tempat perteduhan, Yesus telah memberikan pengampunan bagi jiwanya. Hidupnya sekarang memiliki tujuan yaitu memuliakan dan mensyukuri akan pengampunan Tuhan.

    Perempuan itu telah merasakan bagaimana rasanya berdosa, dia mengaku dirinya berdosa, namun ia tak mampu keluar dari dosannya itu. Dosa-dosanya menjadi mimpi buruk baginya. Ketika dosa-dosa itu diampuni, diangkat darinya, maka pengampunan itu benar-benar sangat berarti baginya, sangat besar baginya. Ada rasa syukur tak terhingga darinya.

    Banyak dari kita mendengar dan menerima undangan kabar keselamatan setiap hari, namun kita menolak untuk datang. Kita pergi ke gereja dan mengikuti persekutuan-persekutuan rohani, namun tak ada perubahan dalam hidup kita, karena kita tak pernah mengakui kita berdosa, meskipun ada dosa dalam diri kita. Bahkan kita sering hanya mencari-cari dosa orang lain dan menuduhnya, sedangkan dosa dalam diri kita tak pernah kita akui dan datang memohon pengampunan. Kita sering berlindung dibalik kedok-kedok kesucian palsu, melalui jabatan kita, pendidikan kita, kehormatan kita, tetapi hidup kita sebenarnya penuh dengan dosa.

    Tuhan kita bersedia memberikan kita kesempatan kedua untuk memulai hidup kita yang baru di dalam Dia. Bila kita bersedia mengaku semua kesalahan kita, semua dosa-dosa kita dan menerima Yesus sebagai Juruselamat kita, maka Ia akan mengubah hidup kita menjadi hidup yang penuh ucapan syukur, hidup yang penuh sukacita. Tuhan Yesus menolong anda.

    Di Depan Mata Yesus

    Di depan mata Yesus, kudatang miskin dan rendah,
    Menanggung hutangku berat, di depan mata Yesus.

    Di depan mata Yesus, kubuka kesalahanku
    Dan isi hati yang keruh, di depan mata Yesus.

    (Lagu dari Kidung Rohani)

  • Muijzat Terbesar Dalam Diri Seseorang

    Bacaan :Yoh 5:1-16

    Mujizat dalam diri kita adalah kejadian-kejadian besar yang terjadi ketika sudah tidak ada harapan dalam diri kita, sudah tidak ada lagi kekuatan dari dalam diri kita untuk menyelesaikan masalah kita.

    Ketika kita ditanyakan apakah mujizat terbesar yang kita alami, maka sebagian dari kita orang kristen akan mengacu kepada kesembuhan dari penyakit, pertolongan di waktu mengalami musibah, kecelakaan, harapan yang terkabul, dsb.

    Dalam bacaan di atas terdapat cerita tentang seseorang yang mengalami mujizat yang Yesus lakukan terhadapnya. Ia adalah seorang yang sudah tak mampu menolong dirinya sendiri, sudah tak lagi memiliki harapan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, sudah tak ada harapan untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang di deritanya. Orang itu sudah menderita sakit 38 tahun lamanya.

    Lingkungan dimana mujizat itu terjadi memang bukan suatu tempat yang menyenangkan, karena berlangsung di suatu kolam di Yerusalem dimana terdapat banyak sekali orang dengan berbagai macam penyakit. Penderitaan mereka sudah tentu menimbulkan bermacam-macam keluhan, jeritan, tangisan, yang memilukan hati. Namun tak ada seorangpun orang sehat mau membantu mereka.

    Mereka semua berkumpul dipinggir kolam itu menunggu bila air kolam itu beriak dan siapa yang pertama masuk kedalamnya akan mengalami kesembuhan.

    Kedatangan Yesus ke tempat ini juga menjadi tanda tanya bagi kita ketika membaca bacaan di atas. Mengapa Yesus mau datang kesitu? Apa yang dicari di tempat seperti itu?

    Yesus datang ke Yerusalem dalam rangka memperingati salah satu dari hari raya Yahudi. Disaat seperti itu kota Yerusalem pasti sibuk dengan berbagai macam orang dari berbagai suku bangsa, mereka yang datang dari berbagai kota di luar Yerusalem atau orang-orang asing yang datang dari temapt-tempat jauh sepeti Mesir, Etiopia, dsb.

    Yesus memilih mengunjungi kolam Bethesda meskipun Ia sendiri tidak sakit. Murid-muridnya dan mungkin orang-orang yang mengiringi Yesus bertanya-tanya, mau cari apa, mau lakukan apa? Mereka pasti ngeri melihat pemandangan yang tidak mengenakan hati. Tapi Yesus hanya berkeliling, Ia tidak langsung tebar kesembuhan, Ia hanya keliling berjalan, mungkin saja muta-mutar dulu, kesana-kemari. Murid-murid mungkin bingung, mengapa tidak langsung menyembuhkan sekaligus semua orang sakit yang berada disitu?

    Tapi Yesus hanya berjalan, dan tiba-tiba Ia sampai di dekat seseorang yang hanya tidur terlentang di lantai, di atas tikar, sudah kurus kering, mungkin sudah seperti rangka saja. Yesus memandang orang itu, dan kemudian Ia bertanya, “Maukah engkau sembuh?”

    Ya ampun, Tuhan Yesus, apakah Engkau tidak tahu mengapa saya ada disini dan sudah sekian lama saya disini, bahkan sudah 38 tahun berbaring disini. Emangnya saya piknik disini? Mengapa Engkau bertanya seperti itu? Jelas dong semua orang disini ingin sembuh, kalau tidak mengapa kami mau berada disini.

    Tetapi Yesus bertanya kepada orang itu. Yesus tidak langsung membuat anggapan, Ia bertanya kepada orang itu, Ia tidak langsung bertindak. Mungkin Yesus juga sedang bertanya kepada anda, maukan anda sembuh dari bilur-bilur anda? Yesus menunggu jawaban kita, Dia tidak langsung bertindak.

    Kita sering menganggap Tuhan langsung intervensi dalam kehidupan kita. Tidak, Tuhan bertanya dan menunggu kesediaan kita. Kadang hidup kita berada dalam situasi buruk, tetapi kita tidak mau Tuhan campur tangan dalam hidup kita, kita tidak mengizinkan Tuhan hadir dalam hidup kita, kita mengandalkan kemampuan kita sendiri.

    Orang itu menjawab: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.".

    Jawaban orang ini menunjukkan bahwa ia sangat menginginkan kesembuhan. Namun kesembuhan itu terjadi melalui kolam tersebut. Ia hanya mengharapkan Yesus membantu kesembuhannya tetapi melalui kolam air tersebut. Ia tidak mengenal siapa Yesus, karena hidupnya hanya berputar di sekitar kolam tersebut dan tak pernah mendengar cerita Yesus yang dapat menyembuhkan secara langsung.

    Namun meskipun apa yang diharapkan oleh orang itu dari Yesus adalah pertolongan fisik untuk sampai ke kolam lebih cepat dari orang lain, tetapi Yesus memberikan jauh melampaui harapan orang tersebut. Yesus berkata kepada orang itu: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan

    Seringkali iman kita mungkin terlalu kecil, terlalu dangkal, terlalu sederhana, tidak mencukupi, untuk dapat mengharapkan sesuatu yang besar dari Tuhan, tetapi Tuhan mengabulkan jauh melampaui harapan kita. Orang itu hanya meminta kesembuhan melalui pertolongan ke tepi kolam itu, tetapi Yesus memberikan itu secara langsung. Sesuatu yang di luar jangkauan pemikirannya, di luar jangkauan imannya.

    Orang itu pasti sangat kegirangan, sangat gembira, ia memikul tikarnya sambil berjalan. Sialnya, hari itu adalah hari Sabath, orang dilarang bekerja. Orang itu bertemu dengan orang-orang Yahudi yang kemudian memarahinya karena memikul tikar dianggap bekerja. Mereka bertanya mengapa ia berbuat hal ini, bukankah sudah ada larangan untuk tidak bekerja pada hari Sabath? Namun orang itu menjawab bahwa orang yang menyembuhkan dia yang mengatakan kepadanyu: “Angkatlah tilammu dan berjalanlah."

    Orang ini adalah orang yang lugu. Ia menjawab dengan sangat polos dan mengikuti perintah Yesus dengan apa adanya. Ia mengikuti perintah Yesus, lebih dari mentaati larangan hari Sabath. Sudah tentu hal ini sangat menjengkelkan orang Yahudi. Mereka bertanya kepadanya, siapa orang yang begitu berani mengabaikan larangan hari Sabath? Namun orang itu sendiri tidak tahu siapa itu Yesus dan tak dapat mengatakan dengan jelas ciri-cirinya.

    Ketika Yesus menyembuhkan orang itu, Yesus tidak mengatakan siapakah diriNya kepada orang itu. Sesudah Yesus menyembuhkan orang itu, Yesus langsung pergi, menghilang di tengah kerumunan orang di Yerusalem. Selain itu, orang yang disembuhkan itu juga mungkin terlalu gembira saat itu sehingga ia lupa memperhatikan dimana Yesus berada sehingga ketika ia sadar kembali, Yesus telah pergi.

    Namun orang itu pergi ke Bait Allah. Ia pergi kesana untuk bersyukur atas apa yang terjadi kepadanya. Disitulah ia kemudian bertemu dengan Yesus. Yesus berkata kepadanya, "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."

    Mujizat terbesar dalam diri orang itu sudah terjadi. Namun kita mungkin salah menginterpretasi mujizat terbesar pada diri orang itu. Mujizat terbesar pada orang itu bukan pada kesembuhan penyakitnya, tetapi mujizat terbesar adalah kesembuhan jiwanya. Jiwa yang telah tercermar, telah berdosa, dipulihkan. Itulah inti dari kesembuhan Yesus. Yesus tidak datang untuk menolong menyembuhkan penyakit fisik kita. Tetapi Yesus datang untuk memulihkan hubungan kita dengan Allah Bapa. Melalui penyembuhan jiwa kita, kita dipulihkan menjadi anak-anak Allah. Itulah mujizat terbesar dalam diri orang itu.

    Kata “Engkau telah sembuh,” tidak hanya mengacu kepada kesembuhan fisik, tetapi lebih dari pada itu mengacu kepada pemulihan jiwa. Jiwa yang berdosa telah diselamatkan, karena itu “ jangan berbuat dosa lagi”. Tuhan beserta anda sekalian.

  • Allah Bersaksi Tentang AnakNya

    Bacaan: I Yoh 5:6-12
    5:6. Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran. 5:7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. 5:8 Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu. 5:9 Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. 5:10. Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. 5:11 Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. 5:12 Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.

    Bacaan kita diatas berbicara mengenai kesaksian. Kesaksian itu adalah bahwa Yesus adalah Anak Allah dan siapa yang percaya kepadaNya akan beroleh hidup yang kekal. Hal ini terdapat dalam ayat 11 dan 12 serta Yohanes 3:16. Pada ayat 11 dan 12 dikatakan bahwa: Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. 5:12 Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Hal yang sama dikatakan dalam Yoh 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

    Yohanes menggambarkan Allah Bapa telah memberikan kehidupan kekal kepada manusia, dan itu hanya terdapat pada AnakNya. Untuk mendapatkan hidup kekal itu, tergantung pada apakah kita percaya bahwa Yesus itu Anak Allah dan yang telah turun menjadi manusia (memiliki daging sama dengan kita) dan mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita?.

    Allah sendiri telah memberi kesaksian tentang AnakNya, sekarang tergantung pada reaksi kita terhadap kesaksian itu apakah kita menganggap kesaksian Tuhan itu cukup bagi kita atau tidak, atau kita menganggap kesaksian itu hanya sekedar khayalan manusia saja.

    Mengapa percaya pada kesaksian Allah tentang anakNya itu penting sehingga perlu ditekankan pada kesempatan ini? Karena terdapat pengajaran baik pada zaman Yohanes dan juga saat ini bahwa Tuhan tidak mungkin menjadi manusia dan bahwa Tuhan tidak bisa mati. Pengajaran ini mengatakan bahwa Yesus baru mendapatkan keilahianNya pada waktu Ia dibaptis (ungkapan air), tetapi sesaat sebelum ia disalibkan, keilahian Yesus meninggalkan Yesus (peniadaan arti darah) sehingga yang disalibkan itu adalah hanya manusia Yesus saja dan bukan Yesus sebagai Kristus. Pengajaran seperti ini meniadakan peranan Yesus sebagai Kristus, sang Mesias. Karena bila Yesus bukan manusia, maka ia tidak bisa menjadi penebus manusia, karena Ia tidak bisa menjadi “domba korban” untuk menembus dosa kita. Tetapi bila Ia bukan Tuhan, Ia adalah sekedar manusia yang berdosa sama dengan kita sehingga tak bisa menebus kita. Karena hanya melalui satu orang benar pada mulanya yang berbuat dosa, maka semua manusia jatuh kedalam dosa, dan dibutuhkan satu orang benar untuk menangung dosa itu baru manusia dipulihkan.

    Jadi percaya kepada kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Allah sekaligus manusia adalah hal yang sangat penting dalam iman percaya kita.

    Dalam ayat 6 bacaan kita hari ini, Yohanes mengajarkan kepada kita bahwa Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan dengan air saja, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran.

    Mengapa Yohanes menekankan kata “bukan dengan air saja, tetapi dengan air dan darah”?

    Apa arti air dan darah? Air simbol kelahiran manusia atau pembaptisan (dilahirkan kembali). Sedangkan darah simbol kematian manusia. Yesus bukan saja datang dengan air saja, tidak hanya melalui kelahiran seperti manusia saja, tetapi Ia menjalani hidup dari lahir sampai Ia mati. Dengan mengatakan dengan air dan darah, Yohanes mau mengatakan Yesus datang sebagai daging, melalui kelahiran sampai kematian. Yesus bergabung dengan kita manusia dalam seluruh siklus keberadaan kehidupan manusia. Dengan kata lain, Yesus menebus kita mulai dari kelahiran kita manusia sampai dengan kematian kita sekaligus. Kalau Yesus cuma ada pada saat lahir dan tidak ada saat kematian, maka penebusan kita tak lengkap. Tetapi syukur bagi kita Yesus tidak menebus hanya sebagian dari kehidupan kita manusia, tetapi seluruh kehidupan kita, dari lahir hingga kematian.

    Yohanes menekankan juga tentang siapa yang bersaksi mengenai Yesus. Ada dua jenis kesaksian: dari luar dan dari dalam manusia.

    Dalam ayat 6 Yohanes berbicara tentang kesaksian Roh. Roh adalah kebenaran. Kesaksian Roh tentang Yesus sama dengan kesaksian air dan darah. Roh memberi kesaksian di dalam kita juga. Yohanes meyakinkan pembaca bahwa kita memiliki kesaksian Roh Allah yang membenarkan bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh penebus kita. Roh itu ada di dalam kita bila kita percaya kepada Yesus dengan segenap hati kita. Jadi kita bukan saja memiliki kesaksian dari luar kita, darah dan air, tetapi kesaksian dari dalam diri kita yaitu kesaksian Roh. Memang ada kesaksian air dan darah tetapi kesaksian Roh Allah jauh lebih kuat dan benar, karena Roh adalah kebenaran.

    Namun kita perlu waspada, karena tidak semua roh yang ada didalam dunia ini roh kebenaran, tetapi hanya kesaksian oleh Roh Allah itu yang perlu kita percayai. Untuk mengetahui roh mana yang adalah Roh Allah, dapat kita kenal dari kesaksianya. Yohanes mengatakan dalam I Yoh 4:2-3 bahwa: Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, 4:3 dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.

    Disini Yohanes menolong kita untuk tahu membedakan pengajaran mana yang harus didengar dan mana yang harus ditolak. Kuncinya ada pada apakah roh yang ada pada orang tersebut mau mengaku bukan saja bahwa Yesus itu adalah Juruselamat, Kristus sang Mesias, tetapi Ia juga adalah Tuhan yang telah datang sebagai manusia, sebagai daging. Yesus adalah benar-benar Tuhan dan benar-benar manusia dan bahwa kedua kenyataan ini harus kita terima sebagai kebenaran.

    Ketika Yesus dibaptis, Yohanes Pembaptis memberi kesaksian dalam Yoh 1:32-34 sbb:
    1:32 ....... "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. 1:33 Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. 1:34 Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."

    Dalam ayat 9 bacaan kita dikatakan: ” Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat.”

    Jadi ada kesaksian manusia, namun begitu, Allah sendiri bersaksi akan AnakNya. Kesaksian Allah adalah kesaksian Roh. Kesaksian Roh berbeda dari kesaksian daging. Kalau daging bisa menipu, kesaksian oleh Roh Allah adalah kebenaran.

    Kalau Allah sendiri telah memberi kesaksian tentang AnakNya, maka sekarang tergantung pada kita sendiri.

    Iman kepada Allah sebenarnya tidaklah rumit. Hanya dibutuhkan kesediaan kita untuk percaya atas kesaksian itu. Namun manusia sering ditipu, dijebak, oleh pikiranya. Manusia sering memerlukan penjelasan meskipun penjelasan itu sudah ada, sudah begitu jelas diberikan, sudah melalui kesaksian Allah sendiri. Namun tetap saja, pikiran manusia terus menerus mempertanyakan kemanusiaan Yesus dan KeilahianNya. Ketika hal-hal itu terus kita pertanyakan, maka sebenarnya kita telah berada diambang jurang kejatuhan kita. Yesus berkata, ”berbagialah mereka yang percaya meskipun mereka belum pernah melihat.”

    Kalau kita membaca sejarah orang Israel dalam Kitab Keluaran, bangsa Israel telah menyaksikan kedsyatan kuasa Allah yang menimpa bangsa Mesir, dan yang membimbing mereka siang malam di padang gurun. Namun tetap saja mereka tak percaya. Allah yang hadir setiap hari bersama mereka, namun mereka tetap tak percaya.

    Percaya adalah iman. Melalui percaya, kita menyerahkan diri kita untuk dipimpin oleh Roh Allah, dan bukan oleh pikiran kita. Ketika kita menyerahkan diri kita untuk dipimpin oleh pikiran kita, maka kedagingan kita yang telah berdosa, akan mempengaruhi kita, akan menipu kita, akan menjebak kita sehingga membuat kita menjadi tidak percaya. Kita pada dasarnya sudah jatuh ke dalam dosa. Namun ketika kita percaya kepada Yesus, kebenaran Yesus itu yang menutup atau menghapus dosa kita sehingga membuat kita menjadi benar. Sudah tentu dosa tidak akan membiarkan kita kembali kepada kebenaran. Karena itu kalau kita mengikuti pikiran kita, maka sama saja kita menyerahkan kehidupan kita untuk dipimpin oleh dosa, dan kebenaran menjadi hilang dari pada kita. Semoga Tuhan menolong kita, Amin

  • Mengikuti Rencana Tuhan

    Rencana Tuhan adalah rencana yang paling baik. Kalau kita mau belajar mengikuti rencana Tuhan, maka pada akhirnya kemenangan akan berada di pihak kita.

    Namun jangan mengira bahwa bahwa rencana itu adalah rencana yang paling mudah bagi kita. Jangan mengira bahwa rencana Tuhan itu adalah rencana yang menurut logika dan cara berpikir kita adalah yang paling masuk akal dan paling jenius menurut standar manusia. Rencana Tuhan sering menjadi kebodohan bagi mereka yang menganggap dirinya pandai. Rencana Tuhan kadang membingungkan, menggelikan, dan bahan tertawaan banyak orang. Namun rencana Tuhan tetap yang paling baik, karena yang berkuasa menentukan boleh dan tidaknya sesuatu itu terjadi ada pada Tuhan sehingga apapun rencana Tuhan pasti akan terlaksana.

    Ketika Nuh diminta membuat suatu bahtera di daerah pedalaman yang jauh dari sungai atau laut, banyak orang menertawakannya. Mereka mengatakan orang biasanya membuat kapal seperti itu di dekat sungai agar sesudah selesai kapal itu dengan mudah dapat dihanyutkan. Namun apa yang menjadi tertawaan manusia, justru menjadi kekuatan Tuhan untuk mempermalukan orang-orang yang merasa diri mereka pandai.

    Rencana Tuhan selalu berbeda dari rencana manusia. Ketika Tuhan meminta Gideon untuk bangkit dan memimpin orang Israel melawan penjajahan orang Midian dan Amalek (Hakim-Hakim pasal 6-7), Gideon mengumpulkan sekitar 32 ribu tentara baginya untuk berperang. Rencana Gideon didasarkan pada kalkulasi manusia bahwa untuk melawan tentara Midian dan Amalek yang tak terhitung banyaknya seperti pasir di tepi pantai dibutuhkan jumlah tentara yang sebanding dengan itu.

    Namun rencana Tuhan berbeda dari rencana Gideon. Tuhan memerintahkan Gideon untuk menyuruh sebagian dari tentara itu pulang terutama mereka yang kurang memiliki keberanian. Hasilnya sebanyak 22 ribu orang meninggalkan Gideon sehingga hanya tersisa 10 ribu orang saja. Mana mungkin dengan jumlah tentara sekecil itu untuk melawan pasukan musuh yang seperti pasir di tepi pantai? Namun sekali lagi Tuhan katakan itu masih terlalu banyak, suruhlah mereka minum, dan pilihlah mereka yang minum dengan membawa tangannya ke mulutnya.

    Apa yang terjadi? Jumlah orang yang minum seperti itu hanya 300 orang saja. Sebagai manusia kita pasti mengatakan ini adalah rencana gila, mission impossible. Bagaimana mungkin 300 orang dapat mengalahkan tentara yang jumlahnya ratusan ribu orang? Namun itulah Tuhan. Jumlah manusia tidak ada artinya dimata Tuhan. Bahkan jumlah 300 orang itupun masih terlalu banyak, karena pada kenyataannya mereka tidak melakukan apa-apa, mereka hanya berfungsi meniup terompet dan bukan berperang. Tuhanlah yang berperang melawan musuh mereka.

    Apa yang kita pelajari dari peristiwa ini?

    Pertama, rencana Tuhan itu meskipun kelihatan tak masuh akal bagi manusia, tetapi bukan hal yang mustahil bagi Tuhan. Hanya dibutuhkan ketaatan dan iman dari kita untuk mengikuti rencana Tuhan. Untuk mengetahui apa rencana Tuhan bagi hidup kita dibutuhkan doa, kesucian dan kesabaran.

    Kedua, rencana Tuhan adalah rencana yang unik dan terbaik untuk kita. Bila kita membiarkan diri kita dipimpin oleh Tuhan, maka Tuhan dapat membimbing hidup kita kearah kehidupan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

  • “Seekor Laba-Laba Kecil”

    Ada seekor laba-laba kecil di jendela kamarku. Ia berada disitu dan menghalangi pemandanganku pada gunung Merbabu yang indah di waktu pagi. Aku menjadi kesal padanya. Mengapa ia harus ada disitu dan aku tidak bisa melihat pemandanganku dengan baik. Kesenanganku jadi terganggu dengan keberadaannya.

    Timbul keinginanku untuk mengusirnya dari situ, bahkan aku ingin membunuhnya sekaligus. Namun tiba-tiba aku teringat cerita tentang seorang raja Israel benama Ahab dalam I Raja-Raja 21. Dalam cerita itu ada seorang petani bernama Nabot yang memiliki kebun anggur bersebelahan dengan istana raja Ahab. Ahab merasa terganggu dengan keberadaan Nabot disamping istananya sehingga ia ingin mengenyahkan Nabot dari situ dengan menukar atau membeli tanah Nabot. Namun Nabot tak bersedia menjual atau menukarnya karena itu adalah tanah pusaka nenek moyangnya. Hal ini membuat Ahab kesal dan gusar. Kekesalan dan kegusarannya terlihat oleh permaisurinya yang jahat bernama Izebel. Bertanyalah Izebel kepada suaminya, "Apa sebabnya hatimu kesal, sehingga engkau tidak makan?" Jawab Ahab kepada permaisurinya, "Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizreel itu: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya. Tetapi sahutnya: Tidak akan kuberikan kepadamu kebun anggurku itu." Maka kata Izebel kepada Ahab, : "Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu."

    Apa yang terjadi sesudah itu adalah suatu plot, rancangan, untuk membunuh Nabot. Izebel menulis surat atas nama Ahab kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang diam sekota dengan Nabot. Dalam surat itu ditulisnya sbb: "Maklumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat. Suruh jugalah dua orang dursila duduk menghadapinya, dan mereka harus naik saksi terhadap dia, dengan mengatakan: Engkau telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati."

    Begitulah akhir cerita yang tragis bagi sang petani kecil bernama Nabot. Nabot dianggap merusak pemandangan atau kesenangan raja. Keberadaannya tidak diinginkan. Dengan cara apapun ia harus disingkir, kalau perlu dengan perampasan dan pelenyapan kehidupannya.

    Memikirkan laba-laba kecil dengan Nabot, aku jadi tidak mau bertindak apa-apa pada laba-laba kecil tersebut. Meskipun aku memiliki kemampuan dan kuasa untuk mengenyahkannya dari jendela kamarku atau mampu membunuhnya, aku tidak mau melakukannya. Aku menjadi menaruh simpati atas keberadaannya. Ia tak berdaya. Ia hanya seekor laba-laba kecil yang mencoba hidup dari jendela kamarku. Ia memiliki hak untuk hidup dan tak bisa hanya dikorbankan untuk memenuhi egoku untuk menikmati pemandangan yang indah.

    Kadang ketika kita merasa lebih kuat dari orang lain, lebih berkuasa dari orang lain, ada kecenderungan untuk melihat keberadaan orang-orang di sekitar kita hanya dari perspektif menguntungkan atau merugikan kepentingan kita. Keberadaan orang-orang seperti kaki lima, tetangga yang miskin dan tinggal berdampingan dengan rumah kita, dianggap sebagai perusak pemandangan dan kenyaman kita, perusak prestise dan kehormatan kita. Mereka kemudian kita enyahkan dengan segala cara, entah melalui cara baik-baik dengan membeli lahan mereka, atau dengan cara kekerasan agar kita menikmati kesenangan kita.

    Tuhan sering mengindentifikasi diriNya dengan orang-orang miskin, mereka yang lemah dan tertindas, mereka yang diperlakukan tidak adil. Ketika kita memperlakukan mereka dengan bijaksana, dengan rasa hormat, dengan kebajikan dan pengasihan, maka Tuhan akan memberkati hidup kita. Tetapi ketika kita memperlakukan mereka yang tak berdaya dengan semena-mena, dengan penuh ketamakan merampas hak keberadaan mereka, maka Tuhan akan membalas kita dengan berlipat ganda.

  • Dimanapun Umat Tuhan Berada, Mereka Menjadi Saksi Bagi Tuhan

    Kita sering merasa kecewa bila institusi yang kita bangun dengan susah payah untuk melayani Tuhan kemudian runtuh. Kita mungkin kecewa bila gereja yang kita bangun dengan susah payah runtuh. Itu adalah suatu hal yang lumrah sebagai manusia. Manusia selalu menitikberatkan hubungannya dengan Tuhan sebagai hubungan dengan institusi dan bukan sebagai hubungan pribadinya dengan Tuhan.

    Ketika kita membangun institusi, yang ada dalam pikiran kita adalah bahwa kalau institusi itu kuat kita akan melayani Tuhan dengan baik. Semuanya itu hanyalah pikiran kita manusia. Apakah Tuhan lebih peduli akan institusi yang kita bangun atau Tuhan lebih peduli pada pribadi kita sendiri?

    Ketika manusia mulai membangun institusi untuk dirinya sendiri, ia sedang merancang kebanggaan bagi dirinya sendiri. Makin besar institusi yang ia bangun, makin jauh ia dari Tuhan, Tuhan terpinggirkan digantikan dengan peranan institusi. Contoh institusi pertama yang coba dibangun manusia adalah menara Babel. Tujuannya adalah mendirikan sebuah menara yang menjulang tinggi ke langit dan mengumpulkan semua manusia di dalamnya. Tujuan ini sudah tentu bertentangan dengan keinginan Tuhan agar manusia menyebar dan memenuhi bumi ini. Selain itu menara yang menjulang tinggi ke langit ini menunjukkan keinginan manusia untuk naik menjadi sama dengan Tuhan sendiri. Manusia ingin menggantikan Tuhan dengan dirinya sendiri.

    Dalam kisah awal kerajaan Israel, bukan kehendak Tuhan untuk mendirikan suatu kerajaan Israel dan memilih seorang raja. Bangsa Israel yang mendesak Samuel agar memberikan kepada mereka seorang raja yang akan memerintah mereka seperti yang dimiliki oleh bangsa-bangsa di sekitar mereka. Dalam rencana Tuhan, Israel hanyalah suatu bangsa, bangsa pilihan Tuhan, suatu imamat yang rajani, umat Allah yang yang akan dituntun dan dipimpin oleh Tuhan sendiri. Mereka akan hidup dan menjadi saksi Tuhan ditengah bangsa-bangsa agar orang lain dapat melihat kuasa dan kasih sayang Tuhan. Selama Israel berada dalam ketaatan kepada Tuhan, maka mereka akan berada dalam kasih sayang Tuhan. Mereka akan menerima berkat berkelimpahan, tetapi kalau mereka mengikuti jalan mereka sendiri, maka mereka akan diserahkan kepada bangsa-bangsa lain di sekitar mereka.

    Bagi Tuhan hanya ada manusia. Keselamatan Tuhan ditujukan hanya untuk manusia. Berkat Tuhan itu hanya pada manusia. Tuhan menginginkan hubungan dengan manusia, manusia sebagai umatNya, bukan dengan institusi kerajaan, negara atau gereja.

    Manusia yang selalu ingin membangun bagi dirinya institusi. Institusi kemudian dianggap sebagai dewa untuk menggantikan Tuhan. Melalui institusi, manusia mencoba membangun tembok-tembok sebagai benteng perlindungan dan pertahanan mereka. Benteng-benteng seperti itu kemudian dianggap sebagai bagian dari tuhan yang melindungi mereka dari ancaman pihak luar.

    Israel dari awal memang tidak direncanakan untuk menjadi suatu kerajaan, tetapi hanyalah sebagai suatu bangsa pilihan Tuhan. Tuhan menjanjikan kepada Abraham bahwa anak cucunya akan menjadi suatu bangsa yang besar yang banyaknya seperti bintang di langit atau pasir di tepi pantai.

    Dalam I Samuel 8:4-22 diceritakan bagaimana bangsa Israel datang dan mendesak kepada Samuel untuk mengangkat seorang raja:
    8:4. Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama 8:5 dan berkata kepadanya: "Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain." 8:6 Waktu mereka berkata: "Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami," perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN. 8:7 TUHAN berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka. 8:8 Tepat seperti yang dilakukan mereka kepada-Ku sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada allah lain, demikianlah juga dilakukan mereka kepadamu. 8:9 Oleh sebab itu dengarkanlah permintaan mereka, hanya peringatkanlah mereka dengan sungguh-sungguh dan beritahukanlah kepada mereka apa yang menjadi hak raja yang akan memerintah mereka." 8:10 Dan Samuel menyampaikan segala firman TUHAN kepada bangsa itu, yang meminta seorang raja kepadanya, 8:11 katanya: "Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya pada keretanya dan pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanya; 8:12 ia akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu dan kepala pasukan lima puluh; mereka akan membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya; senjata-senjatanya dan perkakas keretanya akan dibuat mereka. 8:13 Anak-anakmu perempuan akan diambilnya sebagai juru campur rempah-rempah, juru masak dan juru makanan. 8:14 Selanjutnya dari ladangmu, kebun anggurmu dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling baik dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawainya 8:15 dari gandummu dan hasil kebun anggurmu akan diambilnya sepersepuluh dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawai istananya dan kepada pegawai-pegawainya yang lain. 8:16 Budak-budakmu laki-laki dan budak-budakmu perempuan, ternakmu yang terbaik dan keledai-keledaimu akan diambilnya dan dipakainya untuk pekerjaannya. 8:17 Dari kambing dombamu akan diambilnya sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya. 8:18 Pada waktu itu kamu akan berteriak karena rajamu yang kamu pilih itu, tetapi TUHAN tidak akan menjawab kamu pada waktu itu." 8:19 Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel dan mereka berkata: "Tidak, harus ada raja atas kami; 8:20 maka kamipun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang." 8:21 Samuel mendengar segala perkataan bangsa itu, dan menyampaikannya kepada TUHAN. 8:22 TUHAN berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka." Kemudian berkatalah Samuel kepada orang-orang Israel itu: "Pergilah, masing-masing ke kotanya."

    Sebelum seorang raja dipilih, Tuhan telah mengingatkan mereka bagaimana jadinya mereka kalau mereka mengangkat seorang raja. Raja itu akan memperlakukan mereka sebagai budaknya dengan mengambil hasil-hasil panen mereka, ternak mereka, bahkan anak-anak mereka. Namun orang Israel bersikeras untuk memiliki seorang raja.

    Samuel merasal kesal mendengar permintaan mereka yang begitu membabi buta dan ngotot pada pendirian mereka yang bodoh. Kekesalan Samuel ini sama juga dengan kekesalan Musa ketika memimpin nenek moyang mereka keluar dari Mesir. Meskipun mereka telah mendapat segala sesuatu dari Tuhan, tetap saja mereka menggerutu dan berjalan menurut kehendak mereka sendiri.

    Tuhan berkata kepada Samuel bahwa bukan Samuel yang mereka tolak, tetapi Tuhan sendiri yang mereka tolak. Mereka lebih memilih pemimpin manusia dari pada Tuhan sebagai pemimpin mereka.

    Dalam membaca cerita tentang kekalahan bangsa Israel oleh Nebukadnezer dalam perjanjian lama kita sering bertanya-tanya mengapa semua itu boleh terjadi? Mengapa Israel yang dianggap sebagai ”kerajaan Tuhan” dapat dikalahkan, kota dan bait sucinya dihancurkan, barang-barangnya dirampas, dan orang-orangnya ditawan dan dibawa ke Babel? Mengapa Tuhan membiarkan semua itu terjadi?

    Cerita mengenai kejatuhan kerajaan Israel menguatkan pemahaman kita bahwa Tuhan tidak terlalu peduli dengan keberadaan institusi bagi umatnya. Institusi, gedung, bait suci, semuanya hanyalah benda yang tak berharga dimata Tuhan. Dimata Tuhan yang paling utama adalah umatNya. Bagaimana umatNya itu menjalin hubungan dengan Tuhan sendiri, dan bukan dengan institusi kerajaan. Kerajaan boleh runtuh, bait sucinya boleh dihancurkan, tetapi kasih dan penyertaan Tuhan ada pada orang-orangNya, umat yang tetap menjaga hubungannya dengan Tuhan.

    Ketika sebagian besar bangsa Israel ditawan dan dibawa ke Babel, kita melihat bahwa meskipun status mereka adalah orang-orang, atau bangsa yang ditawan tetapi ada sebagian orang Israel, seperti Daniel dan teman-temanya, yang kemudian diangkat menjadi pembesar yang memerintah bersama dengan raja. Mereka bahkan menjadi orang-orang yang paling dipercayai raja dan memiliki posisi hanya dibawah raja sendiri. Mereka adalah orang-orang disekitar raja yang memberikan pertimbangan-pertimbangan penting dalam pemerintahan bahkan menjadi saksi bagi Tuhan sehingga bangsa lain akhirnya mengakui keberadaan dan kemahakuasaan Tuhan. Orang-orang itu adalah kepanjangan tangan Tuhan untuk menjaga dan melindungi umat Tuhan di Babilonia.

    Pertanyaannya kemudian, apakah arti kekalahan itu sendiri? Kisah kejatuhan kerajaan Israel dengan bait sucinya menunjukkan bahwa negara boleh runtuh, institusi bisa maju atau mundur, namun Tuhan selalu ada dan menjaga umatNya. Tuhan tidak pernah membiarkan orang-orang yang percaya yang menaruh harapan padaNya dikecewakan. Tuhan akan selalu bersama-sama dengan mereka bahkan meskipun mereka harus berhadapan dengan ancaman dapur api yang akan menghanguskan mereka.

    Keberadaan umat Tuhan, dimanapun mereka berada, entah mereka ada sebagai tawanan, mereka ada karena sesuatu masalah, selalu ada dalam rencana dan pemeliharaan Tuhan. Institusi bukanlah akhir dari perjalanan mereka dalam rencana Tuhan. Namun keberadaan umat Tuhan disuatu tempat disuatu waktu merupakan cara Tuhan untuk menghadirkan kesaksian umatNya bagi orang lain, agar melalui mereka namaTuhan dimuliakan, kuasa Tuhan dapat diperlihatkan, dan puji-pujian bagi Tuhan dapat diperdengarkan. Tuhan memberkati anda.

  • Tidak Cukup Sekedar Meyakini dan Percaya ……tetapi perlu berbuah

    Sebagian dari kita orang kristen sering menganggap bahwa kekristenan kita sudah cukup dengan meyakini dan percaya akan pemberitaan Injil Yesus. Kita berpikir kalau kita sudah ke gereja dan mendengarkan khotbah, maka sudah cukup kekristenan kita. Kita menganggap diri kita sudah memiliki iman kepada Tuhan.

    Sikap seperti itu membuat hidup kita kering dan tidak berbuah. Meyakini dan mempercayai berita keselamatan Injil Yesus saja tidak cukup. Iman hanyalah awal dari kehidupan kekristenan kita. Hidup kekristenan kita tidak dibangun hanya sekedar iman. Kekristenan kita dibangun juga melalui perbuatan kita. Tanpa perbuatan, iman kita adalah iman yang kosong, iman yang tidak berguna bagi Tuhan.

    Dalam 1 Korintus 13:13 Paulus mengatakan kepada kita bahwa dari tiga hal yang utama, yaitu iman, pengharapan dan kasih, kasih adalah yang paling besar. Mengapa kasih menjadi yang terbesar, lebih besar dari memiliki iman dan pengharapan kepada Allah? Ya karena iman dan pengaharapan hanyalah untuk diri kita, namun kasih menunjukkan perbuatan kita, menunjukkan sikap kita. Apakah sikap dan perbuatan yang kita tampilkan keluar menunjukkan iman percaya kita? Jangan sampai kita sama seperti orang Farisi yang mampu memahami dan meyakini Hukum Taurat, tetapi jauh berbeda dalam perbuatannya.

    Kasih adalah landasan dari iman kita. Kita percaya kepada Allah karena Allah telah mengasihi kita dan rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan hidup kita. Kita takut akan Allah dan menghormatiNya dalam setiap perilaku hidup kita karena kita mengasihi Dia. Kita mengasihi orang lain karena kita telah menerima kasih Allah sehingga kita ingin membagikan kasih Allah itu kepada orang lain, agar mereka juga dapat merasakan kasih Allah tersebut.

    Melalui sikap dan perbuatan kita yang penuh kasih, kita menunjukkan iman dan keyakinan kita. Paulus mengajarkan kepada kita tentang tiada gunanya kita memiliki iman yang sempurna, namun tidak memiliki kasih, karena kita sama seperti gong yang berbunyi nyaring tetapi kosong (I Kor 13:1)

    Iman percaya kita adalah iman yang aktif berbuah, bukan iman yang pasif dan statis. Iman yang berbuah adalah iman yang terus menerus dipraktekkan, dijalankan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bukan sekedar iman untuk pemuasan batin kita saja. Iman kita adalah iman yang menghasilkan buah. Tanpa buah dalam kehidupan kita, iman kita tidak berguna bagi Tuhan.

    Mengapa menghasilkan buah merupakan tujuan dari hidup beriman kita? Apakah tidak cukup kalau kita sudah percaya, sudah beriman kepada Tuhan? Tidak! Tuhan Yesus selalu menekankan kepada buah dari iman kita.

    Firman Tuhan diumpamakan oleh Tuhan Yesus sebagai bibit yang ditaburkan oleh para nabi, para rasul atau pengkabar Injil. Hati kita diibaratkan seperti tanah yang menerima bibit firman Tuhan tersebut. Dalam Matius 13;23 dikatakan: ”Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."

    Orang yang menerima firman itu bagaikan tanah yang baik yang mendengar dan mengerti dan karena itu ia berbuah berlipat ganda. Tuhan Yesus tidak hanya menekankan mengerti firman Tuhan itu, tetapi lebih dari pada itu yaitu berbuah berlipat ganda. Tanah yang baik harus menghasilkan, tidak cukup hanya menumbuhkan tanamannya saja tetapi tanaman yang berbuah. Begitu juga dengan diri kita, tidak cukup dengan hanya menerima dan percaya saja, tetapi harus juga dijalankan dan dipraktekkan dalam hidup kita.

    Penekanan pada iman yang berbuah ditunjukkan oleh Yesus ketika Ia mendekati sebatang pohon ara ditepi jalan. Namun didapatinya pohon itu tidak berbuah, sehingga Yesus mengatakan: : "Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!" (Matius 21:19). Seketika itu juga pohon ara itu mati.

    Tuhan sebagai Sang Empunya lahan menginginkan tanaman yang ada dalam lahannya berguna dengan menghasilkan buah. Tanaman atau pohon yang tidak menghasilkan buah dianggap tidak berguna sehingga dipotong dan dibuang kedalam api. Seperti dikatakan dalam Yohanes 15:2 Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.

    Kehidupan iman yang berbuah adalah bila hidup kita selalu berada dalam Kristus. Hidup kita memang tidak selalu indah setiap hari. Ada waktunya kita menikmati berkat Tuhan yang berlimpah dalam hidup kita, namun ada waktunya pencobaan datang menerpa hidup kita. Dalam saat-saat yang baik maupun yang terendah dalam hidup kita, apakah Tuhan menjadi sumber inspirasi kita? Apakah hidup kita masih memiliki kemampuan untuk menghasilkan buah?

    Sama seperti tanaman harus menghadapi musim, kita juga demikian. Ada waktunya musim hujan dimana air berlimpah, namun ada juga musim panas dimana tidak ada air. Tanaman harus hidup dengan dua hal tersebut dan tetap menghasilkan buah bagi sang empunya tanaman tersebut.

    Kita akan akan menghasilkan buah, tak peduli apapun musim yang yang kita hadapi, kalau kita hidup dalam Yesus dan menerima kasihNya. Sebagai orang kristen kita tidak lagi menjadi tanaman yang berdiri sendiri dan bersandar kepada kemampuan kita untuk hidup. Ketika kita mengikuti Kristus, kita adalah bagian dari Tubuh Kristus, kita adalah murid-muridNya. Kita adalah ranting dari pohon utama kita yaitu Yesus Kristus. Yesus menjadi pohon utama kita, dan kita hidup didalam Dia dan menjadi ranting-rantingNya. Kita bukan lagi pohon kita sendiri, kita tidak lagi hidup yang berdiri sendiri, tetapi hidup kita adalah bagian dari hidup Kristus itu sendiri. Yesus mengatakan dalam Yohanes 15:4 Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

    Yesus meminta kita tinggal di dalam Dia dan menjadi ranting-rantingNya. Yesus tidak meminta kita menjadi diri kita sendiri, menjadi pohon kita sendiri, tetapi menjadi bagian dari diriNya, menjadi ranting-rantingNya. Diluar kita tidak akan menghasilkan apa-apa. Menjadi ranting diluar Yesus saja tidak akan menghasilkan buah, apalagi menjadi pohon yang berdiri sendiri. Kita akan menjadi pohon yang tidak berbuah dan ditebang sang empunya lahan, yaitu Allah sendiri. Allah yang adalah Sang Empunya lahan menuntut buah, dan buah itu hanya bisa datang dari pohon Yesus Kristus itu sendiri. Kita hanya bisa berbuah sesuai dengan buah yang diinginkan Allah, yaitu buah-buah roh, kalau kita hidup didalam Yesus, dan Yesus didalam kita. Tanpa itu, buah yang kita hasilkan adalah buah-buah yang tidak disukai Allah. Tuhan memberkati anda.

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.