Sebagian dari kita orang kristen sering menganggap bahwa kekristenan kita sudah cukup dengan meyakini dan percaya akan pemberitaan Injil Yesus. Kita berpikir kalau kita sudah ke gereja dan mendengarkan khotbah, maka sudah cukup kekristenan kita. Kita menganggap diri kita sudah memiliki iman kepada Tuhan.

Sikap seperti itu membuat hidup kita kering dan tidak berbuah. Meyakini dan mempercayai berita keselamatan Injil Yesus saja tidak cukup. Iman hanyalah awal dari kehidupan kekristenan kita. Hidup kekristenan kita tidak dibangun hanya sekedar iman. Kekristenan kita dibangun juga melalui perbuatan kita. Tanpa perbuatan, iman kita adalah iman yang kosong, iman yang tidak berguna bagi Tuhan.

Dalam 1 Korintus 13:13 Paulus mengatakan kepada kita bahwa dari tiga hal yang utama, yaitu iman, pengharapan dan kasih, kasih adalah yang paling besar. Mengapa kasih menjadi yang terbesar, lebih besar dari memiliki iman dan pengharapan kepada Allah? Ya karena iman dan pengaharapan hanyalah untuk diri kita, namun kasih menunjukkan perbuatan kita, menunjukkan sikap kita. Apakah sikap dan perbuatan yang kita tampilkan keluar menunjukkan iman percaya kita? Jangan sampai kita sama seperti orang Farisi yang mampu memahami dan meyakini Hukum Taurat, tetapi jauh berbeda dalam perbuatannya.

Kasih adalah landasan dari iman kita. Kita percaya kepada Allah karena Allah telah mengasihi kita dan rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan hidup kita. Kita takut akan Allah dan menghormatiNya dalam setiap perilaku hidup kita karena kita mengasihi Dia. Kita mengasihi orang lain karena kita telah menerima kasih Allah sehingga kita ingin membagikan kasih Allah itu kepada orang lain, agar mereka juga dapat merasakan kasih Allah tersebut.

Melalui sikap dan perbuatan kita yang penuh kasih, kita menunjukkan iman dan keyakinan kita. Paulus mengajarkan kepada kita tentang tiada gunanya kita memiliki iman yang sempurna, namun tidak memiliki kasih, karena kita sama seperti gong yang berbunyi nyaring tetapi kosong (I Kor 13:1)

Iman percaya kita adalah iman yang aktif berbuah, bukan iman yang pasif dan statis. Iman yang berbuah adalah iman yang terus menerus dipraktekkan, dijalankan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bukan sekedar iman untuk pemuasan batin kita saja. Iman kita adalah iman yang menghasilkan buah. Tanpa buah dalam kehidupan kita, iman kita tidak berguna bagi Tuhan.

Mengapa menghasilkan buah merupakan tujuan dari hidup beriman kita? Apakah tidak cukup kalau kita sudah percaya, sudah beriman kepada Tuhan? Tidak! Tuhan Yesus selalu menekankan kepada buah dari iman kita.

Firman Tuhan diumpamakan oleh Tuhan Yesus sebagai bibit yang ditaburkan oleh para nabi, para rasul atau pengkabar Injil. Hati kita diibaratkan seperti tanah yang menerima bibit firman Tuhan tersebut. Dalam Matius 13;23 dikatakan: ”Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."

Orang yang menerima firman itu bagaikan tanah yang baik yang mendengar dan mengerti dan karena itu ia berbuah berlipat ganda. Tuhan Yesus tidak hanya menekankan mengerti firman Tuhan itu, tetapi lebih dari pada itu yaitu berbuah berlipat ganda. Tanah yang baik harus menghasilkan, tidak cukup hanya menumbuhkan tanamannya saja tetapi tanaman yang berbuah. Begitu juga dengan diri kita, tidak cukup dengan hanya menerima dan percaya saja, tetapi harus juga dijalankan dan dipraktekkan dalam hidup kita.

Penekanan pada iman yang berbuah ditunjukkan oleh Yesus ketika Ia mendekati sebatang pohon ara ditepi jalan. Namun didapatinya pohon itu tidak berbuah, sehingga Yesus mengatakan: : "Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!" (Matius 21:19). Seketika itu juga pohon ara itu mati.

Tuhan sebagai Sang Empunya lahan menginginkan tanaman yang ada dalam lahannya berguna dengan menghasilkan buah. Tanaman atau pohon yang tidak menghasilkan buah dianggap tidak berguna sehingga dipotong dan dibuang kedalam api. Seperti dikatakan dalam Yohanes 15:2 Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.

Kehidupan iman yang berbuah adalah bila hidup kita selalu berada dalam Kristus. Hidup kita memang tidak selalu indah setiap hari. Ada waktunya kita menikmati berkat Tuhan yang berlimpah dalam hidup kita, namun ada waktunya pencobaan datang menerpa hidup kita. Dalam saat-saat yang baik maupun yang terendah dalam hidup kita, apakah Tuhan menjadi sumber inspirasi kita? Apakah hidup kita masih memiliki kemampuan untuk menghasilkan buah?

Sama seperti tanaman harus menghadapi musim, kita juga demikian. Ada waktunya musim hujan dimana air berlimpah, namun ada juga musim panas dimana tidak ada air. Tanaman harus hidup dengan dua hal tersebut dan tetap menghasilkan buah bagi sang empunya tanaman tersebut.

Kita akan akan menghasilkan buah, tak peduli apapun musim yang yang kita hadapi, kalau kita hidup dalam Yesus dan menerima kasihNya. Sebagai orang kristen kita tidak lagi menjadi tanaman yang berdiri sendiri dan bersandar kepada kemampuan kita untuk hidup. Ketika kita mengikuti Kristus, kita adalah bagian dari Tubuh Kristus, kita adalah murid-muridNya. Kita adalah ranting dari pohon utama kita yaitu Yesus Kristus. Yesus menjadi pohon utama kita, dan kita hidup didalam Dia dan menjadi ranting-rantingNya. Kita bukan lagi pohon kita sendiri, kita tidak lagi hidup yang berdiri sendiri, tetapi hidup kita adalah bagian dari hidup Kristus itu sendiri. Yesus mengatakan dalam Yohanes 15:4 Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

Yesus meminta kita tinggal di dalam Dia dan menjadi ranting-rantingNya. Yesus tidak meminta kita menjadi diri kita sendiri, menjadi pohon kita sendiri, tetapi menjadi bagian dari diriNya, menjadi ranting-rantingNya. Diluar kita tidak akan menghasilkan apa-apa. Menjadi ranting diluar Yesus saja tidak akan menghasilkan buah, apalagi menjadi pohon yang berdiri sendiri. Kita akan menjadi pohon yang tidak berbuah dan ditebang sang empunya lahan, yaitu Allah sendiri. Allah yang adalah Sang Empunya lahan menuntut buah, dan buah itu hanya bisa datang dari pohon Yesus Kristus itu sendiri. Kita hanya bisa berbuah sesuai dengan buah yang diinginkan Allah, yaitu buah-buah roh, kalau kita hidup didalam Yesus, dan Yesus didalam kita. Tanpa itu, buah yang kita hasilkan adalah buah-buah yang tidak disukai Allah. Tuhan memberkati anda.