Kita sering merasa kecewa bila institusi yang kita bangun dengan susah payah untuk melayani Tuhan kemudian runtuh. Kita mungkin kecewa bila gereja yang kita bangun dengan susah payah runtuh. Itu adalah suatu hal yang lumrah sebagai manusia. Manusia selalu menitikberatkan hubungannya dengan Tuhan sebagai hubungan dengan institusi dan bukan sebagai hubungan pribadinya dengan Tuhan.
Ketika kita membangun institusi, yang ada dalam pikiran kita adalah bahwa kalau institusi itu kuat kita akan melayani Tuhan dengan baik. Semuanya itu hanyalah pikiran kita manusia. Apakah Tuhan lebih peduli akan institusi yang kita bangun atau Tuhan lebih peduli pada pribadi kita sendiri?
Ketika manusia mulai membangun institusi untuk dirinya sendiri, ia sedang merancang kebanggaan bagi dirinya sendiri. Makin besar institusi yang ia bangun, makin jauh ia dari Tuhan, Tuhan terpinggirkan digantikan dengan peranan institusi. Contoh institusi pertama yang coba dibangun manusia adalah menara Babel. Tujuannya adalah mendirikan sebuah menara yang menjulang tinggi ke langit dan mengumpulkan semua manusia di dalamnya. Tujuan ini sudah tentu bertentangan dengan keinginan Tuhan agar manusia menyebar dan memenuhi bumi ini. Selain itu menara yang menjulang tinggi ke langit ini menunjukkan keinginan manusia untuk naik menjadi sama dengan Tuhan sendiri. Manusia ingin menggantikan Tuhan dengan dirinya sendiri.
Dalam kisah awal kerajaan Israel, bukan kehendak Tuhan untuk mendirikan suatu kerajaan Israel dan memilih seorang raja. Bangsa Israel yang mendesak Samuel agar memberikan kepada mereka seorang raja yang akan memerintah mereka seperti yang dimiliki oleh bangsa-bangsa di sekitar mereka. Dalam rencana Tuhan, Israel hanyalah suatu bangsa, bangsa pilihan Tuhan, suatu imamat yang rajani, umat Allah yang yang akan dituntun dan dipimpin oleh Tuhan sendiri. Mereka akan hidup dan menjadi saksi Tuhan ditengah bangsa-bangsa agar orang lain dapat melihat kuasa dan kasih sayang Tuhan. Selama Israel berada dalam ketaatan kepada Tuhan, maka mereka akan berada dalam kasih sayang Tuhan. Mereka akan menerima berkat berkelimpahan, tetapi kalau mereka mengikuti jalan mereka sendiri, maka mereka akan diserahkan kepada bangsa-bangsa lain di sekitar mereka.
Bagi Tuhan hanya ada manusia. Keselamatan Tuhan ditujukan hanya untuk manusia. Berkat Tuhan itu hanya pada manusia. Tuhan menginginkan hubungan dengan manusia, manusia sebagai umatNya, bukan dengan institusi kerajaan, negara atau gereja.
Manusia yang selalu ingin membangun bagi dirinya institusi. Institusi kemudian dianggap sebagai dewa untuk menggantikan Tuhan. Melalui institusi, manusia mencoba membangun tembok-tembok sebagai benteng perlindungan dan pertahanan mereka. Benteng-benteng seperti itu kemudian dianggap sebagai bagian dari tuhan yang melindungi mereka dari ancaman pihak luar.
Israel dari awal memang tidak direncanakan untuk menjadi suatu kerajaan, tetapi hanyalah sebagai suatu bangsa pilihan Tuhan. Tuhan menjanjikan kepada Abraham bahwa anak cucunya akan menjadi suatu bangsa yang besar yang banyaknya seperti bintang di langit atau pasir di tepi pantai.
Dalam I Samuel 8:4-22 diceritakan bagaimana bangsa Israel datang dan mendesak kepada Samuel untuk mengangkat seorang raja:
8:4. Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama 8:5 dan berkata kepadanya: "Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain." 8:6 Waktu mereka berkata: "Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami," perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN. 8:7 TUHAN berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka. 8:8 Tepat seperti yang dilakukan mereka kepada-Ku sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada allah lain, demikianlah juga dilakukan mereka kepadamu. 8:9 Oleh sebab itu dengarkanlah permintaan mereka, hanya peringatkanlah mereka dengan sungguh-sungguh dan beritahukanlah kepada mereka apa yang menjadi hak raja yang akan memerintah mereka." 8:10 Dan Samuel menyampaikan segala firman TUHAN kepada bangsa itu, yang meminta seorang raja kepadanya, 8:11 katanya: "Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya pada keretanya dan pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanya; 8:12 ia akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu dan kepala pasukan lima puluh; mereka akan membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya; senjata-senjatanya dan perkakas keretanya akan dibuat mereka. 8:13 Anak-anakmu perempuan akan diambilnya sebagai juru campur rempah-rempah, juru masak dan juru makanan. 8:14 Selanjutnya dari ladangmu, kebun anggurmu dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling baik dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawainya 8:15 dari gandummu dan hasil kebun anggurmu akan diambilnya sepersepuluh dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawai istananya dan kepada pegawai-pegawainya yang lain. 8:16 Budak-budakmu laki-laki dan budak-budakmu perempuan, ternakmu yang terbaik dan keledai-keledaimu akan diambilnya dan dipakainya untuk pekerjaannya. 8:17 Dari kambing dombamu akan diambilnya sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya. 8:18 Pada waktu itu kamu akan berteriak karena rajamu yang kamu pilih itu, tetapi TUHAN tidak akan menjawab kamu pada waktu itu." 8:19 Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel dan mereka berkata: "Tidak, harus ada raja atas kami; 8:20 maka kamipun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang." 8:21 Samuel mendengar segala perkataan bangsa itu, dan menyampaikannya kepada TUHAN. 8:22 TUHAN berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka." Kemudian berkatalah Samuel kepada orang-orang Israel itu: "Pergilah, masing-masing ke kotanya."
Sebelum seorang raja dipilih, Tuhan telah mengingatkan mereka bagaimana jadinya mereka kalau mereka mengangkat seorang raja. Raja itu akan memperlakukan mereka sebagai budaknya dengan mengambil hasil-hasil panen mereka, ternak mereka, bahkan anak-anak mereka. Namun orang Israel bersikeras untuk memiliki seorang raja.
Samuel merasal kesal mendengar permintaan mereka yang begitu membabi buta dan ngotot pada pendirian mereka yang bodoh. Kekesalan Samuel ini sama juga dengan kekesalan Musa ketika memimpin nenek moyang mereka keluar dari Mesir. Meskipun mereka telah mendapat segala sesuatu dari Tuhan, tetap saja mereka menggerutu dan berjalan menurut kehendak mereka sendiri.
Tuhan berkata kepada Samuel bahwa bukan Samuel yang mereka tolak, tetapi Tuhan sendiri yang mereka tolak. Mereka lebih memilih pemimpin manusia dari pada Tuhan sebagai pemimpin mereka.
Dalam membaca cerita tentang kekalahan bangsa Israel oleh Nebukadnezer dalam perjanjian lama kita sering bertanya-tanya mengapa semua itu boleh terjadi? Mengapa Israel yang dianggap sebagai ”kerajaan Tuhan” dapat dikalahkan, kota dan bait sucinya dihancurkan, barang-barangnya dirampas, dan orang-orangnya ditawan dan dibawa ke Babel? Mengapa Tuhan membiarkan semua itu terjadi?
Cerita mengenai kejatuhan kerajaan Israel menguatkan pemahaman kita bahwa Tuhan tidak terlalu peduli dengan keberadaan institusi bagi umatnya. Institusi, gedung, bait suci, semuanya hanyalah benda yang tak berharga dimata Tuhan. Dimata Tuhan yang paling utama adalah umatNya. Bagaimana umatNya itu menjalin hubungan dengan Tuhan sendiri, dan bukan dengan institusi kerajaan. Kerajaan boleh runtuh, bait sucinya boleh dihancurkan, tetapi kasih dan penyertaan Tuhan ada pada orang-orangNya, umat yang tetap menjaga hubungannya dengan Tuhan.
Ketika sebagian besar bangsa Israel ditawan dan dibawa ke Babel, kita melihat bahwa meskipun status mereka adalah orang-orang, atau bangsa yang ditawan tetapi ada sebagian orang Israel, seperti Daniel dan teman-temanya, yang kemudian diangkat menjadi pembesar yang memerintah bersama dengan raja. Mereka bahkan menjadi orang-orang yang paling dipercayai raja dan memiliki posisi hanya dibawah raja sendiri. Mereka adalah orang-orang disekitar raja yang memberikan pertimbangan-pertimbangan penting dalam pemerintahan bahkan menjadi saksi bagi Tuhan sehingga bangsa lain akhirnya mengakui keberadaan dan kemahakuasaan Tuhan. Orang-orang itu adalah kepanjangan tangan Tuhan untuk menjaga dan melindungi umat Tuhan di Babilonia.
Pertanyaannya kemudian, apakah arti kekalahan itu sendiri? Kisah kejatuhan kerajaan Israel dengan bait sucinya menunjukkan bahwa negara boleh runtuh, institusi bisa maju atau mundur, namun Tuhan selalu ada dan menjaga umatNya. Tuhan tidak pernah membiarkan orang-orang yang percaya yang menaruh harapan padaNya dikecewakan. Tuhan akan selalu bersama-sama dengan mereka bahkan meskipun mereka harus berhadapan dengan ancaman dapur api yang akan menghanguskan mereka.
Keberadaan umat Tuhan, dimanapun mereka berada, entah mereka ada sebagai tawanan, mereka ada karena sesuatu masalah, selalu ada dalam rencana dan pemeliharaan Tuhan. Institusi bukanlah akhir dari perjalanan mereka dalam rencana Tuhan. Namun keberadaan umat Tuhan disuatu tempat disuatu waktu merupakan cara Tuhan untuk menghadirkan kesaksian umatNya bagi orang lain, agar melalui mereka namaTuhan dimuliakan, kuasa Tuhan dapat diperlihatkan, dan puji-pujian bagi Tuhan dapat diperdengarkan. Tuhan memberkati anda.
