Ada seekor laba-laba kecil di jendela kamarku. Ia berada disitu dan menghalangi pemandanganku pada gunung Merbabu yang indah di waktu pagi. Aku menjadi kesal padanya. Mengapa ia harus ada disitu dan aku tidak bisa melihat pemandanganku dengan baik. Kesenanganku jadi terganggu dengan keberadaannya.

Timbul keinginanku untuk mengusirnya dari situ, bahkan aku ingin membunuhnya sekaligus. Namun tiba-tiba aku teringat cerita tentang seorang raja Israel benama Ahab dalam I Raja-Raja 21. Dalam cerita itu ada seorang petani bernama Nabot yang memiliki kebun anggur bersebelahan dengan istana raja Ahab. Ahab merasa terganggu dengan keberadaan Nabot disamping istananya sehingga ia ingin mengenyahkan Nabot dari situ dengan menukar atau membeli tanah Nabot. Namun Nabot tak bersedia menjual atau menukarnya karena itu adalah tanah pusaka nenek moyangnya. Hal ini membuat Ahab kesal dan gusar. Kekesalan dan kegusarannya terlihat oleh permaisurinya yang jahat bernama Izebel. Bertanyalah Izebel kepada suaminya, "Apa sebabnya hatimu kesal, sehingga engkau tidak makan?" Jawab Ahab kepada permaisurinya, "Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizreel itu: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya. Tetapi sahutnya: Tidak akan kuberikan kepadamu kebun anggurku itu." Maka kata Izebel kepada Ahab, : "Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu."

Apa yang terjadi sesudah itu adalah suatu plot, rancangan, untuk membunuh Nabot. Izebel menulis surat atas nama Ahab kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang diam sekota dengan Nabot. Dalam surat itu ditulisnya sbb: "Maklumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat. Suruh jugalah dua orang dursila duduk menghadapinya, dan mereka harus naik saksi terhadap dia, dengan mengatakan: Engkau telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati."

Begitulah akhir cerita yang tragis bagi sang petani kecil bernama Nabot. Nabot dianggap merusak pemandangan atau kesenangan raja. Keberadaannya tidak diinginkan. Dengan cara apapun ia harus disingkir, kalau perlu dengan perampasan dan pelenyapan kehidupannya.

Memikirkan laba-laba kecil dengan Nabot, aku jadi tidak mau bertindak apa-apa pada laba-laba kecil tersebut. Meskipun aku memiliki kemampuan dan kuasa untuk mengenyahkannya dari jendela kamarku atau mampu membunuhnya, aku tidak mau melakukannya. Aku menjadi menaruh simpati atas keberadaannya. Ia tak berdaya. Ia hanya seekor laba-laba kecil yang mencoba hidup dari jendela kamarku. Ia memiliki hak untuk hidup dan tak bisa hanya dikorbankan untuk memenuhi egoku untuk menikmati pemandangan yang indah.

Kadang ketika kita merasa lebih kuat dari orang lain, lebih berkuasa dari orang lain, ada kecenderungan untuk melihat keberadaan orang-orang di sekitar kita hanya dari perspektif menguntungkan atau merugikan kepentingan kita. Keberadaan orang-orang seperti kaki lima, tetangga yang miskin dan tinggal berdampingan dengan rumah kita, dianggap sebagai perusak pemandangan dan kenyaman kita, perusak prestise dan kehormatan kita. Mereka kemudian kita enyahkan dengan segala cara, entah melalui cara baik-baik dengan membeli lahan mereka, atau dengan cara kekerasan agar kita menikmati kesenangan kita.

Tuhan sering mengindentifikasi diriNya dengan orang-orang miskin, mereka yang lemah dan tertindas, mereka yang diperlakukan tidak adil. Ketika kita memperlakukan mereka dengan bijaksana, dengan rasa hormat, dengan kebajikan dan pengasihan, maka Tuhan akan memberkati hidup kita. Tetapi ketika kita memperlakukan mereka yang tak berdaya dengan semena-mena, dengan penuh ketamakan merampas hak keberadaan mereka, maka Tuhan akan membalas kita dengan berlipat ganda.