Bacaan :Yoh 5:1-16
Mujizat dalam diri kita adalah kejadian-kejadian besar yang terjadi ketika sudah tidak ada harapan dalam diri kita, sudah tidak ada lagi kekuatan dari dalam diri kita untuk menyelesaikan masalah kita.
Ketika kita ditanyakan apakah mujizat terbesar yang kita alami, maka sebagian dari kita orang kristen akan mengacu kepada kesembuhan dari penyakit, pertolongan di waktu mengalami musibah, kecelakaan, harapan yang terkabul, dsb.
Dalam bacaan di atas terdapat cerita tentang seseorang yang mengalami mujizat yang Yesus lakukan terhadapnya. Ia adalah seorang yang sudah tak mampu menolong dirinya sendiri, sudah tak lagi memiliki harapan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, sudah tak ada harapan untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang di deritanya. Orang itu sudah menderita sakit 38 tahun lamanya.
Lingkungan dimana mujizat itu terjadi memang bukan suatu tempat yang menyenangkan, karena berlangsung di suatu kolam di Yerusalem dimana terdapat banyak sekali orang dengan berbagai macam penyakit. Penderitaan mereka sudah tentu menimbulkan bermacam-macam keluhan, jeritan, tangisan, yang memilukan hati. Namun tak ada seorangpun orang sehat mau membantu mereka.
Mereka semua berkumpul dipinggir kolam itu menunggu bila air kolam itu beriak dan siapa yang pertama masuk kedalamnya akan mengalami kesembuhan.
Kedatangan Yesus ke tempat ini juga menjadi tanda tanya bagi kita ketika membaca bacaan di atas. Mengapa Yesus mau datang kesitu? Apa yang dicari di tempat seperti itu?
Yesus datang ke Yerusalem dalam rangka memperingati salah satu dari hari raya Yahudi. Disaat seperti itu kota Yerusalem pasti sibuk dengan berbagai macam orang dari berbagai suku bangsa, mereka yang datang dari berbagai kota di luar Yerusalem atau orang-orang asing yang datang dari temapt-tempat jauh sepeti Mesir, Etiopia, dsb.
Yesus memilih mengunjungi kolam Bethesda meskipun Ia sendiri tidak sakit. Murid-muridnya dan mungkin orang-orang yang mengiringi Yesus bertanya-tanya, mau cari apa, mau lakukan apa? Mereka pasti ngeri melihat pemandangan yang tidak mengenakan hati. Tapi Yesus hanya berkeliling, Ia tidak langsung tebar kesembuhan, Ia hanya keliling berjalan, mungkin saja muta-mutar dulu, kesana-kemari. Murid-murid mungkin bingung, mengapa tidak langsung menyembuhkan sekaligus semua orang sakit yang berada disitu?
Tapi Yesus hanya berjalan, dan tiba-tiba Ia sampai di dekat seseorang yang hanya tidur terlentang di lantai, di atas tikar, sudah kurus kering, mungkin sudah seperti rangka saja. Yesus memandang orang itu, dan kemudian Ia bertanya, “Maukah engkau sembuh?”
Ya ampun, Tuhan Yesus, apakah Engkau tidak tahu mengapa saya ada disini dan sudah sekian lama saya disini, bahkan sudah 38 tahun berbaring disini. Emangnya saya piknik disini? Mengapa Engkau bertanya seperti itu? Jelas dong semua orang disini ingin sembuh, kalau tidak mengapa kami mau berada disini.
Tetapi Yesus bertanya kepada orang itu. Yesus tidak langsung membuat anggapan, Ia bertanya kepada orang itu, Ia tidak langsung bertindak. Mungkin Yesus juga sedang bertanya kepada anda, maukan anda sembuh dari bilur-bilur anda? Yesus menunggu jawaban kita, Dia tidak langsung bertindak.
Kita sering menganggap Tuhan langsung intervensi dalam kehidupan kita. Tidak, Tuhan bertanya dan menunggu kesediaan kita. Kadang hidup kita berada dalam situasi buruk, tetapi kita tidak mau Tuhan campur tangan dalam hidup kita, kita tidak mengizinkan Tuhan hadir dalam hidup kita, kita mengandalkan kemampuan kita sendiri.
Orang itu menjawab: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.".
Jawaban orang ini menunjukkan bahwa ia sangat menginginkan kesembuhan. Namun kesembuhan itu terjadi melalui kolam tersebut. Ia hanya mengharapkan Yesus membantu kesembuhannya tetapi melalui kolam air tersebut. Ia tidak mengenal siapa Yesus, karena hidupnya hanya berputar di sekitar kolam tersebut dan tak pernah mendengar cerita Yesus yang dapat menyembuhkan secara langsung.
Namun meskipun apa yang diharapkan oleh orang itu dari Yesus adalah pertolongan fisik untuk sampai ke kolam lebih cepat dari orang lain, tetapi Yesus memberikan jauh melampaui harapan orang tersebut. Yesus berkata kepada orang itu: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan
Seringkali iman kita mungkin terlalu kecil, terlalu dangkal, terlalu sederhana, tidak mencukupi, untuk dapat mengharapkan sesuatu yang besar dari Tuhan, tetapi Tuhan mengabulkan jauh melampaui harapan kita. Orang itu hanya meminta kesembuhan melalui pertolongan ke tepi kolam itu, tetapi Yesus memberikan itu secara langsung. Sesuatu yang di luar jangkauan pemikirannya, di luar jangkauan imannya.
Orang itu pasti sangat kegirangan, sangat gembira, ia memikul tikarnya sambil berjalan. Sialnya, hari itu adalah hari Sabath, orang dilarang bekerja. Orang itu bertemu dengan orang-orang Yahudi yang kemudian memarahinya karena memikul tikar dianggap bekerja. Mereka bertanya mengapa ia berbuat hal ini, bukankah sudah ada larangan untuk tidak bekerja pada hari Sabath? Namun orang itu menjawab bahwa orang yang menyembuhkan dia yang mengatakan kepadanyu: “Angkatlah tilammu dan berjalanlah."
Orang ini adalah orang yang lugu. Ia menjawab dengan sangat polos dan mengikuti perintah Yesus dengan apa adanya. Ia mengikuti perintah Yesus, lebih dari mentaati larangan hari Sabath. Sudah tentu hal ini sangat menjengkelkan orang Yahudi. Mereka bertanya kepadanya, siapa orang yang begitu berani mengabaikan larangan hari Sabath? Namun orang itu sendiri tidak tahu siapa itu Yesus dan tak dapat mengatakan dengan jelas ciri-cirinya.
Ketika Yesus menyembuhkan orang itu, Yesus tidak mengatakan siapakah diriNya kepada orang itu. Sesudah Yesus menyembuhkan orang itu, Yesus langsung pergi, menghilang di tengah kerumunan orang di Yerusalem. Selain itu, orang yang disembuhkan itu juga mungkin terlalu gembira saat itu sehingga ia lupa memperhatikan dimana Yesus berada sehingga ketika ia sadar kembali, Yesus telah pergi.
Namun orang itu pergi ke Bait Allah. Ia pergi kesana untuk bersyukur atas apa yang terjadi kepadanya. Disitulah ia kemudian bertemu dengan Yesus. Yesus berkata kepadanya, "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."
Mujizat terbesar dalam diri orang itu sudah terjadi. Namun kita mungkin salah menginterpretasi mujizat terbesar pada diri orang itu. Mujizat terbesar pada orang itu bukan pada kesembuhan penyakitnya, tetapi mujizat terbesar adalah kesembuhan jiwanya. Jiwa yang telah tercermar, telah berdosa, dipulihkan. Itulah inti dari kesembuhan Yesus. Yesus tidak datang untuk menolong menyembuhkan penyakit fisik kita. Tetapi Yesus datang untuk memulihkan hubungan kita dengan Allah Bapa. Melalui penyembuhan jiwa kita, kita dipulihkan menjadi anak-anak Allah. Itulah mujizat terbesar dalam diri orang itu.
Kata “Engkau telah sembuh,” tidak hanya mengacu kepada kesembuhan fisik, tetapi lebih dari pada itu mengacu kepada pemulihan jiwa. Jiwa yang berdosa telah diselamatkan, karena itu “ jangan berbuat dosa lagi”. Tuhan beserta anda sekalian.
