Bacaan: Yoh 8:1-11
Barangkali ada sesuatu dalam diri anda yang anda inginkan dapat dihapus dari sejarah hidup anda. Bila anda teringat hal itu, maka hal tersebut mendatangkan rasa bersalah dan kepedihan dalam diri anda. Dengan cara apapun yang anda lakukan untuk menghilangkannya, hal tersebut bukannya makin berkurang malah makin bertambah menjadi mimpi buruk bagi anda.
Banyak orang pernah mengalami hal seperti. Kejadian masa kecil ketika disiksa, atau diperlakukan tidak senonoh, ketika kita membuat kesalahan atau dosa yang besar yang terus kita sembunyikan dari orang lain, dsb. Dalam situasi seperti itu, kita berharap kalau kita diberi kesempatan kedua, kita ingin menjalani hidup kita secara berbeda, memulai hidup baru.
Dalam bacaan kita di atas, ada seorang perempuan yang didapati berzinah. Menurut Hukum Torat yang dipegang teguh oleh orang Yahudi saat itu, perempuan itu seharusnya dihukum mati dengan cara dilempari dengan batu. Namun para pemimpin agama pada saat itu sengaja membawa dia kehadapan Yesus untuk mencobai Yesus. Mereka berharap akan mendapati sesuatu kesalahan Yesus yang dapat mempermalukan atau menyalahkannya.
Para pemimpin agama sering menggunakan kehidupan seseorang untuk kepentingan mereka. Mereka bukannya mendidik masyarakat atau memberikan contoh yang baik, tetapi mereka menggunakan setiap kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dan mengangkat kehormatan mereka sendiri, bahkan meskipun hal itu harus mengorbankan banyak orang kecil.
Bagi perempuan itu sendiri, digiring sepanjang jalan, dipertontonkan kepada semua orang, merupakan mimpi buruk. Lebih baik kalau mereka langsung melempari dia dengan batu sampai mati, dari pada harus dihina dan dipermalukan sedemikian rupa sebelum akhirnya dihukum.
Namun harapan para pemimpin agama agar Yesus menghukum perempuan itu tidak terjadi. Yesus hanya membungkuk, dan menulis-nulis dengan jarinya di tanah. Tidak diterangkan apa yang ditulis oleh Yesus saat itu. Mungkin Yesus hanya mencakar-cakar permukaan tanah dengan jarinya.
Para pemimpin agama makin mendesak agar Yesus segera bertindak pada perempuan itu. Pada akhirnya Yesus berdiri dan berkata, “siapa diantara kamu yang tidak berdosa, biarlah ia yang pertama mengambil batu dan melempari perempuan itu.” Sesudah mengatakan hal tersebut Yesus kembali membungkuk dan mengais-ngais tanah dengan jarinya.
Banyak dari kita ketika menemukan kesalahan orang lain, sering memaksa untuk menghukum orang itu seakan-akan diri kita adalah orang yang tak pernah berbuat dosa. Kita sering lebih mudah menemukan kesalahan orang lain dari pada menemukan kesalahan diri kita sendiri. Ada pepatah “sebutir pasir di seberang laut terlihat oleh kita, namun balok didepan mata tak terlihat.” Itulah kenyataan yang terdapat dalam diri orang pada umumnya.
Yesus mengatakan, “siapa yang tidak berdosa, biarlah ia yang pertama mengambil batu dan melempari perempuan itu.” Mungkin kalau perkataan seperti ini tidak datang dari Yesus yang mampu mengetahui latar belakang semua orang, pasti sudah ada orang yang berani tampil dan melempari perempuan itu. Tapi ini adalah Yesus, yang dapat melihat ke dalam latar belakang hidup seseorang, maka tak seorangpun yang berani. Satu per satu pergi meninggalkan perempuan itu.
Ketika Yesus mengangkat kepalanya, semua telah pergi dan hanya tertinggal perempuan itu. Yesus bertanya kepada perempuan itu, "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
Yesus tidak menghukum perempuan itu, Ia memberikan kesempatan kedua bagi perempuan itu untuk memperbaruhi hidupnya. Yesus katakan,”Akupun tidak menghukum engkau, tapi jangan berbuat dosa lagi dari sekarang.”
Bagaikan sesuatu yang besar terangkat dari punggung perempuan, bagaikan sesuatu ikatan yang erat terlepas dari kehidupannya, itu membuat ia begitu nyaman, begitu ringan, begitu sukacita. Mimpi buruk itu seakan-akan terbang menghilang digantikan perasaan nyaman dan penuh rasa syukur. Ia telah mendapat pengampunan, Ia telah diberi kesempatan kedua untuk memulai hidupnya yang baru. Jiwanya yang yang haus dan dahaga sekarang mendapat tempat perteduhan, Yesus telah memberikan pengampunan bagi jiwanya. Hidupnya sekarang memiliki tujuan yaitu memuliakan dan mensyukuri akan pengampunan Tuhan.
Perempuan itu telah merasakan bagaimana rasanya berdosa, dia mengaku dirinya berdosa, namun ia tak mampu keluar dari dosannya itu. Dosa-dosanya menjadi mimpi buruk baginya. Ketika dosa-dosa itu diampuni, diangkat darinya, maka pengampunan itu benar-benar sangat berarti baginya, sangat besar baginya. Ada rasa syukur tak terhingga darinya.
Banyak dari kita mendengar dan menerima undangan kabar keselamatan setiap hari, namun kita menolak untuk datang. Kita pergi ke gereja dan mengikuti persekutuan-persekutuan rohani, namun tak ada perubahan dalam hidup kita, karena kita tak pernah mengakui kita berdosa, meskipun ada dosa dalam diri kita. Bahkan kita sering hanya mencari-cari dosa orang lain dan menuduhnya, sedangkan dosa dalam diri kita tak pernah kita akui dan datang memohon pengampunan. Kita sering berlindung dibalik kedok-kedok kesucian palsu, melalui jabatan kita, pendidikan kita, kehormatan kita, tetapi hidup kita sebenarnya penuh dengan dosa.
Tuhan kita bersedia memberikan kita kesempatan kedua untuk memulai hidup kita yang baru di dalam Dia. Bila kita bersedia mengaku semua kesalahan kita, semua dosa-dosa kita dan menerima Yesus sebagai Juruselamat kita, maka Ia akan mengubah hidup kita menjadi hidup yang penuh ucapan syukur, hidup yang penuh sukacita. Tuhan Yesus menolong anda.
Di Depan Mata Yesus
Di depan mata Yesus, kudatang miskin dan rendah,
Menanggung hutangku berat, di depan mata Yesus.
Di depan mata Yesus, kubuka kesalahanku
Dan isi hati yang keruh, di depan mata Yesus.
(Lagu dari Kidung Rohani)
