Search blog.co.uk

Posts archive for: February, 2009
  • Berdoa Memohon Dalam Nama Yesus

    Salah satu alat yang diberikan Tuhan kepada kita agar kita dapat menjalani hidup kita dengan baik, aman, damai dan penuh sukacita adalah doa. Melalui doa kepada Bapa kita, Allah yang mahakuasa, kita diberikan kekuatan untuk menghadapi semua masalah kita, kita diberikan jalan keluar dari semua persoalan kita, kita diberikan pengampunan dari semua kesalahan kita, dan kita diberikan kuasa untuk mengampuni dosa orang lain, bahkan kuasa untuk menghidupkan orang mati sekalipun.

    Namun sayang sekali, banyak dari kita jarang menggunakan media doa ini, meskipun hidupnya sedang diterpa dengan berbagai masalah. Banyak orang kristen mengabaikan doa, bahkan tidak tahu cara berdoa kepada Allah.

    Perlu kita sadar bahwa melalui doa kita datang ke hadirat Allah yang mahakuasa, pencipta dan penguasa seluruh alam semesta. Bayangkan anda mendapat hak istimewa diijinkan datang kapan saja anda mau ke hadapan seorang raja yang maha agung. Hal seperti itu tak pernah terjadi dengan raja-raja atau para penguasa dunia, akan selalu ada banyak rintangan, akan selalu ada pemeriksaan yang berbelit, pertanyaan yang bermacam-macam tentang maksud kedatangan anda, dan belum tentu anda akhirnya akan diterima dan menyampaikan maksud anda secara langsung kepadanya.

    Tetapi Tuhan bersedia menerima kita kapan saja kita mau datang kepadanya melalui doa. Tuhan bersedia mendengar semua keluh kesah kita, ia sabar mendengar kita, dan ia mau menolong kita bahkan sangat gembira bila kita datang ke hadiratnya.

    Ketika kita datang berdoa kepada Allah Bapa kita, kita perlu sadar bahwa kita sedang berdiri di hadapan hadiratNya dan berbicara dengan Dia.

    Tempat dan situasi dimana kita berdoa tidak penting, yang penting adalah kesadaran kita akan kehadiran Allah yang mahamulia dan kudus di hadapan kita dalam doa kita.

    Dalam Kisah Rasul 16:25, Paulus dan Silas berdoa dan bernyanyi pada tengah malam di dalam penjara sesudah mereka dipukuli habis-habisan dan dimasukkan ke dalam penjara. Doa dan nyanyian mereka bahkan kemudian didengar oleh tahanan yang lain. Paulus dan Silas berada dalam kondisi yang menggenaskan tetapi mereka justru berdoa dan memuji Allah, mereka sadar mereka sedang berada di hadapan Allah meskipun saat itu mereka berada dalam penjara.

    Apa yang terjadi sesudah mereka berdoa dan memuliakan Allah adalah pertunjukkan kuasa Allah yang maha dasyat. Terjadi gempa bumi yang hebat sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.

    Kepala penjara itu terbangun dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka. Ia menyangka bahwa semua tahanannya telah melarikan diri sehingga tidak ada jalan lain baginya adalah membunuh dirinya.

    Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: "Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!"

    Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: "Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?" Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis. Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah.

    Itulah kekuatan doa kepada Allah yang mampu menembus kekuatan-kekuatan dunia, membuka semua pintu-pintu penjara, merontokkan semua belenggu rantai penjara dan memhancurkan hati manusia yang keras untuk bertobat kepada Allah dan memuliakan Dia.

    Ketika kita berdoa dan memohon sesuatu kepada Allah, Yesus meminta kita memohon dalam namaNya. Dalam Yohanes 15:16b “ ..... apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. “ Hal yang sama dikatakan Yesus dalam Yohanes 14:13 - 14 “dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya."

    Segala pemenuhan doa kita diberikan oleh Bapa, Ia yang memberikan dan memenuhi permintaan kita. Segala berkat kepada kita diturunkan dan berasal dari Allah. Oleh karena itu Yesus selalu mengajarkan kepada murid-muridnya untuk meminta kepada Allah, BapaNya, tetapi meminta dalam namaNya. Mengapa harus seperti itu?

    Karena Yesus adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Tak ada seorangpun yang dapat sampai kepada BapaNya tanpa melalui Dia (Yohanes 14:6). Yesus membuat itu mungkin bagi Bapa menjawab doa-doa kita. Melalui Dia kita diampuni, kita dikenal dan dapat berada di hadirat BapaNya serta menyampaikan petisi kita. Di dalam Yesus ada jaminan, ada harapan, dan ada keselamatan.

    Yesus selalu mengajari murid-muridnya untuk berdoa dan meminta dalam namaNya, karena kita adalah milik Kristus, bahkan sudah dianggap saudara dalam Yesus, sehingga ketika kita meminta dalam nama Yesus, maka Allah BapaNya langsung mengenal kita sebagai sahabat atau saudara AnakNya. Amin.

  • Berbuat Baik Kepada Sesama

    Bacaan: Markus 3:1-6

    Ada seorang Hindu melihat seekor kalajengking terjebak dalam air. Ia memutuskan untuk menolongnya dengan menggunakan jarinya, tetapi kalajengking itu menyengatkan bisa ke jarinya dengan ekornya. Orang ini terus berusaha mengeluarkan kalajengking itu dari air, tetapi kalajengking itu juga terus menyengatnya lagi.

    Seseorang yang sedang berdiri didekatnya memintanya berhenti menolong kalajengking itu yang terus saja menyengatnya.

    Tetapi si orang Hindu ini berkata: “Sudah menjadi sifat kalajengking untuk menyengat dengan ekornya yang berbisa, tetapi sudah menjadi sifat saya untuk mencintai dan menolong. Mengapa saya harus menyerah memberi pertolongan hanya karena sudah menjadi sifat dari kalajengking itu untuk menyengat?”

    Jangan menyerah menolong dan mencintai, jangan membuang kebaikan bahkan meskipun orang-orang di sekelilingmu terus menyengat dengan bisa mereka. (terjemahan bebas dari A Scorpion Moment, http://www.inspirationalstories.com/9/926.html)

    Cerita di atas menunjukkan bahwa seringkali perbuatan baik kita ditanggapi berbeda oleh orang-orang lain di sekitar kita, bahkan dengan menentang perbuatan kita.

    Kasih, belas kasihan dan kemurahan hati sebenarnya merupakan bagian dari ajaran Tuhan yang diturunkan kepada bangsa Israel melalui Musa. Dalam Keluaran 23:24-25 dikatakan: 23:24 "Apabila engkau melalui kebun anggur sesamamu, engkau boleh makan buah anggur sepuas-puas hatimu, tetapi tidak boleh kaumasukkan ke dalam bungkusanmu. 23:25 Apabila engkau melalui ladang gandum sesamamu yang belum dituai, engkau boleh memetik bulir-bulirnya dengan tanganmu, tetapi sabit tidak boleh kauayunkan kepada gandum sesamamu itu."

    Hari Sabat sebenarnya diadakan untuk manusia dan bukan manusia dijadikan untuk hari Sabat. Hari Sabat diadakan agar manusia boleh beristirahat dari semua aktifitasnya dan memiliki hari untuk menghayati berkat-berkat Tuhan dalam kehidupannya dan memuliakan Tuhan. Hari Sabat diberikan bukan untuk menjadi batu sandungan, tetapi agar manusia datang makin dekat kepada Tuhan.

    Namun seringkali ajaran yang baik seperti itu berubah menjadi batu sandungan, menjadi bentuk penindasan dan neraka bagi manusia,yaitu ketika kita manusia memasukkan interpretasi kita kedalamnya. Agama dengan berbagai aturannya kemudian menjadi batu sandungan bagi kita , bukannya makin mendekatkan kita kepada Tuhan, tetapi makin mengaburkan kehendak Tuhan dan makin menjauhkan kita dari Tuhan.

    Agama sering menciptakan ilusi, khayalan keselamatan yang berbeda dari apa yang difirmankan Allah.

    Pertanyaan Yesus kepada para pemimpin agama Yahudi: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?"

    Pertanyaan ini menjadi sangat penting untuk kita renungkan dan camkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Ya “ manakah yang lebih penting, berbuat baik atau berbuat jahat pada hari Sabat?”

    Pertanyaan Yesus membongkar semua kemunafikan agama yang seringkali berlindung dibalik topeng-topeng peraturan-peraturan agama untuk membenarkan kekuasaan para tokoh agama, membenarkan kemunafikan mereka yang ingin terus mempertahankan kewibawaan dan kekuasaan mereka, mempertahankan perbuataan mereka yang jahat kepada Allah.

    Para tokoh agama sering membuat interpretasi mereka sendiri mengenai keinginan Tuhan dengan berbagai aturan-aturan yang menurut mereka itu adalah kehendak Allah bagi keselamatan manusia. Padahal itu adalah interpretasi mereka sendiri, bahkan mereka sendiripun tak pernah mampu melakukannya.

    Kritik terhadap perbuatan Yesus sudah dimulai sejak para pemimpin agama Yahudi merasa terganggu dengan kepopuleran Yesus. Mereka merasa kewibawaan mereka terancam dengan pengajaran Yesus, dengan kemampuan Yesus menyembuhkan orang sakit dan melakukan berbagai mujizat. Mereka mulai mengkritik Yesus karena Ia menganpuni dosa manusia ( Markus 2:6-7), Ia duduk makan dengan orang berdosa menurut pandangan mereka (Mark 2:16) dan murid-muridnya memetik gandum pada hari Sabat (Markus 2:23-24).

    Konflik antara Yesus dengan para pemimpin agama meningkat dari sekedar kritik saja menjadi tipu muslihat dan rancangan untuk menjebak dan membunuh Yesus. Para pemimpin agama (orang Farisi) berupaya mencari peluang untuk menuduh, menyalahkan bahkan untuk melenyapkanYesus (Markus 3:1-2). Dalam ayat 1 dan 2 bacaan kita dikatakan: Bahwa ketika Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka, para pemimpin agama (orang Farisi) mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia.

    Mereka telah mempelajari cara kerja Yesus. Mereka tahu bahwa Yesus tersentuh melihat orang sakit, Yesus pasti akan menolongnya. Jadi mereka mengamati Yesus dengan cermat, karena hari itu adalah hari Sabat.

    Disini kita melihat karakter para pemimpin agama yaitu meskipun mereka setiap hari mempelajari segala kitab Musa, namun mereka gagal mempraktekkan kasih, belas kasihan, dan kemurahan hati. Hati mereka terlalu keras untuk berbuat baik, pikiran mereka terlalu picik untuk berbuat baik. Mereka lebih mendahulukan segala aturan-aturan mereka sendiri dari pada menolong orang lain, atau menaruh belas kasihan pada orang lain. Hati yang keras dan tegar sering melahirkan pikiran yang picik, pikiran yang kerdil, iri hati, dengki, cemburu kepada sesama, sehingga gagal melihat maksud Tuhan dalam hidup mereka.

    Yesus mengetahui sikap para pemimpin agama tersebut. Ia tahu bahwa Ia sedang diamati oleh mereka. Ia menjadi marah atas kedegilan hati mereka. Bukannya takut dan mundur, Yesus malah maju. Karena Yesus lebih mendahulukan perintah Allah, BapaNya dari pada mengikuti ajaran manusia.

    Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!"

    Yesus memanggil orang itu ketengah pusat kerumunan mereka. Ia tidak melakukan itu dengan sembunyi-sembunyi, Ia lakukkan itu dengan terang-terangan. Ia menyuruh orang itu maju dan berdiri ditengah mereka agar terlihat oleh semua orang. Yesus ingin semua tahu, melihat dan memahami perbuatanNya.

    Setelah itu Yesus menantang pada pemimpin agama tersebut dengan pertanyaan: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?"

    Tak ada reaksi apapun dari para pemimpin agama tersebut. Mereka memang tak berani terang-terang menyatakan maksud mereka. Mereka tak memiliki alasan untuk menyangkal perbuatan Yesus, tetapi karena hati mereka yang keras, pikiran mereka yang picik dan penuh dengan iri hati dan dengki, mereka menjadi buta terhadap perbuatan kasih Allah melalui Yesus. Mereka memiliki mata tetapi tak dapat melihat, mereka memiliki telinga tetapi tak dapat mendengar. Hati mereka keras, pikiran mereka menjadi picik sehingga mereka merancangkan maksud jahat dan keji yaitu mengadakan persengkongkolan dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Yesus.

    Peristiwa ini menunjukkan bagaimana kekerasan hati orang Farisi, kekerasan hati para pemimpin agama dengan ajaran-ajaran (dogma) mereka, dengan interpretasi kebenaran atau keselamatan yang mereka buat sendiri, telah membutakan mereka untuk melihat dan menemukan kebenaran dan kasih Allah kepada manusia.

    Allah tahu keterbatasan manusia bahwa manusia dengan segala cara dan upaya sendiri tidak mungkin dapat mencapai kebenaran. Tak ada satu manusiapun yang akan sanggup untuk membenarkan dirinya di hadapan Allah. Hanya melalui kasih Allah sendiri dalam Yesus manusia mendapatkan kebenaran. Karena hanya Yesus, Anak Allah itu, yang karena kebenarannya boleh memberikan kebenaran kepada kita melalui pengorbanannya di kayu salib.

    Oleh karena itu semua perbuatan-perbuatan kita, dengan cara apapun kita mengikuti aturan-aturan keagamaan, tak akan mampu membebaskan kita dari hukuman Allah. Hanya melalui percaya kepada Yesus, menerima Dia sebagai juru selamat kita, maka kita dibenarkan di dalam Dia.

    Allah itu kasih sehingga karena kasihNya yang begitu besar kepada kita manusia, Ia rela menyerahkan anakNya, Yesus, menjadi korban bagi pengampunan dosa kita. Oleh karena itu, sebagai orang-orang yang telah menerima Yesus sebagai Juruselamat, telah diampuni dosa-dosanya, kitapun wajib menaruh kasih dan belas kasihan kepada orang lain. Bukan agar melalui perbuatan kita selamat, bukan agar mendapatkan pahala tetapi sebagai wujud ucapan syukur kepada Dia yang telah terlebih dahulu mengasihi kita.

    Yesus telah menaruh kasih kepada kita. Ia telah menebus segala kesalahan kita sehingga kita menjadi layak dihadapan BapaNya di surga. Oleh karena itu jangan mengeraskan hati kita bila melihat penderitaan sesama kita. Karena iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati, bagaikan tong kosong yang nyaring bunyinya.

    Kalau kita beriman kepada Yesus tetapi perbuatan kita jahat, hati kita keras terhadap penderitaan orang lain, maka Bapa kita yang di surga juga tak akan menaruh belas kasihan kepada kita. Tanpa kasih, iman kita menjadi iman yang percuma, iman yang kosong.

    Ketika kita membuka hati kita dan menaruhnya dengan kasih, belas kasihan, kemurahan hati, maka hati kita menjadi tanah yang subur untuk menerima Firman Allah, tetapi ketika kita menutup pintu hati kita, mengeraskan hati kita, maka hanya nafsu kita, hanya kedengkian kita, iri hati, yang makin mengendap dalam hati kita.

    Kalau kita ingin merasakan kasih Allah, ingin menerima berkat Allah yang berlimpah-limpah melalui Yesus dalam diri kita, dalam kehidupan kita, maka kita juga harus menaruh kasih kepada sesama kita. Melalui kasih kepada sesama kita, kita menabur kasih bagi diri kita juga. Karena apa yang kita tabur itulah yang akan kita panen. Ketika kita menabur kasih, kita akan menemukan kasih, namun ketika kita menabur kebencian, iri hati, maka hanya malapetaka yang menimpa kita. Ingatlah bahwa Allah mengamati apa yang kita perbuat dalam kehidupan kita. Allah mengamati kita apakah perbuatan kita sesuai dengan kasihNya kepada kita. Tuhan memberkati dan menolong kita. Amin.

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.