Dalam Kejadian 22:2 dikisahkan bahwa Firman Tuhan datang kepada Abraham katanya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."
Abraham hanya memiliki satu anak kandung sebagai ahli waris dari iterinya Sara. Anak perjanjian ini didapat setelah ia menunggu bertahun-tahun lamanya sampai ketika isterinya Sara telah menjadi sangat tua. Namun ketika anak kesayangannya ini baru mulai agak besar, Abraham diperhadapkan dengan suatu ujian, ujian ketaatan, ujian yang menyangkut loyalitas dia kepada Tuhan.
Mengapa ujian ini diberikan Tuhan kepada Abraham? Kita tidak tahu dengan pasti. Kita dapat saja mereka-reka maksud Tuhan. Namun yang jelas tak ada berkat tanpa ujian, tak ada kesuksesan tanpa kesulitan dan tantangan, tak ada keberhasilan tanpa penderitaan.
Tuhan melakukan ujian ketaatan kepada Abraham disaat Abraham makin menyayangi putra satu-satunya, ahli waris satu-satunya, putra tunggal satu-satunya. Ujian Tuhan kepada Abraham adalah ujian mengenai dimana nilai-nilai tertinggi Abraham diletakkan, dimana hati Abraham dipertaruhkan. Hal ini seperti kata Yesus dalam Matius 6:21: Karena dimana hartamu, di situ juga hatimu.” Yesus mengatakan lagi dalam Matius 6:24:” Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."
Banyak orang mungkin awalnya sangat mencintai Tuhan, mereka bersandar kepada Tuhan pada saat mereka masih muda, pada saat mereka masih belum memiliki apa-apa. Namun ketika mereka telah sukses, telah memiliki kekayaan atau kekuasaan mereka kemudian menjadi lupa akan Tuhan dan bersandar kepada kemampuan mereka, pada kekayaan atau kekuasaan mereka. Dalam Alkitab kita melihat contoh-contoh orang seperti Raja Saul, yang awalnya seorang yang taat akan Tuhan, namun ketika sudah menjad raja, ia berubah dan bersandar pada dirinya sendiri. Salomo awalnya seorang raja yang baik. Ia meminta hikmat dari Tuhan untuk memimpin bangsanya. Tuhan memberikan kepadanya bukan hanya hikmat tetapi kekayaan dan kebesaran. Namun sesudah ia menjadi sangat mulia, ia mulai tergantung pada kebijaksanaannya sendiri, ia lebih condong menyenangkan hati isteri-isterinya yang banyak dari pada menyenangkan hati Tuhan, ia tidak lagi mengandalkan Tuhan.
Ujian kepada Abraham menunjukkan apa yang ia dahulukan, apa yang ia prioritaskan, yang ia junjung tinggi dalam kehidupan di dunia, apakah nilai-nilai Tuhan, apakah prinsip-prinsip Tuhan, ajaran-ajaran Tuhan, perintah-perintah Tuhan, ataukah keinginan dirinya sendiri, kehendak diri sendiri, atau kebutuhan diri sendiri.
Tuhan menginginkan kita untuk lebih menjunjung tinggi Dia dan segala perintah-perintahNya, segala kehendakNya, termasuk di dalamnya mengasihi sesama orang lain, dan bukan hanya melihat kepentingan diri kita sendiri, ego kita sendiri.
Allah mengasihi kita. Ia selalu menolong kita dan memimpin hidup kita. Namun Ia menginginkan kita hidup dalam ketaatan kepadaNya, mengasihi Dia jauh melampaui kepentingan kita. Ia meminta kita melepaskan perhatian kita dari fokus pada diri kita sendiri dan hanya tertuju pada apa yang menjadi kehendakNya.
Ujian kepada Abraham sebenarnya mengacu pada kasih Allah kepada manusia. Allah yang sangat berkuasa atas segala sesuatu tak pernah mementingkan diriNya sendiri, tetapi Ia memperhatikan kepentingan manusia, Ia mengetahui ketidakmampuan manusia, tangisan dan jeritan manusia. Allah tersentuh hatinya, Ia tergerak melihat ketidakberdayaan manusia dalam jeratan dosa, dalam penindasan, dalam kesulitan yang berteriak dengan penuh keputusasaan kepadaNya.
Allah mendengar jeritan penindasan bangsa Israel di Mesir dan menolong mereka. Ia mendengar jeritan mereka dalam pembuangan mereka, dan Ia berkenan menolong mereka. Ia juga mendengar jeritan jiwa kita yang berada dalam jeratan dan penindasan dosa, dan Ia mengirimkan AnakNya untuk berkorban bagi kita.
Allah mengesampingkan semua kepentinganNya, Ia lebih mengasihi manusia sehingga Ia rela berkorban, Ia rela menyerahkan AnakNya untuk berkorban bagi penyelamatan manusia. Bukan berarti Allah tidak sayang kepada Yesus, Ia sangat mengasihi Yesus, AnakNya yang tunggal. Dalam Matius 3:17 Allah berkata: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."
Pertanyaannya saat ini adalah kepada siapa anda menaruh prioritas tertinggi anda, kepada apa dan siapa loyalitas anda diberikan, apakah kepada manusia, kekuasaan, keluarga, uang, atau kehendak anda sendiri. Tuhan Yesus menolong anda. Amin.
