Search blog.co.uk

Posts archive for: April, 2009
  • Perbedaan Reaksi Berdampak Perbedaan Hasil Akhir

    Ada dua orang raja, sama-sama memerintah di Israel, raja yang pertama bernama Hizkia dan memerintah di kerajaan Yehuda (2 Raja-Raja 18-21). Sedangkan raja yang kedua bernama Ahazia, raja di kerajaan Israel (10 suku).

    Persamaan dari kedua raja ini adalah bahwa mereka memerintah suku-suku Israel, Ahazia memerintah 10 suku, sedangkan Hizkia memerintah kerajaan Yehuda. Persamaan kedua raja ini adalah bahwa mereka sama-sama jatuh sakit. Ahazia sakit karena terjatuh dari kamar di tingkat atas istananya, sedangkan Hizkia jatuh sakit karena penyakit. Kedua-duanya sama-sama berada dalam keadaan hampir mati.

    Namun ada perbedaan antara kedua raja itu yang sangat significant. Raja Ahazia adalah raja yang bertindak jahat di mata Tuhan dengan mengikuti kelakuan orangtuanya , Ahab dan Isebel (1 Raja-Raja 22:52). Sedangkan raja Hizkia adalah raja yang taat kepada Tuhan. Ia selalu bersandar dan bertindak menurut apa yang diperintahkan oleh Tuhan.

    Ketika keduanya berada dalam keadaan hampir mati, maka raja Ahazia mengirimkan orang-orang kepercayaannya, seorang perwira dan sejumlah tentara, pergi bertanya kepada Baal-Zebub apakah ia akan sembuh dari penyakitnnya itu. Baal-Zebub adalah dewa orang Filistin yang berada di kota Ekron.

    Namun di tengah perjalanan mereka dari Samaria ke Ekron, Tuhan menyuruh nabi Elia untuk menemui utusan Ahazia dengan mengatakan bahwa: “apakah di Israel sudah tidak ada Tuhan lagi sehingga engkau pergi bertanya kepada Baal-Zebub?” Karena sikap Ahazia itu, maka Tuhan mengatakan bahwa raja Ahazia tidak akan bangun lagi dari tempat tidur, di mana dia berbaring, sebab dia pasti akan mati.” (2 Raja-Raja 1:4)

    Sedangkan raja Hizkia didatangi oleh nabi Yesaya yang memberitakan bahwa kematiaannya sudah dekat sehingga Hizkia diminta untuk segera menyampaikan pesan-pesan terakhirnya kepada keluarganya (2 Raja-Raja 20:1).

    Kedua raja ini sama-sama menerima firman Tuhan melalui mulut nabi-nabi: Ahazia melalui mulut nabi Elia, sedangkan Hizkia melalui mulut nabi Yesaya. Hal yang menarik di cermati adalah bagaimana reaksi kedua raja tersebut sesudah menerima berita kematian mereka.

    Reaksi Ahazia atas berita kematiannya adalah permusuhan, pertunjukkan kekuasaan, terutama kepada nabi Elia yang menyampaikan firman Tuhan tersebut. Ahazia mengirimkan seorang perwira dengan 50 tentara untuk memaksa nabi Elia datang kepadanya. Ketika utusan itu sampai kepada Elia, maka berkatalah perwira itu kepada Elia dengan sombong: "Hai abdi Allah, raja bertitah: Turunlah!"

    Elia menjawab: "Kalau benar aku abdi Allah, biarlah turun api dari langit memakan engkau habis dengan kelima puluh anak buahmu." Maka turunlah api dari langit memakan dia habis dengan kelima puluh anak buahnya. (2 Raja-Raja 1:10).

    Mendengar apa yang terjadi pada utusannya, raja Ahazia bukannya merendah dan bertobat, ia bahkan mengirimkan lagi utusan yang kedua, seorang perwira dengan 50 tentaranya. Sama dengan utusan yang pertama, utusan yang kedua itu sampai kepada Elia dan berkata dengan sombong: "Hai abdi Allah, beginilah titah raja: Segeralah turun!"

    Tetapi sekali lagi Elia menjawab: "Kalau benar aku abdi Allah, biarlah turun api dari langit memakan engkau habis dengan kelima puluh anak buahmu!" Maka turunlah api Allah dari langit memakan dia habis dengan kelima puluh anak buahnya.

    Kejadian ini tidak menjadi pelajaran bagi sang raja, ia tetap ngotot mengirimkan utusannya untuk memaksa Elia datang kepadanya. Kali ini ia mengirimkan lagi seorang perwira dengan 50 tentaranya.

    Namun perwira yang datang ini mungkin telah belajar dari kejadian terdahulu. Ia memiliki kerendahan hati. Ia berbeda dengan rajanya yang sombong dan angkuh. Sang perwira ini datang kepada Elia dan berlutut di depan Elia. Ia memohon belas kasihan kepadanya, katanya: "Ya abdi Allah, biarlah kiranya nyawaku dan nyawa kelima puluh orang hamba-hambamu ini berharga di matamu. Bukankah api sudah turun dari langit memakan habis kedua perwira yang dahulu dengan kelima puluh anak buah mereka? Tetapi sekarang biarlah nyawaku berharga di matamu."

    Sang perwira ketiga ini meminta belas kasihan Elia agar nyawanya dan nyawa kelima puluh anak buahnya bisa diampuni, karena ia beserta dengan anak buahnya hanya sekedar menjalankan perintah raja, mereka bukan bagian dari keangkuhan raja, mereka hanyalah sekedar pelaksana saja.

    Tuhan mendengar permohonan perwira yang rendah hati ini dan ia diampuni beserta dengan anak buahnya. Tuhan meminta Elia untuk pergi bersama mereka menemui raja Ahazia.

    Berbeda dengan raja Ahazia, raja Hizkia memiliki reaksi yang bertolak belakang. Ketika nabi Yesaya selesai menyampaikan firman Tuhan mengenai kematiannya, Hizkia menangis dihadapan Tuhan. Seorang raja yang memiliki kekuasaan, justru menangis tanpa malu-malu di hadapan banyak orang. Ia menangis dihadapan Tuhan.

    Dalam 2 Raja-Raja 20: 2 dan 3, kita dapat membaca bagaimana reaksi raja Hizkia: 20:2 Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN: 20:3 "Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu." Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat.

    Apa yang dapat kita pelajari dari cerita pengalaman dua orang raja ini?

    Orang percaya menyambut situasi yang dihadapinya dengan meminta campur tangan Tuhan, memohon belas kasihan Tuhan, meminta pengampunan Tuhan untuk mengatasi situasi yang sedang dihadapinya. Sedangkan orang yang tidak mengenal Tuhan bereaksi dengan kesombongannya, menggunakan kekuatannya sendiri, bahkan mau menunjukkan kesombongannya dihadapan Tuhan. Hal ini dapat kita cermati dari sikap raja Ahazia yang mengirimkan utusan berkali-kali untuk memaksa nabi Elia datang kepadanya. Kita juga bisa melihat kesombongan dua utusan terdahulu yang dapat kita bayangkan tiba dirumah nabi Elia, berdiri bercagak pinggang menghadap Elia sambil mengacungkan tangan dan memerintah Elia untuk segera ikut dengannya menghadap raja. Bandingkan dengan sikap perwira yang ketiga yang justru datang menyembah dan memohon belas kasihan Elia atas nyawanya sendiri dan nyawa kelimapuluh anak buahnya. Ada rasa hormat dan takut akan Tuhan dalam diri sang perwira ketiga itu.

    Perbedaan reaksi kita terhadap situasi kita berdampak pada perbedaan solusi terhadap masalah kita. Cara pandang kita memberikan perbedaan dalam hasil akhir yang kita dapatkan. Dua perwira pertama datang dengan kesombongan dan berakhir dengan kebinasaaan ditelan api dari langit. Ahazia bereaksi dengan kesombongan dan berakhir dengan kematian. Kontras dengan reaksi perwira ketiga yang datang dengan rasa hormat dan rendah hati serta takut akan Tuhan. Ia diampuni beserta dengan seluruh anak buahnya. Hal yang sama terjadi juga dengan Hizkia, Tuhan mengubah keputusanNya kepada Hizkia setelah menyaksikan tangisan Hizkia yang tanpa malu-malu dihadapan banyak orang. Allah yang begitu berkuasa, mengubah keputusannya mendengar tangisan seorang anak manusia kepadaNya. Tuhan memperpanjang umur Hizkia 15 tahun lagi.

    Reaksi dan doa Hizkia dihadapan Tuhan dengan penuh tangisan menimbulkan rasa iba Tuhan dan Ia memutuskan mengubah keputusan Nya kepada Hizkia. Hal yang sama terjadi pada raja dan seluruh rakyat kota Niniweh ketika nabi Yunus menyampaikan berita penghukuman Tuhan atas mereka. Raja beserta seluruh rakyat mengenakan kain karung dan debu, mereka merendahkan diri dihadapan Tuhan dan memohon belas kasihan Tuhan, mereka diampuni.

    Tuhan bersedia mengampuni kesalahan kita. Tuhan bersedia mengubah keputusanNya kepada kita bila kita mau datang kepadaNya dan memohon pengampunan, belas kasihanNya. Periwra ketiga itu diampuni; Hizkia diperpanjang umurnya; raja dan seluruh rakyat kota Niniweh juga mengalami pengampunan Tuhan.

    Cerita pengalaman dua orang raja ini mengingatkan kita pada cerita dua orang penjahat yang disalibkan bersama dengan Yesus. Keduanya sama-sama penjahat yang harus menerima hukuman kematian. Namun perbedaan cara pandang mereka, perbedaan reaksi mereka terhadap apa yang menimpa mereka, membuat perbedaan hakiki pada akhir cerita mereka. Penjahat pertama bereaksi dengan menghina Yesus, sedangkan yang kedua menerima keputusan kesalahannya tetapi ia memohon pengampunan Yesus sekaligus pertobatan. Kematiannya penjahat yang pertama berakhir dalam penghukuman abadi di neraka, sedangkan yang kedua berakhir dalam kerajaan surga.

    Cara pandang kita, reaksi kita terhadap suatu masalah, memberikan perbedaan kita dengan orang lain. Ketika kita bereaksi dengan menyembah Tuhan, memohon pertolongan dan belas kasihan Tuhan, maka ada jaminan pertolongan, ada jaminan keselamatan, bahkan meskipun lubang kematian sudah diambang pintu hidup kita, Allah dapat mengubah kematian menjadi kehidupan, mengubah kehidupan yang sudah hancur menjadi berguna bagi Dia dan banyak orang, menyembuhkan kepahitan, kesakitan menjadi puji-pujian bagiNya. Amin

  • Ketika Allah Bangkit

    Mazmur 68:2-4
    2. Allah bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya, orang-orang yang membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya. 3 Seperti asap hilang tertiup, seperti lilin meleleh di depan api, demikianlah orang-orang fasik binasa di hadapan Allah. 4 Tetapi orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita.

    Ada beberapa point penting dari bacaan ini yang saya ingin mengajak kita bersama merenungkannya:

    Hal pertama: Allah bangkit berarti kemenangan

    Ayat 2: Allah bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya, orang-orang yang membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya.

    Kebangkitan Tuhan berarti kemenangan bagi kita orang-orang percaya. Kita ditebusNya, kita dibebaskan bukan agar kita hidup dalam kegagalan, kedukaan, kebimbangan, ketakutan atau kecemasan, tetapi agar kita dapat hidup dalam kemenangan, sukacita, penuh kegembiraan, dan agar supaya kita menjadi suatu kesaksian bagi dunia di sekitar kita.

    Bila kehidupan kita sesudah Tuhan membebaskan, dimanapun kita berada, dalam situasi apapun yang kita hadapi, kita selalu penuh kemenangan dalam Kristus, kita selalu mampu mengatasi kesulitan hidup kita, kita selalu penuh kebahagiaan, sukacita, kedamaian, ucapan syukur kepada Allah, maka hidup kita menjadi kesaksian bagi banyak orang untuk datang kepada Allah. Hidup dalam kemenangan seperti itu ditunjukkan oleh pengakuan Paulus dalam 2 Korintus 2:14-15: 2:14 Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana. 2:15 Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa.

    Perlu dicermati disini bahwa Tuhan tak pernah bangkit, Tuhan tak pernah campur tangan untuk kalah. Bila Tuhan bangkit, bila Tuhan menolong, itu semua hanya untuk satu alasan yaitu kemenangan. Karena Nama Tuhan selalu identik dengan kemenangan. Oleh karena itu, Ia mengundang anda untuk datang padaNya, datang dan berjalan bersama Dia menuju kemenangan. Berjalan bersama Tuhan, maka kita selalu menang.

    Hal kedua: Kebangkitan Kristus telah mengamankan kemenangan itu.

    Kebangkitan Yesus mengamankan kemenangan kita. Yesus telah mengalahkan kejahatan, Yesus telah menghancukan ketakutan terbesar manusia yaitu kematian. Kematian bukan akhir perjalanan hidup manusia. Yesus telah membuat kematian hanya sebagai tempat persinggahan sementara dalam perjalanan kita ke surga. Kematian bukan tujuan akhir perjalanan kita, tetapi hanya tempat persinggahan sementara menuju kemuliaan di surga.

    Selain mengamankan/menjamin masa depan bagi kita, kebangkitan Yesus juga memberikan kita kuasa menghadapi semua musuh-musuh dan masalah kita selama menjalani hidup kita di dunia ini. Dalam Yohanes 16:33b Yesus berkata: ...... kuatkanlah hatimu, karena Aku telah mengalahkan dunia."

    Yesus menjanjikan kepada kita kuasa untuk mengatasi kelemahan kita yaitu kuasa Roh Kudus. Dalam Kisah Rasul 1:8 Yesus berkata: Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

    Berbagai jaminan itu diberikan Yesus agar hati kita dikuatkan, diteguhkan meskipun kita harus menghadapi badai dan topan hidup kita. Jaminan ini ia berikan agar kita tidak lagi hidup dalam kesedihan, kecemasan ataupun ketakutan, tetapi boleh hidup dalam kemenangan, sukacita, dan dalam ucapan syukur kepada Allah. Karena kalau Tuhan bersama kita, siapakah musuh-musuh kita?

    Kehidupan kristen haruslah kehidupan yang penuh kemenangan dan penuh ucapan syukur dalam Kristus, karena tak ada lagi ketakutan dalam diri kita.

    Hal ketiga: Allah bangkit dan musuh-musuh Tuhan cerai-berai

    Ketika Tuhan campur tangan dalam masalah hidup kita, ketika Tuhan bangkit berdiri menghadapi musuh-musuh kita, maka cerai berai semua musuh-musuh kita. Mereka seperti asap hilang tertiup angin; mereka seperti lilin meleleh di depan api, demikianlah musuh-musuh kita binasa di hadapan Allah.

    Ketika Allah bangkit dan mengambil inisiatif membebaskan Israel dari Mesir, maka hancur lebur semua kuasa Mesir. Allah menumpahkan berbagai bencana kepada orang Mesir, bukan satu atau dua bencana, tetapi 10 jenis bencana dahsyat dalam waktu yang relatif singkat.
    1. air berubah menjadi darah.
    2. Bencana 2: katak di seluruh tempat di wilayah orang Mesir.
    3. Bencana 3 nyamuk
    4. Bencana 4 lalat
    5. Bencana 5 penyakit pada ternak
    6. Bencana 6 bisul-bisul pada manusia dan binatang yang tidak dapat disembuhkan
    7. Bencana 7 hujan es bercampur api
    8. Bencana 8 belalang
    9. Bencana 9 kegelapan selama 3 hari
    10. Bencana 10 kematian anak-anak sulung dari semua keluarga Mesir.

    Dengan 10 bencana ini membuat Mesir bertekuk lutut dan membiarkan orang Israel pergi, mereka bahkan menyerahkan emas dan barang berharga mereka kepada orang Israel agar lekas pergi. Karena bagi orang Mesir Israel identik dengan bencana bagi mereka.

    Ketika Allah bangkit menolong Israel, tak satu rintangan mampu menghambat mereka, lautpun dibelah menjadi jalan bagi umatnya; mataharipun di ditutupi dengan tiang awan; dinginnya malam diselimuti dengan tiang api; serta kejaran tentara Mesir ditenggelamkan di dalam laut merah.

    Ketika Allah bangkit, Ia menurunkan roti dan daging dari langit, roti yang dimakan orang Israel selama 40 tahun perjalanan mereka di padang gurun.

    Ketika Allah bangkit, airpun dipancarkan dari batu; mataharipun dibuat tak bergerak sampai Israel mengalahkan musuh-musuhnya; bahkan tembok-tembok kokoh kota Yericho juga dirobohkan.

    Ketika Allah bangkit, raksasa seperti Goliat bagaikan lawan tak berarti bagi Daud, karena hanya dengan sebutir batu kecil ia jatuh terkapar dan mati.

    Ketika Allah datang menolong Israel, Gideon hanya membutuhkan 300 orang untuk mengalahkan ratusan ribu tentara Midian dan Amalek. Ketiga ratus orang itu hanya bertugas meniup terompet, memecahkan buyung dan memegang obor.

    Ketika Allah bangkit menolong Israel dari kelaparan hebat karena kepungan Benhadad, raja Aram (2 Raja-Raja 6-7), begitu hebatnya sehingga tahi burungpun menjadi sangat berharga, maka Tuhan hanya menggunakan suara kaki 4 orang kusta yang kelaparan bagaikan derap suara ribuan tentara berkereta kuda, sehingga semua puluhan ribu tentara Aram itu lari kocar kacir meninggalkan kemah dan semua kuda, keledai apa saja milik mereka begitu saja; mereka melarikan diri menyelamatkan nyawanya.

    Ketika Yesus bangkit dari tidurNya, maka redalah angin dan gelombang yang menerpa perahu murid-muridNya. Ketika Yesus bangkit dari kematian, cerai berai tentara romawi yang menjaga kubur Yesus.

    Siapakah yang dapat berdiri melawan Allah? Musuh-musuh Tuhan bagaikan awan ditiup angin, mereka bagaikan lilin yang cair dihadapan api dan hilang lenyap. Tak ada satu kekuatan, suatu kuasapun yang dapat tahan berdiri di hadapan Allah.

    Penting bagi kita mengetahui siapakah sebenarnya musuh-musuh Tuhan dan apa yang mereka lakukan?

    Musuh-musuh Tuhan adalah Iblis dengan kroni-kroninya, mereka yang selalu melakukan kejahatan, menindas, menghancurkan, melakukan kekejaman, dan tidak memiliki belas kasihan bagi mereka yang lemah dan miskin.

    Tuhan bangkit untuk menolong mereka yang tertindas, menolong mereka yang lemah, mereka yang tak berdaya. Kasihnya membebaskan, kasihnya menyembuhkan hati yang terluka, bilur-bilur kepahitan, kasihnya memberdayakan, menguatkan dan memberi kita damai sejahtera.

    Penting sekali bagi kita untuk mengetahui:
    - siapa musuh-musuh Tuhan,
    - siapa atau apa musuh-musuh kita, dan
    - apakah musuh-musuh Tuhan juga adalah musuh-musuh kita?
    - Dengan perkataan lain, apakah kita berada dipihak Tuhan? Apakah kita bersama Tuhan sedang memerangi musuh-musuh yang sama? Ataukah kita sedang berperang melawan Tuhan? Ataukah kita sedang berperang melawan musuh-musuh kita tanpa bantuan Tuhan?

    Yesus telah mengalahkan Iblis dengan sekutu-sekutunya. Mereka telah dicerai-beraikan. Namun mereka belum dilenyapkan. Secara kekuatan mereka telah kalah, tetapi mereka masih ada dan masih memiliki peluang untuk melakukan kejahatan, peluang untuk menipu, menggoda dan membujuk kita menjadi sekutu-sekutu mereka agar mereka tidak sendirian pada saat dibinasakan nanti.

    Iblis dan sekutunya memang telah dikalahkan. Pertanyaannya: bagaimana dengan musuh-musuh kita, apakah musuh-musuh kita juga telah kita kalahkan???

    Musuh-musuh kita masih sama dengan musuh-musuh yang telah dikalahkan Yesus, selalu menimbulkan kecemasan, ketakutan, dan rasa putus asa dalam diri kita. Musuh-musuh kita itu memiliki nama samaran yang bermacam-macam seperti: kesakitan, ketakutan, kekurangan, kemiskinan, putus asa, keterikatan pada minuman keras dan obat-obatan, kebiasaan-kebiasaan buruk, kepahitan masa lalu, kemarahan, dendam, dsb. Itu semua adalah musuh-musuh kita.

    Sangat penting bagi kita untuk mengetahui musuh-musuh kita, musuh-musuh yang menguasai hidup kita. Itu adalah langkah pertama. Namun tak kalah penting lagi mengambil langkah untuk membuat musuh-musuh kita, membuat kelemahan kita, dosa-dosa kita menjadi musuh-musuh Allah. Kalau kita menyerahkan diri kita kedalam tanganNya dan hidup dalam ketaatan kepada Allah, maka musuh-musuh kita menjadi musuh-musuh Allah, dan musuh-musuh Allah juga menjadi musuh kita.

    Hal Keempat: Keselarasan dan Ketaatan Kepada Allah

    Pertanyaan yang selalu diajukan banyak orang percaya adalah mengapa musuh-musuh yang telah dicerai-beraikan Tuhan itu masih terus mampu mendominasi hidup kita?

    Jawabannya terletak pada apakah kita memberikan tempat perlindungan bagi mereka dalam hidup kita. Kalau Tuhan telah mengusir mereka, kalau Tuhan telah mencerai-beraikan mereka, maka jangan kita memberi tempat perlindungan, memberikan tempat persembunyian bagi mereka dalam diri kita. Karena kalau kita lakukan itu, maka kita sedang berkonflik, sedang bermusuhan dengan Tuhan dan bukan berpihak kepada Tuhan.

    Ketika kita berdiri menentang pekerjaan Tuhan, maka kita kehilangan kuasa Tuhan untuk mengalahkan musuh-musuh Tuhan, kita bahkan menjadi musuh-musuh Tuhan. Kalau kita menjadi musuh Tuhan, maka hanya bencana dan kemalangan yang datang menimpa kita.

    Alkitab mengatakan dalam Efesus 4:27: janganlah beri kesempatan kepada Iblis.

    Kalau musuh-musuh kita adalah musuh-musuh Tuhan maka ada kepastian bahwa mereka akan dicerai beraikan, mereka akan dihalau pergi. Karena itu periksalah apakah musuh-musuh yang telah dicerai-beraikan Tuhan tidak mengambil tempat persembunyian dalam diri kita. Hiduplah dalam keselarasan dan ketaatan kepada Tuhan agar kita selalu menikmati kemenanganNya dalam hidup kita.

    Hal Kelima: Panggilan kita adalah bangkit dan menang bersama Kristus Tuhan kita

    Panggilan atau tugas kewajiban kita adalah bangkit bersama Kristus Tuhan kita. Kita adalah bagian dari kebangkitan Kristus.

    Tuhan bangkit untuk memberikan penebusan dan harapan kepada kita orang-orang berdosa, kita sebenarnya tidak layak menerima pengampunan itu. Kita sama persis dengan salah seorang penyamun yang disalibkan bersama Yesus. Namun Yesus memberi pengampunan dan keselamatan baginya. Pengampunan itu diberikan dan bukan karena jasa-jasa kita.

    Melalui kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga, Ia memberikan Roh Kudusnya, agar Roh itu membantu kita melaksanakan firmanNya, agar firmanNya itu menjadi firman yang hidup yang ditulis bukan di atas batu atau kertas tetapi dituliskan langsung didalam hati kita.

    Melalui RohNya yang kudus, Yesus menaruh firmannya dalam mulut kita, agar melalui mulut kita, kita menceritakan kebesaran Allah dalam hidup kita, kita menceritakan mujizat-mujizat Allah, berkat-berkat Allah dalam hidup kita, agar hidup kita menjadi suatu kesaksian yang kudus bagi Dia, menjadi saksi bagi kemuliaan NamaNya.

    Hal inilah yang dimaksudkan Pemazmur dalam ayat 4: Tetapi orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita.

    Hal yang sama ditulis dalam Yesaya 59:20-21: Dan Ia akan datang sebagai Penebus untuk Sion dan untuk orang-orang Yakub yang bertobat dari pemberontakannya, demikianlah firman TUHAN. Adapun Aku, inilah perjanjian-Ku dengan mereka, firman TUHAN: Roh-Ku yang menghinggapi engkau dan firman-Ku yang Kutaruh dalam mulutmu tidak akan meninggalkan mulutmu dan mulut keturunanmu dan mulut keturunan mereka, dari sekarang sampai selama-lamanya, firman TUHAN.

    Hidup dalam kemenangan adalah hidup yang memberikan kesaksian tentang berbagai perbuatan ajaib Tuhan dalam hidup kita. Hidup dalam sukacita, dalam nyanyian syukur setiap hari. Roh kita bersukacita bersama Roh Allah. Seperti anjuran Paulus dalam Roma 12:1-2 agar mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadah yang sejati. Janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budi kita, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Tuhan menolong kita. Amin

  • Jangan Kuatir dan Resah

    Anak saya yang berada di kelas 2 SD bertanya kepada saya apa arti kata resah? Dia mungkin baru saja membaca buku dan menemukan kata itu yang tidak dimengertinya. Saya menjawab bahwa resah dapat berarti gelisah, kuatir, dan cemas.

    Sesudah menjawab pertanyaan anak saya ini, saya tergelitik untuk memikirkan arti jawaban saya tersebut.

    Memang situasi kehidupan kita sering membuat hidup kita tak pernah merasa damai. Ada-ada saja masalah atau situasi yang menimbulkan kekuatiran atau kecemasan dalam diri kita.

    Cemas akan pekerjaan kita, usaha kita, masa depan kita, atau apa saja yang ada di sekitar kita membuat kita kehilangan suasana bahagia, suasana damai, suasana sejahtera. Tampilan luar kita bisa saja kelihatan ceria, bisa kelihatan bahagia, namun di dalam hati, atau batin kita penuh dengan kecemasan, kegelisahan dan kekuatiran. Banyak kehidupan rumah tangga yang kelihatan luarnya bahagia, tetapi di dalamnya diliputi dengan kegelisahan, pertengkaran, curiga dan penderitaan.

    Banyak orang sering mencoba menutupi bagian dalam diri mereka yang penuh kekuatiran dan kecemasan dengan bertindak berani, bertindak gagah, bertindak ceria, namun sebenarnya jauh di dalam hati mereka penuh dengan perasaan cemas, gelisah dan kuatir.

    Sebagai orang kristen, apa yang harus kita lakukan untuk menghilangkan kecemasan dan kekuatiran dalam diri kita dan hidup dengan penuh kedamaian?

    Kita hanya bisa menghilangkan kegelisahan, ketakutan, atau kecemasan kita bila kita memiliki harapan. Tanpa harapan tak ada kepastian akan penyelesaian masalah kita, tak ada pegangan akan adanya pertolongan atau jalan keluar dari masalah kita. Ketika kita memiliki harapan, maka harapan itu memberikan kita titik terang, memberikan pegangan, memberikan kekuatan untuk terus bertahan, terus berjuang menghadapi semua rintangan, semua masalah ataupun ancaman.

    Namun harapan akan tinggal harapan kalau kita meletakkan harapan kita pada sesuatu yang kosong, yang kelihatannya besar, kuat, penuh gemerlapan, tetapi pada dasarnya kosong.

    Seekor anjing memburu dan menggonggong ssebuah mobil yang lewat di hadapannya, namun setelah ia mencapai mobil itu, ia tidak tahu mau diapakan mobil itu, karena tak ada sesuatu yang didapatinya, tak bisa dimakan, atau diapakan. Mobil yang dikejarnya tak sesuai dengan harapan, tak sesuai dengan jati dirinya, atau impiannya. Lebih baik ia memburu seekor kelinci atau kucing dari pada sebuah mobil. Ia akhirnya berjalan kembali dengan kecewa.

    Ada banyak tawaran dalam dunia di sekitar kita untuk mengobati kegelisahan, kekuatiran dan kecemasan kita. Dunia memberikan berbagai alternatif, berbagai resep bagi manusia. Namun tak ada resep yang bisa menjamin atau mujarab untuk menentramkan kegelisahan, kekuatiran dan kecemasan kita.

    Banyak orang mengira ketika mereka memiliki uang, mereka tak akan gelisah, kuatir atau cemas, tetapi justru uang menimbulkan lebih banyak kegelisahan, kekuatiran dan kecemasan.

    Sebagian orang mengira dengan memiliki kekuasaan mereka akan merasa tentram dan gembira, tetapi kekuasaan justru menimbulkan lebih banyak kegelisahan, kekuatiran dan kecemasan.

    Sebagian lagi mencoba mencari kesenangan dan ketentraman dengan obat-obatan dan minuman keras, mereka pergi ke tempat-tempat hiburan, namun tak ada kedamaian dan ketentraman yang mereka temukan, hanya kegelisahan dan makin terperosok jauh kedalam ketakutan, dan kegelisahan.

    Damai dan ketentraman hanya dapat kita temukan bukan di luar kita, tetapi melalui hubungan batin kita dengan Tuhan, Sang Pencipta kita. Ia yang menciptakan kita. Ia yang menaruh dalam diri kita hubungan penciptaan itu antara Dia dengan kita, sehingga ketika kita ada di dalam Dia kita mengalami kedamaian dan ketentraman, namun ketika kita memutuskan hubungan itu, maka kedamaian dan ketentraman di dalam diri kitapun juga ikut lenyap.

    Hubungan kita dengan Sang Pencipta kita bagaikan hubungan ranting dengan pohonnya. Ketika ranting terlepas dari pokok pohonnya, maka ranting itu akan menjadi kering dan mati. Begitu juga dengan kita, hidup kita akan merana dan akhirnya mati ketika kita melepaskan diri kita dari hubungan dengan Tuhan.

    Daud mengatakan dalam Mazmur 63:2-3: Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.

    Ya memang hanya dekat pada Tuhan saja, kita dapat merasakan ketenangan dan kedamaian. Di dalam Tuhan kita menerima penghiburan, menerima pengharapan akan masa depan kita, menemukan solusi dari semua kegelisahan hati kita, dan menerima jaminan pengampunan dari semua dosa, semua kesalahan yang menghantui hidup kita.

    Hanya melalui hubungan kita yang erat, yang akrab dengan Tuhan kita menemukan keteduhan dari semua kecemasan dan kegelisahan hati kita. Di dalam hubungan dengan Tuhan kita dipulihkan kembali, disembuhkan dari semua bilur-bilur masa lalu kita, luka-luka batin kita.

    Yesaya mengatakan dalam Yesaya 61:10: Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya.

    Di dalam Tuhan kita menemukan keselamatan, mendapatkan hidup baru, karena hanya Tuhan yang dapat memberikan keselamatan kekal, kehidupan baru, dunia baru bagi kita.

    Rasul Petrus mengatakan dalam I Petrus 5:7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu.

    Carilah Tuhan dalam kegelisahan dan kecemasan anda. Carilah dan temuilah Tuhan, serta ceritakan semua kegelisahan dan kecemasan anda, serahkan hidup anda padaNya, agar anda menemukan ketentraman, kedamaian, dan keselamatan dari padaNya. Amin. Tuhan menolong anda.

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.