Ada dua orang raja, sama-sama memerintah di Israel, raja yang pertama bernama Hizkia dan memerintah di kerajaan Yehuda (2 Raja-Raja 18-21). Sedangkan raja yang kedua bernama Ahazia, raja di kerajaan Israel (10 suku).

Persamaan dari kedua raja ini adalah bahwa mereka memerintah suku-suku Israel, Ahazia memerintah 10 suku, sedangkan Hizkia memerintah kerajaan Yehuda. Persamaan kedua raja ini adalah bahwa mereka sama-sama jatuh sakit. Ahazia sakit karena terjatuh dari kamar di tingkat atas istananya, sedangkan Hizkia jatuh sakit karena penyakit. Kedua-duanya sama-sama berada dalam keadaan hampir mati.

Namun ada perbedaan antara kedua raja itu yang sangat significant. Raja Ahazia adalah raja yang bertindak jahat di mata Tuhan dengan mengikuti kelakuan orangtuanya , Ahab dan Isebel (1 Raja-Raja 22:52). Sedangkan raja Hizkia adalah raja yang taat kepada Tuhan. Ia selalu bersandar dan bertindak menurut apa yang diperintahkan oleh Tuhan.

Ketika keduanya berada dalam keadaan hampir mati, maka raja Ahazia mengirimkan orang-orang kepercayaannya, seorang perwira dan sejumlah tentara, pergi bertanya kepada Baal-Zebub apakah ia akan sembuh dari penyakitnnya itu. Baal-Zebub adalah dewa orang Filistin yang berada di kota Ekron.

Namun di tengah perjalanan mereka dari Samaria ke Ekron, Tuhan menyuruh nabi Elia untuk menemui utusan Ahazia dengan mengatakan bahwa: “apakah di Israel sudah tidak ada Tuhan lagi sehingga engkau pergi bertanya kepada Baal-Zebub?” Karena sikap Ahazia itu, maka Tuhan mengatakan bahwa raja Ahazia tidak akan bangun lagi dari tempat tidur, di mana dia berbaring, sebab dia pasti akan mati.” (2 Raja-Raja 1:4)

Sedangkan raja Hizkia didatangi oleh nabi Yesaya yang memberitakan bahwa kematiaannya sudah dekat sehingga Hizkia diminta untuk segera menyampaikan pesan-pesan terakhirnya kepada keluarganya (2 Raja-Raja 20:1).

Kedua raja ini sama-sama menerima firman Tuhan melalui mulut nabi-nabi: Ahazia melalui mulut nabi Elia, sedangkan Hizkia melalui mulut nabi Yesaya. Hal yang menarik di cermati adalah bagaimana reaksi kedua raja tersebut sesudah menerima berita kematian mereka.

Reaksi Ahazia atas berita kematiannya adalah permusuhan, pertunjukkan kekuasaan, terutama kepada nabi Elia yang menyampaikan firman Tuhan tersebut. Ahazia mengirimkan seorang perwira dengan 50 tentara untuk memaksa nabi Elia datang kepadanya. Ketika utusan itu sampai kepada Elia, maka berkatalah perwira itu kepada Elia dengan sombong: "Hai abdi Allah, raja bertitah: Turunlah!"

Elia menjawab: "Kalau benar aku abdi Allah, biarlah turun api dari langit memakan engkau habis dengan kelima puluh anak buahmu." Maka turunlah api dari langit memakan dia habis dengan kelima puluh anak buahnya. (2 Raja-Raja 1:10).

Mendengar apa yang terjadi pada utusannya, raja Ahazia bukannya merendah dan bertobat, ia bahkan mengirimkan lagi utusan yang kedua, seorang perwira dengan 50 tentaranya. Sama dengan utusan yang pertama, utusan yang kedua itu sampai kepada Elia dan berkata dengan sombong: "Hai abdi Allah, beginilah titah raja: Segeralah turun!"

Tetapi sekali lagi Elia menjawab: "Kalau benar aku abdi Allah, biarlah turun api dari langit memakan engkau habis dengan kelima puluh anak buahmu!" Maka turunlah api Allah dari langit memakan dia habis dengan kelima puluh anak buahnya.

Kejadian ini tidak menjadi pelajaran bagi sang raja, ia tetap ngotot mengirimkan utusannya untuk memaksa Elia datang kepadanya. Kali ini ia mengirimkan lagi seorang perwira dengan 50 tentaranya.

Namun perwira yang datang ini mungkin telah belajar dari kejadian terdahulu. Ia memiliki kerendahan hati. Ia berbeda dengan rajanya yang sombong dan angkuh. Sang perwira ini datang kepada Elia dan berlutut di depan Elia. Ia memohon belas kasihan kepadanya, katanya: "Ya abdi Allah, biarlah kiranya nyawaku dan nyawa kelima puluh orang hamba-hambamu ini berharga di matamu. Bukankah api sudah turun dari langit memakan habis kedua perwira yang dahulu dengan kelima puluh anak buah mereka? Tetapi sekarang biarlah nyawaku berharga di matamu."

Sang perwira ketiga ini meminta belas kasihan Elia agar nyawanya dan nyawa kelima puluh anak buahnya bisa diampuni, karena ia beserta dengan anak buahnya hanya sekedar menjalankan perintah raja, mereka bukan bagian dari keangkuhan raja, mereka hanyalah sekedar pelaksana saja.

Tuhan mendengar permohonan perwira yang rendah hati ini dan ia diampuni beserta dengan anak buahnya. Tuhan meminta Elia untuk pergi bersama mereka menemui raja Ahazia.

Berbeda dengan raja Ahazia, raja Hizkia memiliki reaksi yang bertolak belakang. Ketika nabi Yesaya selesai menyampaikan firman Tuhan mengenai kematiannya, Hizkia menangis dihadapan Tuhan. Seorang raja yang memiliki kekuasaan, justru menangis tanpa malu-malu di hadapan banyak orang. Ia menangis dihadapan Tuhan.

Dalam 2 Raja-Raja 20: 2 dan 3, kita dapat membaca bagaimana reaksi raja Hizkia: 20:2 Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN: 20:3 "Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu." Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat.

Apa yang dapat kita pelajari dari cerita pengalaman dua orang raja ini?

Orang percaya menyambut situasi yang dihadapinya dengan meminta campur tangan Tuhan, memohon belas kasihan Tuhan, meminta pengampunan Tuhan untuk mengatasi situasi yang sedang dihadapinya. Sedangkan orang yang tidak mengenal Tuhan bereaksi dengan kesombongannya, menggunakan kekuatannya sendiri, bahkan mau menunjukkan kesombongannya dihadapan Tuhan. Hal ini dapat kita cermati dari sikap raja Ahazia yang mengirimkan utusan berkali-kali untuk memaksa nabi Elia datang kepadanya. Kita juga bisa melihat kesombongan dua utusan terdahulu yang dapat kita bayangkan tiba dirumah nabi Elia, berdiri bercagak pinggang menghadap Elia sambil mengacungkan tangan dan memerintah Elia untuk segera ikut dengannya menghadap raja. Bandingkan dengan sikap perwira yang ketiga yang justru datang menyembah dan memohon belas kasihan Elia atas nyawanya sendiri dan nyawa kelimapuluh anak buahnya. Ada rasa hormat dan takut akan Tuhan dalam diri sang perwira ketiga itu.

Perbedaan reaksi kita terhadap situasi kita berdampak pada perbedaan solusi terhadap masalah kita. Cara pandang kita memberikan perbedaan dalam hasil akhir yang kita dapatkan. Dua perwira pertama datang dengan kesombongan dan berakhir dengan kebinasaaan ditelan api dari langit. Ahazia bereaksi dengan kesombongan dan berakhir dengan kematian. Kontras dengan reaksi perwira ketiga yang datang dengan rasa hormat dan rendah hati serta takut akan Tuhan. Ia diampuni beserta dengan seluruh anak buahnya. Hal yang sama terjadi juga dengan Hizkia, Tuhan mengubah keputusanNya kepada Hizkia setelah menyaksikan tangisan Hizkia yang tanpa malu-malu dihadapan banyak orang. Allah yang begitu berkuasa, mengubah keputusannya mendengar tangisan seorang anak manusia kepadaNya. Tuhan memperpanjang umur Hizkia 15 tahun lagi.

Reaksi dan doa Hizkia dihadapan Tuhan dengan penuh tangisan menimbulkan rasa iba Tuhan dan Ia memutuskan mengubah keputusan Nya kepada Hizkia. Hal yang sama terjadi pada raja dan seluruh rakyat kota Niniweh ketika nabi Yunus menyampaikan berita penghukuman Tuhan atas mereka. Raja beserta seluruh rakyat mengenakan kain karung dan debu, mereka merendahkan diri dihadapan Tuhan dan memohon belas kasihan Tuhan, mereka diampuni.

Tuhan bersedia mengampuni kesalahan kita. Tuhan bersedia mengubah keputusanNya kepada kita bila kita mau datang kepadaNya dan memohon pengampunan, belas kasihanNya. Periwra ketiga itu diampuni; Hizkia diperpanjang umurnya; raja dan seluruh rakyat kota Niniweh juga mengalami pengampunan Tuhan.

Cerita pengalaman dua orang raja ini mengingatkan kita pada cerita dua orang penjahat yang disalibkan bersama dengan Yesus. Keduanya sama-sama penjahat yang harus menerima hukuman kematian. Namun perbedaan cara pandang mereka, perbedaan reaksi mereka terhadap apa yang menimpa mereka, membuat perbedaan hakiki pada akhir cerita mereka. Penjahat pertama bereaksi dengan menghina Yesus, sedangkan yang kedua menerima keputusan kesalahannya tetapi ia memohon pengampunan Yesus sekaligus pertobatan. Kematiannya penjahat yang pertama berakhir dalam penghukuman abadi di neraka, sedangkan yang kedua berakhir dalam kerajaan surga.

Cara pandang kita, reaksi kita terhadap suatu masalah, memberikan perbedaan kita dengan orang lain. Ketika kita bereaksi dengan menyembah Tuhan, memohon pertolongan dan belas kasihan Tuhan, maka ada jaminan pertolongan, ada jaminan keselamatan, bahkan meskipun lubang kematian sudah diambang pintu hidup kita, Allah dapat mengubah kematian menjadi kehidupan, mengubah kehidupan yang sudah hancur menjadi berguna bagi Dia dan banyak orang, menyembuhkan kepahitan, kesakitan menjadi puji-pujian bagiNya. Amin