Bacaan Yoshua 24:14-31
Sepanjang hidup setiap orang dia harus memilih jalan mana yang akan dia tempuh, alternatif mana yang akan dia ambil, dan saran mana yang akan diikuti. Pilihan merupakan kebebasan yang dimiliki oleh manusia. Tuhan memberikan kepada kita kebebasan untuk memilih dan membuat keputusan. Tuhan tidak pernah memaksa kita membuat pilihan yang sesuai dengan kehendakNya, kita sendiri yang harus menentukan pilihan kita.
Pilihan memiliki konsekuensi. Karena setiap pilihan menuju kepada hasil yang berbeda-beda pula. Sejak k ita lahir sampai kita dewasa, kita diajari untuk membuat pilihan, membuat keputusan. Pendidikan entah dirumah atau di sekolah berupaya mendidik kita agar memiliki pertimbangan dan membuat keputusan yang benar. Namun tetap saja, kita sendiri yang harus memilih dan kita sendiri yang akan merasakan dampak hasilnya.
Bacaan kita menyajikan cerita mengenai suatu pilihan hidup. Pilihan hidup merupakan kunci, merupakan inti dari berbagai pilihan atau keputusan berikutnya yang akan kita lakukan seterusnya. Pilihan pertama ini merupakan gerbang bagi pilihan-pilihan lanjutan dalam hidup kita karena pilihan ini menentukan kemana arah kita.
Pilihan yang dimaksud adalah pilihan mengenai apakah kita akan taat kepada Tuhan atau taat kepada kemauan kita sendiri, kepada idola-idola kita sendiri, atau mengikuti arus pikiran banyak orang, mengikuti pendapat umum dan menyangkal Tuhan.
Cerita dalam bacaan itu bermula ketika Yoshua, yang menggantikan Musa memimpin bangsa Israel, telah tua, ia sudah berumur sekitar 110 tahun, dan bangsa Israel telah menikmati kehidupan di tanah Kanaan, tanah perjanjian yang dijanjikan Tuhan kepada nenek moyang mereka yaitu Abraham.
Yoshua merasa bahwa kehidupan yang serba enak dan hidupnya yang tidak lama lagi, maka ia bermaksud mengingatkan kembali komitmen bangsa ini kepada Allah yang telah memimpin mereka, Allah yang telah menepati janjiNya kepada mereka. Yoshua ingin bangsa ini, sesudah ia meninggal, masih tetap hidup dalam ketaatan kepada Tuhan.
Yoshua memulai percakapannya dengan para tua-tua Israel dengan mengingatkan mereka bagaimana Allah memulai karyaNya dengan memilih Abraham, nenek moyang mereka. Abraham dan ayahnya Nahor, sebenarnya tidak beribadah kepada Allah, tetapi kepada dewa-dewa lain. Allah memanggil Abraham keluar dari kaum keluarganya dan berjanji untuk membuat keturunan Abraham menjadi suatu bangsa yang besar dan akan memberikan kepada mereka suatu tanah yang penuh dengan air susu dan madu, tanah perjanjian. Allah memperlihatkan kepada Abraham tanah itu.
Sesudah itu Yoshua mengingatkan mereka bagaiaman Allah menganugerahkan Ishak kepada Abraham, dan Ishak memiliki Esau dan Yakub. Yakub memiliki anak-anak yang kemudian pergi ke Mesir dan memiliki keturunan yang sangat banyak. Tetapi kehidupan selanjutnya di Mesir membuat bangsa Israel kemudian diperbudak oleh bangsa Mesir dan mereka berteriak meminta tolong kepada Tuhan. Tuhan mengirimkan Musa dan Harun untuk menuntun mereka keluar dari Mesir. Dalam perjalanan di padang gurun itu diceritakan kembali oleh Yoshua bagaimana tangan Tuhan yang kuat tetap menuntun mereka sehingga tak ada satu musuhpun dapat mengalahkan mereka, bahkan Tuhan menurunkan roti dan daging dari langit, serta air dari batu cadas. Pada akhirnya mereka sampai ke tanah perjanjian, tanah yang penuh dengan air susu dan madu, tanah yang subur, semuanya bukan karena kemampuan mereka, tetapi karena Tuhan memberikannya kepada mereka.
Dalam ayat 14 Yoshua mengingatkan mereka untuk tetap taat kepada Tuhan. Tetap tunduk dan mengormati Tuhan, agar berkat-berkat seperti yang saat ini mereka rasakan dan miliki dapat terus terjadi dalam hidup mereka. Yoshua meminta mereka untuk takut akan TUHAN dan beribadah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Tidak boleh ada allah lain, tetapi hanya beribadah kepada TUHAN.
Dalam ayat 15, Yoshua meminta mereka untuk memilih, apakah mereka akan tetap beribadah kepada TUHAN atau kepada dewa-dewa nenek moyang mereka. Yoshua sendiri mengatakan bahwa apapun pilihan mereka, ia sendiri akan tetap memilih beribadah kepada TUHAN!
Perkataan Yoshua ini merupakan suatu ketegasan pilihan. Apapun pilihanmu, tetapi aku akan tetap beribadah kepada Tuhan.
Yoshua menentukan pilihannya berdasarkan bukti-bukti nyata perbuatan Tuhan di masa lalu, dan sampai dengan saat ini. Yoshua menghayati bahwa bukti-bukti itu sudah jauh mencukupi untuk tetap memilih beribadah kepada Tuhan. Yoshua yakin bahwa kalau Tuhan mampu berbuat hal-hal dasyat, mujisat-mujisat, di masa lalu sampai dengan saat ini, maka Tuhan yang sama akan tetap mampu melakukannya di masa depan, asalkan kita selalu hidup dalam kesetiaan dihadapan hadiratNya.
Menurut Yoshua, Tuhan tak pernah gagal menolong mereka. Tuhan tak pernah membiarkan mereka terlantar. Ia adalah Tuhan yang mendengar tangisan mereka, bahkan meskipun mereka kadang tak setia kepadaNya. Tetapi ketika mereka berbalik dan memohon pertolonganNya, Tuhan tetap setia kepada mereka. Tuhan seperti itu yang menurut Yoshua adalah Tuhan yang patut disembah. Kita menilai Tuhan karena perbuatan-perbuatan ajaib dan besar yang telah dilakukanNya dalam hidup kita.
Kita beribadah kepada Tuhan bukan karena kita takut akan kuasaNya yang besar, tetapi karena kasih sayangNya yang tak berkesudahan. Kasih setia Tuhan yang begitu besar dan agung kepada kita, meskipun kita sering tersandung dalam dosa dan jatuh, tetapi Tuhan tetap setia dan dengan kasih sayang mengulurkan tanganNya menolong kita, dan mengatur kembali hidup kita.
Yoshua mengajarkan kepada kita bahwa dalam menentukan pilihan mengenai kepada siapa kita beribadah, tidak ada kata demokrasi, tidak ada rasa kuatir menjadi minoritas, kuatir ditinggalkan oleh kelompok yg lebih besar. Semuanya adalah keputusan individu dan bukan keputusan orang lain. Yoshua mengatakan bahwa bahkan meskipun kalian semua menolak untuk beribadah kepada Tuhan yang telah berbuat baik kepada kamu, namun aku akan terus beribadah kepada Tuhan, aku beserta seluruh keluargaku.
Itulah pilihan yang harus dibuat oleh setiap orang sepanjang hidupnya. Terus beribadah kepada Tuhan, meskipun ada banyak tawaran, ada banyak iming-iming seperti kekuasaan, kekayaan atau bahkan hukuman mati.
Zadrach, Mesach dan Abednego menghadapi pilihan itu apakah tetap menyembah Allah atau menyembah patung Nebukadneser. Mereka harus menentukan pilihan mereka dibawah ancaman hukuman mati dilemparkan kedalam dapur api yang menyala-nyala. Syukur mereka memilih yang benar, tetap beribadah kepada Allah dan diselamatkan.
Mempertahankan iman percaya ditengah situasi seperti itu memang dibutuhkan keyakinan yang kuat dan teguh. Namun bila kita pernah merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita, pernah merasakan perbuatan-perbuatan besar Tuhan dalam hidup kita, mujisat-mujisat Tuhan, kita memiliki pengalaman batin bersama Tuhan yang memberikan kita keyakinan yang kuat dan teguh. Pengalaman akrab bersama Tuhan memberikan pegangan bahwa Tuhan itu ada dan tetap ada. Ia itu tidak berubah dulu, saat ini dan selamannya. Ia tetap setia dan akan selalu setia pada janjiNya kepada kita yaitu akan menyertai kita dalam situasi apapun yang kita hadapi.
Apakah situasi hidup anda saat ini mengharuskan anda membuat pilihan, apakah terus beribadah kepada Tuhan, apakah terus setia kepada Tuhan atau menyangkal Tuhan?
Kalau itu yang sedang anda hadapi, saya mengajak anda untuk memilih Tuhan. Jangan meninggalkan iman anda hanya karena tawaran kebahagiaan sesaat yang pada akhirnya akan membuat anda kecewa. Bahkan kalaupun anda terlanjur telah membuat keputusan yang salah, saya mengajak anda kembali kepada Tuhan dan memohon pengampunan. Tuhan tetap mencintai anda dan bersedia menerima anda kembali. Amin.