Search blog.co.uk

Posts archive for: May, 2009
  • Merancang Perjalanan Hidup Kita

    Mazmur 32:8: Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.

    Sebagai orang yang tidak mengenal jalan di kota Bandung, saya dan beberapa teman pernah tersesat saat mencari jalan keluar kearah Jakarta. Jalan di kota ini hampir semuanya bersifat satu arah dan kadang macet. Sesudah lama berputar-putar dan bingung, kami menelpon seorang teman untuk meminta petunjuk bagaimana kami bisa mencapai jalan ke Jakarta yang benar.

    Begitu juga dengan kehidupan kita, mencari jalan menuju masa depan di tengah berbagai ”jalan”, alternatif, saran, anjuran, godaan dunia saat ini, maka tanpa panduan yang benar dari seorang ahli, kita akan tersesat.

    Mencoba merancang kehidupan kita, masa depan kita, tanpa memohon Tuhan membimbing kita, sama saja dengan meminta nasihat pada orang yang tak mengerti apa-apa untuk menuntun kita.

    Tuhanlah yang mengatur masa depan kita. Tuhanlah yang merancang kehidupan manusia. Jadi ketika kita memohon Tuhan merancang hidup kita, Ia akan menunjukkan kepada kita jalan mana yang harus kita tempuh menuju kebahagiaan masa depan kita.

    Tanpa Tuhan yang memimpin kita, hidup kita akan tersesat. Mazmur 85:8 berkata: Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan?

  • Memahami Penjara Kita

    Menurut Wikipedia versi bahasa Indonesia penjara adalah tempat di mana orang-orang dikurung dan dibatasi berbagai macam kebebasan. Kamus Merriam-Webster menambah arti lain penjara sebagai suatu situasi atau keadaan terkurung (a state of confinement or captivity).

    Memang penjara bersifat membatasi ruang lingkup seseorang, membatasi hak-hak seseorang, membatasi pergaulannya dan kebebasannya yang normal. Dipenjara berarti berada dalam kurungan, anda tidak memiliki kebebasan untuk melakukan sesuatu, ruang gerak anda dibatasi.

    Dalam Alkitab kita dapat membaca banyak cerita mengenai para hamba Tuhan yang dipenjara. Yusuf dipenjara, ia dirantai baik kaki maupun lehernya dengan besi. Yohanes Pembaptis, Petrus, dan Paulus adalah contoh lain mereka yang dipenjara.

    Ketika Petrus dipenjara ia bukan hanya dibelenggu dengan rantai besi, tetapi rantai itu diikat kepada tangan dua orang tentara Herodes yang ikut tidur dengannya. Selain itu, di pintu bagian luar masih ada sejumlah prajurit yang menjaga penjara tersebut. Petrus dipenjarakan dan akan dihukum mati keesokan harinya.

    Ketika Paulus di penjara, kedua kakinya dipasung, dan sejumlah tentara Romawi berjaga-jaga di depan pintu penjara.

    Bagi orang percaya bukan penjara yang menjadi pokok masalah tetapi memahami bagaimana sikap kita ketika terpenjara jauh lebih penting, dari pada memahami situasi penjara.

    Paulus dipenjara tetapi ia bernyanyi memuji Tuhan. Apa yang terjadi sesudah itu adalah gempa bumi yang hebat dan semua belenggu besi terlepas, pintu-pintu penjara terbuka lebar, dan membuat ketakutan perwira penjaga penjara. Tapi Paulus menenangkannya sehingga ia pada akhirnya menerima Yesus sebagai Juruselamatnya.

    Petrus dipenjarakan tetapi sikapnya benar dihadapan Tuhan sehingga Tuhan menyuruh malaikatnya membuka semua pintu penjara dan membebaskannya.

    Daniel dilemparkan dalam penjara yang dipenuhi banyak singa, namun singa-singa itu tak dapat berbuat apa-apa baginya, dan ia bahkan dilepaskan keesokan harinya.

    Zadrach, Mesach, dan Abednego dilemparkan kedalam penjara dapur api yang dipanaskan tujuh kali, namun Tuhan melepaskan mereka, bahkan raja Nebukadneser akhirnya mengakui Allah mereka sebagai Allah yang benar dan berkuasa.

    Yusuf dipenjara tetapi ia bahkan dipercaya oleh kepala penjara. Ia kemudian berkenalan dengan juru roti dan minum raja yang kemudian menyampaikan kepada raja kemampuan Yusuf menerjemahkan mimpi. Ia kemudian menjadi wakil raja.

    Sikap kita ketika terpenjarakan mengubah arah perjalanan hidup kita. Sikap seseorang membuat perbedaan siapa kita dibandingkan dengan orang lain. Ketika kita memiliki sikap yang benar dihadapan Tuhan, maka penjara sekalipun tak dapat merintangi kuasa dan kasih Tuhan kepada kita. Penjara boleh memenjarakan kita, tetapi penjara tak dapat membatasi Tuhan. Tuhan dapat menjangkau kita dimanapun kita berada. Tak ada suatu hal yang dapat merintangi kuasa Allah kepada kita, ketika kita bersama dengan Dia.

    Dalam hidup kita manusia, penjara tidak selamanya berupa penjara fisik, terkurung dalam sel penjara karena alasan tertentu, tetapi juga bisa berarti terperangkap dalam situasi ketidakberdayaan, situasi dimana meskipun fisik bisa bebas bergerak tetapi kondisi hidup kita terperangkap dalam situasi yang itu-itu saja, tak ada kemajuan, tak ada peningkatan, tak ada harapan akan masa depan yang lebih baik. Itu adalah penjara kehidupan, ketika kita kehilangan masa depan, kehilangan harapan akan sesuatu yang lebih baik itu adalah “penjara hidup kita”. Situasi membuat kita terpenjara secara sosial, ekonomi, pendidikan, dan keamanan.

    Penjara-penjara dalam arti seperti yang disebutkan terakhir memiliki dampak yang sering jauh lebih buruk dari sekedar penjara di balik jeruji besi. Karena penjara sosial, ekonomi, pendidikan dan keamanan menimbulkan rasa frustasi, rasa apatis, dan kehilangan gairah hidup. Tak ada impian akan masa depan.

    Ketika hidup anda terkurung pada rutinitas, berputar-putar pada hal-hal yang itu-itu saja, anda sudah terpenjara. Karena hidup sebagai manusia adalah suatu perjalanan ke depan, suatu pertualangan, suatu eksplorasi hal-hal yang baru. Ketika hidup kita terperangkap dalam situasi yang monoton, maka sebagai manusia sebenarnya kita telah kehilangan hakekat hidup kita, atau jati diri kita sebagai manusia, apalagi jati diri sebagai orang beriman.

    Ketika iman kita hanya suam-suam kuku, tidak panas, tidak juga dingin, tidak bertumbuh menjadi iman yang dewasa, maka kita sebenarnya sedang menuju kepada “penjara kita sendiri”.

    Bangsa Israel terperangkap dalam “penjara perbudakan” selama sekian ratus tahun sebelum Tuhan datang membebaskan mereka. Hidup mereka dari hari kehari hanyalah bekerja paksa.

    Ketika Israel memberontak kepada Tuhan, Allah membiarkan mereka terpenjara dengan berputar-putar di padang gurun selama 40 tahun, sampai satu generasi bangsa itu mati, sebelum Allah menuntun kembali mereka masuk kedalam tanah perjanjian.

    Memahami penjara dimana kita terperangkap di dalamnya sangat penting. Namun yang lebih penting dari itu adalah memiliki sikap yang benar kepada Tuhan saat kita “terperangkap dalam penjara kita”

    Ketika kita menaruh sikap benar kepada Allah, maka kasih setiaNya akan menjangkau kita, akan merangkul kita, sehingga apapun situasi “penjara kita”, tidak akan mampu membuat kita frustasi atau kehilangan harapan. Dalam tangan Tuhan hidup kita akan dipakaiNya menjadi alat bagi kemuliaan namaNya, bahkan meskipun kita masih ada dalam “penjara kita”. Amin.

  • Pilihan Ada Di Tangan Anda: Siapa yang Anda Pilih?

    Bacaan Yoshua 24:14-31

    Sepanjang hidup setiap orang dia harus memilih jalan mana yang akan dia tempuh, alternatif mana yang akan dia ambil, dan saran mana yang akan diikuti. Pilihan merupakan kebebasan yang dimiliki oleh manusia. Tuhan memberikan kepada kita kebebasan untuk memilih dan membuat keputusan. Tuhan tidak pernah memaksa kita membuat pilihan yang sesuai dengan kehendakNya, kita sendiri yang harus menentukan pilihan kita.

    Pilihan memiliki konsekuensi. Karena setiap pilihan menuju kepada hasil yang berbeda-beda pula. Sejak k ita lahir sampai kita dewasa, kita diajari untuk membuat pilihan, membuat keputusan. Pendidikan entah dirumah atau di sekolah berupaya mendidik kita agar memiliki pertimbangan dan membuat keputusan yang benar. Namun tetap saja, kita sendiri yang harus memilih dan kita sendiri yang akan merasakan dampak hasilnya.

    Bacaan kita menyajikan cerita mengenai suatu pilihan hidup. Pilihan hidup merupakan kunci, merupakan inti dari berbagai pilihan atau keputusan berikutnya yang akan kita lakukan seterusnya. Pilihan pertama ini merupakan gerbang bagi pilihan-pilihan lanjutan dalam hidup kita karena pilihan ini menentukan kemana arah kita.

    Pilihan yang dimaksud adalah pilihan mengenai apakah kita akan taat kepada Tuhan atau taat kepada kemauan kita sendiri, kepada idola-idola kita sendiri, atau mengikuti arus pikiran banyak orang, mengikuti pendapat umum dan menyangkal Tuhan.

    Cerita dalam bacaan itu bermula ketika Yoshua, yang menggantikan Musa memimpin bangsa Israel, telah tua, ia sudah berumur sekitar 110 tahun, dan bangsa Israel telah menikmati kehidupan di tanah Kanaan, tanah perjanjian yang dijanjikan Tuhan kepada nenek moyang mereka yaitu Abraham.

    Yoshua merasa bahwa kehidupan yang serba enak dan hidupnya yang tidak lama lagi, maka ia bermaksud mengingatkan kembali komitmen bangsa ini kepada Allah yang telah memimpin mereka, Allah yang telah menepati janjiNya kepada mereka. Yoshua ingin bangsa ini, sesudah ia meninggal, masih tetap hidup dalam ketaatan kepada Tuhan.

    Yoshua memulai percakapannya dengan para tua-tua Israel dengan mengingatkan mereka bagaimana Allah memulai karyaNya dengan memilih Abraham, nenek moyang mereka. Abraham dan ayahnya Nahor, sebenarnya tidak beribadah kepada Allah, tetapi kepada dewa-dewa lain. Allah memanggil Abraham keluar dari kaum keluarganya dan berjanji untuk membuat keturunan Abraham menjadi suatu bangsa yang besar dan akan memberikan kepada mereka suatu tanah yang penuh dengan air susu dan madu, tanah perjanjian. Allah memperlihatkan kepada Abraham tanah itu.

    Sesudah itu Yoshua mengingatkan mereka bagaiaman Allah menganugerahkan Ishak kepada Abraham, dan Ishak memiliki Esau dan Yakub. Yakub memiliki anak-anak yang kemudian pergi ke Mesir dan memiliki keturunan yang sangat banyak. Tetapi kehidupan selanjutnya di Mesir membuat bangsa Israel kemudian diperbudak oleh bangsa Mesir dan mereka berteriak meminta tolong kepada Tuhan. Tuhan mengirimkan Musa dan Harun untuk menuntun mereka keluar dari Mesir. Dalam perjalanan di padang gurun itu diceritakan kembali oleh Yoshua bagaimana tangan Tuhan yang kuat tetap menuntun mereka sehingga tak ada satu musuhpun dapat mengalahkan mereka, bahkan Tuhan menurunkan roti dan daging dari langit, serta air dari batu cadas. Pada akhirnya mereka sampai ke tanah perjanjian, tanah yang penuh dengan air susu dan madu, tanah yang subur, semuanya bukan karena kemampuan mereka, tetapi karena Tuhan memberikannya kepada mereka.

    Dalam ayat 14 Yoshua mengingatkan mereka untuk tetap taat kepada Tuhan. Tetap tunduk dan mengormati Tuhan, agar berkat-berkat seperti yang saat ini mereka rasakan dan miliki dapat terus terjadi dalam hidup mereka. Yoshua meminta mereka untuk takut akan TUHAN dan beribadah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Tidak boleh ada allah lain, tetapi hanya beribadah kepada TUHAN.

    Dalam ayat 15, Yoshua meminta mereka untuk memilih, apakah mereka akan tetap beribadah kepada TUHAN atau kepada dewa-dewa nenek moyang mereka. Yoshua sendiri mengatakan bahwa apapun pilihan mereka, ia sendiri akan tetap memilih beribadah kepada TUHAN!

    Perkataan Yoshua ini merupakan suatu ketegasan pilihan. Apapun pilihanmu, tetapi aku akan tetap beribadah kepada Tuhan.

    Yoshua menentukan pilihannya berdasarkan bukti-bukti nyata perbuatan Tuhan di masa lalu, dan sampai dengan saat ini. Yoshua menghayati bahwa bukti-bukti itu sudah jauh mencukupi untuk tetap memilih beribadah kepada Tuhan. Yoshua yakin bahwa kalau Tuhan mampu berbuat hal-hal dasyat, mujisat-mujisat, di masa lalu sampai dengan saat ini, maka Tuhan yang sama akan tetap mampu melakukannya di masa depan, asalkan kita selalu hidup dalam kesetiaan dihadapan hadiratNya.

    Menurut Yoshua, Tuhan tak pernah gagal menolong mereka. Tuhan tak pernah membiarkan mereka terlantar. Ia adalah Tuhan yang mendengar tangisan mereka, bahkan meskipun mereka kadang tak setia kepadaNya. Tetapi ketika mereka berbalik dan memohon pertolonganNya, Tuhan tetap setia kepada mereka. Tuhan seperti itu yang menurut Yoshua adalah Tuhan yang patut disembah. Kita menilai Tuhan karena perbuatan-perbuatan ajaib dan besar yang telah dilakukanNya dalam hidup kita.

    Kita beribadah kepada Tuhan bukan karena kita takut akan kuasaNya yang besar, tetapi karena kasih sayangNya yang tak berkesudahan. Kasih setia Tuhan yang begitu besar dan agung kepada kita, meskipun kita sering tersandung dalam dosa dan jatuh, tetapi Tuhan tetap setia dan dengan kasih sayang mengulurkan tanganNya menolong kita, dan mengatur kembali hidup kita.

    Yoshua mengajarkan kepada kita bahwa dalam menentukan pilihan mengenai kepada siapa kita beribadah, tidak ada kata demokrasi, tidak ada rasa kuatir menjadi minoritas, kuatir ditinggalkan oleh kelompok yg lebih besar. Semuanya adalah keputusan individu dan bukan keputusan orang lain. Yoshua mengatakan bahwa bahkan meskipun kalian semua menolak untuk beribadah kepada Tuhan yang telah berbuat baik kepada kamu, namun aku akan terus beribadah kepada Tuhan, aku beserta seluruh keluargaku.

    Itulah pilihan yang harus dibuat oleh setiap orang sepanjang hidupnya. Terus beribadah kepada Tuhan, meskipun ada banyak tawaran, ada banyak iming-iming seperti kekuasaan, kekayaan atau bahkan hukuman mati.

    Zadrach, Mesach dan Abednego menghadapi pilihan itu apakah tetap menyembah Allah atau menyembah patung Nebukadneser. Mereka harus menentukan pilihan mereka dibawah ancaman hukuman mati dilemparkan kedalam dapur api yang menyala-nyala. Syukur mereka memilih yang benar, tetap beribadah kepada Allah dan diselamatkan.

    Mempertahankan iman percaya ditengah situasi seperti itu memang dibutuhkan keyakinan yang kuat dan teguh. Namun bila kita pernah merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita, pernah merasakan perbuatan-perbuatan besar Tuhan dalam hidup kita, mujisat-mujisat Tuhan, kita memiliki pengalaman batin bersama Tuhan yang memberikan kita keyakinan yang kuat dan teguh. Pengalaman akrab bersama Tuhan memberikan pegangan bahwa Tuhan itu ada dan tetap ada. Ia itu tidak berubah dulu, saat ini dan selamannya. Ia tetap setia dan akan selalu setia pada janjiNya kepada kita yaitu akan menyertai kita dalam situasi apapun yang kita hadapi.

    Apakah situasi hidup anda saat ini mengharuskan anda membuat pilihan, apakah terus beribadah kepada Tuhan, apakah terus setia kepada Tuhan atau menyangkal Tuhan?

    Kalau itu yang sedang anda hadapi, saya mengajak anda untuk memilih Tuhan. Jangan meninggalkan iman anda hanya karena tawaran kebahagiaan sesaat yang pada akhirnya akan membuat anda kecewa. Bahkan kalaupun anda terlanjur telah membuat keputusan yang salah, saya mengajak anda kembali kepada Tuhan dan memohon pengampunan. Tuhan tetap mencintai anda dan bersedia menerima anda kembali. Amin.

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.