Menurut Wikipedia versi bahasa Indonesia penjara adalah tempat di mana orang-orang dikurung dan dibatasi berbagai macam kebebasan. Kamus Merriam-Webster menambah arti lain penjara sebagai suatu situasi atau keadaan terkurung (a state of confinement or captivity).
Memang penjara bersifat membatasi ruang lingkup seseorang, membatasi hak-hak seseorang, membatasi pergaulannya dan kebebasannya yang normal. Dipenjara berarti berada dalam kurungan, anda tidak memiliki kebebasan untuk melakukan sesuatu, ruang gerak anda dibatasi.
Dalam Alkitab kita dapat membaca banyak cerita mengenai para hamba Tuhan yang dipenjara. Yusuf dipenjara, ia dirantai baik kaki maupun lehernya dengan besi. Yohanes Pembaptis, Petrus, dan Paulus adalah contoh lain mereka yang dipenjara.
Ketika Petrus dipenjara ia bukan hanya dibelenggu dengan rantai besi, tetapi rantai itu diikat kepada tangan dua orang tentara Herodes yang ikut tidur dengannya. Selain itu, di pintu bagian luar masih ada sejumlah prajurit yang menjaga penjara tersebut. Petrus dipenjarakan dan akan dihukum mati keesokan harinya.
Ketika Paulus di penjara, kedua kakinya dipasung, dan sejumlah tentara Romawi berjaga-jaga di depan pintu penjara.
Bagi orang percaya bukan penjara yang menjadi pokok masalah tetapi memahami bagaimana sikap kita ketika terpenjara jauh lebih penting, dari pada memahami situasi penjara.
Paulus dipenjara tetapi ia bernyanyi memuji Tuhan. Apa yang terjadi sesudah itu adalah gempa bumi yang hebat dan semua belenggu besi terlepas, pintu-pintu penjara terbuka lebar, dan membuat ketakutan perwira penjaga penjara. Tapi Paulus menenangkannya sehingga ia pada akhirnya menerima Yesus sebagai Juruselamatnya.
Petrus dipenjarakan tetapi sikapnya benar dihadapan Tuhan sehingga Tuhan menyuruh malaikatnya membuka semua pintu penjara dan membebaskannya.
Daniel dilemparkan dalam penjara yang dipenuhi banyak singa, namun singa-singa itu tak dapat berbuat apa-apa baginya, dan ia bahkan dilepaskan keesokan harinya.
Zadrach, Mesach, dan Abednego dilemparkan kedalam penjara dapur api yang dipanaskan tujuh kali, namun Tuhan melepaskan mereka, bahkan raja Nebukadneser akhirnya mengakui Allah mereka sebagai Allah yang benar dan berkuasa.
Yusuf dipenjara tetapi ia bahkan dipercaya oleh kepala penjara. Ia kemudian berkenalan dengan juru roti dan minum raja yang kemudian menyampaikan kepada raja kemampuan Yusuf menerjemahkan mimpi. Ia kemudian menjadi wakil raja.
Sikap kita ketika terpenjarakan mengubah arah perjalanan hidup kita. Sikap seseorang membuat perbedaan siapa kita dibandingkan dengan orang lain. Ketika kita memiliki sikap yang benar dihadapan Tuhan, maka penjara sekalipun tak dapat merintangi kuasa dan kasih Tuhan kepada kita. Penjara boleh memenjarakan kita, tetapi penjara tak dapat membatasi Tuhan. Tuhan dapat menjangkau kita dimanapun kita berada. Tak ada suatu hal yang dapat merintangi kuasa Allah kepada kita, ketika kita bersama dengan Dia.
Dalam hidup kita manusia, penjara tidak selamanya berupa penjara fisik, terkurung dalam sel penjara karena alasan tertentu, tetapi juga bisa berarti terperangkap dalam situasi ketidakberdayaan, situasi dimana meskipun fisik bisa bebas bergerak tetapi kondisi hidup kita terperangkap dalam situasi yang itu-itu saja, tak ada kemajuan, tak ada peningkatan, tak ada harapan akan masa depan yang lebih baik. Itu adalah penjara kehidupan, ketika kita kehilangan masa depan, kehilangan harapan akan sesuatu yang lebih baik itu adalah “penjara hidup kita”. Situasi membuat kita terpenjara secara sosial, ekonomi, pendidikan, dan keamanan.
Penjara-penjara dalam arti seperti yang disebutkan terakhir memiliki dampak yang sering jauh lebih buruk dari sekedar penjara di balik jeruji besi. Karena penjara sosial, ekonomi, pendidikan dan keamanan menimbulkan rasa frustasi, rasa apatis, dan kehilangan gairah hidup. Tak ada impian akan masa depan.
Ketika hidup anda terkurung pada rutinitas, berputar-putar pada hal-hal yang itu-itu saja, anda sudah terpenjara. Karena hidup sebagai manusia adalah suatu perjalanan ke depan, suatu pertualangan, suatu eksplorasi hal-hal yang baru. Ketika hidup kita terperangkap dalam situasi yang monoton, maka sebagai manusia sebenarnya kita telah kehilangan hakekat hidup kita, atau jati diri kita sebagai manusia, apalagi jati diri sebagai orang beriman.
Ketika iman kita hanya suam-suam kuku, tidak panas, tidak juga dingin, tidak bertumbuh menjadi iman yang dewasa, maka kita sebenarnya sedang menuju kepada “penjara kita sendiri”.
Bangsa Israel terperangkap dalam “penjara perbudakan” selama sekian ratus tahun sebelum Tuhan datang membebaskan mereka. Hidup mereka dari hari kehari hanyalah bekerja paksa.
Ketika Israel memberontak kepada Tuhan, Allah membiarkan mereka terpenjara dengan berputar-putar di padang gurun selama 40 tahun, sampai satu generasi bangsa itu mati, sebelum Allah menuntun kembali mereka masuk kedalam tanah perjanjian.
Memahami penjara dimana kita terperangkap di dalamnya sangat penting. Namun yang lebih penting dari itu adalah memiliki sikap yang benar kepada Tuhan saat kita “terperangkap dalam penjara kita”
Ketika kita menaruh sikap benar kepada Allah, maka kasih setiaNya akan menjangkau kita, akan merangkul kita, sehingga apapun situasi “penjara kita”, tidak akan mampu membuat kita frustasi atau kehilangan harapan. Dalam tangan Tuhan hidup kita akan dipakaiNya menjadi alat bagi kemuliaan namaNya, bahkan meskipun kita masih ada dalam “penjara kita”. Amin.
