Search blog.co.uk

Posts archive for: June, 2009
  • Dengan Roh Kristus kita lakukan yang baik dan kalahkan yang jahat

    Bacaan: Roma 7:21-25

    7:21 Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. 7:22 Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, 7:23 tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. 7:24 Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? 7:25 Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (7-26) Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.

    Rasul Paulus menggambarkan Hukum Taurat Tuhan sebagai kudus, benar dan baik. Hanya mereka yang hidup menurut hukum yang dibenarkan. Iman bukan sekedar percaya tetapi melakukan perintah-perintah Tuhan yang adalah hukum itu sendiri.

    Dalam ayat 22, Paulus menyatakan hukum Allah sebagai sesuatu yang sangat disukai oleh batinnya. Sikap positif Rasul Paulus terhadap Hukum Tuhan sama seperti Daud dalam Mazmur 119: 97-112 saya mengutip beberapa dari ayat-ayat itu: 119:97. Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. 119:98. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. 119:99 Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan. 119:105. Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. 119:111. Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku. 119:112 Telah kucondongkan hatiku untuk melakukan ketetapan-ketetapan-Mu, untuk selama-lamanya, sampai saat terakhir.

    Orang kristen menolak ide yang mengatakan bahwa melalui iman kita tidak lagi membutuhkan Hukum Taurat. Itu sama sekali tidak benar karena justru melalui iman kepada Allah, kita makin tunduk dibawah hukum Taurat, yaitu kita makin mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita manusia. Dalam Roma 3:31 Paulus mengatakan: “Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya.”

    Hukum Tuhan itu adalah perintah, dan perintah Tuhan itu menyelamatkan dan bukan memberi hukuman atau menindas. Seperti dikatakan Daud, Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku (Mazmur 119:105).

    Sikap positif dan menyukai Hukum Allah itu menunjukkan sikap yang benar dan menyenangkan hati Allah. Karena Tuhan memberikan Hukum Taurat dengan tujuan utama untuk mengajarkan cara hidup yang benar. Hukum Allah sebagai sumber hikmat dan pengetahuan, perintah-perintahNya agar kita hidup dalam kebenaran. Hukum Allah memiliki peranan sebagai mendidik dan bukan untuk menindas.

    Sama seperti Daud, Salomo mengatakan dalam Amzal 1:7: Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

    Takut akan Tuhan dan menjalankan perintahNya perlu dilihat sebagai sesuatu yang menyenangkan karena mengikuti perintah Tuhan memberikan hikmat, sukacita dan kedamaian.

    Fungsi hukum yang kedua adalah sebagai pembenaran. Bagaimana orang bisa tahu dia benar atau salah, bagaimana dia tahu dia diampuni dari kesalahannya kalau tidak ada hukum yang menunjukkannya.

    Tidak ada seorangpun yang dapat merubah hukum Allah. Karena Allah itu setia terhadap apa yang dikatakanNya dan Ia suci sehingga tak dapat berdampingan dengan dosa. Allah tidak pernah berubah, sehingga ketika Adam dan hawa jatuh kedalam dosa karena melawan perintah Tuhan, maka tak ada satu cara yang dapat melawan perintah itu selain kematian manusia. Karena dosa berarti mati. Tak ada cara lain!

    Namun syukur kepada Allah, meskipun sebagai manusia kita masih berada dibawah ancaman kematian karena dosa, tetapi kita juga berada dibawah anugerah Allah yang membebaskan kita dari hukuman kematian itu. Allah tidak menghapus atau merubah hukumNya untuk membenarkan kita, tetapi Allah sendiri yang menanggung atau membayar hukuman kita sehingga kita terlepas dari hukuman itu. Disinilah terlihat konsistensi, kesetiaan dan kesucian Allah terhadap hukumNya sendiri, tetapi sekaligus menunjukkan
    keagungan dan kebesaran kasihNya kepada kita manusia. Begitu kasih sayangnya Allah kepada kita sehingga Ia bersedia membayar harga tebusan kita yang berat berupa satu kematian. Demi untuk membenarkan kita, demi untuk menyucikan kita, Allah rela menyerahkan milik satu-satuNya, yaitu AnakNya Yesus Kristus, untuk mati sebagai ganti kematian kita.

    Pertanyaannya adalah kalau kita sudah ditebus dari dosa, sudah dibenarkan, mengapa Paulus mengatakan bahwa ia masih bergulat dengan dosa yang ada di dalam dirinya?

    Dalam ayat 21 Paulus mengatakan bahwa jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku? Mengapa dia mengatakan dalam ayat 23-24: 23 tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. 24 Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?

    Kita mengetahui kebaikan, tetapi kita tidak melakukannya. Kita mengetahui apa yang salah dan kita berjuang melawan hal tersebut, tetapi kita kemudian melakukan kesalahan yang sama tersebut. Kita berjanji kepada Tuhan untuk bertobat, dan tak akan mengulang kesalahan kita, namun kita terperosok kembali untuk melakukan kesalahan tersebut? Apa yang Paulus maksudkan dengan dosa yang ada di dalam dirinya?

    Pernyataan Paulus itu menggambarkan ketidakmampuan dirinya sebagai manusia biasa seperti kita. Sebagai manusia biasa, meskipun telah ditebus, kita masih memiliki sifat kedagingan. Paulus menjelaskan hal ini dalam Roma 7:14-15 sbb: 7:14. Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. 7:15 Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.

    Ayat 15 menunjukkan kepada kita betapa dosa yang bercokol dalam kedagingan membuat bukan apa yang kita kehendaki yang kita perbuat, tetapi justru apa yang kita benci, hal-hal yang berdosa, yang kita lakukan.

    Sebagai daging, manusia terikat pada kedagingannya. Tak ada sesuatu yang baik dari kedagingannya, seperti tertulis dalam ayat 18-19: Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. 7:19 Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.

    Apa yang mau dijelaskan Paulus kepada kita adalah bahwa dirinya sebagai manusia sama sekali tak berharga dihadapan Allah, karena tak ada yang baik yang dapat dibanggakan dihadapan Tuhan. Tak ada sesuatu di dalam kita yang mendatangkan keselamatan bagi kita di hadapan Allah.

    Saat ia menulis surat Roma ini Rasul Paulus telah bertobat selama 20 tahun, ia dianggap telah mantap dalam iman, namun ia masih saja berjuang dengan dosa kedagingan yang bercokol dalam dirinya.

    Paulus mengaku bahwa seberapa kuat ia berusaha, ia tak dapat melepaskan diri dari kekuatan dosa yang ada di dalam kedagingan dirinya. Penjelasan Paulus ini sama dengan yang tertulis dalam Yesaya 64:6. Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.

    Dalam ayat 21 Paulus menggambarkan kejahatan sebagai sudah ada padanya, sudah melekat padanya. Kemanapun ia pergi, kejahatan itu selalu menempel padanya, ada di dalam dirinya.

    Jadi persoalan bukan sekedar dosa atau kejahatan yang berasal dari luar diri kita, tetapi yang paling sulit adalah dosa yang ada dan bercokol dalam diri kita. Ini adalah perjuangan yang tidak ada seorangpun dapat melihatnya. Kejahatan itu bercokol atau berdiam dalam hati dan pikiran kita. Ia mempengaruhi sikap, pemikiran dan motivasi kita. Kita bisa saja pergi ke gereja setiap hari minggu dan kelihatan baik, tetapi dibalik senyuman kita tersimpan suatu pergumulan, mungkin rasa sakit hati, kekecewaan, kekalahan, kemenangan, pengecut, keberanian, semuanya bercampur menjadi satu.

    Dalam kartun komik Pogo yang dikarang oleh Walt Kelly, sang pahlawan kembali dan berkata, “kami sudah berjumpa dengan musuh, dan dia adalah kami sendiri.”

    Pertempuran dengan dosa dan kejahatan adalah suatu pertempuran kepada siapa kita memilih untuk berpihak. Keduanya ada di dalam diri kita, tinggal kita memilih kemana kita berpihak.

    Pertarungan kita sama seperti pertarungan dua ekor anjing seorang nelayan Eskimo yang datang ke kota setiap Sabtu sore membawa dua ekor anjing, hitam dan putih. Dia telah mengajarkan mereka berkelahi berdasarkan perintahnya. Setiap Sabtu sore orang berkumpul di taman kota dan menyaksikan perkelahian kedua ekor anjing tersebut dan bertaruh uang dengan petani tersebut. Kadang anjing hitam yang menang, minggu berikutnya anjing putih yang menang, namun sang nelayan yang selalu menang taruhan. Teman nelayan itu bertanya kepadanya, bagaimana ia dapat melakukan hal tersebut? Nelayan ini menjawab, semuanya tergantung kepada anjing mana yang saya beri makan dan mana yang tidak. Bila aku memberi makan yang putih, maka yang putih yang akan menang karena ia kuat, dan yang hitam akan kalah karena ia lemah.

    Ada dua kekuatan yang saling bertempur dalam diri kita yang telah bertobat. Kekuatan yang dominan tergantung kepada siapa kita berpihak.

    Kehidupan kristiani kita adalah suatu pertarungan dua kekuatan yang bergumul dalam diri kita. Namun kita bersyukur, karena Tuhan tidak membiarkan kita bergantung kepada kekuatan kita, Bagi orang percaya, Yesus telah memberikan penolong yaitu Roh Kudus yang akan selalu menolong kita untuk bergantung kepadaNya dan menuruti perintahNya.

    Martin Luther, pemimpin reformasi kristen, menemukan dirinya diserang oleh Setan. Si jahat membuka segulungan kertas berisi daftar dosa-dosa Luther, dan menunjukan semua itu kepadanya. Ketika sampai pada akhir gulungan, Luther bertanya, “Apakah sudah semuanya?” Belum jawab si jahat dan mulai membuka gulungan kedua dan ketiga sampai selesai. “Kau melupakan sesuatu,” Luther berteriak dengan penuh kemenangan, “ tuliskan dalam setiap gulungan itu, “Darah Yesus Kristus, Anak Allah, telah menyucikan semua dosa-dosa saya”.

    Setan selalu menggunakan dosa-dosa kita untuk membuktikan bahwa tak ada harapan bagi kita. Karena kedagingan kita selalu membuat kita terikat pada dosa. Tetapi kita bersyukur kepada Allah, karena melalui Yesus Kristus, semua dosa-dosa kita telah diampuni. Dia yang memberikan kita Roh Kudus, penolong yang membantu kita untuk hidup dalam kemenangan. Dalam kedagingan, kita masih melayani dosa, namun dalam roh kita melayani Tuhan. Karena Allah itu adalah Roh. Siapa ada dalam Yesus, ia ada dalam roh. Yohanes 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."

    Roh Kudus akan memimpin kita memahami Firman Allah sebagai sesuatu yang menyenangkan dan menyegarkan jiwa bila kita merenungkan dan melakukannya. Karena perintah Allah itu membuat kita lebih bijaksana. Firman Tuhan itu sebagai pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita. Membuat kita lebih berakal budi dan membawa damai dan sukacita dalam hati kita. Amin

  • Tetap setia dalam segala hal

    Lukas 16:10 "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.

    Mazmur 18:25-28: Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit. Karena Engkaulah yang menyelamatkan bangsa yang tertindas, tetapi orang yang memandang dengan congkak Kaurendahkan. Karena Engkaulah yang membuat pelitaku bercahaya; TUHAN, Allahku, menyinari kegelapanku.

    Tetap setia merupakan tuntutan dan kewajiban setiap orang. Tetap setia berarti setia memegang janji, setia terhadap apa yang dikatakan, dan setia dalam tangung jawab dan peri laku yang baik. Meskipun tuntutan ini berat tetapi harus dilakukan, meskipun sudah menjadi sifat dasar manusia untuk selalu ingin bebas, memiliki kebebasan menentukan pilihan, kebebasan yang sering justru menjurus kepada ketidaksetiaan.

    Adam dan Hawa diciptakan untuk memiliki hubungan yang akrab dengan Allah. Dalam hubungan yang seperti ini mereka hidup dalam suasana yang damai, penuh kebahagiaan dan berkecukupan. Semua begitu indah, sampai suatu saat mereka tergoda untuk keluar dari kesetiaan mereka kepada Allah. Mereka tergoda untuk tidak setia terhadap janji dan larangan Allah, dan ingin memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang disediakan bagi mereka. Akibatnya mereka terjerumus dalam ketidaksetiaan, dalam kebohongan dan saling melempar tanggung jawab.

    Ketika Tuhan datang mencari mereka sesudah terjatuh dalam ketidaksetiaan, mereka bersembunyi, dan ketika Tuhan menemukan mereka dan bertanya mengapa mereka bersembunyi, mereka malu atas situasi mereka yang telanjang. Ketika Tuhan bertanya mengapa mereka makan buah larangan itu, mereka saling menuduh dan melempar tanggung jawab.

    Itulah kebiasaan manusia, sulit untuk setia, sulit untuk mengaku ketidaksetiaannya dan menerima tanggung jawab.

    Dalam Injil Lukas 16:1-8, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan sebagai contoh lain ketidaksetiaan seorang manajer kepada tuannya yang mempercayakan bisnis kepadanya. Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.

    Ya, seringkali untuk menutupi ketidaksetiaan kita kepada orang lain, kepada Tuhan, kepada isteri, kepada orang tua, kita berbohong. Dari satu kebohongan kita teruskan dengan kebohongan berikutnya, sampai suatu saat kita hidup penuh dengan kebohongan-kebohongan.

    Dalam Mazmur 18:25-28, Daud yang adalah seorang raja besar mengungkapkan pengakuannya akan pentingnya kesetiaan kepada Tuhan yang akan berdampak pada berkat-berkat Tuhan dalam kehidupannya.

    Menurut Daud, terhadap orang yang setia Tuhan akan berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Tuhan juga akan berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Tuhan berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Tuhan akan berlaku belat-belit.

    Tuhan menyelamatkan bangsa yang tertindas, tetapi orang yang memandang dengan congkak direndahkanNya.

    Daud memuliakan Tuhan, karena Dialah yang membuat pelitanya (hidupnya) bercahaya, Tuhan menyinari hidupnya dengan penuh kesuksesan dan menolongnya dari musuh-musuhnya.

    Kesetiaan adalah kunci suatu persahabatan, suatu hubungan yang harmonis. Ketika salah satu pihak menjadi tidak setia, maka tidak ada alasan untuk meminta pihak lain tetap setia. Begitu juga dengan Tuhan, ketika kita tidak setia kepadaNya, maka tak ada alasan, tak ada tanggung jawab Tuhan untuk menolong kita. Tanpa kesetiaan, kita tidak terhitung dalam kasih dan anugerah Tuhan.

    Tuhan Yesus, melalui perumpamaan bendahara yang tak jujur ini, meminta kita untuk selalu menjaga kesetiaan kita, baik dalam hal-hal yang kecil maupun besar. Ketika kita setia, maka Tuhan akan tetap setia melindungi kita, tetap setia menolong kita dan tetap setia mencurahkan berkatnya dalam kehidupan kita. Tuhan menolong anda.

  • Hidup dalam damai sejahtera dengan Allah

    Roma: 5:1-5
    5:1. Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. 5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. 5:3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5:5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

    Hidup memang sering berat dan sulit, dapat membuat orang menderita. Robert Schuller mengatakan: “masa sulit tak pernah berakhir, namun orang-orang yang kuat mampu bertahan (tough times never last, but tough people do).

    Orang-orang yang kuat tidak identik dengan fisikal, tidak identik dengan postur, tidak juga identik dengan uang yang banyak atau kekuasaan yang besar. Orang yang kuat, yang mampu bertahan dalam setiap kesulitan, tidak ada hubungan dengan semua itu. Karena kekuatan manusiawi kita sering tak dapat memberikan jaminan untuk selalu mampu bertahan menghadapi semua pencobaan dan pergumulan hidup kita. Banyak kejadian dimana justru orang-orang besar, yang memiliki kekayaan yang besar, atau pernah memiliki kekuasaan besar justru melakukan bunuh diri. Sebagai contoh, mantan presiden Korea Selatan, Roh Moo-Hyun, yang tengah dililit kasus korupsi, mengakhiri hidupnya dengan melompat dari tebing di belakang rumahnya. Krisis finansial telah membuat milyuner Jerman, Adolf Merckle, orang terkaya ke 94 di dunia versi Majalah Forbes, memilih bunuh diri setelah kerajaan bisnisnya runtuh diterpa badai krisis. Dalam Alkitab, Samson, yang memiliki kekuatan fisik yang besar, justru terjatuh dalam godaan dan menjadi budak Delilah.

    Sumber kemampuan untuk tetap tegar menghadapi segala tantangan kehidupan, pencobaan dan pergumulan hidup hanya dapat berasal dari Tuhan, yaitu hidup dalam iman kepada Tuhan, hidup dalam damai sejahtera dengan Allah.

    Dalam bacaan di atas dikatakan bahwa melalui iman kepada Yesus, kita memperoleh jalan masuk kepada kasih karunia Allah. Kita malah dapat bermegah juga dalam kesengsaraan kita. Di dalam kasih karunia ini kita mampu berdiri dan bermegah dalam pengharapan dan menerima kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah yang mengangkat kita tinggi-tinggi di hadapan lawan-lawan kita. Bahkan dalam Mazmur 23, Daud bersaksi mengenai Tuhan sebagai Gembala yang menuntun kita di jalan-jalan yang penuh mara bahaya. Ia menuntun kita pada air yang tenang, Ia menyegarkan jiwa kita. Ia bahkan menyiapkan hidangan di depan musuh-musuh kita.

    Itulah hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. Allah menuntun kita. Allah memberikan kekuatan kepada kita, memberikan harapan di tengah ketiadaan harapan. Allah memberikan damai di tengah tekanan gelombang pencobaan yang bertubi-tubi.

    Kalau hidup anda saat ini sedang berada dalam tekanan gelombang kehidupan yang berat. Ingatlah akan kasih Allah yang begitu besar dalam Yesus Kristus. Ingatlah akan salib itu, disitulah tergambarkan kasih dan pengorbanan Allah yang begitu besar kepada kita semua. Allah mengasihi kita. Apapun kesulitan kita, Allah mengasihi kita. Kasih Allah itu tak berubah, tak berkesudahan. Kasih itu tetap.

    Apapun kesulitan kita, sepanjang Allah tetap mengasihi kita, maka tak akan ada kesulitan yang dapat menghancurkan kita, tak ada pencobaan yang dapat mematahkan dan menjatuhkan kita. Percayalah kepadaNya dan serahkan semua beban kita kepadaNya dan terimalah damai sejahtera dari padaNya. Yesus telah mengalahkan dunia ini. Dia berkata kasihKu cukup bagimu, cukup untuk mengatasi kesulitanmu hari ini. Amin.

    HIDUPMU BERHARGA

    HIDUPMU BERHARGA BAGI ALLAH
    TIADA YANG TAK BERKENAN DI HADAPAN-NYA
    DIA CIPTAKAN KAU S'TURUT GAMBAR-NYA
    SUNGGUH BERHARGA HIDUP-MU BAGI DIA

    DIA BERIKAN KASIH-NYA PADA KITA
    DIA T'LAH RELAKAN SEGALA-GALANYA
    DIA DISALIB 'TUK TEBUS DOSA KITA
    KAR'NA HIDUPMU SANGATLAH BERHARGA

    REFF:
    BULUH YANG TERKULAI TAKKAN DIPATAHKAN-NYA
    DIA 'KAN JADIKAN INDAH SUNGGUH LEBIH BERHARGA
    SUMBU YANG T'LAH PUDAR TAKKAN DIPADAMKAN-NYA
    DIA 'KAN JADIKAN TERANG UNTUK KEMULIAAN-NYA

  • Bersyukur Selalu Kepada Tuhan

    Mazmur 86:12-13:

    Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya; sebab kasih setia-Mu besar atas aku, dan Engkau telah melepaskan nyawaku dari dunia orang mati yang paling bawah.

    Menurut pendeta Jesse Duplantis, gunakan pengalaman kemenangan masa lalu kita bersama Tuhan untuk menghadapi pertempuran kita hari ini dan masa depan.

    Merayakan kemenangan masa lalu karena pimpinan Tuhan merupakan sikap ucapan syukur kita kepada Tuhan atas apa yang Tuhan telah buat dalam hidup kita. Jangan pernah melupakan perbuatan-perbuatan Tuhan kepada kita, jangan mengambil pujian bagi diri sendiri yang seharusnya ditujukan untuk Tuhan, jangan meninggikan, atau membanggakan diri sendiri atas hal-hal yang dibuat Tuhan, sehingga Tuhan tidak dimuliakan dalam kehidupan kita.

    Daud adalah orang yang penuh ucapan syukur kepada Tuhan. Ia tahu menempatkan dirinya dengan benar dihadapan Tuhan dan orang lain. Ia tidak mengambil pujian bagi dirinya ketika ia merayakan kemenangan-kemenangannya. Ia memberikan pujian itu hanya bagi Tuhan. Ketika ia mengalahkan Goliat, Daud tidak menganggap keberhasilan itu karena kehebatan dirinya, tetapi itu adalah perbuatan Tuhan, Tuhan yang berperang bagi dia, dan bukan dia yang berperang bagi Tuhan.

    Daud begitu menghormati Tuhan sehingga ia takut menaruh tangannya pada orang yang telah diurapi Tuhan. Ketika Tuhan menyerahkan Saul, musuh yang mengejarnya siang dan malam, dalam genggamannya, Daud menolak membunuh Saul. Apapun kesalahan Saul, Daud merasa ia tidak berhak untuk menghukumnya.

    Sikap Daud yang selalu menempatkan Tuhan dalam setiap hal dalam hidupnya membuat ia selalu dikasihi dan diberkati Tuhan, bahkan ketika ia jatuh dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba, istri Uria.

    Daud hanya manusia biasa, tidak setiap kali ia mampu mempertahankan sikap benar dihadapan Tuhan. Namun ia memiliki sikap hidup yang penuh ucapan syukur kepada Tuhan, sehingga apapun kelemahan ida, apapun kesalahan dia, Tuhan bersedia mengampuninya.

    Kita bisa membaca pengakuan Daud sesudah jatuh dalam dosa pada Mazmur 51 dan bagaimana Tuhan bersedia mengampuni Daud dalam 2 Samuel 12:13: Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.

    Dalam kejatuhan sekalipun, Daud masih mempertahankan sikap bersyukur kepada Tuhan. Ia mengingat-ingat perbuatan Tuhan yang besar dalam pengalaman hidupnya. Daud mengakui bahwa semua yang dicapainya adalah karena pemberian Tuhan semata-mata.

    Apa yang kita pelajari dari pengalaman hidup Daud?

    Pertama, hidup kita ada dalam tangan Tuhan. Sebagai orang percaya, Tuhan adalah pusat dari kehidupan kita. Tuhan adalah pusat dari ucapan syukur kita.Hidup kita adalah hidup yang bersandar kepada Tuhan dan memuliakan Tuhan. Hidup kita adalah hidup yang selalu bersyukur atas semua perbuatan-perbuatan Tuhan dalam hidup kita.

    Kedua, untuk selalu dapat bersyukur kita harus memohon, mengundang Tuhan menjadi bagian dari hidup kita, mengundang Tuhan memimpin pergumulan hidup kita. Daud bersaksi bahwa pertarungan dengan Goliat bukan pertarungan dia pribadi dengan Goliat, tetapi pertarungan Tuhan melawan Goliat bersama dengan semua dewa-dewa Goliat.

    Ketiga, ketika kita mencapai kemenangan, jangan merampok kemuliaan Tuhan. Jangan sekali-kali merampok pujian-pujian yang seharusnya ditujukan kepada Tuhan bagi diri kita sendiri. Kalau Tuhan yang membuat kita menang, membuat kita berhasil, maka sudah semestinya kita memberikan pujian itu bagi Tuhan, dan kita mundur ke belakang agar Tuhan yang dimuliakan.

    Keempat, ketika kita mencapai kemenangan dan keberhasilan, jadikan kejadian itu sebagai monumen, tugu peringatan bagi kita, tonggak iman untuk menunjang pertempuran di masa depan. Membangun tonggak-tonggak iman merupakan bagian dari membangun dan memperkokoh iman kita untuk menghadapi pertempuran iman yang lebih besar di masa depan. Iman kita bukanlah iman yang mandeg, bukan iman yang berhenti, tetapi iman yang berkembang, iman yang bertumbuh dari waktu ke waktu. Umat Israel selalu membangun tugu-tugu peringatan perjumpaan mereka dengan Tuhan agar mereka selalu teringat akan campur tangan Tuhan dalam hidup mereka. Kitapun harus selalu membangun tonggak-tonggak, tugu-tugu peringatan untuk mengingat-ingat campur tangan Tuhan dalam pergumulan hidup kita.

    Tonggak-tonggak, tugu peringatan bukan hanya penting bagi kita, tetapi juga bagi anak-anak kita, bagi keturunan-keturunan kita untuk melihat dan meniru teladan kita dan mau menyandarkan hidup mereka kepada Tuhan. Tuhan menolong anda.

  • Kasih Yang Sempurna

    Dalam Kitab Hosea pasal 1 diceritakan bahwa Tuhan menyuruh Hosea untuk menikahi seorang perempuan bernama Gomer, yang sehari-hari berprofesi sebagai WTS. Hosea menikahi perempuan itu dan ia melahirkan bagi Hosea 3 orang anak, 2 anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Anak pertama laki-laki dinamai Yizreel, berdasarkan nama tempat pembunuhan politik di kerajaan Israel 10 suku oleh Yehu( 2 Raja 9). Anak yang kedua seorang anak perempuan dinamai Lo-Ruhama yang artinya, “tidak cinta”, dan anak ketiga seorang anak laki-laki dinamai Lo-Ami, yang artinya “bukan milikku”, karena Hosea tidak tahu apakah dia adalah ayah dari anak itu.

    Cara Hosea menamai anak-anaknya menunjukkan betapa Gomer seorang perempuan yang tak bisa dipercaya meskipun ia telah menjadi isteri Hosea, isteri seorang nabi besar di Israel, seorang nabi yang sangat disegani oleh seluruh Israel termasuk para raja dan menteri. Meskipun telah menjadi isteri, Gomer tetap melakukan perselingkuhan. Gomer bahkan merindukan kembali kepada profesinya yang lama, kembali kepada pelukan para lelaki hidung belang. Bukan para lelaki itu yang mengejar Gomer, tetapi sebaliknya, ia sendiri yang mengejar para lelaki hidung belang tersebut (Hosea pasal 2). Puncaknya ketika ia lari meninggal rumah, suami dan anak-anaknya dan akhirnya terjebak hutang dan dijadikan budak pemuasan kebutuhan seksual.

    Namun Hosea tetap mencintai isterinya, meskipun perilaku isterinya itu sudah sangat keterlaluan. Hosea datang membeli kembali Gomer dari tangan mucikarinya. Ia membeli kembali isterinya dengan harga yang sangat mahal, meskipun di mata orang lain isterinya sudah tidak memiliki nilai apa-apa. Hosea membeli dia sebesar lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai. (Hosea 3:2)

    Memang kasih itu mengatasi segala-galanya, tak memandang kepada keburukan, atau kejelekan seseorang, tetapi kepada kebaikannya, bahkan meskipun tak ada kebaikan sama sekali, kasih itu menututpi semua kejelekan itu. Tuhan berkata dalam Yesaya 1:18: Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.

    Kasih itu bersedia mengampuni, meskipun perbuatan-perbuatan seseorang kepada kita sudah mencapai suatu tingkat yang tidak layak untuk diampuni. Paulus melukiskan kasih itu dalam I Korintus 13:4-7 sbb: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. “

    Itulah bahasa kasih, bahasa cinta yang diungkapkan oleh Allah, betapa Ia sangat mengasihi kita. Ia bersedia menghapus semua pelanggaran kita, mengampuni kita dan menerima kita kembali sebagai anak-anakNya. Kasih Allah itu sempurna, tak berkesudahan, tak terbatas, dan tetap setia, meskipun kita tidak setia. Allah bahkan bersedia berkorban bagi kita melalui AnakNya Yesus, agar dosa-dosa kita disucikan dan kita dibenarkan dalam Dia. Amin.

    BAPA YANG KEKAL
    Julita Manik

    KASIH YANG SEMPURNA TELAH
    KU T'RIMA DARI-MU
    BUKAN KAR'NA KEBAIKANKU
    HANYA OLEH KASIH KARUNIA-MU
    KAU PULIHKAN AKU, LAYAKKANKU
    'TUK DAPAT MEMANGGIL-MU, BAPA
    REFF:
    KAU B'RI YANG KUPINTA
    SAAT KUMENCARI, KUMENDAPATKAN
    KUKETUK PINTU-MU DAN KAU BUKAKAN
    S'BAB KAU BAPAKU, BAPA YANG KEKAL
    TAK KAN KAU BIARKAN
    AKU MELANGKAH HANYA SENDIRIAN
    KAU SELALU ADA BAGIKU
    S'BAB KAU BAPAKU, BAPA YANG KEKAL

  • Rencana Tuhan Bagi Hidup Kita

    Mazmur 16:11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

    Pernakah anda bertanya apa yang dipikirkan Tuhan ketika Ia merancang kehadiran anda di dunia ini. Di dalam Yermia 1:5 Tuhan berkata kepada Yermia: "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."

    Kehadiran setiap orang anak manusia di dunia ini dirancang oleh Tuhan untuk maksud tertentu. Tuhan memiliki rencana ketika Ia merancang keberadaan kita di atas dunia ini. Rencana itu sudah tentu hanya Tuhan sendiri yang tahu. Seperti dikatakan dalam Yermia 29:11: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. “

    Namun Tuhan sering memberitahukan rencanaNya itu kepada orang yang dikasihiNya. Tuhan memberitahukan rencana akan datang kepada Yusuf dalam mimpi bahwa suatu ketika ia akan menjadi seorang pemimpin bahkan saudara-saudara dan orangtuanya akan datang menyembah dia.

    Tuhan mengungkapkan rencanaNya kepada Abraham bahwa anak cucunya akan menjadi suatu bangsa yang besar seperti pasir yang tak terhitung banyaknya atau seperti banyaknya bintang di langit.

    Tuhan memberitahukan apa yang akan terjadi kepada nabi-nabi atau rasul-rasul mengenai apa yang akan terjadi kemudian pada akhir zaman.

    Bahkan Tuhan memberitahukan rencanaNya kepada raja Nebukadneser dalam mimpi bahwa ia adalah raja yang terbesar dalam sejarah manusia dilambangkan oleh kepala patung dari emas. Raja-raja sesudah itu tidak akan sekuat dan sebesar dia. Raja Nebukadneser bahkan diberitahukan berkali-kali apa yang akan terjadi kepadaNya bahwa ia akan direndahkan sama seperti binatang makan rumput dan minum air embun di padang sampai ia mengakui Tuhan yang mahakuasa.

    Di dalam setiap rencana Tuhan selalu ada peranan yang dimainkan oleh kita. Ketika Tuhan memberitahukan rencanaNya, Tuhan memberitahukan kita apa yang akan menjadi peranan kita dalam rencana itu.

    Dalam Mazmur 16:11 di atas, Daud memberikan kesaksian bagaimana Tuhan mengungkapkan rencana bagi kehidupannya. Dari pengalaman Daud kita tahu bahwa Tuhan menyuruh Samuel datang mengurapi Daud menjadi raja bangsa Israel saat ia masih berumur belasan tahun, padahal saat itu Saul masih menjadi raja di Israel.

    Rencana Tuhan itu tidak secara otomatis terjadi kepada kita. Sering waktu sampai rencana Tuhan itu terwujud sangat panjang. Yusuf harus menunggu bertahun-tahun, melewati perjalanan penuh kepahitan, sebelum kemudian ia menjadi wakil raja. Bangsa Israel harus berputar-putar selama 40 tahun di padang gurun sebelum mereka diijinkan masuk tanah perjanjian. Daud tidak otomatis langsung menjadi raja, tetapi ia harus menunggu hampir 30 tahun kemudian baru ia menjadi raja. Selama waktu itu Daud harus berlari kesana kemari menyembunyikan dirinya dari Saul yang hendak membunuhnya.

    Apa yang kita pelajari dari semua hal di atas adalah bahwa ada rencana Tuhan bagi hidup kita. Rencana itu Tuhan buat jauh sebelum kita dilahirkan. Rencana Tuhan itu adalah tujuan hidup, tujuan keberadaan kita. Namun apakah rencana atau tujuan itu akan berjalan sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan masih tergantung pada diri kita sendiri. Tuhan memberikan kebebasan kepada kita bahwa selama kita berada di dalam Dia, maka rencanaNya dalam diri kita itu akan terwujud, yaitu rencana damai sejahterah.

    Adam dan Hawa diciptakan untuk rencana Tuhan bagi suatu kehidupan yang menyenangkan dalam Taman Eden, namun mereka kemudian tergoda dan terbuang dari Taman Eden. Bangsa Israel direncanakan akan masuk ke tanah perjanjian, tetapi kemudian banyak yang memberontak dan mati dalam perjalanan kesana.

    Meskipun Tuhan merencanakan hidup kita, namun Tuhan tidak memaksakan rencana itu terjadi pada kita. Tuhan menaruh tujuan itu, dan kemudian ia mendidik kita selama perjalanan mencapai tujuan itu. Karena tujuan bukan segala-galanya dalam rencana Tuhan. Hal yang paling utama dalam rencana Tuhan itu adalah proses hubungan kita dengan Tuhan selama melakukan perjalanan ke tujuan yang Tuhan tetapkan bagi kita.

    Tujuan hanyalah hasil dari proses hubungan kita dengan Tuhan. Karena itu membina hubungan erat, atau akrab dengan Tuhan jauh lebih penting dari menuntut terwujudnya janji Tuhan itu. Karena janji itu tidak akan terwujud sebelum hubungan akrab kita dengan Tuhan terjadi. Makin cepat kita melakukannya, makin segera janji itu terwujud. Tuhan memberkati anda.

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.