Bacaan: Roma 7:21-25

7:21 Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. 7:22 Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, 7:23 tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. 7:24 Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? 7:25 Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (7-26) Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.

Rasul Paulus menggambarkan Hukum Taurat Tuhan sebagai kudus, benar dan baik. Hanya mereka yang hidup menurut hukum yang dibenarkan. Iman bukan sekedar percaya tetapi melakukan perintah-perintah Tuhan yang adalah hukum itu sendiri.

Dalam ayat 22, Paulus menyatakan hukum Allah sebagai sesuatu yang sangat disukai oleh batinnya. Sikap positif Rasul Paulus terhadap Hukum Tuhan sama seperti Daud dalam Mazmur 119: 97-112 saya mengutip beberapa dari ayat-ayat itu: 119:97. Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. 119:98. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. 119:99 Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan. 119:105. Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. 119:111. Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku. 119:112 Telah kucondongkan hatiku untuk melakukan ketetapan-ketetapan-Mu, untuk selama-lamanya, sampai saat terakhir.

Orang kristen menolak ide yang mengatakan bahwa melalui iman kita tidak lagi membutuhkan Hukum Taurat. Itu sama sekali tidak benar karena justru melalui iman kepada Allah, kita makin tunduk dibawah hukum Taurat, yaitu kita makin mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita manusia. Dalam Roma 3:31 Paulus mengatakan: “Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya.”

Hukum Tuhan itu adalah perintah, dan perintah Tuhan itu menyelamatkan dan bukan memberi hukuman atau menindas. Seperti dikatakan Daud, Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku (Mazmur 119:105).

Sikap positif dan menyukai Hukum Allah itu menunjukkan sikap yang benar dan menyenangkan hati Allah. Karena Tuhan memberikan Hukum Taurat dengan tujuan utama untuk mengajarkan cara hidup yang benar. Hukum Allah sebagai sumber hikmat dan pengetahuan, perintah-perintahNya agar kita hidup dalam kebenaran. Hukum Allah memiliki peranan sebagai mendidik dan bukan untuk menindas.

Sama seperti Daud, Salomo mengatakan dalam Amzal 1:7: Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

Takut akan Tuhan dan menjalankan perintahNya perlu dilihat sebagai sesuatu yang menyenangkan karena mengikuti perintah Tuhan memberikan hikmat, sukacita dan kedamaian.

Fungsi hukum yang kedua adalah sebagai pembenaran. Bagaimana orang bisa tahu dia benar atau salah, bagaimana dia tahu dia diampuni dari kesalahannya kalau tidak ada hukum yang menunjukkannya.

Tidak ada seorangpun yang dapat merubah hukum Allah. Karena Allah itu setia terhadap apa yang dikatakanNya dan Ia suci sehingga tak dapat berdampingan dengan dosa. Allah tidak pernah berubah, sehingga ketika Adam dan hawa jatuh kedalam dosa karena melawan perintah Tuhan, maka tak ada satu cara yang dapat melawan perintah itu selain kematian manusia. Karena dosa berarti mati. Tak ada cara lain!

Namun syukur kepada Allah, meskipun sebagai manusia kita masih berada dibawah ancaman kematian karena dosa, tetapi kita juga berada dibawah anugerah Allah yang membebaskan kita dari hukuman kematian itu. Allah tidak menghapus atau merubah hukumNya untuk membenarkan kita, tetapi Allah sendiri yang menanggung atau membayar hukuman kita sehingga kita terlepas dari hukuman itu. Disinilah terlihat konsistensi, kesetiaan dan kesucian Allah terhadap hukumNya sendiri, tetapi sekaligus menunjukkan
keagungan dan kebesaran kasihNya kepada kita manusia. Begitu kasih sayangnya Allah kepada kita sehingga Ia bersedia membayar harga tebusan kita yang berat berupa satu kematian. Demi untuk membenarkan kita, demi untuk menyucikan kita, Allah rela menyerahkan milik satu-satuNya, yaitu AnakNya Yesus Kristus, untuk mati sebagai ganti kematian kita.

Pertanyaannya adalah kalau kita sudah ditebus dari dosa, sudah dibenarkan, mengapa Paulus mengatakan bahwa ia masih bergulat dengan dosa yang ada di dalam dirinya?

Dalam ayat 21 Paulus mengatakan bahwa jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku? Mengapa dia mengatakan dalam ayat 23-24: 23 tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. 24 Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?

Kita mengetahui kebaikan, tetapi kita tidak melakukannya. Kita mengetahui apa yang salah dan kita berjuang melawan hal tersebut, tetapi kita kemudian melakukan kesalahan yang sama tersebut. Kita berjanji kepada Tuhan untuk bertobat, dan tak akan mengulang kesalahan kita, namun kita terperosok kembali untuk melakukan kesalahan tersebut? Apa yang Paulus maksudkan dengan dosa yang ada di dalam dirinya?

Pernyataan Paulus itu menggambarkan ketidakmampuan dirinya sebagai manusia biasa seperti kita. Sebagai manusia biasa, meskipun telah ditebus, kita masih memiliki sifat kedagingan. Paulus menjelaskan hal ini dalam Roma 7:14-15 sbb: 7:14. Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. 7:15 Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.

Ayat 15 menunjukkan kepada kita betapa dosa yang bercokol dalam kedagingan membuat bukan apa yang kita kehendaki yang kita perbuat, tetapi justru apa yang kita benci, hal-hal yang berdosa, yang kita lakukan.

Sebagai daging, manusia terikat pada kedagingannya. Tak ada sesuatu yang baik dari kedagingannya, seperti tertulis dalam ayat 18-19: Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. 7:19 Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.

Apa yang mau dijelaskan Paulus kepada kita adalah bahwa dirinya sebagai manusia sama sekali tak berharga dihadapan Allah, karena tak ada yang baik yang dapat dibanggakan dihadapan Tuhan. Tak ada sesuatu di dalam kita yang mendatangkan keselamatan bagi kita di hadapan Allah.

Saat ia menulis surat Roma ini Rasul Paulus telah bertobat selama 20 tahun, ia dianggap telah mantap dalam iman, namun ia masih saja berjuang dengan dosa kedagingan yang bercokol dalam dirinya.

Paulus mengaku bahwa seberapa kuat ia berusaha, ia tak dapat melepaskan diri dari kekuatan dosa yang ada di dalam kedagingan dirinya. Penjelasan Paulus ini sama dengan yang tertulis dalam Yesaya 64:6. Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.

Dalam ayat 21 Paulus menggambarkan kejahatan sebagai sudah ada padanya, sudah melekat padanya. Kemanapun ia pergi, kejahatan itu selalu menempel padanya, ada di dalam dirinya.

Jadi persoalan bukan sekedar dosa atau kejahatan yang berasal dari luar diri kita, tetapi yang paling sulit adalah dosa yang ada dan bercokol dalam diri kita. Ini adalah perjuangan yang tidak ada seorangpun dapat melihatnya. Kejahatan itu bercokol atau berdiam dalam hati dan pikiran kita. Ia mempengaruhi sikap, pemikiran dan motivasi kita. Kita bisa saja pergi ke gereja setiap hari minggu dan kelihatan baik, tetapi dibalik senyuman kita tersimpan suatu pergumulan, mungkin rasa sakit hati, kekecewaan, kekalahan, kemenangan, pengecut, keberanian, semuanya bercampur menjadi satu.

Dalam kartun komik Pogo yang dikarang oleh Walt Kelly, sang pahlawan kembali dan berkata, “kami sudah berjumpa dengan musuh, dan dia adalah kami sendiri.”

Pertempuran dengan dosa dan kejahatan adalah suatu pertempuran kepada siapa kita memilih untuk berpihak. Keduanya ada di dalam diri kita, tinggal kita memilih kemana kita berpihak.

Pertarungan kita sama seperti pertarungan dua ekor anjing seorang nelayan Eskimo yang datang ke kota setiap Sabtu sore membawa dua ekor anjing, hitam dan putih. Dia telah mengajarkan mereka berkelahi berdasarkan perintahnya. Setiap Sabtu sore orang berkumpul di taman kota dan menyaksikan perkelahian kedua ekor anjing tersebut dan bertaruh uang dengan petani tersebut. Kadang anjing hitam yang menang, minggu berikutnya anjing putih yang menang, namun sang nelayan yang selalu menang taruhan. Teman nelayan itu bertanya kepadanya, bagaimana ia dapat melakukan hal tersebut? Nelayan ini menjawab, semuanya tergantung kepada anjing mana yang saya beri makan dan mana yang tidak. Bila aku memberi makan yang putih, maka yang putih yang akan menang karena ia kuat, dan yang hitam akan kalah karena ia lemah.

Ada dua kekuatan yang saling bertempur dalam diri kita yang telah bertobat. Kekuatan yang dominan tergantung kepada siapa kita berpihak.

Kehidupan kristiani kita adalah suatu pertarungan dua kekuatan yang bergumul dalam diri kita. Namun kita bersyukur, karena Tuhan tidak membiarkan kita bergantung kepada kekuatan kita, Bagi orang percaya, Yesus telah memberikan penolong yaitu Roh Kudus yang akan selalu menolong kita untuk bergantung kepadaNya dan menuruti perintahNya.

Martin Luther, pemimpin reformasi kristen, menemukan dirinya diserang oleh Setan. Si jahat membuka segulungan kertas berisi daftar dosa-dosa Luther, dan menunjukan semua itu kepadanya. Ketika sampai pada akhir gulungan, Luther bertanya, “Apakah sudah semuanya?” Belum jawab si jahat dan mulai membuka gulungan kedua dan ketiga sampai selesai. “Kau melupakan sesuatu,” Luther berteriak dengan penuh kemenangan, “ tuliskan dalam setiap gulungan itu, “Darah Yesus Kristus, Anak Allah, telah menyucikan semua dosa-dosa saya”.

Setan selalu menggunakan dosa-dosa kita untuk membuktikan bahwa tak ada harapan bagi kita. Karena kedagingan kita selalu membuat kita terikat pada dosa. Tetapi kita bersyukur kepada Allah, karena melalui Yesus Kristus, semua dosa-dosa kita telah diampuni. Dia yang memberikan kita Roh Kudus, penolong yang membantu kita untuk hidup dalam kemenangan. Dalam kedagingan, kita masih melayani dosa, namun dalam roh kita melayani Tuhan. Karena Allah itu adalah Roh. Siapa ada dalam Yesus, ia ada dalam roh. Yohanes 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."

Roh Kudus akan memimpin kita memahami Firman Allah sebagai sesuatu yang menyenangkan dan menyegarkan jiwa bila kita merenungkan dan melakukannya. Karena perintah Allah itu membuat kita lebih bijaksana. Firman Tuhan itu sebagai pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita. Membuat kita lebih berakal budi dan membawa damai dan sukacita dalam hati kita. Amin