Search blog.co.uk

Posts archive for: July, 2009
  • Kuasa Lidah Manusia

    Amsal 18:21. Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.

    Lidah adalah salah satu anggota tubuh yang sederhana dan kecil tetapi memiliki peranan yang sangat penting bagi manusia dan pengaruhnya yang mematikan atau menghidupkan.

    Lidah dapat digunakan untuk merasakan makanan. Enak dan tidaknya apa yang kita makan sangat tergantung pada lidah kita. Lidah memberitahukan kita apakah rasa makanan itu tawar, asin, manis atau pahit. Tanpa lidah orang tak dapat merasakan apa-apa.

    Namun pengaruh lidah yang paling besar bukan pada segi rasa, tetapi pada pada kata-kata yang diucapakan oleh lidah. Kata yang keluar dari mulut seseorang dapat memiliki pengaruh hidup dan mati.

    Kata-kata yang lemah-lembut dapat memberikan rasa damai, menyelesaikan pertengkaran, namun kata-kata yang kasar dapat berakibat pada pertengkaran, permusuhan, dan peperangan.

    Kata-kata juga dapat memberikan dorongan atau dapat menghancurkan orang lain. Kata-kata bisa menjadi berkat bagi orang lain, tetapi juga dapat menjadi kutukan bagi mereka. Kita ingat cerita mengenai Ishak yang sebelum akhir hidupnya, ia memberkati anak-anaknya. Berkatnya sangat ditunggu-tunggu oleh kedua anaknya Esau dan Yakub, karena berkat itu menentukan perjalanan hidup mereka selanjutnya. Esau yang seharusnya memiliki berkat itu begitu ceroboh sehingga ia kehilangan berkat ayahnya yang jatuh kepada Yakub. Kehidupan mereka selanjutnya kita telah tahu, Yakub menjadi Bapak dan bangsa Israel, sedangkan perjalanan hidup Esau tak bermakna apa-apa.

    Anak-anak yang masih dalam pertumbuhan sangat terpengaruh oleh kata-kata yang diucapkan oleh orangtua atau orang-orang lain di sekitar mereka. Bila orangtuanya memuji apa yang dilakukannya, maka ia akan tumbuh dengan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Namun bila setiap hari ia hanya mendengar kata-kata bahwa ia anak yang bodoh, tak berguna, maka kata-kata seperti itu sama dengan kutukan yang menghantui hidupnya. Ia akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang rendah dan memiliki hambatan dalam mengembangkan potensinya.

    Kata-kata yang kita keluarkan tidak saja berpengaruh pada orang lain, tetapi juga pada diri kita sendiri. Karena apa yang kita ucapkan itulah yang kita terima. Buah dari kehidupan kita adalah hasil dari apa yang kita tanam. Bila kita menanam sesuatu yang baik bagi orang lain, atau bagi diri kita dengan kata-kata kita, maka kita akan menerima buah yang baik juga, tetapi bila kita menaburkan benih-benih kebencian, atau kutukan, maka hal-hal seperti yang akan akan kita dapat.

    Dengan kata-kata kita juga memuliakan Tuhan, dengan kata-kata kita juga dapat menghujat Tuhan.

    Jadi berhati-hati dengan apa yang kita katakan. Kata-kata kita dapat menjadi doa bagi Tuhan untuk memberkati kehidupan kita atau kehidupan orang lain, namun kata-kata juga dapat menjadi kutukan bagi hidup kita dan hidup orang lain.

  • Allah Melengkapi Orang yang Ia Pilih dan Utus

    Yeremia 1:1-8
    1:1. Inilah perkataan-perkataan Yeremia bin Hilkia, dari keturunan imam yang ada di Anatot di tanah Benyamin. 1:2 Dalam zaman Yosia bin Amon, raja Yehuda, dalam tahun yang ketiga belas dari pemerintahannya datanglah firman TUHAN kepada Yeremia. 1:3 Firman itu datang juga dalam zaman Yoyakim bin Yosia, raja Yehuda, sampai akhir tahun yang kesebelas zaman Zedekia bin Yosia, raja Yehuda, hingga penduduk Yerusalem diangkut ke dalam pembuangan dalam bulan yang kelima.
    1:4. Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya:
    1:5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." 1:6 Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda." 1:7 Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. 1:8 Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."

    Kisah panggilan Yeremia sebagai nabi merupakan sesuatu yang sangat menarik. Pertama karena Yeremia dipersiapkan jauh sebelum ia lahir. Tuhan berkata dalam ayat 5 bahwa sebelum ia ada dalam rahim ibunya Tuhan telah mengenal Yeremia. Tuhan yang membentuknya, dan sebelum ia dilahirkan Tuhan telah menguduskannya dan menetapkannya menjadi nabi bangsa-bangsa.

    Betapa indahnya kejadian Yeremia. Ia dikenal sebelum ada dalam rahim ibunya. Ia telah ditetapkan menjadi nabi bahkan sebelum ia lahir.

    Mungkin kita bertanya-tanya apakah kasus ini hanya terjadi pada Yeremia saja?

    Tidak! Kejadian seperti ini bukan hanya terjadi pada Yeremia. Daud mengatakan dalam Mazmur 139:13dan 16 sbb: Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

    Yohanes Pembaptis juga telah ditetapkan sebagai nabi sebelum ia ada dalam kandungan ibunya. Malaikat Tuhan datang dan menyampaikan hal tersebut kepada ayahnya Zacharia. Bahkan Yohanes yang masih ada dalam rahim ibunya mengetahui kehadiran Maria sebagai Ibu Yesus. Dalam Injil Lukas 1:41 dikatakan: Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus,

    Ayat-ayat yang dikutip tersebut mau menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan adalah pengarang atau perancang yang menulis kehidupan manusia. Kalau Tuhan merancangkan kehidupan kita, maka kehidupan kita bukanlah sekedar milik kita sendiri untuk digunakan sekehendak kita, tetapi kita adalah milik Tuhan yang menciptakan kita jauh sebelum kita ada di Bumi ini.

    Kehidupan setiap manusia seperti yang terjadi dengan Yeremia, Daud atau Yohanes Pembaptis, ada dalam rencana Tuhan. Tuhan merencanakan kehidupan setiap orang dengan bakat dan talentanya masing-masing. Tiap orang tidak ada yang sama, semuanya direncanakan secara cermat oleh Tuhan sebagai Pencipta kita. Tuhan mengatakan kepada Yeremia bahwa sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, aku telah mengenalmu. Tuhan mengenal rancanganNya mengenai kehadiran kita dan peranan kita dalam kehidupan di dunia ini.

    Daud juga mengakui hal ini dengan mengatakan bahwa Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.

    Dengan mengatakan Tuhan menenun dia dalam kandungan ibunya, Daud mau mengatakan bahwa kejadiannya bukan suatu kebetulan, tetapi direncanakan dengan baik dan cermat oleh Sang Penciptanya, sama seperti seorang penenun merencanakan motif-motif apa yang akan ditenunnya; sama seperti seorang pemahat merancangkan karya seninya. Tuhan menentukan dalam diri kita motif, bakat atau talenta yang dibutuhkan untuk suatu tujuan, suatu panggilan hidup yang Ia taruh bagi tujuan hidup kita sebagai manusia di dunia ini

    Dalam ayat 16 Daud mengatakan mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

    Sebelum hari-hari itu terjadi, sebelum kita lahir sudah tertulis dalam buku Tuhan apa yang akan terjadi. Tuhan merencanakan dan menulis semua rencana itu dalam buku catatanNya, apa yang Ia inginkan dalam hidup kita.
    Dalam kasus Yeremia, Tuhan telah menetapkannya menjadi nabi bagi bangsa-bangsa sebelum Yeremia lahir. Segala hal, kemampuan yang diperlukan oleh Yeremia sebagai seorang nabi telah dipersiapkan di dalam dirinya.

    Pertanyaannya adalah ketika Tuhan telah mempersiapkan diri kita sebelum kita lahir untuk suatu tujuan yang Ia inginkan bagi kita, mengapa kita sering justru menghindar dari panggilan kita tersebut. Mengapa kita berusaha dengan berbagai cara menghindari panggilan hidup kita

    Dalam kasus Yeremia, ia menghindari dengan berbagai alasan antara lain dengan mengatakan : “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda”

    Kita selalu berusaha menonjolkan kelemahan kita di hadapan Allah untuk menghindari tugas panggilan kita. Yeremia memberikan alasan ia tak pandai bicara dan masih terlalu muda.

    Kita melihat kasus yang sama terjadi pada Yesaya ketika datang panggilan untuk diutus sebagai nabi. Yesaya berkata dalam Yesaya 6:5 Jangan aku Tuhan, karena aku seorang yang najis bibirnya.

    Hal yang sama terjadi dengan Gideon dalam Hakim-Hakim 6:14-15 Lalu berpalinglah TUHAN kepadanya dan berfirman: "Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!" Tetapi jawabnya kepada-Nya: "Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku."

    Gideon menghindari panggilan dengan alasan ia berasal dari suku yang paling kecil di Israel dan ia yang paling muda. Alasan Gideon sama dengan Yeremia, merasa terlalu muda.

    Hal yang sama terjadi dengan Musa yang kita kenal begitu hebat, tetapi pada awal panggilan Tuhan itu datang apa yang dikatakan Musa kepada Tuhan. Musa katakan dalam Keluaran 3:11. "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?"

    Sebagai manusia kita selalu melihat kepada kelemahan kita, ketidakberdayaan kita menghadapi tugas panggilan kita. Tetapi Tuhan tidak melihat kepada kelemahan kita, ia tidak melihat kepada keberadaan fisik kita, tetapi Ia melihat kepada kesediaan kita, Tuhan mengetahui situasi kita karena Ia yang merancang hidup kita dan Ia sendiri yang memperlengkapi kita dengan hal yang kita perlukan untuk tugas panggilan kita.

    Tuhan Yesus tidak memilih murid-murid dari antara orang-orang yang paling hebat, dan paling terpelajar. Tuhan Yesus justru memilih orang-orang sederhana sebagai muridnya dan yang diutusnya. Mereka adalah para nelayan yang diabaikan, yang terpinggirkan. Ia memilih mereka dan melengkapi mereka dengan RohNya yang Kudus sehingga mereka siap menyampaikan apa yang difirmankanNya.

    Hal yang sama terjadi juga dengan Yeremia. Tuhan berkata dalam ayat 7 dan 8: kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. 1:8 Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."

    Tuhan katakan jangan takut. Pertama karena engkau menyampaikan sesuatu yang bukan dari dalam dirimu sendiri, bukan perkataan dirimu, tetapi apa yang engkau sampaikan adalah pesan yang Tuhan taruh dalam bibirmu. Kedua, jangan takut, karena Aku, Tuhan, menyertai engkau dan akan melepaskanmu.

    Tuhan tidak mengirimkan atau mengutus kita tanpa perlengkapan yang memadai. Tuhan mempersiapkan utusanNya dengan peralatan yang lebih dari yang dia butuhkan untuk tugas tersebut. Bahkan tangan kuasaNya menyertai setiap orang yang diutusNya. Seperti dikatakan oleh Paulus dalam Ibrani 13:5b-6: Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"

    Dalam Roma 8:3b 1 Paulus menekankan sekali lagi: Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?

    Apa arti renungan ini bagi kita orang percaya saat ini?

    Sebagai orang yang kristen, orang yang telah mengaku percaya kepada Yesus, kita telah menerima panggilan untuk menjadi muridNya dan menerima panggilan pengutusan agung yang disampaikan oleh Yesus sebelum Ia naik ke surga, yang Ia sampaikan kepada murid-muridNya dalam Matius 28:19-20: Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

    Setiap orang kristen memiliki panggilan untuk menjadi imam dari Yesus Kristus. Kita adalah imam-imam dengan Yesus sebagai Imam Agung kita. Kita terpanggil untuk memberitakan kabar sukacita, kabar baik, yaitu kabar pengampunan dosa yang telah terjadi melalui Yesus Kristus. Petrus menyatakan hal ini dalam 1 Petrus 2:9-10 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan

    Sebagai orang kristen kita memiliki tanggung jawab untuk tidak menyimpan kabar sukacita yang telah kita dengar dan percaya hanya untuk diri kita sendiri, tetapi memiliki kewajiban untuk meneruskan hal tersebut bagi orang lain. Kewajiban untuk meneruskan kabar sukacita ini adalah amanat agung kita yang diberikan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Kita tidak perlu kuatir atau merasa tak berarti, karena Tuhan akan memperlengkapi kita dengan semua hal yang kita butuhkan. Ia mengaruniakan RohNya untuk menolong kita menyampaikan firmanNya. Ia juga akan menyertai dan menjaga kita. Amin.

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.