Search blog.co.uk

Posts archive for: October, 2009
  • Memiliki Pemilik

    Ada seekor anak kucing kecil, kurus dan terlantar di pinggir jalan. Semua orang yang lewat tak ada yang memperhatikannya.

    Ketika saya memperhatikan kucing kecil, kotor dan kurus tersebut, saya teringat pada anak kucing kecil peliharaanku yang dibawa oleh anakku untuk dipelihara. Kucing peliharaanku sebenarnya sama saja dengan kucing yang kulihat tersebut sebelum ia di”adopsi” oleh anakku, perbedaannya adalah ia sekarang memiliki tuan yang memperhatikan dan memeliharanya Kucing kotor ini memiliki nasib berbeda karena perbedaan antara ada yang memiliki dan ada yang tidak.

    Ketika saya memikirkan perbedaan kedua kucing tersebut, si kucing kotor di depanku dan, si kucing kecil di rumahku, timbul dalam pikiranku betapa beruntungnya kucing yang diadopsi anakku itu.

    Begitu juga dengan kita orang percaya. Betapa beruntungnya kita memiliki Bapa di surga yang bersedia mengadopsi kita menjadi milikNya. Ia memberkati kita, dan menyayangi kita sedemikian rupa sehingga hidup kita terpelihara. Apa jadinya hidup kita bila berada di luar sana tanpa ada yang memiliki kita, tanpa proteksi dari Tuhan sebagai pemilik kita, kita mungkin memiliki nasib seperti si kucing kotor di depanku.

    Menyadari hal itu kita perlu bersyukur atas semua kesempatan, berkat, dan kesehatan yang boleh kita nikmati tanpa kita sadar akan hal itu. Kita seringkali jarang bersyukur atas apa yang kita terima dalam hidup kita karena kita tak pernah merasakan bagaimana hidup di luar sana tanpa perlindungan atau proteksi dari Tuhan.

  • “Tembok Berlin” Kita

    Chris Gueffroy yang berusia 20 tahun, merasa terkungkung di Republik Demokrasi Jerman Timur, DDR. Dan ketika terancam wajib militer, ia dan seorang temannya memutuskan untuk menyeberangi tembok.

    Tanggal 5 Februari 1989, mereka berdua, ia dan temannya, mencoba lari ke barat dengan menyeberangi tembok, namun Chris tewas ditembak tentara Jerman Timur yang menjaga tembok tersebut, sedangkan temannya luka parah dan dipenjarakan. Chris merupakan korban jiwa terakhir tembok Berlin yang diruntuhkan bulan November, tahun itu juga.

    Tembok Berlin merupakan simbol pemisah atau rintangan dalam kebebasan, kemajuan, atau kreatifitas kita. Setiap orang memiliki “tembok” serupa dalam kehidupan pribadi masing-masing. Ada yang berani memanjat, atau yang berusaha meruntuhkannya, dan ada bahkan yang hanya diam tanpa melakukan apa-apa karena takut.

    Dalam cerita perjalanan orang Israel dari Mesir ke Kanaan, Tanah Perjanjian, ada banyak sekali “tembok-tembok” serupa yang harus mereka lewati dan atasi. “Tembok” pertama mereka adalah menyeberangi laut merah, melawan para raja-raja yang tempatnya mereka lewati, menyeberang sungai Yordan, dan pada akhirnya meruntuhkan tembok kota Yericho.

    Dalam Yoshua 6:20 dikatakan: “Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu. “

    Pernahkan anda dalam suatu waktu tertentu harus menghadapi “tembok’ dalam hidup anda? Terobosan macam apa yang anda pilih untuk mengatasi “tembok” hidup anda? Kalau cara yang anda pilih sama seperti Chris dan temannya memanjat Tembok Berlin, maka hanya berakhir pada kematian. Tepai kalau anda memilih cara seperti yang dipakai oleh orang Israel ketika mereka berhadapan dengan “tembok” mereka, maka hanya ada kemenangan di pihak anda.

    Apa rahasia bangsa Israel dalam mengatasi “tembok” mereka?

    Seringkali kita berusaha mengatasi masalah kita hanya mengandalkan perjuangan kita sendiri, kekuatan diri kita sendiri. Padahal kemampuan kita sering tak sesuai dengan tingginya “tembok” yang harus kita atasi. Kita berusaha menggunakan kemampuan kita, tanpa tahu bahwa kita berhadapan dengan kekuatan di luar kita yang jauh melampaui kemampuan kita sendiri, sehingga pertarungan kita menjadi tak sebanding dan kita terpukul kalah.

    Solusi terhadap masalah kita sebenarnya bukan pada fisik kita. Seringkali solusi utama terhadap semua masalah yang kita hadapi bukan terletak pada solusi fisik kita, upaya jasmani kita, bukan terletak pada kemampuan fisik seperti uang, tenaga, bantuan teman, atau organisasi, tetapi tergantung pada hubungan kita dengan Tuhan yang memiliki solusi tersebut. Kita seringkali lupa, bahwa Tuhan yang mengontrol segala sesuatu, sehingga setiap kejadian, setiap masalah tak mungkin terjadi tanpa lepas dari tangan Tuhan. Masalah fisikal kita sering terpecahkan melalui solusi rohani kita dan bukan melalui kemampuan lahiriah kita semata-mata.

    Dalam meruntuhkan tembok kota Yericho, tak ada solusi fisikal dari bangsa Israel. Mereka menggunakan solusi rohani yaitu bersandar pada pimpinan Tuhan. Tuhan menyuruh mereka hanya berjalan berputar kota Yericho selama 6 hari tanpa bersuara. Tetapi pada hari ketujuh mereka harus mengelilingi kota itu tujuh kali dan para imam meniup sangkakala. Jika pada akhir perjalanan itu terdengar bunyi sangkakala tanduk domba yang panjang bunyinya, maka seluruh bangsa harus bersorak dengan sorak yang nyaring.

    Solusi rohani sering kedengarannya tak masuk akal dan mungkin menjadi bahan ejekan bagi orang lain. Kita bisa membayangkan orang Israel hanya berputar-putar bagaikan orang dungu mengelilingi tembok kota dengan berdiam diri. Bayangkan mereka pasti diperhatikan oleh para tentara di atas tembok kota tersebut. Mungkin pada hari pertama ketika bangsa Israel bergerak, para tentara kota Yericho siap siaga karena mengira orang Israel akan menyerang mereka, namun ketika mereka melihat bahwa orang Israel hanya berjalan berputar tembok kota mereka menjadi lega dan santai. Dalam pikiran mereka tembok kota terlalu tinggi sehingga mereka tak memiliki kemampuan.

    Hari kedua ketika orang Israel bergerak dan mengelilingi tembok kota lagi, mungkin mulai menjadi bahan tontonan dan tertawaan para tentara dan penduduk kota. Apalagi itu terjadi juga pada hari ketiga, keempat sampai keenam. Bayangkan, ejekan yang diterima oleh orang Israel dari para penduduk dan tentara kota Yericho. Mereka pasti mengira orang Israel telah menjadi gila karena frustasi.

    Cara-cara Tuhan bekerja sering menjadi bahan tertawaan, ejekan, atau cemohon banyak orang karena tak masuk akal. Ketika Nuh membuat bahtera yang sangat besar dan jauh dari laut atau bibir sungai, ia dan keluarganya menjadi bahan ejekan dan tertawaan semua orang. Namun siapakah yang akan menjadi bahan tertawaan terakhir?

    Hal itu terjadi dengan penduduk kota Yericho, ketika orang Israel memulai kegiatan berjalan mereka pada hari ketujuh, penduduk kota Yericho pasti mulai naik ke atas tembok dan mengejek orang Israel seperti hari-hari sebelumnya. Namun, hari ini mereka melihat perbedaan, karena orang Israel berjalan lebih lama, tujuh kali memutar tembok kota sambil meniup terompet. Wah, wah, kegilaan apa lagi yang dilakukan orang Israel hari ini. Itulah yang mungkin ada dalam pikiran penduduk Yericho. Namun apa yang terjadi pada akhir perjalanan hari itu jauh berbeda dari hari sebelumnya yang tidak diketahui oleh mereka, itulah hari kehancuran mereka, akhir nasib mereka.

    Ketika para iman meniup sangkakala tanduk domba yang panjang bunyinya, maka orang Israel bersorak serentak, dan Tuhan meruntuhkan tembok-tembok kota tersebut.

    Adakah hal yang tak mungkin Tuhan lakukan. Haruskah Tuhan menggunakan cara-cara yang sama seperti yang dipikirkan oleh manusia?

    Tuhan dapat menggunakan cara-cara apa saja yang mungkin dianggap bodoh oleh akal sehat manusia.

    Mulailah sesuatu bersama Tuhan. Mulailah perjalanan anda dalam mengatasi “tembok” perintang hidup anda bersama Tuhan. Bersandarlah kepada Tuhan dan nantikanlah bagaimana Dia mengatasi persoalan hidup anda. Tuhan memberkati anda.

  • Jangan Pilih Kasih

    Bacaan: 1 Korintus 4:6-13

    Bacaan kita pada pagi hari ini mengajarkan kepada kita tentang kebanggaan dalam kehidupan rohani kita.
    Banyak perpecahan dalam jemaat terjadi karena sikap dan kebanggan diri kita.

    Ada kecenderungan dalam jemaat untuk mengidolakan seseorang , atau pelayanannya sebagai yang lebih baik, lebih spiritual, atau lebih rohani dari pada yang dilakukan oleh orang lain. Sikap seperti ini sering menimbulkan perpecahan dalam tubuh gereja.

    Dalam bacaan ini, jemaat di Korintus memiliki kebanggaan bahwa mereka adalah warga negara yang terhormat dengan status dan pengaruh dalam masyarakat, sementara Paulus dianggap sebagai orang yang tak berharga, terbuang dan tertuduh yang akan dihukum mati. Sebagian jemaat di Korintus berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang bijaksana, berkuasa, dan dihormati, dan Paulus hanya seorang bodoh, lemah dan tak terhormat. Mereka mempermalukan Paulus dan menolak citra Paulus dalam jemaat mereka. Seperti terjadi dalam ayat 11-13 Paulus melukiskan dirinya sebagai lapar, telanjang, dihina, difitnah dan terbuang karena jemaat Korintus berupaya menghindari keterikatan dengan dirinya.

    Dalam ayat 8 dan 10, citra yang dilukiskan oleh Paulus tentang jemaat di Korintus sebagai rasa bangga terhadap diri sendiri, karena mereka hidup dalam kelimpahan yang jauh berbeda dari kehidupan para rasul yang hina, hidup yang menderita karena Injil Yesus.

    Dalam ayat 6: kita diberi gambaran bagaimana situasi jemaat Korinstus. Loyalitas mereka terpecah ke berbagai rasul, ada yang ke Paulus, ada yang ke Apollos dan ke rasul yang lain.

    Dalam bacaan ini Paulus mengalamatkan nasehatnya terutama kepada mereka para pengikut Apollos yang bersifat mempermalukan Paulus. Paulus mengambil contoh dirinya dan Apollos sebagai ilustrasi saja bahwa hal seperti ini dapat juga terjadi pada kelompok pengikut para rasul atau pelayan jemaat yang lain.

    Perkataan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain. Dengan perkataan lain: ikuti petunjuk yang terdapat dalam Alkitab saja, sehingga terhindar dari sikap mengidolakan, mengistemewakan pelayanan seseorang dari pada orang lain.

    Dengan kata lain jadilah pengikut firman Tuhan dari pada pengikut kata-kata manusia dan interpretasi. Firman Tuhan harus menempati posisi / otoritas tertinggi, dari pada perkataan atau interpretasi manusia. Menurut Paulus, apa yang dikatakan manusia dapat saja salah dan menimbulkan perpecahan dalam jemaat.

    Dalam ayat 7 Paulus menantang mereka yang menentang pelayanannya. Kebanggan jemaat terhadap Apollos, menunjukkan kelemahan atau ketidakmampuan mereka untuk berterima kasih dan mengucap syukur. Mereka tak memiliki pemahaman akan bagaimana Tuhan bekerja dalam jemaat. Karena dosa kejatuhan, kita sering menjadi arogan, sombong dan meninggikan diri kita. Bukannya merendahkan diri dan bersyukur kepada Tuhan melalui kehadiran pelayanan hamba-hambaNya yang dipilih untuk menasehatkan kita, kita justru berpaling hanya pada mereka yang menyenangkan hati kita saja, pelayanan yang hanya mendukung gaya hidup atau citra hidup kita yang penuh glamour, penuh kesenangan dan kehormatan, dan menolak pelayanan yang tidak kita sukai.

    Perlu kita tahu Paulus adalah pendiri jemaat di Korintus dan Appollos adalah penerusnya. Memakai istilah Paulus: Paulus yang menanam, Apollos yang menyiram, tetapi Tuhan yang memberi pertumbuhan. Dua-duanya hanya pelayan tetapi sumber kehidupan dan pertumbuahan jemaat sebenarnya ada pada Tuhan. Hanya Tuhan yang patut dimuliakan.

    Perhatikan pertanyaan pertama dalam ayat 7: Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Ya apa yang membuat kamu merasa dirimu penting, sehingga dapat menilai pelayanan pelayan-pelayan Tuhan? Siapakah kamu, sehingga berani menilai pelayanan dari para hamba Tuhan?

    Pertanyaan kedua: Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Pertanyaan ini menunjukkan tak ada rasa syukur di kalangan jemaat Korintus. Kata-kata Paulus bukan akibat karena merasa teraniaya dan melontarkan pembelaannya, tetapi kata-katanya itu merupakan inspirasi dari Tuhan. Perkataan itu berasal dari perkataan Tuhan kepada Ayub dalam Ayub 38:2-4 (terjemahan sehari-hari): 38:2 "Siapa engkau, sehingga berani meragukan hikmat-Ku dengan kata-katamu yang bodoh dan kosong itu? 38:3 Sekarang, hadapilah Aku sebagai laki-laki, dan jawablah pertanyaan-pertanyaan ini. 38:4. Sudah adakah engkau ketika bumi Kujadikan? Jika memang luas pengetahuanmu, beritahukan!

    Tuhan menunjukkan kenyataan bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah pemberian dari kemurahanNya. Tak ada yang sepatutnya menjadi milik kita yang datang karena kemampuan kita. Jika kita memahami kebenaran akan kemurahan Tuhan ini dengan sungguh-sungguh, maka kita akan hidup dengan sikap yang sepenuhnya bersyukur kepada Tuhan dan kepada orang lain. Tuhan menggunakan orang-orang di sekitar kita untuk melayani kehidupan kita. Tetapi ketika kita seperti jemaat di Korintus, merasa lebih baik, lebih bijaksana, terhormat atau lebih tinggi dari orang lain di sekitar kita, maka kita menaruh posisi kita sebagai hakim bagi orang lain. Kalau kita menghakimi orang lain, kita tidak memahami kemurahan Tuhan dengan baik dan tak ada kerendahan hati seperti yang ditunjukkan oleh Yesus dalam hidup kita.

    Pertanyaan ketiga dalam ayat 7, “Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya? Dengan perkataan lain, kalau kamu menerima kemurahan Allah, mengapa kamu bersikap atau bertingkah seolah-olah itu karena kamu berharga, dan sudah sepantasnya menerima semua yang kamu miliki?
    Seseorang yang pernah mengalami kemurahan hati Tuhan, karena dibebaskan dari suatu masalah, akan memiliki kerendahan hati dan rasa syukur tak terhingga. Tetapi ketika hidup kita hanya dipenuhi oleh kedagingan kita, oleh kesombongan, atau keangkuhan kita, maka hanya ada kebanggan diri dan penghakiman pada orang lain.

    Kemurahan Tuhan merendahkan sikap kita untuk melihat orang lain seperti Tuhan melihat mereka dengan penuh rasa iba dan kasih sayang kepada mereka. Yesus ketika disalib berdoa kepada BapaNya, “Ya Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Yesus tidak menghakimi mereka , tetapi Ia meminta Bapanya mengampuni dan menggerakkan hati mereka untuk bertobat. Hasilnya adalah salah seorang penjahat di samping Yesus bertobat, dan beberapa perwira Romawi mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah.

    Ayat 8: “Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja.. ..” Penggunaan kata “kamu telah...” secara berulang-ulang mau menunjukkan bahwa mereka telah diberkati dengan kelimpahan dalam hidup mereka di bumi ini, padahal sebagian orang lain harus menunggu hingga sampai tiba di surga baru dapat merasakan hal seperti itu.

    Jemaat Korintus hanya minoritas, namun mereka mendapatkan keistemewaan untuk menikmati hidup dalam kemakmuran sedangkan orang lain hidup dalam kemiskinan.

    Namun bagi Paulus, persoalannya bukan karena kekayaan dan kemakmuran yang mereka nikmati, tetapi pada sikap hidup mereka yang yang dipenuhi dengan kesombongan dan keangkuhan terhadap berkat dan kemurahan Tuhan yang telah mereka terima.

    Jemaat Korintus memiliki keyakinan bahwa mereka adalah anak raja dan hidup sebagai anak-anak kerajaan Allah di bumi ini. Hal ini terlihat dari perkataan Paulus dalam ayat 8: ” Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu.”

    Padahal hidup dan memerintah seperti yang dimaksud oleh Yesus bagi orang percaya baru akan terjadi sesudah Ia datang kedua kali dimana semua orang percaya akan memerintah bersama dengan Dia. Jadi perkataan Paulus ini suatu sindiran bagi jemaat di Korintus yang memiliki keyakinan spiritual yang salah.

    Paulus menyatakan betapa baik kalau keyakinan mereka benar sehingga para rasul pun dapat ikut memerintah bersama mereka. Namun keyakinan mereka itu salah dan bukan merupakan bagian dari cara hidup para rasul. Sebagai orang kristen kita diminta untuk hidup yang menyangkal diri kita, hidup yang bukan untuk diri sendiri, tetapi hidup untuk kemuliaan nama Yesus.

    Ayat 9: Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia.

    Perkataan Paulus ini mengacu kepada para tawanan perang tentara Romawi yang digiring menjadi tontonan orang banyak, dihina dan bahkan dilemparkan ke dalam arena dalam pertarungan brutal manusia - binatang. Orang kristen sering di kejar, di penjara dan dihukum mati.

    Paulus tidak sedang menangisi dirinya sendiri karena kesulitan hidup dan kehinaan yang diterimanya, tetapi ia sedang merasa prihatin dengan kondisi jemaat Korintus. Paulus mengenal dan menyadari lingkungan di mana Tuhan menempatkan dirinya dan ia prihatin dengan sikap jemaat Korintus yang tidak mau mengikuti cara hidupnya.

    Ayat 10: “Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina. “
    Memang pemberitaan tentang salib menjadi kebodohan bagi mereka yang binasa, tetapi bagi mereka yang diselamatkan itu adalah hikmat dan kekuatan Allah (1 Kor :23-24).

    Jemaat di Korintus sepertinya sedang mengejar hal-hal kebinasaan dari pada hal-hal keselamatan. Mereka lenih suka mengejar hikmat duniawi yaitu ingin menjadi terhormat, berkuasa, atau berpengaruh. Hikmat duniawi bertentangan dengan Hikmat Allah seperti tertulis dalam 1 Kor 3:19: ...” hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: "Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya."

    Ayat 11-13 Paulus memberikan daftar situasi yang dialami yang para rasul dalam pemberitaan Injil yang sangat jauh berbeda dengan kondisi hidup jemaat Korintus.

    Kita sering seperti jemaat di Korintus menggantungkan diri pada kesuksesan, kekuasaan dan pengaruh. Ketika semua sumber tempat kita bergantung diambil, maka kita baru mau bergantung sepenuhnya padaTuhan.

    Dalam 2 Kor 12:9-10: Tuhan berkata kepada Paulus: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 12:10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.

    Kuasa Kristus merupakan satu-satunya sumber pertolongan Paulus dalam hidupnya. Penderitaannya mendorong dia hanya bergantung sepenuhnya pada Yesus. Penderitaan memang merupakan keinginan Tuhan agar kita bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dari pada kemampuan kita sendiri.

    Pesan Paulus dalam bacaan ini adalah bahwa tak ada masalah dengan kekayaan dan kehormatan, tetapi sikap kita terhadap kekayaan, kekuasan serta kehormatan itu yang sangat berbahaya. Gehazi, pelayan Eliza, memburu kekayaan sehingga penyakit lepra dari Naaman berbalik menjadi penyakitnya sendiri. Ananias dan Sapira menerima kematian karena keinginan akan uang.

    Tuhan melihat hati kita, adakah hati yang tahu mengucap syukur kepadaNya dan tidak menghakimi orang lain karena apa yang kita miliki. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.