Ada seekor anak kucing kecil, kurus dan terlantar di pinggir jalan. Semua orang yang lewat tak ada yang memperhatikannya.

Ketika saya memperhatikan kucing kecil, kotor dan kurus tersebut, saya teringat pada anak kucing kecil peliharaanku yang dibawa oleh anakku untuk dipelihara. Kucing peliharaanku sebenarnya sama saja dengan kucing yang kulihat tersebut sebelum ia di”adopsi” oleh anakku, perbedaannya adalah ia sekarang memiliki tuan yang memperhatikan dan memeliharanya Kucing kotor ini memiliki nasib berbeda karena perbedaan antara ada yang memiliki dan ada yang tidak.

Ketika saya memikirkan perbedaan kedua kucing tersebut, si kucing kotor di depanku dan, si kucing kecil di rumahku, timbul dalam pikiranku betapa beruntungnya kucing yang diadopsi anakku itu.

Begitu juga dengan kita orang percaya. Betapa beruntungnya kita memiliki Bapa di surga yang bersedia mengadopsi kita menjadi milikNya. Ia memberkati kita, dan menyayangi kita sedemikian rupa sehingga hidup kita terpelihara. Apa jadinya hidup kita bila berada di luar sana tanpa ada yang memiliki kita, tanpa proteksi dari Tuhan sebagai pemilik kita, kita mungkin memiliki nasib seperti si kucing kotor di depanku.

Menyadari hal itu kita perlu bersyukur atas semua kesempatan, berkat, dan kesehatan yang boleh kita nikmati tanpa kita sadar akan hal itu. Kita seringkali jarang bersyukur atas apa yang kita terima dalam hidup kita karena kita tak pernah merasakan bagaimana hidup di luar sana tanpa perlindungan atau proteksi dari Tuhan.