Bacaan: 2 Raja-Raja 4:8-37; 8:1-6

Tuhan sangat senang mencurahkan berkatNya kepada kita. Berkat Tuhan itu sebenarnya berlimpah untuk dicurahkan. Namun seringkali berkat itu tak bisa dicurahkan karena kita tak membuka pintu bagi berkat itu masuk ke dalam rumah kita. Kita sering menutup pintu rumah kita sehingga berkat itu berlalu dari kita dan turun kepada orang lain.

Bila anda ingin menerima berkat Tuhan itu, maka saya anjurkan anda membuka pintu rumah anda, membuka pintu hati anda kepada Tuhan agar semua berkat, perlindungan, dan pimpinan Tuhan turun ke dalam rumah anda, dalam keluarga dan kehidupan anda.

Dahulu kala di kota Sunem, Israel, hidup seorang perempuan Sunem dengan suaminya. Mereka termasuk orang kaya di kota itu. Pada suatu hari nabi Tuhan, Elisa, pergi ke kota itu dan perempuan Sunem ini mengundang nabi ini makan di rumahnya. Setiap kali nabi Elisa dalam perjalanan melewati kota ini, maka perempuan ini selalu mengundang Elisa makan di rumahnya.

Bukan cuma itu, perempuan ini bahkan ingin berbuat lebih jauh dari itu dengan menyediakan kamar bagi nabi Elisa di rumahnya. Ia berkata kepada suaminya: "Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus. Baiklah kita membuat sebuah kamar atas yang kecil yang berdinding batu, dan baiklah kita menaruh di sana baginya sebuah tempat tidur, sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah kandil, maka apabila ia datang kepada kita, ia boleh masuk ke sana."

Betapa baik dan tulusnya perlakuan perempuan Sunem ini kepada nabi Elisa sehingga Elisa bertanya kepada perempuan itu: “Sesungguhnya engkau telah sangat bersusah-susah seperti ini untuk kami. Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Adakah yang dapat kubicarakan tentang engkau kepada raja atau kepala tentara?" Jawab perempuan itu: "Aku ini tinggal di tengah-tengah kaumku!" Dengan perkataan lain , perempuan itu mau berkata bahwa ia tidak membutuhkan apa-apa. Kekayaannya sudah cukup. Ia hanya ingin berbuat baik kepada nabi Tuhan saja.

Namun nabi Elisa tidak berhenti sampai disitu. Elisa bertanya kepada Gehazi, pembantu Elisa: "Apakah yang dapat kuperbuat baginya?" Jawab Gehazi: "Ah, ia tidak mempunyai anak, dan suaminya sudah tua."

Lalu Elisa menyuruh pembantunya memanggil perempuan Sunem itu dan berkata: "Pada waktu seperti ini juga, tahun depan, engkau ini akan menggendong seorang anak laki-laki." Tetapi perempuan itu tidak percaya karena ia memiliki suami yang sudah tua sehingga ia menjawab: "Janganlah tuanku, ya abdi Allah, janganlah berdusta kepada hambamu ini!"

Namun kemudian perempuan itu mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki pada tahun berikutnya.

Seringkali harapan kita tertanam jauh di dalam hati kita, tersembunyi dan tidak terlihat oleh manusia. Namun harapan hati kita tidak tersembunyi kepada Tuhan. Begitu juga dengan perempuan Sunem itu. Sebagai seorang isteri pada zaman itu, ketidakmampuan memiliki seorang anak, menjadi aib yang sangat besar bagi seorang perempuan. Mungkin pergumulan perempuan itu tidak terlihat oleh manusia, tapi Tuhan melihat dan merasakan tangisan hati perempuan tersebut.

Namun berkat Tuhan itu tidak dapat turun kepada perempuan itu kalau ia tidak membuka pintu bagi Tuhan. Tanpa ia sadari, perempuan itu telah membuka pintu bagi Tuhan melalui perlakuannya yang baik dan tulus kepada hamba Tuhan yang melalui kota tempat tinggalnya. Melalui perlakuannya kepada hamba Tuhan itu, berkat Tuhan tersalurkan kepadanya.

Berkat Tuhan bagi perempuan Sunem itu tidak berhenti sampai disitu saja. Satu perbuatan baik kita kepada Tuhan akan mendatangkan beribu-ribu berkat Tuhan ke dalam kehidupan kita.

Anak laki-laki perempuan itu sudah besar. Dia menjadi kebanggaan bagi orangtuanya. Namun suatu hari ia pergi ke sawah untuk melihat ayahnya bekerja. Tiba-tiba anak itu menjerit kepada ayah sambil memegang kepalanya. Ayahnya menyuruh orang menggendongnya pulang kepada ibunya. Namun tidak berapa lama anak itu meninggal di pangkuan ibunya.

Apakah yang anda perbuat kalau anak satu-satu anda tiba-tiba meninggal di pangkuan anda? Apakah anda menyalahkan orang lain?

Namun perempuan Sumen ini tidak berbuat demikian. Ia menaruh anak tersebut di tempat tidur dalam kamar yang biasa dipakai nabi Elisa, ditutupnyalah pintu dan pergi, sehingga hanya anak itu saja di dalam kamar.

Sesudah itu ia memanggil suaminya serta berkata: "Suruh kepadaku salah seorang bujang dengan membawa seekor keledai betina; aku mau pergi dengan segera kepada abdi Allah itu, dan akan terus pulang." Berkatalah suaminya: "Mengapakah pada hari ini engkau hendak pergi kepadanya? Padahal sekarang bukan bulan baru dan bukan hari Sabat." Jawab perempuan itu: "Jangan kuatir."

Perempuan ini melakukan perjalanan dari Sunem ke tempat nabi Elisa di gunung Karmel. Di sana ia berkata kepada Elisa: "Adakah kuminta seorang anak laki-laki dari pada tuanku? Bukankah telah kukatakan: Jangan aku diberi harapan kosong?"

Perkataan perempuan ini merupakan jeritan seorang perempuan yang kehilangan buah hati satu-satunya. Suatu tangisan dari hati yang pilu dan pedih, ketika harapan yang dimilikinya tiba-tiba menjadi lenyap dan kosong.

Perkataan perempuan itu begitu menyayat hati sehingga Elisa tergerak pergi bersama perempuan itu ke rumahnya di Sunem.

Di sana Elisa berdoa dan telungkup di atas tubuh anak yang sudah mati itu sampai ia hidup lagi.

Ketika kita kehilangan harapan karena kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai, maka Tuhan memiliki harapan bagi kita. Hanya Tuhan yang dapat kita andalkan di tengah-tengah kemalangan atau kesuraman hidup kita. Jangan melarikan diri kepada hal-hal lain, atau menyalahkan orang lain. Tindakan perempuan Sunem ini mengajarkan kepada kita bagaimana ia mengambil tindakan cepat dan pasti tanpa bertanya kepada siapa-siapa untuk segera mencari Tuhan melalui nabi Elisa. Ia tidak meratapi kemalangan itu, ia tidak menyalahkan orang lain, atau menunda datang kepada Tuhan. Ia merasa bahwa ini adalah urusan ia dan Tuhan dan hanya Tuhan yang dapat memberikan harapan baginya. Begitu yakin dan percaya bahwa mujizat dari Tuhan itu akan terjadi sehingga ia datang kepada Elisa dan meratap kepadanya.

Mujizat Tuhan tidak sampai disitu saja. Ketika Tuhan memberkati rumah tangga seseorang, ketika Tuhan menolong keluarga seseorang, Tuhan tidak tinggal diam bila ada kemalangan akan menimpa mereka. Tuhan menjaga mereka.Tuhan bahkan telah menyiapkan berkat baginya, mempersiapkannya jauh sebelum tiba harinya bagi mereka.

Suatu kali Elisa berkata kepada perempuan: "Berkemaslah dan pergilah bersama-sama dengan keluargamu, dan tinggallah di mana saja engkau dapat menetap sebagai pendatang, sebab TUHAN telah mendatangkan kelaparan, yang pasti menimpa negeri ini tujuh tahun lamanya."

Jauh sebelum kelaparan datang menimpa Israel, Tuhan melalui nabi Elisa telah menyuruh perempuan ini pergi mengungsi ke negeri tetangga. Tuhan menjaga dan melindungi orang-orang yang dikasihiNya. Tuhan tidak membiarkan orang-orang yang mengasihiNya kelaparan, tapi Tuhan menjaga dan mencukupi kebutuhan mereka.

Perempuan itu berkemas dan pergi bersama-sama dengan keluarganya, lalu tinggal menetap sebagai pendatang di negeri orang Filistin tujuh tahun lamanya.

Namun ketika ia kembali ke daerahnya sesudah tujuh tahun di perantauan, semua tanah dan rumahnya telah diambil orang. Perempuan itu telah kehilangan harta milik pusakanya di Israel.

Apakah perempuan ini menyalahkan Tuhan karena telah menyuruhnya merantau? Tidak! Disinilah mujizat Tuhan itu terjadi. Tuhan telah menyiapkan segala sesuatu bagi orang-orang yang mengasihiNya bahkan sebelum ia mengambil tindakan.

Perempuan itu bermaksud mengadukan perihal rumahnya dan ladangnya kepada raja.

Sebelum perempuan itu tiba di istana raja, raja sedang berbicara kepada Gehazi, pembantu Elisa. Raja bertanya kepada Gehazi: "Cobalah ceritakan kepadaku tentang segala perbuatan besar yang dilakukan Elisa."

Sedang Gehazi menceritakan kepada raja tentang Elisa menghidupkan anak seorang perempuan yang sudah mati, masuklah perempuan Sunem itu, sehingga berkatalah Gehazi: "Ya tuanku raja! Inilah perempuan itu dan inilah anaknya yang dihidupkan Elisa."

Lalu raja bertanya-tanya, dan perempuan itu menceritakan semuanya kepadanya. Kemudian raja menugaskan seorang pegawai istana menyertai perempuan itu dengan pesan: "Pulangkanlah segala miliknya dan segala hasil ladang itu sejak ia meninggalkan negeri ini sampai sekarang."

Apakah suatu kebetulan kedatangan perempuan itu dengan cerita Gehazi kepada raja? Tidak! Tuhan telah mempersiapkan semua kebutuhan kita jauh sebelum kita bertindak.

Perempuan itu tidak hanya mendapatkan kembali tanah dan rumahnya, tetapi ia mendapatkan itu semua beserta dengan hasil ladangnya selama ia tidak ada. Mendapatkan hasil ladang tanpa harus bekerja. Ia bukan saja menjadi kaya, tetapi sangat kaya melampaui kekayaannya sebelum ia merantau ke negeri Filistin.

Adakah sesuatu yang mustahil bagi Tuhan untuk kita?

Ketika kita mengambil satu langkah perbuatan baik bagi Tuhan, Tuhan memberkati kita dengan beribu-ribu berkat yang jauh melampaui apa yang kita harapkan, termasuk keinginan yang tersembunyi jauh di dalam hati kita.

Maukah anda membuka pintu hati dan rumah anda bagi Tuhan? Cobalah dan saksikanlah bagaimana Tuhan bekerja di dalam hidup anda. Anda akan merasa terpesona dan memuliakan namaNya. Tuhan memberkati anda.